KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 64


__ADS_3

Quin yang tak biasa menggunakan high heels pun mulai terasa pegal pada kakinya. Quin menguatkan pegangannya pada bahu Abi.


" Ssst..." Quin meringis merasakan kakinya perih.


Abi menguatkan pegangannya di pinggang Quin.


" Kamu kenapa? lelah?"


" Kaki ku sakit, aku gak biasa pakai heels."


" Kita istirahat yuukk.."


Abi pun mengajak Quin untuk keluar dari lantai dansa.


" Aahh.." Quin kembali meringis saat kakinya terasa benar-benar sakit.


Dengan sekali gerakan, Abi langsung menggendong Quin ala bridal style.


" Waaah, yang pengantin baru siapa, yang gak tahan ke kamar siapa.. Ha..ha..ha.." Goda Fatih yang mendapatkan sentilan dari wanita cantik yang cantik dan jutek, yang tadi Fatih paksa untuk berdansa.


" Sakit cantik.."


" Mulut tu di jaga, udah ah.. males gue dekat-dekat Lo.." gadis cantik itu meninggalkan Fatih sendirian di lantai dansa.


" Eeh, gak boleh gitu. Makin kamu gitu, makin gak sabar aku bawa kamu pulang."


Gadis cantik, tinggi, dan berambut pendek itu membalikan tubuhnya dan menatap sengit kearah Fatih. Sedangkan Fatih memberikan kecupan jauh dan mengedipkan matanya.


" Iih, najis banget gue.." Gadis cantik itu bergidik geli melihat Fatih.


.


.


Abi mendudukkan Quin di salah satu kursi Yangada di ruang tunggu keluarga pengantin. Untungnya tamu tak lagi ramai, hanya orang-orang terdekat saja yang masih tertinggal, padahal malam semakin larut.


Abi berjongkok di hadapan Quin, dan meraih kaki Quin.


" Aahh, sakit Bi."


Perlahan Abi membuka sepatu Quin, Abi melihat jika kaki Quin sudah lecet dan memerah.


" Sepatu mahal ini loh, kok bisa lecet sih?"


" Ck, namanya juga aku gak biasa pakai heels. Anggel tadi udah saranin pake stocking, tapi akunya males."


Abi memberikan pijitan di kaki Quin.


" Ahh... pelan-pelan Bi."


" Iyaa, ini aku udah pelan-pelan kok, kamu tahan yaa.."


" Aahh, Abi..."


" Tahan Quin, aku nya juga sakit kalo kamu cengkram terlalu kuat bahu nya."


" Sakit Abi, aah... pelan-pelan."


Tanpa mereka sadari, jika di balik pintu tertutup tersebut sudah ada dua pasang telinga yang menguping di balik pintu. Terlihat dari wajah sang pria yang sudah mengeraskan rahangnya, dan juga mengepalkan tangannya dengan kuat.


" Pa, jangan bilang Quin dan Abi..."


" Aaww... ssstt.. aaah... sakit Abi.." Pekik Quin dengan sedikit rengekan.


Papa Arka yang juga ingin mengantar Mama Kesya untuk beristirahat pun, terpaksa mendengarkan suara-suara ambigu yang terdengar vulgar. Dengan menahan emosi yang membara, Papa Arka membuka pintu tersebut dengan kuat, dan menatap nyalang kepada Quin dan Abi.


" Papa.."


" Om.."


Seru Quin dan Abi secara bersamaan.


Papa Arka mengerjapkan matanya saat melihat pemandangan di hadapannya.


" A-apa yang kalian lakukan?" Tanya Papa Arka gugup.


Papa Arka melihat posisi Quin yang di atas sofa, sedangkan Abi berada di bawah sambil memegang kaki Quin yang terlihat memerah.


" Kaki Quin lecet dan juga terkesleo. Jadi Abi mencoba untuk mengobatinya."


Mama Kesya yang berada di belakang Papa Arka pun bernapas lega.


" Huuf, Mama dan Papa kira kalian__"


Mama Kesya tak sanggup melanjutkan ucapannya, tetiba saja bayangan saat kaki nya terkilir saat acara pernikahan Mami Vina dan Papi Vano terbayang. Di mana Papa Arka dengan sigap langsung menggendong Mama Kesya dan melakukan hal yang sama.


" Ma, pa, jangan bilang kalian berfikir jika Quin dan Abi___" Quin tak sanggup melanjutkan ucapannya, rasanya sangat malu mengatakan hal Vulgar di depan Mama Kesya dan Papa Arka.


" Eemm, itu... Ah, bagaimana kaki kamu sayang?" Mama Kesya mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Eem, ini udah lumayan Ma. Udah enakan."


" Waah, selain dokter hewan, Nak Abi juga bisa ngobatin kaki Quin yaa.." Mama Kesya tertawa hambar.


" Jangankan Kaki Tante, Hati Quin aja Abi mampu kok buat ngobatin."


" Benarkah?"


" Iyaa, maka dari itu Abi mau pernikahan Quin dan Abi di percepat."


" Secepat apa?" Tanya Papa Arka yang sudah duduk di sebelah Mama Kesya. Sedangkan Abi masih duduk di lantai.


" Abi mau dalam Minggu ini Quin menjadi istri Abi."


" Gak mau, mana bisa gitu, " Quin langsung menjawab pertanyaan Abi.

__ADS_1


" Kenapa? bukannya kamu udah setuju nikah sama Abi? jadi gak ada salahnya kan kalo pernikahannya di percepat?" Tanya Mama Kesya.


" Eem, itu.. nikah kan perlu persiapan yang matang Ma, Pa, apalagi ini pernikahan Quin. Dan Quin mau pernikahan yang berkesan." Quin memutar otaknya untuk memberikan jawaban yang mungkin Papa Arka dan Mama Kesya tetap memberikan waktu sebulan setelah pernikahan Veer dan Nafi berlangsung.


" Kamu benar, Apalagi kamu putri kami satu-satu nya. Jadi pernikahan ini harus benar-benar berkesan."


Quin menghela napas lega, berbeda dengan Abi yang sepertinya harus menggunakan plan B nya.


' Kamu boleh senyum Quin, tapi aku bisa pastikan jika dalam waktu dekat ini, kamu akan resmi menjadi istri ku. ' Abi emmandnag wajah Quin dan tersenyum tipis.


Abi tak ingin kehilangan wanita seperti Quin, apapun akan Abi usahakan, tujuan Abi hanya dua, membuat Quin jatuh cinta, dan membahagiakan Quin. Hanya itu tujuan Abi. Mimpi Abi adalah membangun rumah tangga yang bersama wanita yang di cintainya saat ini, yaitu Quin.


.


.


" Kamu sengaja menghindar dari aku?" Lana menarik Anggel ke tempat yang sepi.


" Na, bukankah sudah aku katakan, jika aku tak ingin kamu mendekati ku. Aku mohon, jangan jadikan aku pelarian mu."


" Kamu bukan pelarian ku An, percayalah. Aku mengatakan hal yang benar, jika aku mencintai mu." Lana berjalan mendekati Anggel.


" Kamu tau An, betapa sulitnya aku selama ini. Dulu, aku hanya mencintai satu wanita, dan duniaku hanya terfokus pada nya. Kamu tau siapa wanita itu An. Tapi, dengan seiringnya berjalan waktu, aku kembali merasakan perasaan yang sama. Aku gak tau kapan itu di mulai, yang aku tau, jantungku berdetak cepat di saat ada kamu. Awalnya aku bingung, perasaan apa yang aku rasakan ke kamu. Aku mencari tau perasaan itu, dan aku menemukan jawabannya. Aku jatuh cinta kepada kamu An."


Anggel tak menjawab ucapan Lana, Anggel hanya diam dan menatap kedalam mata Lana. Anggel tak menemukan jika Lana berbohong, tapi Anggel tak ingin berharap apa yang Lana katakan benar.


" Kamu tau kenapa aku mabuk malam itu? Itu karena aku bingung, Satu sisi aku ingin mengatakan jika aku mencintai kamu, namun satu sisi kalian semua tau betapa cintanya dan gilanya aku kepada Quin. Aku sadar menghubungi kamu, tapi aku menyebut nama Quin. Aku gak sanggup melanjutkan apa yang ada di dalam hati ku."


Lana menjeda ucapannya, maju selangkah tanpa di sadari oleh Anggel.


" Kamu ingat, saat Quin berlari dan memelukku?" Lana tersenyum miris. " Quin bilang, sudah saatnya aku berlari kearah mu. Di mata Quin, yang selama ini ku rasakan bukan lagi cinta, tapi obsesi. Aku terlalu terobsesi kepada Quin, hingga mengabaikan perasaan ku kepada mu."


" Dasar bajingan.." umpat Anggel.


" Yaa, aku memang bajingan, aku memang brengsek, aku akui itu An. Tapi aku gak mau kehilangan kamu."


" Kenapa? karena kamu takut kesepian?"


" Aku tak takut kesepian An, asal kamu ingat, aku memiliki pacar di Singapura. Tapi aku sama sekali tak mencintainya. Aku tak ingin kehilangan kamu An, aku bersungguh-sungguh."


" Kamu benar-benar bajingan Lana. Lebih baik kamu belajar mencintai kekasih mu itu, dan jauhi aku."


Anggel mendorong tubuh Lana, berlalu.


Lana menahan lengan Anggel. " Aku mohon An, kasih aku kesempatan."


Plaak...


Lana terkejut, namun ia sadar jika ia pantas mendapatkan tamparan itu.


" Kamu fikir hati aku terbuat dari apa Na? kamu fikir aku gak punya perasaan gitu? gampang banget kamu ngomong Na? atau.. hikss.. atau kamu memanfaatkan perasaan aku ke kamu? kamu bajingan Na, kamu bajingan.. Aku benci sama kamu, AKU BENCI... " pekik Anggel dan meninggalkan Lana yang mematung terdiam


" Kamu pantas membenci aku An, tapi aku akan tetap berjuang mendapatkan kamu." monolog Lana dengan menatap punggung Anggel yang semakin menjauh.


.


.


Papi Vano memperkenalkan kerabatnya kepada Zein. Zein mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Tuan Ali dan juga Yasmin, putrinya.


" Sebaiknya kamu ajak Yasmin berdansa " Ujar Papi Vano.


Zein pun menurut, dan mengajak Yasmin berdansa. Sebelumnya Zein sudah mengajak Kayla, namun Kayla lebih memilih berdansa dengan Abash.


Kayla terlihat kesal saat melihat tangan Zein bertengger di pinggan perempuan cantik itu.


Arash mengikuti arah pandang Kayla, yang mana sedari tadi Kayla terus mencebikkan bibirnya, membuat Abash tak nyaman.


" Kak Kayla suka sama kak Zein?" Tebak nya.


Kayla membolakan matanya, menatap Abash tak percaya.


" Gak ah, siapa juga yang suka sama kak Zein." Ucapan dan mimik tubuh Kayla tak menunjukkan hal yang sama.


" OOO, kirain suka ma kak Zein."


Entah kenapa, Abash ingin sekali menjahili Kayla.


" Setau Abash sih, perempuan itu namanya Yasmin, anak dari pengusaha batu bara." Abash memandang wajah kesal Kayla, " Apa mungkin mau di jodohi sama Kak Zein yaa?"


Kayla langsung menatap Abash tak suka. Kemarin, saat di restoran, Kayla tak sengaja bertemu dengan Zein. Saat itu Zein juga sedang menemani kliennya, yang juga membawa seorang wanita. Kayla mendengar sendiri, jika klien Zein ingin menjodohkan anaknya dengan Zein. Kayla yang merasa cemburu pun akhirnya mengundur diri dari makan malamnya bersama artis yang sedang debut.


Tanpa Kayla sadar, Jika Abash membawa mereka mendekat kepada Zein dan Yasmin. Abash sengaja membuat Kayla berputar di bawah tangannya, kemudian kembali kedalam rengkuhan Abash. Zein yang melihat itu seolah mendapatkan sinyal dari Abash. Zein pun melakukan hal yang sama, hingga akhirnya Abash meraih tangan Yasmin, dan Zein meraih tangan Kayla.


Kayla terkejut saat tersadar jika dirinya sudah berada di dalam pelukan Zein.


" Kak Zein.." Pekik Kayla pelan.


Zein tersenyum manis, kemudian ia mengedipkan matanya kepada Abash, dan di balas oleh Abash dengan menunjukkan jempolnya.


" Aku lelah, aku mau istirahat."


Kayla ingin melepaskan dirinya dari pelukan Zein, namun Zein semakin mempererat pegangannya pada pinggang Kayla.


" Kak.." Kayla melirik ke kiri dan kanan. Kayla takut jika ada yang memperhatikan mereka.


Suara teriakan Fatih membuat semua mata tertuju kepada Abi yang tengah menggendong Quin. Di saat itu, Zein menarik Kayla menuju tempat dimana hanya ada mereka berdua.


" Kak, lepasin.."


Kayla berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan Zein, namun Zein semakin memperkuat rengkuhannya.


Zein menekan tombol agar pintu lift terbuka. Dengan segera Zein membawa Kayla masuk.


" Kak.." pekik Kayla, namun Zein tak menanggapinya, seakan tuli dengan teriakan Kayla.

__ADS_1


Pintu lift kembali terbuka, Zein langsung membopong Kayla ke bahunya, karena Kayla yang terus saja berusaha memberontak dan ingin kabur dari nya.


" Kak, aku bilang ke Ayah Kakak mau culik aku.." Pekik Kayla.


" Bilang aja, biar kita di nikahi terus."


" Kak .."


" Yaa.."


" Turunin aku..."


" Baiklah.."


Zein menuruni Kayla di atas sofa, kemudian Zein langsung mengkung Kayla.


" Kak.."


" Aku cinta kamu Ila."


" Tapi ila gak.."


" Terserah, yang jelas kamu saat ini tengah berbohong."


" Sok tau banget. Awaass, Kayla mau kembali ke pesta, "


" Katakan, jika kamu tidak mencintai aku."


" Aku gak cinta sama kakak." Ujar Kayla tanpa memandang wajah Zein.


Zein tersenyum miring. Zein dekatkan wajahnya perlahan.


" Tatap aku ila, tatap mata aku, dan katakan, katakan jika kamu gak cinta sama aku."


" Kak, Ila mohon, lepasin Ila, pasti Mama saat ini sedang mencari Ila."


Zein menangkup wajah Kayla, membawa Kayla untuk menatapnya, menatap matanya.


" Aku akan lepasin kamu, tapi kamu katakan dulu, kalo kamu gak cinta sama aku."


Napas Kayla mulai memburu, jantung nya berdegup kencang.


" Aku..."


" Katakan Ila...".


" Aku... " Suara Kayla seakan tertahan di tenggorokan. Kayla tak mampu berbohong dan mengatakan jika ia tak mencintai Zein.


" Aku mencintai kamu ,Kayla. Dari dulu, hingga sekarang, dan sampai kapan pun."


" Kak, Aku..."


Wajah Zein makin mendekat, hingga hembusan napasnya mengenai kulit wajah Kayla.


" Apa kamu mencintai ku, Kayla Az-Zahra?"


Kayla yang masih menatap kedalam mata Zein pun, perlahan menganggukkan kepalanya.


" Ila cinta kak Zein.." lirih Kayla dengan menatap kedalam mata Zein.


Zein mengembangkan senyumnya, kemudian ia langsung menciumi bibir Kayla. Kayla yang terkejut langsung meremas jas yang di gunakan oleh Zein.


Zein melepaskan ciumannya, dan menyatukan kening mereka.


" Kak Zein jahat.. hikkss.. Kak Zein jebak Ila kan?"


" Jika tak begini, kamu gak akan mengakui perasaan kamu, Ila."


Zein mengecup kedua mata Kayla yang mengeluarkan air mata. Zein memeluk Kayla dengan cinta, dan mengecup pucuk kepalanya.


.


.


Jantung Nafi tak berhenti berdebar sedari tadi. Padahal ini bukan pertama kalinya ia dan Veer berada di dalam kamar yang sama.


" Fi.."


Nafi menoleh saat merasa ada yang memanggil namanya. Jantung Nafi semakin berdetak cepat di saat Melihat senyum merekah Veer.


Veer berjalan mendekati Nafi, yang mematung memandangi wajah Veer.


" Kenala melamun, Hmm?" Veer menyentuh wajah Nafi.


" A-aku gak ngelamun kok." Nafi tergagap.


" Hmm, benarkah?"


Veer membawa Nafi kedalam pelukannya, dan mencium kening Nafi.


" Kamu tau, aku hari ini sangat bahagia."


" Kenapa?"


" Karena seluruh dunia sudah tau, jika kamu adalah milik aku, dan hanya milik aku."


Wajah Nafi merona malu, dan Veer sangat menyukai itu.


Veer mendekatkan wajahnya, dan mulai mencium bibir Nafi. Nafi pun perlahan membalas ciuman Veer. Hanya satu yang veer harapkan, semoga malam ini Veer berhasil menjadikan Nafi miliknya seutuhnya.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2