
Malam pelepasan masa lajang pun tiba. Nafi adalah orang yang paling bersemangat untuk hal ini. Katakanlah Nafi kampungan karena tak pernah memiliki seorang teman satu pun.
“Yeey, kita udah seperti kembar lima.” Nafi terkekeh melihat penampilan mereka yang menggunakan piyama tidur yang ssama.
Malam ini mereka akan tidur bersama di kamar Quin. Sebenarnya Anggel tak di izinkan untuk keluar rumah, Namun Nafi memohon agar Anggel dapat bergabung bersama mereka. Oma Mega pun akhirnya menyetujui karena tak tega melihat Nafi yang hampir mengeluarkan air mata.
Seluruh keluarga merasa senang dengan perubahan Nafi yang sekarang. Nafi terlihat lebih berseri dan hangat. Tidak sedingin seperti sebelumnya. Mungkin ini pengaruh dari kehamilannya. Seluruh keluarga berharap agar sifat nafi yang ceria seperti ini tetap melekat pada dirinya setelah ia melahirkan nanti.
“Kita foto yuk, Aku gak pernah ada foto bersama keluarga atau pun teman. Saat berteman sama Quin yang ku kenal sebagai Qila pun, ia tak pernah ingin berfoto dengan ku.” Nafi mengerucutkan bibirnya.
“Benarkah? Lihat siapa yang berbicara.”
Nafi terkekeh kemudian ia merangkul lengan Quin.
Mereka pun berbincang sambil tertawa di atas tempat tidur. Tawa mereka terdengar keluar kamar. Sedangkan Abi berada di rumah aunty Risma sejak dua hari lalu. Mama Kesya sengaja memingit Abi dan Quin agar saat resepsi pernikahan mereka nanti, Abi melihat Quin dengan penuh rindu dan kecantikan yang berbeda.
Awalnya Abi dan Quin menolah, tapi akhirnya mereka setuju karena ingin merasakan rindu tak bertemu.
“An, tersenyumlah. Setidaknya Martin tak sejelek yang kita lihat di awal.”
“Hmm, gini amat ya nasib aku.”
Semua kan indah pada waktunya, Kak.” Ujar Raysa dan tersenyum.
“Ya indah, kalo aku bisa jatuh cinta sama Martin, kalo gak?”
“Selingkuh juga indah.” Kayla terkikik geli saat melihat Anggel melototkan matanya.
“Kay, Aku penasaran deh, Kamu kok bisa sama Kak Zein ya?”
“Eh, itu?”
“Ayo lah, ceritakan bagaimana kisah kalian bermula?”
Kayla menelan ludahnya, semua wanita sudah menatap Kayla dengan menggoda.
“Baiklah ... baiklah, Aku akan menceritakannya.”
Saat itu Kayla yang sedang menempuh pendidikan di negeri orang pun tak sengaja bertemu dengan Zein yang juga sedang melakukan perjalanan bisnis di sana. Saat itu Kayla memang memiliki perasaan kepada Zein, bahkan perasaan itu tumbuh saat mereka mulai beranjak dewasa. Kayla tak berani mengungkapkan perasaannya, namun
saat Zein meminta Kayla untuk menemaninya ke pest. Zein yang sedang berbicara dengan koleganya pun meninggalkan Kayla sendirian. Kayla yang merasa haus pun berjalan menuju meja yang terhidang banyaknya minuman, Kayla pun memilih gelas yang berisi air putih. Namun Kayla tak mengetahui jika minuman itu bukanlah air
putih biasa, melainkan minuman beralkohol. Kayla menegak minuman itu hingga habis, namun tenggorokannya terasa terbakar sehingga membuat Kayla meminum gelas yang kedua.
Zein yang menyadari jika Kayla meminum air haram, langsung berjalan menghampiri Kayla dan menghentikan pergerakan Kayla untuk meminum gelas yang ketiga. Zein menyadari jika Kayla sudah mulai kehilangan kesadaran.
“Kak Zein? Kakak kok bisa tampan banget sih?” Kayla mencubit kedua pipi Zein.
__ADS_1
Zein akhirnya membawa pulang Kayla ke apartemennya. Karena tak mungin Zein membawa Kayla ke asramanya, Sudah pasti kayla akan terkena masalah jika ia pulang dalam keadaan mabuk.
Zein menggendong tubuh Kayla ala bridal style. Kayla mengalungkan tangannya di leher zein sambil membelai wajah Zein dengan seksi.
“Kakak tampan banget, aku suka. Tapi kakak selalu menganggap ku seorang adik.” Kayla mengerucutkan bibirnya.
Zein memandang wajah Kayla, andai saja Kayla tahu jika Zein mencintainya, mungkin mereka tak akan berada dalam fase tersiksa dengan hubungan yang di dasari atas nama adik dan kakak.
Zein membelalakkan matanya di saat Kayla tiba-tiba mengecup pipi Zein sambil berkata. “Aku sayang kakak.”
*
“Hmm, jadi kamu yang duluan menyatakan perasaan?” tanya Quin dengan nada menggoda.
“Aku tidak sadar waktu itu, lagi pula keesokan paginya kak zein yang menyatakan cintanya.”
“Lalu, kenapa kalian menyembunyikan hubungan kalian?”
“Itu karena aku takut jika tak ada yang merestui hubungan kami. Apalagi kami masih terjalin hubungan saudara.”
“Tapi kenyataannya seluruh keluarga mendukung hubungan kalian.”
“Hmm, enak banget gitu. Semoga ada keajaiban untuk Aku.” Anggel mengeluh.
“Semoga saja Martin hilang ingatan, hingga akhirnya kamu menikah dengan Lana,” ujar Quin.
Keesokan paginya, Nafi sudah meminta Veer untuk me-reservasi sebuah salon untuk mereka melakukan perawatan. Tentu saja Veer akan memenuhi permintaan sang istri tercinta. Bahkan Veer menyewa salon danspa tersebut hingga empat jam tanpa menerima pelanggan lainnya. Agar privasi orang-orang yang di sayanginya
terjaga.
Kali ini Desi ikut bergabung bersama mereka, dan itu juga hasil dari rengekan Nafi.
Duh bumil, merengek sikit langsug di kabuli keinginannya.
“Kak An, ternyata Mas Martin tampan juga ya.” Goda Raysa yang mana saat ini mereka tengah berendam di jacuzzi dengan air susu dan taburan bunga bersama Anggel, Quin, Desi, dan juga Kayla.
“Hah, buat apa tampan kalo nyebelin.” Gerutu Anggel.
“Awas bucin loh kak.”
“Kamu mau bilang, kalo aku bakal bucin sama Martin kaya kamu ke Fatih?”
“Iih, aku gak bilang gitu Mbak.”
" Ayo cerita, apa saja yang sudah kalian lakukan?” tanya Quin dengan tatapan menggoda
kearah Raysa.
__ADS_1
“gak ngapa-ngapain kok.”
“Bohong banget, setidaknya kalian sering cip*kan kan?” ujar Kayla yang mana membuat para gadis, ekhem kecuali Quin yang sudah tak lagi bersegel, itu pun ikut terkejut mendengar ucapan Kayla.
“Waah, kayaknya Aunty ku satu ini udah ahli banget yaa ...” Ujar Quin sambil menaik turunkan alisnya.
“Eh, kok jadi aku sih?”
“Tanyain Anggel tuh, apa dia pernah cip*kan dengan Martin apa belum?” Kayla mencoba mengkambing hitamkan Anggel.
“Waah, ada yang mau menghindar nih. Aduh .. duh .. duh .. calon keponakan ku yang imut dan pendiem ini.” Goda Anggel.
“Eh iya, jadi penasaran dengan kamu dan Martin, ayo dong cerita.” desak Quin.
Anggel langsung memutar bola matanya malas. Huff, jangankan ciuman, jumpa dengan Martin saja Anggel sudah merasa sangat malas.
“Aku dan Martin gak ada memiliki hubungan apapun. Lagi pula kami setuju untuk berteman.”
“Ada ya, teman tapi nikah. Eh, ada deng, kayak ceritanya si Ayudya itu.” Quin terkekeh mengingat sebuah kisah cinta yang bermula dari persahabatan hingga mereka akhirnya menikah.
“Cerita apa sih? Seru banget?” Nafi baru muncul karena ia tadi berada di dalam kamar mandi.
“Ini, mau tau cerita ksiah cinta nya Anggel dan Martin.”
Nafi ikut masuk bergabung di dalam jacuzzi, detik selanjutnya semua terkejut karena Nafi memekik kegirangan.
“Ternyata begini yah mandi bareng dengan saudara. Sungguh menyenangkan,” ujarnya sambil memainkan air persis seperti anak kecil.
“Emangnya Kmau gak pernah mandi bareng dengan Veer?”
Bluss ...
Pertanyaan Quin membuat wajah Nafi merona, dan itu sungguh lucu sekali, hingga Nafi pun akhirnya menjadi sasaran mereka untuk di goda.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1