
Nafi terbangun dari tidurnya, namun ia tak menemukan Veer di sampingnya.
“Veer ?”
“Ya sayang, aku di sini.”
Nafi bernapas lega dan turun dari tempat tidur. Nafi berjalan mendekati Veer yang masih fokus dengan laptop di hadapannya dengan jari-jarinya yang menari di keybord tersebut.
“Apa masih sibuk?” tanya Nafi dengan bergelayut manja sambil memeluk Veer.
“Kamu ingin makan?” Nafi menganggukkan kepalanya.
“Bersiaplah, sayang.”
“Baiklah.” Ujar Nafi dengan semangat.
Nafi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan riang, Veer menyeringai dan mengikuti Nafi masuk kedalam kamar mandi.
“Veer..” Pekik Nafi di saat merasakan tangan kokoh milik sang suami memeluk tubuh telanjangnya.
Nafi merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah sana, Nafi pun memjamkan matanya merasakan semua sentuhan lembut yang Veer berikan. Veer membalikkan tubuh Nafi dan menciumnya.
“Aku menginginkannya sekarang.” Bisik Veer dengan seksi.
“Aku juga,” balas Nafi dengan berbisik tepat di depan bibir Veer dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Veer.
Maka, mereka pun memberikan asupan gizi dulu kepada rahim Nafi.
*
“Pelan-pelan sayang.” Veer mengusap sudut bibir Nafi yang belepotan.
“Quin dan Anggel ke mana?” tanya Nafi setelah menelan makanannya.
“Mereka sebentar lagi akan ke sini, ah itu mereka.” Veer menunjuk kearah Quin, Desi, dan Anggel yang berjalan bersamaan dengan menggunakan mantel yang sama. Mereka sudah seperti kembar tiga saja.
“Halo kakak ipar ...” Sapa Quin dengan tersneyum ramah.
Nafi melihat kearah Quin, Angel, dan Desi yang menggunakan mantel dingin dengan warna yang sama dan model yang sama.
“Kalian kembaran bajunya?” tanya Nafi dengan wajah polosnya.
“Hmm, kami sudah seperti kembar tiga kan?” Seru Quin dengan merangkul Desi dan Anggel.
“Hikks, “
Quin terdiam dan melirik kearah Veer sekilas.
“Kakak ipar, kenapa menangis?” Tanya Quin dan duduk di sebelah Nafi.
“Aku ingin menggunakan pakaian yang sama seperti mereka Veer, hiks ... rasanya seperti memiliki saudara perempuan.” Nafi memeluk tubuh sang suami yang duduk di sebelahnya.
Quin menghela napasnya lega, ia bersyukur jika Nafi tak menangis karena hal buruk, melainkan hanya karena ingin memiliki baju yang samaan dengan dirinya, Anggel, dan Desi.
“Baiklah kakak Ipar, selesaikan makannya dengan cepat, lalu kita shooping ..” seru Quin dengan riang.
“Yeee, shooping ...” seru Anggel dan Desi dengan semangat.
“Kali ini, kita akan merampok Mas kesayangan ku ini,” Ujar Quin sambil mencuil hidung Veer.
“Beli apapun yang kalian inginkan, termasuk kalian Des, Jo. Kalian saudara ku.”
Jo dan Desi pun menganggukkan kepalanya.
Daaaaaan .... Di sinilah mereka.
Veer sampai menganga melihat apa saja yang di beli oleh sang istri dan juga adik-adiknya itu.
“Ah ya, bagaimana kalo kita beli samaan baju tidur ini dengan aunty Kayla dan Raysa?” seru Nafi sambil menunjukkan sebuah baju tidur yang brgambar kudaponi tersebut.
“Setuju ...” Seru Quin dengan semangat.
Ya semangatlah, motifnya adalah animasi kesukaannya. Anggel dan Desi hanya menganggukan kepalanya, apa lagi? Toh bukan mereka yang membayarnya.
Anggel menghela napasnya pelan, saat melihat Veer mengeluarkan kartu card berwarna hitam miliknya.
“Kenapa?” Tanya Quin yang mendengar helaan napas Anggel.
“Waktu itu Abi yang membayar belanjaan kita, sekaran Veer,” Ujar Anggel dengan membayangkan Lana sedang tersenyum di meja kasir dan pria menyebalkan itu membayar semua tagihan belanjaan mereka.
“Lalu? Apa yang membuat kamu bersedih?”
“Kapan aku bisa merasakan menghabiskan duit orang yang aku cintai?”
Quin dan Desi terkikik. “Saat kamu menikah dengan Martin, maka kit akan menghabiskan uangnya dalam sekejap.” Usul Quin yang di acungi jempol oleh Desi.
“Apa aku boleh ikut menghabiskannya?” Tanya Nafi dengan malu-malu.
“Sayang, kamu memiliki suami yang saat ini bingung bagaimana cara menghabiskannya.” Ujar Veer sambil membelai rambut Nafi.
“Tak masalah Mas Veer ku yang tampan, biarkan dia merasakan hal-hal baru yang belum pernah ia rasakan. Bukan begitu Kakak ipar?”
Nafi menganggukkan kepalanya dengan antusias. Ia menatap wajah Abi dengan tatapan Puppy eyes nya. “Bolehkan? MAS VEER.” Ujar Nafi yang mana membuat Veer membeku mendengar Nafi memanggilnya dengan sebutan Mas.
Saat Quin memanggil Veer dengan sebutan ‘Mas’, tiba-tiba saja Nafi merasa ingin sekali memanggil Veer dengan sebutan Mas. Bukannya Veer lebih tua dari nya satu tahun? Jadi gak masalah dong jika Nafi memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’.
“Katakan, kamu memanggilku apa tadi?” Bisik Veer setelah menarik pinggang Nafi merapat ketubuhnya.
__ADS_1
“A-aku memanggilmu dengan sebutan ‘Mas’, apa kamu tak menyukainya?” lirih Nafi dengan terbata-bata.
“Sangat, aku sangat menyukai. Maukah kamu memanggilku dengan sebutan itu mulai sekarang?” bisik Veer yang masih terdengar oleh Quin, Anggel, Desi, dan Jo.
Nafi mengangggukkan kepalanya dengan wajah memerah. “Tentu, Mas Veer.”
Cup ...
Veer mengecup bibir Nafi singkat di hadapan semua orang. Nafi semakin merona dan mengubur wajahnya di dada Veer.
“Oh ayolah, bisakah sehari saja aku tak melihat adegan romantis?” Gerutu Anggel sambil memutar bola matanya.
Desi dan Jo saling melempar pandangan dan tersenyum.
*
Makan malam kali ini adalah makan malam yang paling sempurna di Korea, menurut Desi, Quin, dan juga Nafi. Tapi tidak untuk Anggel, karena fikirian nya masih tertancap kepada Lana.
‘Oh ayolah, An. Lo ke sini untuk melupakannya, bukan untuk merindukannya.’ Gerutu Anggel di dalam hati.
Tak berapa lama ponsel Quin berdering dan menampilkkan nama Kayla dan Raysa yang membuat panggilan video gabungan. Quin menggeser tombol hijau dan menampilkan wajah Kayla dan Raysa di layar pipihnya itu.
“Waaah, enak banget yang lagi makan malam romantis.” Seru Kayla.
“Kamu mau ke sana?” tanya seorang pria yang berada di sebelah Kayla.
“Aku harus mengawasi ujian, Kak.”
“Setelah liburan kita ke sana,” Ujar Zein sambil merangkul bahu Kayla.
“Hei kak Zein, jangan bawa aunty kecil ku sebelum kamu menikahinya.” Pekik Quin yang mana membuat Abi dan Veer mengusap telinganya.
Zein terkekeh dan mengecup pipi Kayla dengan cepat, sehingga membuat Quin melototkan matanya.
“Waah, kak Zein romantis banget.” Seru Raysa yang sedari tadi terkiki melihat layarnya.
“Duh, kasian banget sih yang di tinggal sendirian di Bandung.” Ejek Quin.
“Siapa yang sendirian?” Fatih sudah duduk di sebelah Raysa dengan meminum jus yang ada di tangannya.
“Veer, hubungi Daddy, katakan fatih masih berada di apartemen Raysa jam segini.”
“Katakanlah, aku dengan senang hati untuk menikahinya.” Goda Fatih dan mengedipkan matanya sebelah kepada Raysa. Raysa memukul lengan Fatih dengan pelan.
“Hai, kalian sedang berkumpul?”
Deg ...
Anggel membeku di saat mendengar suara yang baru saja keluar dari ponsel Quin.
“Tentu, maka dari itu kami menghubungi mu.” Ujar Zein.
Anggel menggigit bibirnya bagian dalamnya, hanya mendengar suara Lana saja ia sudah merasa ingin menangis. Anggel sungguh merindukan Pria brengs*k dan menyebalkan itu.
“Quin, aku ingin melihat Anggel. Ada yang ingin aku tanyakan kepadanya.” Ujar Kayla.
Jantung Anggel semakin bedegup kencang, ia ingin sekali melihat wajah Lana, namun ia merasa takut jika dirinya semakin tak bisa melupakan Lana.
“An,” sapa Kayla, yang mana ternyata Quin sudah meletakkan ponselnya di hadapan Angel.
“Ya,” tatapan mata Anggel bertemu dengan tatapan mata biru yang membuat Anggel ingin sekali menumpahkan air matanya saat ini.
“Aku dengar, Martin merubah penampilannya, dan ternyata ia sangat tampan, benarkah?”
“Sayang, kamu memuji pria lain di depanku?” tegur Zein.
“Aku hanya bertanya sayang, “ujar Kayla sambil mengusap lembut pipi Zein.
“Hah, apa kalian memanggilku karena ingin menunjukkan kemesraan?” Kesal Anggel.
Sebenarnya Anggel tak kesal dengan Kayla atau pun Zein yang sedang beromantisan. Anggel hanya kesal melihat wajah Lana yang menatapnya namun sekali pun tak menyapanya. Angel sungguh kesal, tak bisakah Lana
menyapanya walaupun hanya mengucapkan ‘say hai?’
“Maaf, aku gak bermaksud—“
Raysa juga sudah membeku mendengar nada jutek Anggel. Tak pernah ia mendengar Anggel berbicara dengan juteknya.
Fatih menatap kearah Lana dan Anggel bergantian. Jelas sekali jika mereka saling memandang saat ini. Bedanya Lana bias menyembunyikan rasa rindunya yang menggeu, sedangkan Anggel menjadikan rasa rindu nya dengan
kebencian.
“An, kamu baik-baik aja?” Tanya Fatih yang melihat jika mata Anggel sudah berkaca-kaca.
“Tanya kan padanya, apa dia baik-baik saja?”
Jelas sekali jika pertanyaan itu di tujukan kepada Lana. Seolah berkata ‘aku tak baik-baik saja, dan kamu di sana terlihat sangat baik sekali, aku membenci mu.’
Anggel menahan air matanya untuk tidak terjatuh, hingga saat Lana membuka suaranya, pertahanan Anggel pun runtuh.
“Aku baik-baik saja, aku harap kamu juga baik-baik saja. Jangan banyak menangis An, itu membuat mu sangat jelek.”
“Apa peduli mu?”
“Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang pengantin, tak inginkah kamu terlihat cantik di hari pernikahanmu?”
“Aku gak peduli, bahkan jika wajahku pun harus mirip seperti zombie, aku gak peduli.”
__ADS_1
“Maka kamu akan kalah cantiknya dengan calon istri ku.” Ujar Lana yang mana bagaikan menancapkan belati di hati Anggel.
“Untuk apa mencintai jika akhirnya menyakiti?”
Semua masih terdiam, membiarkan Anggel dan Lana berkomunikasi.
“Hah, kamu tau, kamu pria brengsek dan paling brengsek yang pernah aku kenal. Dan betapa bodohnya aku hingga bisa mencintai seorang pria brengsek seperti mu. Dan bodohnya aku masih sangat mencintai mu. Hiks …
Aku membenci mu namun aku juga mencintai ku.”
“Aku juga mencintai mu An, Sangat mencintaikamu.”
Setelah mengatakan itu, wajah Lana tak lagi muncul di layar. Dada Angel bergerak naik turun menahan ledakan emosi yang sedari tadi di tahannya.
“Lepaskan, An. Lepaskan saja.”
Quin sudah berdiri di samping Anggel dan mengusap bahu Anggel. Anggel berpaling dan memeluk perut Quin. Menangis dan berteriak sepuasnya dalam pelukan Quin. Ia gak peduli jika saat ini menjadi pusat perhatian orang –orang, Anggel hanya meluapkan rasa amarah yang membuncah di hatinya. Anggel benar-benar sangat merindukan Lana. Sungguh, Anggel merindukannya.
Di tempat yang sama namun sudut yang berbeda, Lana menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia menutup matanya, bayangan Anggel yang menangis dan tersakiti pun melintas dalam benaknya. Lana tak bisa biarkan
ini, cukup sudah ia bersembunyi. Lana bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah yang lebar menuju ke meja di mana Anggel berada.
Lana menyentuh bahu Quin sehingga wanita itu menoleh. Quin membolakan matanya di saat melihat Lana berdiri di hadapannya. Quin mengerti apa yang lana maksud dari pandangan matanya. Quin perlahan melepaskan
pelukan tangan Anggel yang melingkar di pinggangnya.
“Hiks … aku membencinya, Quin … sangat membencinya.” Gerutu Anggel di saat Quin melepaskan pelukannya.
Anggel mengambil tissue yang ada di atas meja dan membuang kelenjar cair yang ada di hidungnya, yang menyumbat pernapasannya saat menangis.
“Kamu lihat Quin, dia bahkan memutuskan panggilannya setelah mengatakan jika dia mencintai aku. Di benar-benar brengsek.” Maki Anggel yang belum menyadari jika Lana berada di sampingnya.
“Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, An. Aku memang benar-benar mencintai kamu.”
Anggel kembali membeku, ia menoleh kearah ponsel Quin yang masih terarah kearahnya. Tidak ada Lana di sana, lalu suara itu?
Satu sentuhan tangan besar membungkus bahu Anggel. Anggel menoleh dan terbelalak saat mendapati Lana berada di sampingnya. Lana mengusap lembut pipi Anggel yang basah karena air mata. Anggel perlahan dan
berdiri menatap Lana tanpa berkedip.
“Kamu—“
“Aku mencintai mu An, sungguh. Dari hati ku terdalam.”
“Hikks ..”
Anggel langsung memeluk tubuh Lana kembali menangis sejadi-jadi nya.
“Aku membenci kamu,hikks .. AKu benci kamu.” Anggel memukul-mukul punggung Lana sekuat tenaganya.
Lana membiarkan apapun yang Anggel lakukan kepadanya. Bahkan pukulan Anggel di punggungnya sedikit pun tak Lana rasakan. Lana benar-benar mencintai perempuan yang ada di dalam pelukannya saat ini. Lana
akan berjuang untuk memiliki Anggel kembali. Sebelum janur kuning melengkung dan kata Sah terucap, Lana akan tetap memperjuangkan Anggelnya, malaikat hatinya.
Veer member kode kepada semuanya untuk pergi dari tempat itu, dan membiarkan Lana dan Anggel memiliki waktu berdua. Ya, Anggel dan Lana memerlukan waktu mereka berdua untuk saling melepas rasa rindunya.
*
“Kenapa kamu menangis?” Tanya Veer di saat melihat sang istri masih saja sesenggukan.
Saat ini mereka sedang berjalan ke kamar masing-masing.
“Aku sungguh kasihan dengan Anggel, kenapa kisah mereka sungguh menyedihkan?”
Veer dengan sayang membelai pipi sang istri. “Itu lah ujian cinta yang harus mereka hadapi. Setiap orang, memilki ujiannya masing-masing. Dan mereka memiliki kisahnya sendiri.”
“Hmm, aku berharap mereka bahagia dan bersama.”
“Kami juga berharap begitu Naf, makanya dari itu , jangan lupa selipkan doa untuk mereka berdua.” Ujar Quin yang mendengar percakapan Nafi dan Veer.
*
Anggel menyandarkan kepalanya di dada bidang Lana. Anggel benar-benar merindukan detak jantung Lana di setiap ia menempelkan kepalanya di dada bidang Lana.
“Kamu mengganti parfume mu?”
“Parfume ku habis, aku belum sempat membelinya.” Lana mengurung tubuh Anggel dengan lengannya.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Itu tidak penting, yang terpenting bagaimana cara aku bisa menaklukkan hati Oma, Mami kamu.” Lana mendaratkan kecupan di pucuk kepala Anggel.
“Mami pernah berkata, jika ia menyetujui hubungan kita, tapi saat ini masalahnya ada di Mama Puput.” Ujar Anggel dengan sendu.
“Hmm, kamu benar.”
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF