
Lana bernapas lega saat mendapatkan kabar dari Anggel, jika sang istri telah berada di Ibu kota dengan selamat.
"An, Mami rindu banget sama kamu, gimana kabar cucu Mami?" ujar Oma Mega.
"Alhamdulillah, baik,Mi. Mi, aku dengar Quin hamil ya?"
"Iya, sekarang Quin juga sedang dirawat di rumah sakit. Usia kehamilannya sama dengan kamu, mungkin hanya beda Minggu aja."
"Tapi Quin sehat kan, Mi? Anggel dengar, dia hampir keguguran."
"Iya, untungnya kandungan Quin kuat, hanya kondisi Quin saja yang lemah. Mungkin karena faktor pikiran juga."
"Si Quin ih, di bilang jangan banyak fikiran juga," kesal Anggel.
Sesampainya mobil yang ditumpangi oleh Anggel dan Oma Mega di rumah sakit, karena Anggel meminta untuk langsung di antar ke rumah sakit. Anggel langsung menuju ke kamar Kakek Farel, untuk melihat keadaan sang kakek.
Kebetulan sekali, Quin juga berada di dalam kamar sang kakek.
"Gimana kabar kakek?" tanya Anggel.
"An? kamu udah sampai?" Quin mengulurkan tangannya untuk di sambut oleh Anggel.
Quin yang duduk di kursi roda pun tersenyum bahagia saat kehadiran sang Tante rasa sepupu.
"Kamu gimana kabarnya? sehat-sehat aja kan? Aku benar-benar khawatir saat dengar kamu mengalami pendarahan," ujar Anggel sambil memeluk Quin.
"Aku gak papa, hanya aja saat ini harus bedrest total."
"Gak masalah, yang penting kamu sehat." Anggel mengalihkan perhatiannya kepada sang kakek. "Kakek gimana keadaannya?"
"Kakek sudah lumayan membaik, ini baru juga tidur, mungkin sektiar 15 menit yang lalu."
"Hmm, kamu juga harus banyak istirahat, jangan banyak fikiran, jangan bergadang juga," ujar Anggel.
"Iya, ini juga mau balik ke kamar, lagi tungguin Abi. Kamu juga, baru sampai udah langsung ke sini aja," ujar Quin.
"Aku gak bisa istirahat sebelum lihta keadaan Kakek dan kamu."
"Sekarang udah lihat, Kamu mending pulang dulu dan istirahat, si baby juga butuh istirahat." ujar Quin sambil mengelus perut rata Anggel.
"Iya, iya.. Eh, aku dengar baby kamu kembar ya?"
Dan, mereka pun berbincang sambil menunggu kedatangan Abi yang akan membawa Quin kembali ke kamarnya.
Butuh waktu berhari-hari untuk Quin berada di rumah sakit, karena kondisi tubuh yang benar-benar sangat lemah.
__ADS_1
*
Quin terkejut saat mendapatkan tamu tak di undang. Bahkan, tak pernah terlintas dalam pikiran Quin, jika akan di kunjungi oleh orang yang memang sama sekali tak ingin dilihatnya.
"Quin, Aku minta maaf atas semua kesalahan yang udah aku buat. Semuanya, juga kesalahan Mamaku," ujar Jamal.
Ya, orang yang mengunjungi Quin adalah Jamal. Sebulan lalu Jamal kembali tersadar dari tidur panjangnya. Bahkan, saat ini Jamal juga sudah memiliki seorang putri.
"Aku minta maaf Quin, sungguh. Mulai saat ini, Aku janji, tak akan muncul lagi di depan hadapan kamu. Aku akan membawa keluarga kecilku jauh dari kalian, bahkan, kemungkinan untuk kita bertemu pun, akan sangat kecil. Aku minta maaf sekali lagi Quin, Tolong maafin aku, Mamaku, dan istriku." ujar Jamal sungguh-sungguh.
Quin menghela napasnya pelan, kemudian dia tersenyum kepada Jamal beserta istri, yang mana pernah menjadi sahabat baiknya.
Jujur, sebenarnya mereka tak sepenuhnya salah. Jamal hanya menjalani perintah sang ibu, namun, perintah itulah yang membuat Jamal menyakiti Quin sangat dalam, di tambah lagi, Jamal merampas satu-satunya sahabat yang sangat di sayanginya.
"Aku memaafkan kalian," ujar Quin setelah dibungkam kediaman dalam waktu yang cukup lama.
Terlihat Jamal bernapas dengan lega, kemudian dia pamit dari hadapan Quin, tak lupa dia mengucapkan selamat atas kehamilan Quin, dan berdoa agar Quin bahagia selamanya.
*
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Abi setelah Jamal pergi meninggalkan ruang rawat inap Quin.
"Hmm, Aku baik-baik aja."
Abi mengelus rambut Quin, kemudian dia mengecup ubun-ubun Quin dengan sayang.
"Hmm, mau minta apa?"
"Aku mau tidur sambil di peluk." ujar Quin dengan manja.
Abi terkekeh kemudian mengecup kembali pucuk kepala Quin.
"Sesuai permintaan kamu, My Quin."
Abi berbaring dengan di ikuti oleh Quin. Quin menyusupkan wajahnya di dada bidang Abi, tempat ternyamannya. Tak butuh waktu lama, Quin seduah terlelap dalam tidurnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, tidak akan pernah. Aku ingin, kehidupan kita bahagia seperti Mama dan Papa." lirih Abi yang tak di dengar oleh Quin.
*
Sudah empat hari berlalu, Kakek Farel pin minta di rawat di rumah, karena Quin juga sudah diperbolehkan pulang. Namun, Quin tetap tak boleh letih, bahkan berjalan kaki menuju ruang tamu ke kamar saja, seluruh keluarga melarangnya. Quin terpaksa menggunakan kursi roda, bahkan untuk ke kamar mandi pun, Quin selalu di dampingi oleh Abi.
Jika tak ada Abi, maka Papa Arka akan setia menggendong Quin untuk ke kamar mandi, dengan di temani oleh Mama Kesya.
"Huuff, akhirnya di rumah juga. Udah bosan banget di rumah sakit," ujar Quin dengan manja kepada Abi.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu mau apa? Biar aku ambilin."
"Aku mau kamu di sini aja, boleh kan?"
"Boleh, tapi aku bikin susu dulu, ya."
"Gak mau, suruh bibi aja yang bikin. Aku mau kamu di sini aja," rengek Quin sambil memeluk pinggang Abi.
"Oke ... oke ... aku di sini," Abi mengelus rambut Quin dan mengecup pucuk kepalanya.
Quin tersenyum sambil mendongakkan kepala.
"Duh, yang bermesra-mesraan, gak lihat tempat." ujar Abash yang baru aja tiba.
"Makanya, cari pacar, tuh di sebelah ada d anggurin," ujar Quin sambil menunjuk kearah Sifa yang membawa satu keranjang buah untuk Quin.
Sifa sudah tersedak dengan ludahnya sendiri dan melirik kearah Abash.
"Belum ada kepikiran ke sana juga, aku mau fokus di perusahaan dulu." ujar Abash.
Quin melirik kearah Sifa, kemudian tersenyim tipis. Siapapun tahu, bagaimana cara pandang Sifa ke Abash, namun, Abash tak pernah menyadarinya. Atau, memang tak ingin mengakui apa yang terjadi antara dirinya dan Sifa.
"Ini, mbak. Maaf ya, aku cuma bisa kasih buah keranjang yang kecil." cicit Sifa sambil meletakkan buah tersebut di atas meja.
"Makasih ya. Oh ya, kamu ke sini bareng Abash?" tanya Quin.
"Nggak, Mbak. Kebetulan aja jumpa di depan."
Quin mengangguk-anggukan kepala.
"Eh, ada Sifa, kebetulan sekali. Bantuin aku yuk," ujar Nafi yang baru saja bergabung.
"Iya, Mbak."
"Quin, Aku pinjam Sifa-nya ya, sebentar." ujar Nafi sambil mengajak Sifa pergi. Entah apa yang mereka lakukan, Quin hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Nafi yang mulai susah berjalan, karena perutnya yang semakin besar.
** Yukk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF