KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 76


__ADS_3

Abi melihat kearah Quin yang sudah tertidur pulas dengan nafas yang terdengar teratur. Perlahan Abi menarik lengannya dan turun dari tempat tidur.


Abi meraih ponselnya dan segera menghubungi Abash.


"Kamu sudah di rumah?"


" ...."


"Baiklah kalau begitu, Selamat istirahat."


Abi memutuskan panggilannya setelah mendengarkan penjelasan singkat dari Abash.


"Abi, Jangan tinggalin aku."


Abi menoleh kearah Quin yang ternyata masih menutup matanya. Sepertinya Quin mengigau.


"Abi, aku takut ... Hikkss ..."


Bahkan dalam mimpi pun, Quin masih merasa tak tenang. Abi kembali berbaring di sebelah Quin, Memberikan lengannya untuk di jadikan bantal oleh Quin. Abi menepuk-nepuk pelan bahu Quin, menenangkannya hingga kerutan yang ada di kening Quin menghilang.


"Aku gak akan pernah pergi, Quin. Gak akan pernah. Aku akan tetap berada di sisi kamu, sampai kapan pun. Percayalah ..." Bisiknya yang jelas tak di dengar oleh Quin.


*


Quin merasa ada sesuatu yang berat dan melingkar di pinggangnya. Quin perlahan membuka matanya dan mengerjapkan matanya berkali-kali.


Ketika pandangan matanya sudah normal, Quin malah membelalakkan matanya saat melihat dada bidang seorang pria. Quin tau itu bukan Veer, karena dada yang Quin lihat ini agak sedikit berbulu halus. Quin menelan ludahnya kasar.


"Kamu sudah bangun?"


Suara bariton yang terdengar seksi dan khas nya baru tidur, membuat jantung Quin semakin berdetak cepat. Quin mengenali suara tersebut, sangat mengenalinya. Suara dari pria yang tiga hari ini telah sah menjadi suaminya.


"Hmm ..." Quin hanya bergumam.


"Tidurnya nyenyak?"


"Hmm ..." Tanpa sadar, Quin meremas baju Abi, yang mana sedari tadi ternyata tangan Quin berada di pinggang Abi.


"Apa kamu ingin aku memelukmu dengan erat?"


Quin mengerutkan keningnya, perlahan ia mendongakkan wajahnya. Quin dapat melihat jika mata Abi masih tertutup rapat.


"Kamu meremas baju ku, apakah itu tanda jika kamu ingin aku peluk dengan erat?" Ujar Abi seolah tau apa yang difikirkan Quin.


Quin melirik kearah tangannya, dan benar saja saat ini ia sedang meremas baju yang dipakai oleh Abi.


"Maaf" cicitnya sambil menarik tangannya.


Quin terkejut saat Abi semakin mempererat pelukannya. Quin mengerjapkan matanya dengan cepat.


"Abi ..."


"Hmm ..."


Quin merasa tak nyaman, ia bergerak gelisah, tanpa Quin ketahui jika di bawah sana, Jaguar milik Abi juga ikut bergerak.


"Tenanglah Quin, jangan bergerak."


Quin pun spontan menghentikan pergerakan tubuhnya.


"Biarkan seperti ini dulu." Lirih Abi.


Quin kembali mendongakkan kepalanya, ia melihat jika mata Abi masih tertutup rapat. Nafas Abi juga mulai terdengar teratur. Apa Abi tidak tidur semalaman?


Tentu saja, Bagaimana Abi bisa tidur jika Quin menelusupkan wajahnya ke dada bidang Abi, sehingga membuat sesuatu di bawah sana terbangun dan tersiksa. Abi semalaman benar-benar tersiksa di buat oleh Quin.


*

__ADS_1


Abi mendengarkan penjelasan Abash. Kemudian ia mengerutkan keningnya di saat Abash mengatakan jika kemungkinan semua ini ada hubungannya dengan masa lalu Mama Kesya.


Tak berapa lama pintu terbuka dan menampilkan Papa Arka dengan wajah yang sulit untuk di artikan


"Apa yang terjadi?" Tanya Papa Arka saat sudah mendaratkan bokongnya di sofa tunggal.


" Bisakah Papa menceritakan tentang Mama? Maksud Abash, tentang masa lalu Mama."


"Apa maksud kamu? Kenapa kamu tiba-tiba mengungkit tentang masa lalu Mama?" Tanya Papa Arka tak suka.


"Maaf Pa, Tapi Abash dan Abi curiga jika semua ini ada kaitannya dengan masa lalu Mama."


Papa Arka mengernyitkan keningnya. Abash mulai menjelaskan kepada Papa Arka, kenapa Abi bisa sampai menanyai tentang masa lalu Mama Kesya, dan apa hubungannya dengan Quin saat ini.


Papa Arka menghela napasnya lelah, sekarang Papa Arka mengerti maksud dari mencurigai masa lalu Mama Kesya.


"Mama memang pernah memiliki hubungan dengan pria lain, jauh sebelum Papa bertemu dengan Mama."


Papa Arka menyandarkan tubuhnya, matanya menerawang seolah kembali ke masa itu.


"Mama pernah bertunangan dengan salah satu pengusaha muda, memang tidak sebesar usaha yang kita miliki, namun usahanya cukup maju. Tapi, di tengah perjalanan hubungan mereka, Pria itu melajukan hubungan yang di benci oleh Islam, hingga wanita itu hamil."


Papa Arka menjeda, menutup matanya, seolah menahan sakit di dalam hatinya.


"Mama Kesya memutuskan pertunangan mereka, dan menyuruh pria itu menikahi wanita itu. Di saat pernikahan semakin mendekat, pria itu ternyata mencari bukti bahwa ia di jebak. Pria itu memberikan rekaman itu kepada Mama. Mama terkejut, namun ia sudah terlanjur menyerahkan pria yang dicintainya kepada wanita lain. Mama tak ingin merusak hubungan orang lain."


Abi dan Abash mendengarkan dengan seksama.


"Pria itu tak ingin menikah dengan siapaun, kecuali dengan Mama. Hingga dihari pernikahannya, Mama di jebak dan ingin dibawa kabur oleh pria itu. Namun saat di tengah jalan, mobil yang di kendarai pria itu menabrak mobil yang berlawanan hingga terjadi kecelakaan. Mama selamat, sedangkan pria itu meninggal. Di dalam mobil, sudah ada dua koper yang berisikan baju Mama dan baju pria itu. Maka dari itu, Mama di tuduh membawa kabur pengantin pria."


"Siapa nama wanita itu? apa benar anak yang dikandungnya adalah anak dari mantan tunangan Mama?"


"Namanya Paula, Mama tidak berani mengatakan jika anak itu anak mantan tunangannya, ataupun bukan. Yang pernah Papa dengar, seluruh keluarga melakukan tes DNA dan hasilnya positif jika anak itu adalah anak dari mantan tunangan Mama."


"Lalu, dimana anak itu berada?"


"Papa dengar, jika anak itu meninggal dunia karena sakit."


Atau ???


Abi menatap Papa Arka penuh tanya.


"Hei, apa yang kamu ingin tahu? Papa tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun."


"Tapi kata kakek Papa terlalu memilih dan sering menyakiti wanita-wanita yang ingin di jodohkan." Ujar Abash yang ikut mengerti kemana arah fikiran Abi.


Papa Arka tersenyum kaku, memang benar jika Papa Arka sungguh kejam saat menolak wanita-wanita itu. Sepertinya Papa Arka harus mencari tau tentang semua keturunan dari wanita-wanita yang pernah di kenalkan oleh Kakek Farel.


*


"Sudah selesai?" Veer memperhatikan Nafi yang baru saja duduk di sebelahnya.


"Hmm ... Sudah ..."


"Gimana? Berhasil?"


"Alhamdulillah ..."


"Mau makan?" Veer membenarkan jaket yang dipakai oleh Nafi.


"Hmm ... Tapi tidak di sini. Aku ingin Samyang."


"Oke, kita cari tempat yang halal ya ..."


Nafi menganggukkan kepalanya.


"Kalian ingin Samyang?"

__ADS_1


"Mau ... Mau ..." Ujar Tata dengan riang.


"Oke, kita berangkat sekarang."


"Aku Samyang kamu." Ujar Dedi kepada Tata dengan membentuk lambang hati di jarinya.


"Iih ... Lebay ..."


Nafi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hubungan Nafi dan Tata yang sudah seperti adik dan kakak membuat Tata sering mencurahkan isi hatinya kepada Nafi, begitupun sebaliknya.


Saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah mereka pesan, tiba-tiba saja ada sebuah motor yang berlaku kencang dan membuat Tata dan Nafi terjatuh.


"Sayang, kamu gak papa?"


Untungnya Tata mendorong tubuh Nafi kedalam pelukan Veer, sehingga membuat Nafi terjatuh bersama Veer.


"Aku gak papa, tapi kaki ku terasa sakit Veer."


Veer memindahkan Nafi secara perlahan dari atas tubuhnya, terlihat jika kaki Nafi sepertinya terkilir.


"Ya, bangun ..." Teriak Dedi yang terus memukul pelan pipi Tata.


Nafi membelalakkan matanya saat melihat darah yang mengalir dari kepala Tata.


"Tataaaaa ..." Teriaknya histeris, sehingga Veer langsung memeluk tubuh Nafi.


*


Nafi masih sesenggukan di dalam pelukan Veer. Saat ini Tata sedang menjalani operasi. Ponsel Dedi berdering, mengambil atensi Veer dan menatap Dedi Yang sedang berbicara kepada seseorang.


"Oke, thank you."


Dedi menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Veer memberikan kode kepada Dedi untuk tidak membahasnya di depan Nafi, walaupun saat ini Veer sangat penasaran dengan apa yang ingin Dedi katakan.


Dokter keluar dan mengatakan jika operasinya berjalan lancar. Nafi menghembuskan napas lega, dan juga mengucap syukur Alhamdulillah.


Tak berapa lama Tata sudah bis Adi pindahkan kedalam ruang rawat inap.


"Aku akan menemani Tata." Lirih Nafi dan di angguki oleh Veer.


"Jika kamu butuh sesuatu, kamu tinggal hubungi aku. Ingat, siapapun yang masuk keruangan ini, kamu tinggal menekan mata cincin kamu dengan kuat.".


Nafi mengerutkan keningnya.


"Maaf, aku membuat pelacak di cincin kawin kita. Ini semua demi keselamatan kamu."


Nafi mengerti, ia menganggukkan kepalanya.


"Jangan lupa, siapapun yang masuk, kamu harus menekannya, termasuk dokter."


Nafi mengerti, namun yang menjadi fikiran nya saat ini, apa yang sedang terjadi? siapa yang sedang mengincar siapa? Apa ada seseorang yang sedang mengincar dirinya? Lalu siapa?.


Nafi mendekat kearah brankar di mana Tata sedang terbaring pucat.


"Ta, cepat sembuh." Ujarnya sambil menggenggam tangan Tata.


Nih, aku kasih visualnya Abang Abash n Abang Arash... 🤭🤭🤭, biar gak penasaran.



Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2