KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 150 " Terima kasih banyak"


__ADS_3

Pagi yang terasa sangat sejuk, membelai wajah Arka yang sedang menikmati udara pagi di desa yang jauh dari polusi. Di Desa ini masih banyak orang yang berjalan kaki dan mengayuh sepeda. Arka sudah menghubungi Bram, dan membicarakan tentang masalah pembangunan klinik di kampung ini. Bram sangat menyetujuinya, dan rencananya Bram akan mengutus langsung orang untuk mengurus surat-surat dan peralatan medis di sana.


Beruntungnya Pustu yang yang di gunakan saat ini adalah sebuah rumah yang Duda sewa untuk kepentingan kesehatan Desa ini. Bahkan warga yang memiliki uang lebih, ikut menyumbang untuk membantu biaya sewanya yang terbilang cukup mahal bagi keuangan warga desa. Bagaimana tidak mahal, pemilik rumah tersebut masih memiliki hubungan saudara dengan suami Ratna. Dan otomatis atas pengaruh dari suami Ratna yang mantan lurah itu, harga sewa rumah tersebut pun menjadi 2 kali lipay dari harga sewa biasanya.


Arka menyuruh Jodi untuk mengurus tentang pembelian Pustu tersebut dan mengalihkan atas nama Ami.


" Mas, pinggangnya masih sakit?" Tanya Kesya sambil mengelus pinggang Arka.


" Udah gak Kok sayanh. Yank, di sini udara nya sejuk ya, kita beli tanah di sini dan bangun rumah di sini mau? Kalo liburan kita kesini"


" Mas yakin?"


" Iya sayang,"


" Kalo begitu aku setuju Mas, apapun keputusan Mas pasti itu yang terbaik."


" Makasih sayang." Arka memeluk Kesya dengan erat, tanpa peduli dengan pandmagan orang-oranh yang berlalu lalang.


" Mas, Malu di liatin orang"


" Hah, padahal Mas lagi pingin ini. " Ujar Arka sambil menekan bagian bawahnya ke arah Kesya.


Kesya dapat merasakan sesuatu yang sudah tegak dan mengeras di bawah sana.


" Iih Mas, gak malu banget sih"


" Maka dari itu sayang, Mas tahan-tahan dari awal sampai di sini. Udaranya cocok buat bercocok tanam" Bisik Arka.


Kesya hanya tersenyum malu dengan wajah merona.


" Nak Kesya, nak Arka, kita sarapan dulu yuk" Aja Ibuk Siti.


Kesya dan Arka pun masuk kedalam rumah.


" Gimana kamu Duda? Apa masih sakit?" Tanya Arka saat melihat Duda sudah duduk manis di bale rotan yang ada di dekat dapur. Memang biasa di gunakan untuk istirahat siang atau pun untuk makan bersama.


" Alhamdulillah pak, kalo bapak mau ke sawah, bisa lah"


" Sawah?' Tanya Kesya terkejut.


" Iya sayang, Mas pingin kesawah"


" Mas yakin? Tapi pinggang kamu?"


" Tadi Ami udah periksa kak, pinggang Bang Arka dan Bang Duda baik-baik aja. Cuma keseleo aja kemarin"


" Huuff, syukur lah. Tapi tetap aja Mas, kamu__"


" Sayang, pliissss"


Melihat wajah memelas Arka, Kesya pun pasrah menganggukkan kepalanya. " Ya udah, tapi jangan capek-capek ya"


" Iya sayang" Ujar Arka dan mengecup pucuk kepala Kesya.


" Mas" Tegur Kesya dengan wajah merona karena malu dan merasa tidak enak dengan Pak Rojak, buk Siti, Ami, dan Lehah.


" Hee..he..he.., kelepasan. Maaf ya pak, buk, udah kebiasaan" Ujar Arka sambil tersenyum malu.

__ADS_1


" Kebiasaan apa gak tau malu bos?" Gumam Duda yang masih di dengar Arka.


Langsung saja Arka menatap Duda dengan tatapan laser nya, Duda langsung menyibukkan dirinya dengan mengambil makanan. Jodi hanya gelenh-geleng kepala, pasalnya mereka adalah korban yang selalu melihat adegan romantis Bos mya itu. Setiap mengantar istri cantiknya itu ke toko kue, Arka selalu mencium Kesya, hingga Kesya rasanya sudah sangat malu dengan Duda dan Jodi.


Selesai sarapan, Jodi langsung saja pergi menuju ke rumah pemilik Pustu, dengan di temani oleh pak Rojak. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berdebat, Jodi akhirnya bisa membeli rumah tersebut walaupun dengan harga yang fantastis.


Tidak berapa lama datang orang dengan pakaian rapi, dan menggunakan dasi. Membawa beberapa dokumen dan akta jual beli. Arka sudah menghubungi pihak pengacara dan notaris yang akan menangani pembelian Pustu tersebut.


tidak butuh waktu lama, rumah Pustu sudah berpindah tangan dengan atas nama Aminah. Pak Rojak sampai tidak bisa berkata apa-apa, karena klinik itu di beli oleh Arka untuk anaknya Ami. Jodi tersenyum dan mengelus punggung pria paruh baya itu, air mata jatuh di pipi Pak Rojak. Jodi langsung saja memeluknya. Rasanya ingin sekali pak Rojak segera pulang dan memeluk Arka.


Setelah urusan jual - beli selesai, Pak Rojak buru-buru untuk pulang. Sesampainya di rumah, pak Rojak melihat Arka yang tengah mengulas pisang muda, untuk di jadikan keripik.


" Nak Arka" Teriak Pak Rojak dengan suara bergetar.


Langsung saja Pak Rojak memeluk Arka dan menangis di pelukannya. Arka melihat Jodi, dan sepertinya mengerti dengan situasi yang terjadi. Arka membalas pelukan Pak Rojak.


" Terima kasih. Terima kasih banyak" Ujar Pak Rojak.


Duda masih terbengong karena tidak mengerti kenapa Bapaknya menangis dan mengucapkan terima kasih. Duda melihat kearah Jodi, namun Jodi hanya tersenyum penuh arti membuat Duda penasaran.


Saat ini mereka sudah duduk di ruang tamu bersama pengaca dan notaris. Ada Ami dan Lehah juga di sana. Semua sudah berkumpul dan mendengarkan kabar yang membuat mereka penasaran.


" Jadi begini Pak, buk, Ami, Lehah, Duda, istri ku tersayang, dan Jodi." Ujar Arka dan menjedanya.


" Saya berencana ingin membangun klinik yang langsung di bawahi oleh rumah sakit M health. Dan Pustu yang saat ini ditempati oleh Ami, akan menjadi klinik M Health, Di mana nanti akan ada perawat dan Dokter yang akan bekerja di klinik tersebut. Tentunya Ami dan Nur juga pasti akan bekerja di situ dengan gaji perbulan."


Ami langsung mengucap rasa syukur kepada Allah. Begitupun dengan Ibuk dan lehah.


" Jadi saya sudah membeli rumah tersebut, dan rumah yang akan menjadi klinik itu atas nama Ami"


Ami langsung menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana rumah yang akan menjadi klinik itu atas nama dirinya. Air mata langsung membasahi wajah Ami. Kesya yang kebetulan duduk di sebelah Ami, memegang tangan Ami dan tersenyum lembut.


" Terima kasih Bang, terima kasih banyak. Ami gak tau harus bilang apa hiks.." Kesya memeluk Ami dengan sayang.


" Nanti akan ada orang dari rumah sakit M health yang akan mencatat semua keperluan di klinik. Pengurusan klinik juga sudha di urus, dan besok sudah di terima surat izinnya. "


Ami kembali bersyukur dan mengucap beribu terima kasih kepada Arka dan Kesya. Duda ikut menangis mendengar kabar tersebut. Saat ini membuktikan bahwa perjuangan Ami selama ini tidak lah sia-sia.


" Dan satu lagi, Saya ingin merehab rumah Bapak dan ibuk, apa bapak dan ibuk mengizinkan?"


" Bos?"


" Ini sebagai ucapan terima kasih saya untuk Bapak dan Ibuk yang mau menganggap saya dan istri sebagai anak. Dan tidak segan-segan untuk menyuruh kami seperti anaknya sendiri."


" Nak Arka, ini sangat berlebihan, ibuk tidak pantas mendapatkannya"


" Tidak ibuk, ini bukan seberapa dengan apa yang telah di suguhkan di desa ini. Dan pengalaman yang saya dapatkan di sini. Dan saya juga rencananya akan membeli tanah dan membangun rumah di dekat sini, agar kami bisa membawa dan mengajari anak-anak kami dengan kehidupan yang sederhana ini"


" Terima kasih banyak Nak Arka. Terima kasih. bapak sama Ibuk tidak bisa berkata apa-apa lagi"


Arka memeluk tubuh renta pak Rojak yang sedang tersedu karena menangis. Buk Siti pun memeluk Kesya yang tengah memeluk Ami. Lehah ikut memeluk buk Siti dan yang lainnya.


" Bos, terima kasih banyak" Ujar Duda dengan air mata yang mengalir. Duda tanpa aba-aba langsung memeluk Arka. Arka terkejut karena tubuhnya sempat terhempas ke sandaran kursi, namun arka tersenyum dan membalas pelukan Duda. Jodi menghapus cepat air matanya, dan kembali memasang wajah cool nya.


Setelah acara tangis-tangisan, mereka merasa lapar, dan akhirnya ibuk menggoreng ubi untuk pengganjal perut.


" Duda, jam berapa kita ke sawah?"

__ADS_1


Jodi yang sedang minum langsung menyembur air dalam mulutnya. Bosnya ternyata serius untuk pergi ke sawah.


" Sekarang aja Bos, takutnya kesiangan, mumpung masih jam 9"


Duda, Arka, dan Jodi pun bersiap pergi kesawah. Bayangkan saja, Harga celana yang di pakai Arka mencapai jutaan, belum lagi baju dan sendalnya. Dan semua itu harus tercelup kedalam sawah.


Ibuk yang mengetahui jika Arka, Duda, dan Jodi pergi kesawah bersama bapaknya. Ibuk mengajak Kesya memasak sayur asem dan sambal terasi, dengan ikan goreng. Makanan yang paling nikmat di makan dinoinggir sawah.


Beruntungnya Kesya dan Lehah sudah terbiasa di dapur, jadi pekerjaan memasak selesai dengan cepat.


" Kita antar ke sawah yuk" Ajak Ibuk Siti.


Kesya bersiap dan ikut menenteng bekal makanan yang akan di bawa. Ibum Siti menyuruh Lehah untuk menghubungi Ami, agar makan bersama di pinggir sawah bersama.


Hanya butuh waktu 20 menit berjalan kaki, akhirnya sampai juga di sawah milik Pak Rojak dan buk Siti. Ada bale yang memang di sediakan di sana untuk tempat beristirahat. Ami yang datang bertepatan dengan buk Siti, langsung mengambil alih bawaan di tanah Kesya dan memberikannya kepada Lehah. Lehah menerimanya walaupun Kesya menolak. Ami tidak ingin mengambil resiko karena kesya terpeleset dan terjatuh.


Ami memegang tangan Kesya, dan membimbingnya berjalan di pinggir sawah.


" Awas kak, hati-hati. Licin ini"


Kesya tersenyum mendapatkan perhatian dari Ami dan Lehah.


Sesampainya di bale, Arka belum menyadari kehadiran Kesya. Arka sibuk menanam padi hingga bajunya kotor. Mungkin dia sempat terjatuh tadi fikir Kesya. Kesya meraih ponselnya dan merekam kegiatan Arka itu.


Ponsel Kesya berbunyi dan menampilkan nama Mami Laura di sana. Kesya langsung saja menggeser tombol hijau dan menampilkan wajah Mami Laura.


" Assalamualaikum sayang, Mami rindu" teriak Mami Laura di seberang sana.


" Walaikumsalam, Key juga Mi"


Kesya menggunakan kamera belakang untuk melihatkan apa yang Arka kerjakan.


" Ya Allah Arka, beneran itu Arka? CEO terkenal? Sedang bermain di sawah?" Tanya Mami Laura.


Ibuk Siti yang mendengar suara Mami Laura merasa tidak enak, takut jika Mami nya Arka itu marah.


" Iya Mi, Itu Mas Arka."


" Pi, lihat Pi, anak manja Mami sedang nanam padi. Wah, luar biasa sekali, ini suatu keajaiban Kesya" Teriak Mami Laura antusias.


Kesya juga memperkenalkan Mami Laura dengan Ibuk Siti, Ami, dan juga Lehah. Mami Laura sangat senang dan berterima kasih karena telah memberikan pengalaman baru yang tidak bisa Mami Laura berikan kepada anaknya itu. Panggilan Video call pun berakhir.


" Mami nya Bang Arka baik ya kak" Ujar Lehah.


" Iyaa, lucu juga orangnya"


" Oh ya, cerita dong gimana kakak bisa kenal dengan bang Arka"


Kesya tersenyum malu, dan menggelengkan kepalanya.


" Ayo dong kak cerita" Bujuk Ami dan Lehah.


Akhirnya Kesya luluh dan menceritakan dari awal mereka jumpa hingga mereka menikah, dan itu semua berkat campur tangan dari Mami Laura.


** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...

__ADS_1


Terima kasih. Salam KesAr.


__ADS_2