KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 14


__ADS_3

Nafi sudah meremas jari jemarinya, saat ini mobil yang ditumpanginya sedang menuju rumah kediaman Moza.


" Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Tuan Danudirja.


" Iya pa, Nafi baik-baik saja."


" Tangan kamu kenapa dingin begini? Apa terjadi sesuatu? sampai Veer harus menyuruh kita datang ke kediaman Tuan Farel?"


" Eemm, itu... Nanti Papa juga akan tahu. Biar Veer saja yang mengatakannya."


" Kalian membuat Papa dan Mama khawatir."


Nafi hanya mengulum senyumnya, jantungnya berdetak sangat cepat. Nafi takut mengecewakan Mama dan Papa. Walaupun Sebenarnya Nafi tau, jika sang Papa menyukai Veer.


Seluruh keluarga sudah berkumpul di kediaman Moza, tepatnya dirumah kakek Farel. Tadinya Veer sudah memesan restoran untuk pertemuan ini, namun keadaan kakek yang kembali drop, membuat Veer harus mengumumkan pernikahannya di rumah kakek Farel.


" Quin juga datang?" Tanya Kakek Farel.


"Iya kek, karena pengumuman ini harus seluruh keluarga yang tau."


Art membuka pintu saat tamu datang, Veer langsung menyambut kedatang Nafi beserta tuan dan Nyonya Danudirja. Kakek Farel, Oma Laura, Mama Kesya, dan Papa Arka terkejut sekaligus bingung saat kehadiran Keluarga Danudirja. Apa terjadi sesuatu dengan proyek yang sedang dijalankan?. Begitulah pemikiran mereka saat ini.


Veer mempersilahkan Tuan dan Nyonya Danudirja duduk, dan menyuruh Art menyiapkan makanan yang tadi sudah Veer pesan dari restoran, serta menyuruh membuat air untuk keluarga Danudirja.


" Aduuh, Perasaan Mama kok berdebar-debar ya Pa." Bisik Mama Kesya. " Apa terjadi sesuatu Pa.."


" Mama tenang yaa, percayakan semuanya kepada Veer "


" Bisa kita mulai Veer?" Tanya Tuan Danudirja, karena sudah tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


" Sebentar, kita sedang menunggu Quin tiba."


Tak berapa lama terdengar suara yang samar memberi salam.


" Maaf, saya terlambat." Quin menyapa dengan ramah.


Nafi tidak mengenali Quin, karena Quin memakai masker. Beginilah Quin, jika ada pertemuan keluarga yang mengharuskan dirinya ikut hadir, maka Quin akan menggunakan masker.


" Tidak apa-apa, kami juga baru sampai." Ujar Tuan Danudirja.


" Eem, maaf, sebelumnya saya memakai masker dan tidak membukanya. Bukan saya tidak menghormati Tuan, Nyonya, dan Nona, tapi ini demi privasi saya. Sekali lagi saya minta maaf."


" Tidak apa-apa, kami maklum kok." Jawab Nafi ramah.


Nafi seakan mengenal suara Quin, tapi dia ragu dengan tebakannya.


" Baiklah, karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, maka Veer akan mengumumkan sesuatu. Veer mohon semuanya jangan terlalu kaget, dan jangan berharap lebih. Karena ini semua hanya ketidaksengajaan semata."


Mama Kesya sudah meremas tangan Papa Arka. Mama Kesya takut, jika Veer khilaf dan berbuat yang tidak-tidak pada Nafi, karena keluarga Nafi juga berada di sini, dan Nafi sedari tadi menundukkan wajahnya.


" Jadi begini, Kakek, Oma, Papa, Mama, Tuan dan Nyonya Danudirja, Quin, Arash, Abash, dan Shaka." Veer menjeda kalimatnya, dia memandang satu persatu wajah saudaranya, serta kedua orang tua Nafi.


" Veer, dan Nafi sudah menikah."


Mama Kesya langsung lemas dan terkulai dalam pelukan Papa Arka, merasa dugaannya benar. Nyonya Danudirja sudah menutup mulutnya tidak percaya, sedangkan Tuan Danudirja sudah menatap marah kepada Veer.


" Apa maksudnya Veer, Apa yang telah kamu lakukan kepada putri saya." Ujar Tuan Danudirja dengan lantang.


" Papa, tenang dulu.. Biar Veer jelaskan" Nafi mencoba menenangkan sang Papa.


Kakek Farel sudah memegang jantungnya, berharap ini bukan pertemuan terakhirnya bersama keluarganya. Oma Laura menenangkan Kakek Farel, agar jantungnya tidak kembali kumat.


" Bagaimana Papa bisa tenang Nafi, dia mengumpulkan kita semua dan mengatakan sudah menikah dengan kamu. Apa yang terjadi?"


" Papa.. " Nafi sudah tidak sanggup berkata-kata lagi mendengar kemarahan sang Papa. Nafi takut mengecewakan kedua orang tuanya.


" Tuan Danudirja, sebaiknya kita dengarkan dulu Penjelasan Veer, dan jangan ada menyela setiap ucapannya." Papa Arka mencoba menengahi, karena melihat situasi yang sudah mulai memanas.


" Baiklah, jelaskan. Dan saya tidak akan pernah mengampuni kalian, jika Veer melakukan hal yang keji kepada Nafi."


" Veer, lanjutkan." Papa Arka menahan emosinya, demi kesehatan Kakek Farel.


" Jadi, Saat kami ingin pulang dari pulau Senja,. Ada satu kejadian alam yang membuat Nafi terjatuh dari Boat."


Veer menceritakan kronologi dari Nafinterjatuh dari Boat, serta Veer yang ikut terjun ke laut dan menolong Nafi, hingga boat yang tiba-tiba menjauh dan mengharuskan Veer untuk berenang ketepi dengan membawa Nafi. Nafi banyak meminum air laut saat dirinya hampir tenggelam, Veer mencoba mengeluarkan air dari dalam tubuhnya dengan cara melakukan CPR, Namun Nafi belum juga sadarkan diri dan tidak bernapas. Hingga akhirnya Veer memberikan napas buatan.

__ADS_1


Tubuh Nafi menggigil dikarenakan bajunyang basah, serta angin dan hujan. Veer menghangatkan tubuh Nafi dengan cara memeluknya, hanya memeluknya. Ingat, garis bawahi itu, hanya memeluknya, dan Veer juga bersumpah jika dirinya tidak melakukan apapun, hingga akhirnya mereka tertidur karena kelelahan. Suara Tata dan Dedi membangunkan Veer dan segera memakaikan pakaian Nafi. Namun mereka keburu menemukan Veer yang sedang memakaikan baju kepada Nafi. Sedangkan Veer dalam keadaan bertelanjang dada.


Kepala adat di pulau Gapura mengatakan jika apa yang dilakukan Veer adalah salah, dan mereka harus menikah sebagai hukumannya, agar pulau Gapura tidak mendapatkan hukuman dari para arwah yang mereka percayai.


Veer dan Nafi menikah secara sah di mata Hukum dan agama, dengan Dedi dan Lolajo sebagai saksinya. Veer juga mengatakan jika mereka harus tinggal dalam satu atap yang sama, membuktikan jika mereka tidak mempermainkan ikatan pernikahan. walaupun nantinya mereka akan berpisah setelah 6 bulan.


" Benar kamu tidak melakukakan apapun?" Tanya Papa Arka.


" Veer berani bersumpah demi nama Allah, jika Veer tidak melakukan apapun Pa."


" Lalu, apa kalian akan bercerai setelah 6 bulan?" Tanya Tuan Danudirja.


" Sesuai perjanjian kami, kami akan bercerai, karena tidak mungkin kami menjalankan pernikahan ini, sedangkan di antara kami tidak memiliki perasaan apapun."


" Cinta akan datang dengan berjalannya waktu Veer, apa kalian tidak ingin mencoba untuk saling memahami dan mengenal?" Tambah Mama Kesya.


" Jika kedepannya Veer dan Nafi saling mencintai, kami akan mempertahankan hubungan ini. Tapi, jika tidak, maka kami akan mengakhiri pernikahan ini. Nafi berhak mendapatkan suami yang sesuai dengan kriterianya, begitupun dengan Veer."


" Maksud kamu Nafi bukan tipe kamu?" Tuan Danudirja sepertinya sedikit tersinggung.


" Maaf Tuan, Tapi Veer menyukai wanita yang pintar masak, serta penyabar seperti Mama."


Tuan Danudirja menatap sendu sang putri, dalam hati berharap jika Nafi memang berjodoh hingga maut memisahkan dengan Veer.


" Bagaimana janjimu dengan kakek?" Kali ini kakek Farel bersuara.


" Veer akan tetap tinggal di rumah, sampai Quin menemukan pria yang tepat dan sampai Quin menikah."


" Itu Artinya kalian tidak tinggal di rumah kami?" Tanya Tuan Danudirja.


" Tidak Tuan, Saya dan Nafi sudah membicarakan hal ini. Dan Nafi setuju."


" Benarkah?" Tuan Danudirja mencari jawaban pada sang putri.


" Iya Pa.."


" Baiklah, Dan kamu Quin, sebaiknya mulai dari sekarang kamu mencari pasangan hidup kamu. Karena kakek sangat ingin melihat kamu menikah."


" Kakek, kenapa jadi Quin? Veer dan Nafi bisa mengadakan acara pernikahan." Quin tidak terima jika di sudutkan dalam pernikahan.


" Mereka hanya menikah sementara, dan kakek berharap, dalam waktu dekat ini kamu sudah memperkenalkan kepada kami, siapa calon suami kamu."


" Atau kamu harus terima dengan pilihan Kakek."


" Kakek, ini tidak adil. Hiikkss..." Quin berdiri dan menundukkan sedikit badannya untuk memberi hormat kepada Tuan dan Nyonya Danudirja. " Quin permisi."


" Quin.." Panggil Veer.


Veer ingin berdiri dan menyusul Quin, namun Mama Kesya menahan Veer.


" Biarkan Quin sendiri dulu. "


" Iya Ma."


" Baiklah, bagaimana jika kita makan malam dulu, sebagai penyatunya keluarga kita" Titah Kakek Farel.


" Kakek, jangan berharap lebih dalam hubungan ini."


" Kenapa? setidaknya kakek bisa melihat pernikahan kalian."


" Kakek, Maaf jika mengecewakan, tapi tidak kan ada pesta pernikahan diantara kami. Dan Kami juga memohon, agar pernikahan ini hanya keluarga kita saja yang tau."


" Kenapa begitu? Pernikahan kalian sah.."


" Kakek, Ini demi nama Baik Veer dan Nafi. Veer mohon, kakek mengerti yaa.."


" Baiklah. Tapi, tetap saja Nafi ini menantu kakek. Sini Nafi, salam sama kakek"


Nafi dengan kikuk bangkit dan menghampiri kakek Farel. Nafi meletakkan lututnya di lantai dan bersungkem kepada Kakek Farel. Veer yang melihat itu merasa ada getaran aneh di hatinya. Dengan ceoat Veer menepis perasaan itu.


" Kamu sungguh cantik Nafi. " Puji Kakek Farel dan mendaratkan ciumannya di kening Nafi.


Nafi berpindah ke Oma Laura, Oma Laura juga melakukan hal yang sama. " Selamat datang di keluarga Moza sayang."


Nafi berpindah ke Mama Kesya. " Semoga kamu selalu menjadi keluarga kami."

__ADS_1


Nafi hanya menampilkan senyum tipisnya. Nafi berpindah ke Papa Arka. " Semoga kamu bisa taklukkan keangkuhan Veer."


Veer yang mendengar itu langsung memutar bola matanya. Veer sudah memperingatkan untuk tidak terlalu berharap dengan pernikahan dirinya dan Nafi, tapi lihatlah, keluarganya malah menunjukkan jika pernikahan ini tidak akan pernah berakhir.


" Veer, apa yang kamu tunggu?" Tegur Tuan Danudirja.


Veer menampilkan wajah polosnya.


" Kamu tidak menyalami dan meminta restu kepada mertua kamu?"


" Hah? Oh?" Veer langsung menuju kearah Tuan Danudirja, dan menyungkem kepada Tuan Danudirja beserta Nyonya Danudirja.


" Menantu kebanggan" Ujar Tuan Danudirja, Veer hanya tersenyum kaku.


" Kalo begitu, Mari kita makan malam. Makan Malam pertama kalinya karena telah resmi menjadi keluarga." Ujar Kakek Farel.


" Mari.." Papa Arka mempersilahkan Tuan Dan Nyonya Danudirja untuk menuju ke meja makan.


" Silahkan Tuan." Ujar Veer.


Tuan Danudirja menghentikan langkahnya. "Tuan? " katanya.


Veer mengedipkan matanya polos. " Papa, panggil papa mulai sekarang, anak menantu." Tuan Da, eh, Papa Danudirja menepuk Bahu Veer sebelum kembali melangkah.


"Papa, Mama." Nyonya Danudirja yang bernama Mama Ayu pun ikut mengingatkan kembali Veer.


Nafi hanya tersenyum kikuk saat Veer menatapnya.


Di rumah, Quin sedang curhat dengan Empus. Tentang permintaan kakek, yaitu dirinya segera menikah.


" Gak banget kan Empus, masa aku harus nikah sama orang yang gak aku cinta sih..."


Ponsel milik Quin berdering, dan memunculkan nama Anggel yang membuat panggilan video kepadanya.


" Huaaa... Anggel..." Quin merengek sebemum Anggel mengucapkan salam.


" Kenapa Quin?" Tanya Anggel panik.


" Kakek, hikks..."


" Kakek kenapa?" Anggel sudah semakin panik.


" Masa kakek nyuruh gue nikah. Gak banget kan.. Huaa...."


" Ya ampun Quin... Aku kira apaan tadi.. Kamu ini.. Bikin ngagetin aja.."


" Hikkss... Kamu nikah Gih, biar kakek senang."


" Quin, cucu kesayang kakek itu kamu. Yaa kamu dong harus nikah.. Atau, kamu mau aku kenalin temen aku dari kalangan dokter?"


" Apaan sih, kayak gue gak laku aja.."


" Ya mana tau kan, atau kamu terima Lana aja!!"


" Yakin kamu gak cemburu kalo aku terima Lana?" Quin sudah menaik turunkan alisnya.


" Ehh, apaan sih. Biasa aja kali. Lagian aku udah punya pacar."


" Cuma status doang, malam Minggu malah ngajakin aku keluar. Ha..ha..ha.."


" Jadi, kamu mau gak aku kenalin temen-temen dokter aku?"


" Eem, dokter hewan ada gak? Biar peliharaan aku gratis semua biaya perawatannya." Quin memamerkan sederet gigi putihnya.


" Dasar kamu ini, Sultan tapi kere.."


Tawa Quin dan Anggel memenuhi ruangan, sehingga Empus pun ikut mengaum seakan ikut tertawa bersama mereka.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya yaa..


Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.


Jangan lupa komennya yaa.. Biar makin semangat..

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2