
"Huff, aku mencari kamu, ternyata di sini." Abi berjalan menghampiri Quin yang tengah duduk di kantin bersama Raysa dan Desi.
"Kamu udah kembali?" Kali ini, tatapan Quin kepada Abi berbeda, dan tak ada yang menyadari itu.
"Iya, Alhamdulillah, semua nya sudah selesai."
"Alhamdulillah." Ucap syukur Quin, Desi, dan Raysa.
"Kamu udah makan?" Tanya Quin saat Abi sudah duduk di samping nya.
"Eem, belum sih. Tapi gimana kalo kita makan tempat lain?"
Quin melirik kearah Raysa dan Desi.
"Udah Mbak, pergi aja."
"Iya Mbak, lagian insya Allah udah aman semua kan."
Quin menghela napasnya, kemudian ia menganggukkan kepala nya untuk menyetujui permintaan Abi.
"Kalo begitu, Aku bawa my Quin dulu ya.."
"Bawa deh Mas, bawa ... Udah sah juga kok." Ujar Desi sambil terkiki geli karena melihat wajah Quin yang tiba-tiba merona. Di tambah lagi Abi meraih jari jemari Quin dan menggenggamnya dengan lembut.
Setelah berpamitan, Quin dan Bau berjalan keluar dari area kantin, dan juga rumah sakit.
"Kita mau makan di mana?" Tanya Quin saat sudah berada dalam mobil.
"Enaknya makan di mana ya? Sebenarnya aku gak berselera makan di rumah sakit." Ujar Abi sambil tersenyum manis.
Quin baru ingat, jika beberapa kali Abi tak menghabiskan makanannya. Bisa di katakan Abi hanya memakan dua atau tiga sendok saja, kemudian ia berhenti dengan alasan sudah kenyang melihat Quin makan.
"Kenapa gak bilang kalo kamu gak bisa makan di rumah sakit? kita bisa makan di luar kan?"
"Gak dengan keadaan yang seperti kemarin."
Quin menganggukan kepalanya, seketika Yakin melupakan kejadian mengerikan yang menimpa keluarganya. Apa lagi saat Desi dan Raysa di lecehkan, begitu juga dengan Fatih yang tertembak. Dan Juga Anggel yang masih terbaring di rumah sakit karena tekanan darah nya yang belum stabil.
"Kau mau makan apa?"
"Eem, apa yaa? aku juga bingung. Kamu deh, aku tau selera kamu pasti bagus, dan bisa bikin aku banyak makan."
"Eeng, gimana kalo soto?"
"Soto?"
"Hmm, kamu mau?"
"Boleh. Apapun asal pilihan kamu."
Quin tersenyum, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik di hati nya. Sesuatu yang dulu pernah ia rasakan, dan kemudian menghilang. Dan saat ini perasaan itu kembali muncul, tapi dengan orang yang berbeda.
Tak berapa lama mobil yang di kendarai Abi pun sampai di tempat warung soto yang Abi katakan. Ia pun terkejut saat Abi menahan pergerakannya untuk membuka pintu.
"Biar aku bukain ya."
Quin pun menganggukan kepalanya.
Abi turun dan berlari kecil menuju pintu mobil sebelah Quin.
"Silahkan My Quin." Ujar Abi dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
__ADS_1
"Gak lucu." Bisik Quin yang mana membuat bulu kuduk Abi merinding.
Untung tempat umum, mungkin jika tempat sepi, Abi sudah menahan gerakan Quin untuk meninggalkannya dan mencium bibir Quin yang selalu menggoda iman dan jiwa nya. Sehingga Jaguar di bawah sana meronta meminta bertemu dengan sarang nya.
"Kamu mau makan soto apa? Daging? ayam? Babat? atau paru?"
"kamu pesan apa?"
"Aku paru."
"Ya udah, samain aja."
"Kamu yakin?"
"Iya ..."
"Ya udah kalo gitu. Em, Mbak, soto paru nya dua ya. Pake nasi. Minumnya?" Quin menoleh kepada Abi.
"Kamu minum apa?"
"Air putih sama jus jeruk hangat."
"Oke.."
"Air putih satu, Jus jeruk hangat satu, jus jeruk dingin nya satu ya."
"Siap Mbak, di tunggu sebentar ya."
"Oke, oh ya kerupuk kulit sama paru goreng nya jangan lupa ya."
"Siap Mbak."
Quin menoleh kearah Abi yang sedari tadi menatap nya dengan tersenyum.
"Gak kok, kamu cantik."
"Iih, gombal. Aku belum mandi tau." Quin mencibir.
"Belum mandi aja cantik."
"Tapi bauk."
"Masa sih?" Abi mendekat dan mencium aroma tubuh Quin, sehingga wajah Abi sangat dekat dengan wajah Quin, Quin sampai memundurkan tubuhnya karena terkejut dan juga risih.
"Ab-Abi, apa yang kamu lakukan?" tanya nya gugup.
"Mencium aroma kamu."
"Abi, malu tau di lihat orang."
Abi melihat ke kiri dan ke kanan, ia tak melihat atau orang pun yang sedang memandang mereka. Kebetulan tempat duduk yang mereka duduki adalah lesehan.
"Jadi kalo di kamar boleh?"
Bluush ...
Wajah Quin terasa panas, dan sudah bisa Quin pastikan jika pipi nya saat ini merona. Untungnya pelayan datang dan mengantarkan minuman mereka. Quin langsung meraih jus jeruk nya dan meminumnya hingga hampir setengah.
"He ... he... he... Haus banget." Ujar nyabsmabil teratas garing.
"Oh ya, aku udah ngurus keberangkatan Empus lusa. Kamu gak papa kan?"
__ADS_1
Quin menoleh ke arah Abi dengan ekspresi yang terkejut.
"Lusa?"
"Hmm, karena Minggu depan keberangkatan kita ke Jerman."
"Oh ya, kamu dari Australia kan, knp kita harus ke Jerman?"
"Aku kerja di Australia, sedangkan keluarga besar ku berada di Jerman."
"Bukannya kakek orang Indonesia ya?"
"Hmm, tapi keluarga besar kami berada di sana."
"Kata Anggel, kamu 10 tahun lalu pernah tinggal di Sini?"
Abi terdiam, 11 tahun lalu ia ke Indonesia karena memang ada suatu urusan yang mendadak dalam bisnis keluarganya. Dan saat itu lah Abi bertemu dengan Anita. Gadis manis yang ramah dan mudah bergaul itu menarik perhatian Abi saat dirinya menjadi mahasiswa terpintar dari kampusnya.
"Hanya setahun." Jawab Abi kemudian.
"Setahun? ngapain?"
"Ada pekerjaan dari kantor."
Quin melihat perubahan wajah Abi, apa dirinya salah bertanya akan hal itu?
"Kamu kenapa? kok tiba-tiba murung?"
"Aku? tidak. Aku tidak murung.".
"Benarkah? Tapi aku tak lihat ada senyuman di sini." Quin menunjuk pipi Abi.
Abi pun terkekeh, ia menahan tangan Quin. dan mengecupnya dengan cepat. Sehingga membuat Quin terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Quinndengan sedikit merona dan melihat ke kiri dan ke kanan.
"Aku bisa melakukan yang lebih dari sekedar mengecup tangan mu."
Wajah Quin semakin memerah. "Awas aja kalo brani, aku akan menghajar mu.'
"Oh ya? benarkah? aku akan dengan senang hati menerima pukulan kamu."
Abi semakin mendekat, membuat Quin memundurkan tubuhnya hingga mentok ke dinding, Quin pun tak bisa mundur lagi.
"Aww... aww..." Abi meringis saat Quin mencubit pinggangnya.
"Rasain, makanya jangan nakal." Quin terkikis geli saat melihat wajah Abi merengut.
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Abi yang mencium aroma soto pun semakin terasa lapar. Quin memang benar-benar istri yang ideal, selalu bisa membuat selera makan Abi semakin bertambah.
Hah, sepertinya Abi harus mulai olah raga kembali. Agar tidak buncit dan tetap seksi.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.