KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 197


__ADS_3

Papa Arka turun ke dalam kubur untuk menyambut jenazah Kakek Farel bersama Veer dan Zein.


Tangis haru pun memenuhi pemakaman Kakek Farel, di mana Oma Mega kembali tak sadarkan diri di saat tanah mulai di jatuhkan secara perlahan.


"Quin, kamu harus kuat. Jangan terlalu di bawa sedihnya ya," bisik Mama Kesya kepada Sang anak.


"Ingat, di sini ada dua makhluk hidup yang sedang membutuhkan kamu untuk tetap kuat," bisik Mama Kesya lagi sambil menahan tangisnya dengan sepenuh tenaga.


"Iya, Ma." jawab Quin sambil menggenggam tangan Mama Kesya.


Lana sedari tadi tak melepaskan pelukannya dari Anggel. Wanita yang tengah hamil itu juga sudah terlihat pucat dan lemah. Lana takut, jika Anggel juga akan jatuh pingsan seperti Oma Mega.


Pemakan kakek Farel pun telah selesai, semua orang ikut mendoakan agar kakek Farel di bebaskan dari siksa kubur dan terangkan kuburnya dengan cahaya yang terang benderang.


"Mi, makan yuk," ajak Mama Kesya kepada Oma Laura.


"Mami gak lapar," tolak Oma Laura.


"Mi, kalau Mami begini, Papi pasti sedih, Mi. Kita makan yuk," bujuk Mama Kesya lagi.


"Key, Hiks ... Papi pasti saat ini kesepian di sana, hiks ... Mami rasanya ingin menemani Papi, Key," lirih Oma Laura sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Mi, Mami gak boleh ngomong gitu. Kalau Mami ngomong gitu, pasti akan membuat Mbak Mega, Quin, Anggel, dan lainnya ikut sedih. Mami harus kuat," ujar Mama Kesya.


"Ingat, Mi. Masih ada kami, anak-anak Mami yang masih butuh Mami," ujar Mama Kesya sambil mengecup punggung tangan Oma Laura.


"Mami Makan ya," bujuk Mama Kesya dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.


Oma Laura pun mengusap sudut mata Mama kesya yang basah, wanita yang sudah tak muda lagi itu pun tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Makasih, Key. Udah menjadi pilar yang kuat dalam keluarga ini," lirih Oma Laura dan mengecup kening Mama Kesya.


*


Papa Arka pun tersenyum tipis menyambut kedatangan Mama Kesya.


"Gimana Mami? Mbak Mega? Dan anak-anak?" tanya Papa Arka.


"Mami Laura sudah tidur bersama Mbak Mega, Quin, Anggel, dan Mbak Vina. Mereka di jaga sama Kak Vano dan Veer kok, ada Lucas juga tadi pasti aku mau keluar kamar, dia baru datang," ujar Mama Kesya memberi tahu.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Papa Arka kepada Mama Kesya.


"Hmm, aku baik-baik aja," jawab Mama Kesya dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


Papa Arka menarik tangan Mama Kesya untuk masuk ke dalam, kemudian pria paruh baya itu mendudukkan Mama Kesya di pinggir tempat tidur. Perlahan, Papa Arka memeluk tubuh Mama Kesya dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Menangis lah, Mas tau, kamu juga sangat kehilangan atas kepergian Papi," bisik Papa Arka yang memang sangat mengenal pribadi sang istri.


Mama Kesya pun membalas memeluk sang suami, wanita paruh baya itu pun menumpahkan air matanya yang seharian ini dia tahan demi menguatkan yang lainnya.


"Hikss ... Mas," lirih Mama Kesya yang sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Papa Arka.


Mendengar tangis Mama kesya yang terdengar pilu, Papa Arka pun kembali ikut meneteskan air matanya.


Pintu kamar yang tak tertutup rapat pun, membuat Oma Laura yang tadinya ingin menemui sang putra, dapat ikut mendengar dan menyaksikan bagaimana Mama Kesya menangis dengan sangat pilunya.


"Kamu sungguh luar biasa, Key," lirih Oma Laura dan kembali berbalik badan menuju kamarnya kembali bersama Veer.


"Mama benar-benar wanita yang laur biasa," puji Veer dalam hati saat melihat betapa kuat dan hebatnya Mama Kesya menyembunyikan kesedihannya di hadapan semua orang.


Nb: jujur, emak sedih buat part ini.


kalian sedih gak sihh???


😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2