
"Dengar, terkadang orang yang tak terlihat mencurigakan, harus tetap kamu waspadai."
"Iya, Abi ..."
Mobil yang di kendarai oleh supir pribadi Abi pun melaju dengan kecepatan sedang. Di depan dan di belakang mobil mereka, ada pengawal yang mengiringi.
"Quin ..."
"Hmm?" Quin menoleh.
Abi menatap wajah Quin dengan sendu, Abi benar-benar telah jatuh cinta kepada wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya ini.
"Kenapa? ada yang aneh dari wajah aku?"
"Boleh aku memeluk mu?"
Quin mengerjapkan matanya, ia melirik kearah supir. Ingin menggeleng, namun tak tega melihat wajah sendu Abi, ingin mengangguk, tapi malu dengan orang lain.
"Hanya sebentar." Pinta Abi memelas.
Quin menghela napasnya, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Abi langsung menarik tubuh Quin dan mengikis jarak antar mereka.
Jantung Abi berdegup kencang, ia juga tak peduli jika Quin mendengarkan detak jantungnya. Abi hanya takut jika terjadi hal-hal yang tak di inginkan.
"Abi ..."
"Biar begini dulu." Abi semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Quin.
"Bisakah kamu tetap berada di sisi ku?"
Quin tak menjawab, bahkan Quin tak membalas pelukan Abi. Abi merelai pelukannya setelah mengusap air matanya.
"Kamu menangis?" Quin masih dapat melihat sisa air mata Abi.
"Aku hanya merasa takut."
"Hei, Tak akan terjadi apapun, Tenanglah." Quin menangkup Wajah Abi.
Abi memegang tangan Quin yang menangkup wajahnya.
"Kamu harus janji, untuk tetap baik-baik saja."
"Aku janji."
Abi menarik tangan Quin dari pipinya, di tempelkannya tangan Quin di dadanya.
"Apa kamu bisa merasakannya?"
Quin menatap tangannya yang berada di dada Abi.
"Jantung ini mulai kembali berdetak cepat karena kamu. Bahkan cetakan ini lebih cepat dari siapapun. Aku harap, kamu gak meragukan cinta aku, Quin."
Quin bingung, ia benar-benar tidak tau dengan perasaannya saat ini. Bohong jika Quin mengatakan ia tak merasakan apapun, tapi!!!
__ADS_1
Quin menarik pelan tangannya, Abi pun membiarkan tangan Quin lepas dari genggamannya.
"Maaf, tapi Aku ... Aku ..." Quin menunduk, matanya terasa panas, Quin sendiri bingung dengan perasaannya saat ini. Ia tidak mencintai Abi, tapi ia tak tega menyakiti perasaan Abi.
"Aku akan menunggu, sampai kamu mencintai aku. Bahkan, jika kamu tak mencintai Aku, aku akan tetap selalu mencintai kamu."
Abi menangkup wajah Quin, sehingga mata mereka bertemu.
"Seperti yang pernah aku katakan ke kamu. Kamu tidak perlu memaksa dirimu untuk mencintai aku. Kamu cukup menerima cinta yang aku berikan ke kamu. Biarkan aku mencintai kamu, Hanya kamu.".
Satu tetes air mata Quin terjatuh, Quin tak tau apa yang ada di dalam fikirannya saat ini, yang jelas Quin tak sanggup mendengar ungkapan cinta dari Abi.
"Abi, hikks ... Aku mohon ... Hikss ... Jangan mengharapkan apapun. Hikss..."
Abi memeluk Quin, dan membiarkan Quin menangis di dadanya. Abi tak peduli, jika bajunya akan basah dengan air mata Quin ataupun kelenjar yang keluar dari hidung Quin.
Mobil yang di tumpangi oleh Quin dan Abi pun akhirnya tiba di depan toko Quin. Quin turun dengan di dampingi oleh Abi. Bahkan, pengawal langsung mengelilingi mereka berdua.
"Abi, apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Demi keselamatan kamu, Quin."
*
Sudah 4 jam Abi dan Quin berpisah. Abi tak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya. Fikiran Abi terfokus kepada Quin. Abi juga sedang memperhatikan gerak gerik Quin di layar komputernya.
Abi menatap kepada satu tamu perempuan yang tengah hamil. Menggunakan masker tapi matanya seolah-olah melihatku arah dalam. Abi bergegas menghubungi Desi dan memeriksa perempuan hamil tersebut.
Abi mengunci ruangannya dan berlari menuju toko kue.
Di sana, sudah ada perempuan hamil tersebut yang tengah menangis sambil bersujud kepada Quin.
"Aku mohon, hiks... percaya lah padaku Qila."
"Apa yang harus aku percayai?"
"Ini tidak seperti yang kamu fikirkan, aku juga dijebak. Aku akui, jika aku mencintai Jamal, tapi sumpah, aku tidak berniat untuk merebut Jamal dari kamu. Percayalah."
"Pergilah, aku tak ingin melihat mu.'
"Qila, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan.."
"Aku tak ingin mendengarkan apa pun, pergi." Bentak Quin dengan mata yang memerah menacarkan amarah.
"Kamu harus tau ini, ini hal yang sangat penting..".
" Usir dia." Bentak Quin kepada Desi.
Desi langsung memegang lengan perempuan tersebut.
"Qila, aku mohon. dengar kan aku. Jamal memiliki rencana buruk, dia... Akkkhhss..."
Tiba-tiba saja darah segar mengalir dari sela kaki nya. Quin yang tak tega langsung menyuruh pengawal untuk membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Abi, aku izinkan aku ikut ke rumah sakit."
"Tidak Quin , itu akan berbahaya bagi kami.'
"Aku mohon, dia sahabat ku. Aku mohon."
"Dengan pengawalan ketat, dan aku akan tetap berada di dekat mu. Selalu."
Quin menganggukkan kepalanya. Abi dan Quin mengikuti mobil yang membawa sahabat Quin. Quin menggenggam tangan Abi dengan kuat. Terlihat guratan khawatir di wajah Quin.
Sesampainya di rumah sakit, Anggel terkejut dengan pasien yang di bawa oleh Quin.
"Kamu yakin?"
"Lakukan yang terbaik, An." Pinta Quin.
"Baiklah."
Abi merangkul bahu Quin, sehingga Quin menyandarkan Kepalanya di dada bidang Abi.
"Dasar perempuan sialan.."
Terdengar suara teriakan dari seorang pria yang sangat Quin kenali.
"Jamal " Ujarnya dengan bergetar
Jamal melangkah dengan cepat kearah Quin dan Abi. Tangan Jamal sudah terangkat melayang kearah Quin.
Bugh....
Seluruh pengawal langsung berlari kearah Abi dan Quin. Pengawal pun langsung membuat perisai perlindungan untuk Abi dan Quin.
"Brengsek.."
Bugh .. bugh... bugh...
"Abi ..." Teriak Quin
Abi terus memukili Jamal tanpa ampun. Seorang pengawal langsung merengkuh tubuh Abi yang sudah duduk diatas tubuh Jamal.
"Abi, hiks.. aku mohon.. hentikan, aku tak mau kamu mendapatkan masalah." Quin langsung memeluk tubuh Abi.
Abi mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan Jamal yang tiba-tiba. Untungnya Abi cepat melindungi Quin hingga dirinya lah yang terluka.
"Aku gak akan biarkan hidup kamu bahagia, Qila. Aku akan membalas semua perbuatan ayah mu terhadap ibu ku." Ancam Jamal.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.