KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 110


__ADS_3

Quin menatap Lana yang duduk di hadapannya. Cekungan hitam itu terlihat sangat jelas di bawah mata Lana. Padahal sebelumnya jika Lana bergadang, Lana tak pernah mendapatkan cekungan hitam di bawah matanya, karena Lana ini adalah salah satu pria yang mengutamakan kulitnya juga ikut terawat. Mungkin efek dari kebiasaan mengikuti Quin dan Anggel ke salon.


"Kamu gak ingin memperjuangkan Anggel, Na?" Quin membuka suaranya.


"Quin,di dunia ini harta yang paling berharga bagi ku adalah Mama. Aku akan melakukan apa saja demi Mama, bahkan nyawa pun aku rela memberikanya."


"Semua bisa di bicarakan baik-baik, Aku yakin Mama pasti mengerti."


"Aku tak ingin membuat Mama semakin kecewa. Aku akan menuruti apapun yang Mama inginkan."


"Termasuk menikah dengan wanita lain?"


Lana menoleh dan menatap Quin tajam.


"Hmm, aku hanya berandai-andai. Kamu tidak akan mungkin melajang sampai seumur hidupkan?"


Lana membenarkan posisi duduknya, kemudian ia tersenyum. "Mungkin aku akan melakukan itu."


"Bagaimana jika Mama Puput merestui hubungan kamu dan Anggel, tapi semua telah terlambat?" kali ini Abi yang bertanya.


"Aku akan menunggu Anggel hingga menjadi janda. Aku akan tetap menunggu Anggel. Jika dia tak bahagia dengan pernikahannya, maka aku siap untuk membahagiakan Anggel."


Abi tersenyum puas. Ternyata tak terlalu sulit untuk membuat Lana mengatakan hal tersebut. Menunggu janda Anggel? yang benar saja?


Tanpa Lana dan Quin ketahui, Abi memasang microphone yang sudah tersambung kepada Papa Fadil dan Opa Bram.


*


"Kalian dengar? Lana dan Anggel benar-benar saling mencintai." Ujar Opa Bram.


Mama Puput menghela napasnya, kemudian melirik kearah Oma Mega. Oma Mega ternyata juga melakukan hal yang sama.


"Oke, Mami mau lihat seberapa besar cinta Lana kepada Anggel, jika Mami tetap tak merestui hubungan mereka."


"Puput juga ingin melihat, apa Anggel pantas di perjuangkan oleh Lana atau tidak."


Perang dingin itu masih berlanjut, walaupun mereka saling melempar senyum manis.


*


"Abi, tidur sama Empus yuk. Besok kan Empus mau di bawa." Quin mencoba membuju Abi.


"Mau tidur di mana? di kandang Empus?"


"Kita piknik bareng Empus. Pasang tenda di halaman."


"Baiklah, sesuai permintaan kamu Mu Quin."


"Makasih, Abi." Quin refleks memeluk tubuh Abi, saat ia sadar, dengan cepat Quin melepaskan pelukannya. Namun Abi dengan cepat menahan pinggang Quin.


"Ada syaratnya." Ujar Abi dengan suara yang berat.


"Sya-syarat? apa?"


"Aku ingin ciuman dari kamu."


Mata Quin berkedip dengan cepat. Jantungnya berdebar dengan hebat. Wajah Abi semakin mendekat, bahkan nafas Abi sudah menyapu kulit wajah Quin.


Perlahan, Quin memejamkan matanya di saat bibir Abi mulai melum*at bibir nya. Terlena dengan permainan Abi, Quin perlahan menaikkan tangannya dan mengalungkannya di leher Abi. Quin pun mulai membalas ciuman Abi.


"Aku mencintai mu ,Quin." Bisik Abi setelah ciuman mereka terlepas.

__ADS_1


Quin tak menjawab, ia memilih menyembunyikan wajahnya yang merona itu di dada bidang Abi.


*


Bukan hanya Abi dan Quin yang sedang berciuman, Veer dan Nafi pun tengah menikmati ciuman panas mereka di dapur. Veer sangat bahagia saat Nafi menyuguhkan teh buatannya dan juga cake buatannya. Yaa, walaupun Quin membantunya, tapi setidaknya Nafi sudah mulai ingin belajar memasak.


Dulu, Veer sempat berfikir dan ingin memiliki seorang istri yang pintar memasak. Tapi sekarang, Veer tak memperdulikan hal itu. Baginya, mau Nafi bisa masak atau tidak, yang jelas Veer sangat mencintainya. Veer tak peduli jika Nafi ingin ke dapur atau tidak. Yang Veer peduli adalah Nafi juga mencintai nya, seperti apa yang Veer rasakan kepada Nafi.


"Ve-veer, ap-apa kamu menginginkannya?" Tanya Nafi di sela ciuman mereka yang terlepas.


Nafi yang posisinya duduk di atas pangkuan Veer dapat merasakan sesuatu yang mengeras di bagian bokong nya.


"Aku memang menginginkannya, tapi aku tak akan memaksa jika kamu belum siap. Aku akan kembali bersabar seperti waktu itu."


"Wak-waktu itu? ma-maksud kamu apa kita pernah melakukannya?"


"Hmm, Kita pernah melakukannya. Dan aku berharap benih nya telah tumbuh di sini." Veer membelai perut rata Nafi.


"Ve-veer, dia bergerak di bawah sana." ujar Nafi dengan malu.


"Karena dia merindukan kamu."


"Ap-apa itu akan sakit?"


Veer menatap Nafi, menatap tepat di manik matanya.


"Veer, jika kamu menginginkannya, aku siap. Tap-tapi, bisakah kamu melakukannya dengan perlahan?"


Ya, setelah Nafi mencurahkan isi hatinya kepada Mama Kesya tentang hubungannya dengan Veer. Nafi merasa hati nya menghangat dan ia siap melakukannya.


Pesan Mama Kesya, "Jika kamu mencintai Veer, maka segala sesuatu dalam fikiran dan hati kamu semuanya tentang Veer. Perlahan ketakutan kamu pasti akan menghilang karena besarnya cinta kamu kepada Veer. Karena Veer adalah Veer, bukan bajingam itu. Dan Veer tak akan pernah bisa di samakan dengan bajingan itu."


Nafi menangkup wajah Veer, dengan memberanikan diri Nafi mengecup bibir Veer.


"Aku sangat yakin, Karena kamu bukanlah bajingan brengsek itu."


Veer membelai pipi Nafi, dan membawa sebagian rambut Nafi kebelakang telinganya.


"Aku mencintai mu, Veer." Ujar Nafi yang mana membuat Veer tersenyum dan langsung membungkam bibir Nafi dengan penuh cinta.


Dan malam ini, akan menjadi salah satu malam terindah bagi mereka berdua.


*


"Ma, Ila mau ngomong sama Mama."


"Mau ngomong apa, sayang?"


"Emm, itu, waktu itu Mama pernah tanya sama Ila, apa ila mau di jodohi dengan anak teman Mama?"


"Heuem, lalu?"


"Ila setuju, Ma."


Mama Rosa membenarkan duduknya. "Kamu serius, sayang?"


"Iya Ma, Ila serius."


"Buaknnya waktu itu kamu bilang, kalau kamu ada pacar yaa?"


"Ila bohong Ma, Ila belum mau menikah saat itu. Tapi setelah Ila fikir-fikir, sepertinya Taka da salahnya untuk mengenalnya dulu."

__ADS_1


"Baiklah, jika kamu sudah yakin dengan apa yang kamu ucapkan."


"Ma, ada satu lagi."


"Iya, kenapa?"


"Tolong rahasiakan hal ini pada siapapun ya. Termasuk sama Bunda Sasa dan Oma Shella."


"Kenapa?"


"Ila cuma gak mau di goda-goda, Ila malu."


"Baiklah, Mama akan merahasiakannya. Tapi, anak teman Mama itu maunya serius, gak mau pacaran. Gimana?"


"Ila siap kok Ma."


"Beneran?"


"Iya, Ma."


"Hmm, ya sudah kalo gitu. Nanti Mama coba hubungi temen Mama ya. "


"Iya Ma, kalau begitu Ila kembali ke kamar ya Ma."


"Iya sayang."


Setelah kepergian Kayla, Opa Nazar pun menghampiri Oma Rosa yang kembali merajut sweater untuk cucu nya dari Kiki.


"Ila kenapa, Ma?"


"Ooh, Ila setuju untuk menerima perjodohan yang di tawarkan oleh Neta waktu itu."


"Tumben banget? bukannya dia lagi dekat dengan Zein?"


Oma Rosa menoleh kepada sang suami.


"Ayah kenala bilang gitu?"


"Hmm, beberapa kali ayah mendengar jika Ila sering mengatakan cinta kepada Zein, begitu lun sebaliknya."


"Ayah nguping?"


"Bukan nguping, gak sengaja denger aja. Ayah awalnya penasaran, Ila sering telponan sama siapa, pas ayah cek ponselnya, ternyata nama Zein di sana."


"Iih Ayah, masa anak gadis nya di mata-matain sih."


"Ya kan Ayah pingin tau juga siapa yang udah buat anak Ayah jatuh cinta. ternyata pacar lima langkah."


Oma Rosa terkekeh, suaminya yang terkadang irit bicara ini selalu bisa membuat dirinya tertawa. Untung Kesya dan Kayla tak mengikuti sifat ayahnya yang irit bicara itu, tapi sifat yang suka mencintai dalam diam selalu menurun kepada kedua putrinya.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2