KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 102


__ADS_3

Quin masuk kedalam walk in closet milik Abi. Quin merasa takjub dengan isi di dalamnya. Abi memiliki beberapa parfume yang berada di meja riasnya itu, kemudian ada tali pinggang, dan juga jam tangan mewah nya.


"Waaah ..."


Quin berseru kagum melihat semua barang-barang Abi. Quin tertarik dengan parfume yang ada di sana, ada 5 parfume dengan merk yang sama, kemudian 4 parfume dengan wangi yang berbeda. Quin pun menciumi satu-satu aroma parfume tersebut.


Quin tersenyum di saat mendapatkan aroma parfume yang biasa melekat di tubuh Abi. Quin menggigit bibirnya sambil meletakkan kembali botol parfume tersebut.


Quin berjalan dan kemudian membuka satu pintu lemari. Quin tersenyum di akal melihat jika Abi bukan pria yang kaku, karena banyaknya warna di dalam lemari nya itu. Namun, saat Quin membuka lemari satu nya lagi, Quin terkekeh dengan fikirannya barusan. Baru saja Quin berfikir jika Abi bukan orang yang kaku karena memiliki banyak warna jas, namun sedang ia melihat sederetan jas yang tergantung bewarna hitam.


Quin kembali membuka pintu yang lain, Di mana terdapat sederetan baju kemeja, dari warna putih, Abu-abu, hitam, dan juga coklat. Quin membuka pintu lemari yang lain, berharap jika ada model baju yang bisa dia pakai, dan setidaknya tidak membuat fikiran Abi berkelana ke mana-mana.


Yaa, seperti yang di film-film. Si wanita nya memakai kemeja putih si pria, dan membuat si wanita terlihat menjadi semakin seksi.


Quin kembali membuka lemari yang lain, dan senyum Quin mengembang di saat menemukan sederet jaket Hoodie di sana. Quin mengambil salah satunya, dan mengukur ke tubuhnya. Quin tersenyum di saat mendapati panjang jaket tersebut hingga sampai ke pahanya.


Namun, ada satu masalah lagi. Mungkin Quin bisa tak menggunakan Bra, dan itu tak akan kelihatan karena jaket Hoodie yang Quin pegang berbahan tebal. Quin pun mencari celana pendek atau pun boxer milik Abi. Senyum Quin kembali mengembang, saat langsung menemukan lemari khusus Boxer. Quin mengambil satu yang berwarna hitam dan segera memakainya.


"Kendor." Gumamnya,


Namun tak masalah, karena Quin bisa membuat simpul di unjung karetnya dan membuat celana tersebut menjadi ketat.


Quin menoleh kekamar mandi saat ingin memakai Hoodie nya. Masih terdengar suara gemericik air, itu tandanya Abi masih belum selesai dengan ritual mandinya.


Quin pun dengan cepat membuat kimnonua dan memakai Hoodie tersebut. Tangan Quin menahan celaan boxernya agar tidak terjatuh. Quin berjalan keluar dari kamar Abi, menuruni tangga dan meraih tas nya yang berada di atas sofa. Quin ambil karet balon yang ada di dalam tas nya. Karet yang selalu ia bawa ke mana-mana. Quin pun mengikat celana Boxer nya agar tidak terjatuh.


Quin memegang perutnya yang terasa lapar. Quin menatap kearah luar, dimana langit sudah terlihat gelap karena hujan yang sangat lebat. Quin menghela napasnya, ia memandang kearah kamar Abi, sepertinya Abi masih lama.


Quin pun berjalan kearah dapur, berharap menemukan secercah harapan untuk perutnya. Quin membuka kulkas, namun hanya terdapat dua buah apel di sana. Quin mengeluarkan apel tersebut.


"Hmm, mana kenyang kalo cuma apel doang." Gumamnya.


Quin membuka lemari kitchen set, dan senyum Quin langsung mengembang di saat menemukan mie instan goreng di sana. Namun, Quin mengernyit, karena satu lemari itu isinya hanya mie instan goreng saja.


"Tu anak dokter, tapi makananya mie instan. Yaa, emang dokter hewan sih. Tapi kan tetap aja mengerti dengan kesehatan." Gerutu Quin dan mengambil tiga bungkus mie instan tersebut.


Saat membuka kulkas tadi, Quin sempat melihat ada sosis di dalam sana, Quin pun. mengambil sosis tersebut untuk dijadikan topping di atas mie nantinya.

__ADS_1


*


Abi sudah selesai mandi dan berpakaian, perutnya juga sudah terasa lapar. Abi pun berniat untuk memesan makanan. Kaki jenjang Abi menuruni tangga satu persatu, hingga hidungnya mencium aroma yang sangat nikmat dan slalu di rindunya saat di Australia sana.


Abi melangkahkan kakinya dengan lebar menuju dapur. Melihat Quin yang terlalu serius menghidangkan mie tersebut membuat Abi ingin menjahilinya.


"Aku lapar." Bisiknya sambil melingkarkan tangannya diperut Quin, dan memeluk Quin dari belakang.


Quin jelas saja terkejut, namun ia bisa apa? karena tangan Abi sudah melingkar di pinggangnya.


"A-Aku lagi pindahin mie nya, kamu duduk dulu di sana"Ujar Quin gugup.


Bagaimana tak gugup? hembusan nafas Abi yang mengenai daun telinganya membuat tubuhnya meremang.


"Aku mau di sini aja, dekat kamu." Bisiknya lagi.


"A-aku susah geraknya Abi."


Abi pun akhirnya mengalah, ia melepaskan pelukannya dengan tidak rela. Namun bukannya duduk di meja makan, Abi malah menyandarkan tubuhnya di kitchen set, dengan tangan yang berlipat di dada sambil memandang kearah Quin.


Abi memperhatikan Quin yang terlihat sangat seksi dengan baju kebesarannya, di tambah lagi rambut basahnya yang di gerai. Menambah kesan seksi di mata Abi.


"Kamu cantik."


"Harus dong, Mama aku kan cantik, Papa Aku juga tampan, masa anak nya gak ngikut Mama Papa nya." Ujar Quin yang mana membuat Abi terkekeh.


Mencintai Quin mengajarkan Abi bahwa cinta itu tak perlu sesuatu yang mewah, cukup melihat senyumnya maka kamu juga akan tersenyum.


"Berarti anak kita bakal cantik kayak kamu, dan tampan kayak aku dong." Ujar Abi yang mana membuat wajah Quin memerah.


"Udah selesai, makan yuk ... aku laper." Ujar Quin sambil melewati Abi dengan memegang dua piring mie di tangannya.


Abi menahan pergerakan Quin dengan memeluk pinggangnya.


"Abi ..."


"Jawab dulu pertanyaan aku tadi."

__ADS_1


"Per-pertanyaan yang mana?" Tanya Quin gugup.


"tentang Anak-anak kita." Bisik Abi.


"I-itu ... Ten-tentu saja mereka akan mirip sama kamu ataupun sama aku."


"Oh ya? Kamu mau anak berapa?"


"A-abi, aku lapar. bolehkah kita hentikan dulu pembahasan nya?" pinta Quin dengan mata memohon.


"Baiklah, Ayo ..." Abi mengambil alih piring yang Quin pegang, dan membawanya ke meja makan.


Abi dan Quin pun makan dalam diam, hingga suara Quin menarik perhatian Abi.


"Oh ya, kenapa banyak banget mie instan goreng di lemari?"


"Itu? kamu tau kan, kalo mie ini salah satu mie yang sangat di incar dan sulit di dapat. Jadi, pada saat aku kembali ke sini, Aku sengaja membeli dua kotak, dan ingin memakannya hingga aku bosan." Abi terkekeh mengingat saat dia berebut mie instan dengan teman seprofesinya saat mereka berjaga malam di sebuah klinik hewan terbesar di sana.


"Tapi ini gak baik juga buat kesehatan, banyak-banyak makan micin bisa bodoh." Ujar Quin yang mana membuat Abi tertawa terbahak-bahak.


*


Di sebuah kamar yang bernuansa putih dan berbau obat-obatan, Anggel menatap lurus kearah jendela, dan melihat rintik-rintik hujan yang membasahi bumi.


Hati Anggel terasa perih, hujan Ini seolah mewakili perasaannya yang juga sedang sedih. Anggel merindukan Lana. Namun Sang Mami tak mengizinkan Anggel untuk berkomunikasi dengan Lana.


"Lana, aku rindu." lirihnya bersamaan dengan air matanya yang jatuh.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2