KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 162


__ADS_3

"Aku akan menunggu." bisik Anggel sambil mengecup pucuk kepala Lana.


"Hmm, tapi sebelum aku pergi, aku mau ini." Lana memeras salah satu jeli kenyal dan kembar milik Anggel, sehingga si empunya memekik nikmat.


Yang tadi hanya ingin menyusu, berakhir menjadi memompa keringat. Lana pun akhirnya benar-benar terlambat untuk pergi ke lokasi syuting.


Anggel sudah terkikik geli melihat Lana yang geram dengan ponselnyanyang terus berdering sedari tadi. Hingga akhirnya Lana menonaktifkan ponselnya.


"Nanti malam lagi yaa, aku akan usahakan pulang cepat," ujar Lana sebelum berangkat dan menyempatkan diri untuk mencium bibir sang istri.


"Aku akan menunggu."


Anggel melambaikan tangannya kepada Lana, saat Lana menoleh kearahnya dan memberikan kiss bye.


Anggel kembali masuk kedalam apartemen nya, ia pun mengambil ponsel dan melihat sosial medianya.


*


Quin mengelus rambut Abi. Saat ini mereka baru saja selesai melakukan olahraga memompa keringat.


"Quin ..." panggil Abi.


"Hmm ..."


Tak ada jawaban, Quin pun menundukkan kepalanya, melihat wajah Abi yang bersandar di dadanya.


Quin terkekeh pelan, ternyata Abi memanggil namanya dalam tidur. Quin pun kembali melanjutkan mengelus rambut Abi dan ikut terlelap.


*


Quin menggeliatkan tubuhnya, ia merasa pening sekali saat membuka mata. Mungkin karena efek dari mereka melewatkan makan malam dan asik bercumbu didalam kamar.


"Kenapa, sayang?" tanya Abi yang telah memakai pakaian rapi.


"Kepala Aku pusing." lirih Quin.


Abi pun mendekat dan menyentuh kening Quin. Terasa hangat di punggung tangan Abi.


"Sepertinya Kamu demam. Mungkin karena kelelahan. Aku akan memanggil dokter."


Abi meraih ponselnya dan menghubungi dokter untuk memeriksa kesehatan Quin. Abi bangkit dari duduknya dan meraih baju Quin yang ada di dalam walk in closet.


Abi memakaikan baju kepada Quin.


"A-aku belum mandi junub," lirih Quin dengan malu saat Abi ini ingin membuka selimutnya.


Ya, Quin masih malu setiap tak mengenakan pakaiannya dihadapan Abi.


"Kamu lagi sakit,"


"Te-tetap saja, Aku harus mandi."


"Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat untuk Kamu."

__ADS_1


Abi langsung menyibak selimut dan menggendong Quin, sehingga Quin memekik terkejut.


"A-abi, turunkan Aku." cicit Quin yang sudah menyembunyikan wajahnya di leher Abi.


Gerakan yang Quin lakukan, serta hembusan napas dan juga suara yang terdengar berbisik seksi pun, membuat Jaguar Abi terbangun dan bergerak.


"Abi," cicit Quin lagi saat Abi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Quin, bisakah kamu diam? suara mu membuat Jaguar terbangun." ujar Abi dengan suara beratnya.


Quin menelan ludahnya kasar, ia benar-benar tak menyangka jika hanya dengan suara saja, bisa membangkitkan gairah Abi.


Abi turunkan dan dudukkan Quin di samping bathtub, Quin memeluk tubuh telanjangnya, dan berusaha menutupi bagian atas dan bawahnya, agar tak terlihat oleh Abi. Quin juga menundukkan wajahnya yang sudah memerah. Padahal ini bukan yang pertama kalinya ia tak mengenakan apapun di hadapan Abi, tapi tetap saja Quin masih terasa malu.


Abi mengisi bathtub dengan air hangat, sesekali Abi melirik kearah Quin yang menutupi bagian atas dan bawah intinya. Gerakan Quin itu terlihat sangat menggoda dimata Abi, sehingga membuat Jaguar semakin mengeras.


"Quin, bisakah Kamu tak melakukan gerakan itu?" ujar Abi dengan suara yang berat.


"Hah?"


"Ini sungguh menyiksa, aku tak mungkin melakukannya di saat Kamu sedang sakit."


Wajah Quin semakin merona, ia menundukkan wajahnya dengan napas yang memburu. Entahlah, mendengar suara berat Abi dengan lirih, membuat birahi Quin juga ikut naik.


Abi kembali menggendong Quin dan memasukkannya kedalam bathup yang sudah diberi sabun dan aroma terapi.


"Mandi lah, jangan terlalu lama, aku akan menunggu di luar."


Quin dan Abi pun berciuman dengan gairah yang semakin memanas. Hingga baju Abi basah karena terkena tangan Quin yang basah.


Abi melepaskan ciumannya dan menyatukan. kening mereka.


"Aku akan menunggu di luar. Jika diteruskan, aku tak yakin sanggup untuk tak menyentuhmu," bisik Abi tepat di depan bibir Quin.


Quin membelai dada Abi, dan menyentuh bibirnya dengan sensual.


"Tapi aku menginginkan mu,"


Sudut bibir Quin tertarik dan kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Abi. Abi yang sudha diberi lampu hijau dari Quin ikut masuk kedalam bathup, tanpa memperdulika. baju nya yang basah. Toh Abi bisa mengganti kembali pakaiannya.


Entah berapa lama mereka bertempur sambil bermain air, hingga ketukan pintu dari luar pun tak dihiraukan, bahkan panggilan aunty Risma pun tak diangkat, karena memang ponsel Abi berada di dalam kamar, di atas nakas, bukan didalam kamar mandi.


*


Abi keluar dari kamar dan langsung disambut tatapan tajam dari aunty Risma. Abi hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya.


"Kamu memanggil dokter Frans, namun membiarkan ia menunggu selama sejam?" cecar Aunty Risma. "Apa yang kamu lakukan? sehingga begitu lama menerima panggilan dan keluar dari kamar?"


"Emm, itu ..."


Cukup melihat tanda merah di leher Abi, Aunty Risma sudah tau apa yang membuat Abi lama keluar dari kamarnya, karena Abi hanya menggunakan baju kaosnya.


"Dasar nakal, katanya Quin sakit, bisa-bisanya kamu berbuat mesum dengannya." ujar Aunty Risma sambil menjewer telinga Abi.

__ADS_1


"Aww.. aww.. itu Quin yang minta, bukan salah Abi." ujar Abi untuk membela dirinya.


"Dasar pembohong," gerutu Aunty Risma sambil melepaskan jewerannya dari telinga Abi.


*


Quin telah diperiksa oleh dokter Frans. Dohter Frans pun mengatakan jika Quin hanya kelelahan saja dan juga Reaksi tubuhnya yang sedang beradabtasi dengan suhu baru.


Quin hanya diberikan obat penurun demam dan juga vitamin. Setelah selesai memberikan resep, dokter Frans pun undur diri.


"Hmm, ingat, jangan bikin Quin kelelahan dulu, Abi." ujar Aunty Risma sebelum meninggalkan kamar Quin yang mendengar percakapan mereka pun hanya diam saja, karena Quin memang tak mengerti apa yang dikatakan oleh Aunty Risma kepada Abi. Aunty Risma menggunakan bahasa German saat berbicara kepada Abi.


"Iya, Aunty." jawab Abi.


"Quin, Kamu harus habiskan buburnya ya, aunty rebus obatnya dulu." ujar Aunty Risma.


"Iya Aunty, terima kasih."


Setelah kepergian Aunty Risma, Abi pun mendekat kearah Quin.


"Kamu gak kerja?" tanya Quin.


"Gak, aku mau jagain kamu aja."


"Aku gak papa kok, kerjaan Kamu kan lagi banyak banget,"


"Gak papa, aku bisa kerjain dari rumah."


"Hmm, baiklah. terserah kamu saja."


Quin bersiap untuk tidur, namun Abi menahan pergerakannya.


"Makan dulu, setelah itu baru tidur."


Abi meraih bubur yang ada diatas nakas dan mulai menyuapi Quin. Tak butuh waktu lama untuk Quin menghabiskan buburnya, dan bertepatan dengan itu, aunty Risma pun masuk kedalam kamar mereka dengan membawa satu paperbag yang Quin tebak berisi obat.


"Minum dulu obatnya, baru istirahat ya,"


Quin mengangguk dan meminum obat yang diserahkan oleh Aunty Risma. Tak butuh waktu lama untuk Quin terlelap dalam tidurnya, Quin memang sangat kelelahan saat ini.


**


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


 jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


 Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


 Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2