
Baru saja Anggel sedang memikirkan Lana. Saat ini Anggel malah mendengar suara ribut-ribut didepan kamar inapnya.
Anggel yang kebetulan sendiri di dalam kamar pun penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Karena Anggel seolah mendengar suara seseorang yang sedang di rindukannya.
Ceklek ...
Semua mata tertuju kepada Anggel, senyum Anggel mengembang saat melihat Lana ada di sana. Namun, Anggel mengernyitkan keningnya saat melihat tubuh Lana yang di pegangi oleh dua pengawal. Bahkan, Anggel baru tau jika pintu kamar nya di jaga oleh pengawal.
"Ada apa ini? lepaskan Lana." Titah Anggel.
"Maaf Nona, ini perintah dari nyonya besar Mega." Ujar seorang pengawal.
Anggel tak percaya, jika sang Mami sampai melajukan hal seperti ini.
"Kalau begitu minggir, biar aku yang temui dia." Ujar Anggel yang sudah siap keluar dari kamar nya.
Seorang pengawal perempuan langsung menahan tubuh Anggel dan membawanya kembali masuk kedalam kamar inap nya.
"Lepaskan." Bentak Anggel.
Namun seolah tuli, pengawal perempuan tersebut tetap membawa Anggel kembali kedalam kamar dan menutup pintu nya.
"Maafkan saya Nona." Ujar Pengawal tersebut dan berdiri di depan pintu. Menghalang Anggel untuk kembali keluar.
Di luar ruangan, Lana berusaha untuk masuk, namun kehadiran Oma Mega membuat Lana menghentikan pemberontakannya.
"Oma ..." lirih Lana dan menatap Oma Mega dengan memohon.
"Lana, maafin Oma, Oma gak bisa biarin kamu ketemu sama Anggel. Jadi Oma mohon, kamu jangan temui Anggel lagi. Kamu bisa cari perempuan lain untuk kamu jadikan pelarian, tapi jangan Anggel.
"Oma, lana__"
Tanpa mendengar penjelasan dari Lana, Oma Mega langsung meninggalkan Lana dan masuk kedalam kamar inap Anggel.
Di sana, seorang pria yang mengenakan jas putih, menatap iba kepada Lana.
Ya, dia adalah Lucas, keponakan dari Anggel. Namun Lucas tak bisa berbuat apa-apa. Lucas menghela napasnya pelan, ia pun berjalan meninggalkan Lana yang sudah terduduk di lantai sambil menatap kosong kepada pintu putih di hadapannya itu.
*
Fatih, Veer, Lana, dan Lucas sudah berada di sebuah atap gedung. Tempat di mana mereka sering berkumpul dan menghabiskan waktu bersama tanpa ada orang lain di sekitarnya.
"Sory, gue terlambat." Ujar Zein yang datang dengan membawakan tiga bungkus martabak Mesir.
Fatih yang memang doyan makan pun langsung menyambar satu kotak dan membukanya.
"Waah, enak ni. Tumben Lo pinter beli tempat yang enak." Ujar Fatih dengan mulut penuh.
Zein tersenyum menanggapi ucapan Fatih, sebenarnya Fatih tau jika Zein batu saja pergi bersama Kayla, namun sepertinya Zein dan Kayla masih enggan untuk mengumumkan status mereka. Fatih pernah bertanya kepada Zein, namun Zein tak memberikan jawaban apapun kepada Fatih. Fatih bisa apa? hanya selalu menjadi pendengar yang baik di saat mereka butuhkan.
Veer melirik kearah Lana, tak biasanya Lana diam dan tak bersemangat seperti ini. Biasanya dia akan ikut rebutan bersama Fatih jika sudah menyangkut soal makanan.
"Woy, ngelamun aja Lo." Tegur Veer sambil menoyor kepala Lana pelan.
"Hah, Nafi gimana kabar nya?" tanya Lana mengalihkan fikirannya.
"Alhamdulillah, udah baikkan, besok juga sudah bisa pulang."
Lana pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Pulang kemana rencana nya?" Tanya Zein.
"Gue sih pinginnya pulang ke apartemen, tapi gue masih khawatir dengan Nafi yang bakal kesepian di sana, karena gue larang dia buat kerja dulu."
"Oh ya, asisten Nafi gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, udah baikan juga. Cuma masih harus di rawat satu atau dua hari lagi."
"Terus, kerjaan Nafi siapa yang handel?"
"Ya gue sih, cuma dapat bantuan dari sekretaris Nafi juga. Tapi Papa Danu bakal bantuin kok."
"Lo harus cepat-cepat punya anak, biar gak cepat tua." Ujar Fatih sambil menepuk bahu Veer.
"Maksud Lo?'
"Gue takutnya Lo ketuaan di kantor, hingga lupa buat bikin keturunan Lo." Ujar Fatih dengan wajah yang sengaja dibuat sedih.
"Sialan Lo" gerutu Veer. "Lo tu, yang harusnya udah bisa cari pasangan hidup, sebentar lagi Layca Lo bakal tunangan sama orang lain."
"Nyesel gue bahasnha." Ujar Fatih dan kembali memasukkan martabak Mesir kedalam mulutnya.
Veer dan yang lainnya pun tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya, gue sebenarnya ngumpulin Lo ke sini cuma mau ngajakin Lo semua bantuin Lana untuk ketemu sama Anggel." Ujar Lucas.
Lana langsung menoleh kearah Lucas.
"Gue lihat semua kejadian tadi sore, tapi gue minta maaf karena gak bisa bantu Lo saat itu. Lo tau sendiri, status gue di situ hanya cucu, dan gue gak mau Oma gue ikut murka sama gue."
"Gue ngerti kok."
Veer sebenarnya tau masalah apa yang terjadi dengan Oma Mega dan Lana. Dan mungkin ini saat yang tepat Veer katakan sebenarnya, kenapa Oma Mega melarang Lana menjumpai Anggel.
"Gue juga gak tau, yang gue denger, Oma larang Lana buat jumpa Angel." Jelas Lucas.
"Sebenarnya Oma Mega udah tau tentang hubungan Lo sama Anggel." Terang Veer.
Lana, Lucas, Zein dan Fatih pun menoleh kearah Veer.
"Waktu Anggel masih dala satu ruangan sama Nafi, Oma Mega bertanya sama gue tentang Lo dan Anggel. Gue gak tau mau bilang apa, dan sebenarnya gue juga gak bilang apa-apa sih. Tapi Oma Mega mengambil keputusannya sendiri dengan diam nya gue."
Veer memegang bahu Lana. "Maafin gue, karena gue Lo dan Anggel dapat masalah begini."
"Bukan salah Lo, cepat atau lambat hubungan gue sama Anggel pasti bakal ketahuan juga. Dan gak mungkin juga gak ketahuan, secara gue serius buat nikahi Anggel. Fatih tau gimana cintanya gue sama Anggel." Ujar Lana menunjuk kearah Fatih.
"Salah Lo yang pingin punya istri dua." Celetuk Fatih.
Lucas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, apa cinta emang serumit itu? mungkin Lucas akan memilih untuk tidak jatuh cinta. Bukan berarti Lucas akan menjomblo selamanya, namun Lucas masih belum siap dan merasa jijik jika harus berciuman atau pun melajukan hal lebih dengan orang lain. Berpelukan saja Lucas pilih-pilih momen, jika lawannya penuh keringat, maka Lucas tak akan Sudi dipeluk oleh nya.
Hah, kayaknya Papi Leo gak separah Lucas deh. Cuma jijik saat mengenakan pakaian orang lain. Dan soal mesum, Papi Leo termasuk raja nya.
"Oke, jadi rencana gue besok adalah ..."
*
Nafi masih saja grogi berhadapan dengan Veer. Padahal saat perkenalan mereka kembali sebagai sepasang suami istri, Veer sudah beberapa kali menciumnya, dan Nafi selaku saja tersipu malu.
"Sudah siap untuk pulang?" Tanya Veer sambil menatap hangat kepada Nafi.
__ADS_1
Nafi menganggukkan kepalanya dengan wajah yang merona.
"Veer." Mama Kesya masuk bersama Mama ayu.
Veer tersenyum dan menyalam kedua orang tuanya.
"Sudah siap semua?"
"Sudah Ma."
"Jadi, pulangnya kerumah Mama atau ke rumah Mama Ayu?" Tanya Mama Kesya lagi.
"Kayaknya harus ke rumah Mama Kesya deh Veer, tadi pagi eyang nya Nafi telfon, suruh Mama pulang ke kampung, ada yang mau di bahas."
Veer terlihat bingung, karena di rumah ada Empus yang mana Nafi pasti akan takut. Veer tak ingin membuat Nafi ketakutan.
"Veer." Tegur Mama Kesya.
"Eem, Veer ke apartemen aja kayak nya Ma."
"Loh, kok ke apartemen? Bukannya lebih bagus di rumah yaa?"
"Itu, di rumah ada empus, Veer gak mau Nafi ketakutan."
"Ya sudah kalo begitu. Nanti Mama bakal temenin Nafi di apartemen kamu."
"Makasih Ma."
Nafi yang mendengar pembicaraan Veer dan para Mama pun hanya bisa diam dan sibuk dengan fikirannya sendiri.
'Pulang ke apartemen Veer? itu tandanya jika dirinya dan Veer hanya berdua saja?' batin Nafi.
'Naf, sebaiknya kamu persiapkan diri kamu untuk melayani Veer. Dia suami mu.' bayangan Nafi yang duduk dekat brankar pun seolah berbicara dengan Nafi.
Nafi mengerjapkan matanya, apa ia tak salah lihat?
'Sudahlah, lagian dulu kalian pernah melakukannya. Dan kamh, sangat menikmati nya.'
Wajah Nafi memerah saat mendengar perkataan yang sedikit vulgar dari bayangannya itu.
"Naf, kamu kenapa? sakit?" Tanya Veer yang menyadari jika wajah Nafi memerah.
"Hah? eng- enggak kok. Aku gak papa."
Nafi mencoba tersenyum, dan jantungnya membuat dirinya sedikit sulit bernapas.
'Ayolah Naf, kamu pasti bisa menerima Veer. Veer cinta pertama kamu, pasti gak akan sulit untuk mencintainya lagi.' batinnya.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1