KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 85


__ADS_3

Hai, mumpung hari Senin, jangan lupa vote ya yang sayang dan suka sama cerita ini 😘.


**


Mata Nafi kemudian menangkap sosok Lana yang berdiri di belakang Quin, sambil tersenyum kearahnya.


"Ah, ini Lana. kekasih nya Anggel."


"Hai, Kakak ipar." Sapa Lana.


Hai Kakak ipar.... hai Kakak ipar ...


kata- kata itu seolah tak asing di telinga Nafi. Ia juga merasa tak takut melihat Lana. Tanpa sadar pun saat ini Nafi sedang menggenggam tangan Veer. Veer tersenyum saat bagian refleks Nafi menyentuh nya.


"Tenanglah, Lana orang baik."


Nafi menoleh kearah Veer, dan ia baru menyadari jika dirinya menyentuh lengan Veer. dengan cepat Nafi melepaskan genggaman tangannya.


Quin tersenyum melihat saat Nafi menyentuh lengan Veer. itu tanda nya bagian tubuh Nafi menerima kehadiran Veer.


"Eengg .."


Lana berjalan kearah brankar Anggel, saat mendengar suara lenguhan dari Anggel.


"An, kamu gak papa?" Tanya Lana saat Anggel sudah membuka matanya.


"Hmm, aku gak papa, cuma sedikit haus."


Lana dengan sigap memberikan air yang ada di atas nakas. Lana membantu Angel untuk duduk, dan juga membantu anggel untuk minum.


Anggel menghabiskan satu gelas air mineral, membuat Lana terkekeh.


"Kenapa?" Tanya Anggel dengan kesal.


"Katanya haus dikit, tapi habis." Ujar Lana dnegan nada yang menggoda Anggel.


Anggel mencebikkan bibirnya saat melihat Lana terkekeh.


"Maaf ... Jangan ngambek yaa?"


"Nyebelin deh .."


Pandangan Anggel bertemu dengan Nafi yang sedari tadi memandang kearah mereka. Ngagel langsung tersenyum ramah.


"Hai .." Sapa Anggel.


Nafi belum tersenyum, ia melihat interaksi Lana dan Anggel sangat manis. Kemudian pandangannya beralih kepada Veer. Apa dirinya dan Veer juga seperti itu?


"Apa yang kamu fikirkan?" Tanya Quin membuyarkan lamunan Nafi.


Nafi menoleh kearah Quin. "Mereka sangat manis sekali. Hubungan yang terjalin terasa sangat hangat sekali. Pasti mereka saling mencintai ya!!"


Anggel sudah tersipu malu, berbeda dengan Lana yang sudah mengembangkan senyum nya.

__ADS_1


"Sangat, aku sangat mencintai wanita keras kepala ini." Jawab Lana sambil mengelus kepala Anggel.


Anggel mengulum senyumnya, gak menyangka jika Lana akan mengakui perasaannya di hadapan semua orang.


"Ck, kemana aja lo selama ini? baru nyadar nya sekarang." ujar Quin dengan galak.


Lana terkekeh. "Mencoba menjadi King, eh ternyata gak berhasil."


"Iya, ujung-ujungnya jadi kingkong." Jawab Anggel, Yang mana membuat Lana semakin gemes dengan nya.


Quin tertawa terbahak-bahak saat Anggel mengatai Lana seperti kingkong. Bahkan Quin sudah berjalan keatas meja untuk mengambil sesisir pisang dan memberikannya kepada Lana.


"Gak sopan sama calon om?" Ujar Lana galak, namun tak urung dia tetap mengambil pisang tersebut dan membuka kulitnya. Di masukkan nya dalam potongan yang besar. mungkin Lana lapar.


Bukan Quin namanya jika harus takut dengan mata Lana yang melotot. Quin semakin terbahak-bahak.


"mata nya indah." Puji Nafi, yang mana membuat Veer menatap Lana tak suka.


"Pakai softlens dia." Ujar Veer dengan jengkel.


"Enak aja, ini alami yaa, karunia ilahi." Jawab Lana bangga dengan mata biru nya.


Veer memutar bola matanya malas. Nafi yang melihat itu merasa lucu. Ia tersenyum kecil, dan itu membuat hati nya menghangat berada di dekat Veer. Ternyata Veer tak seburuk yang ia pikirkan.


Pintu diketuk, dan tak berapa lama Desi masuk kedalam. Desi membisikkan sesuatu kepada Quin. Perubahan wajah Quin membuat Veer, Lana, dan Anggel merasa khawatir.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Veer kepada Quin.


"Arumi, " cukup nama itu yang Quin lontarkan, Veer, Lana, dan Anggel pun sudah memahami nya. tidak dengan Nafi.


Nafi melirik kearah Veer, namun bayangan saat Veer dan dirinya sedang berciuman pun terlintas dalam fikirannya. Tiba-tiba saja wajah Nafi memerah. Quin dan Veer saling pandang, dan saling melempar pertanyaan dalam tatapan mereka.


"Hmm, tak apa. Mungkin aku harus belajar menerima nya." Jawab Nafi dengan tersipu malu.


Quin bernapas lega. Setidaknya yang di takuti Quin tidak terjadi. Dokter Dina mengatakan jika Ada dua kemungkinan yang akan terjadi kepada Nafi. Yang pertama, kejadian saat kecelakaan itu akan membuatnya kembali takut kepada pria yang mendekati nya. yang kedua, ingatan Nafi hanya berhenti pada saat kecelakaan saat Nafi terjatuh kedalam laut. itu akan mempermudah Quin untuk mendekatkan Nafi kepada Veer. Dan syukurlah, ingatan Nafi berhenti pada saat Nafi terjatuh ke dalam laut.


Setelah Quin keluar, Veer duduk di kursi yang ada di dekat brankar Nafi.


Veer menoleh saat Lana memegang penutup tirai pembatasnya. Lana mengintip sedikit dan bertanya kepada Nafi.


" Tak apa kan? jika tirai nya tertutup?"


Nafi memandang Anggel, teibat Anggel mengangguk pelan dan tersenyum. Nafi menoleh kepada Veer, menatap pria yang di benci nya dan juga pernah di cintai nya dulu. Cinta monyet nya.


"Jika kamu tak nyaman, tirai ini tidak akan ditutup."


"Kenapa harus di tutup?" Tanya Nafi kepada Lana, setelah terdiam beberapa saat.


"Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Anggel, hal yang sangat rahasia." Ujar Lana mencoba meyakinkan Nafi.


Nafi teihay berfikir, kemudian ia menganggukkan kepalanya sekilas. Lana tersenyum dan mulai menutup tirai nya.


Sreeeett ...

__ADS_1


Anggel menatap Lana yang tengah tersenyum jahil. Lana sengaja menutup tirai dengan beralasan jika ada hal yang ingin di bicarakan dengan Anggel. Padahal Lana hanya ingin memberikan waktu pribadi kepada Veer dan Nafi.


*


Nafi meremas selimut nya, ia merasa gugup sekaligus merasa takut. Namun rasa gugup nya lebih mendominasi di diri nya.


"Kamu ngantuk? jika mengantuk tidur saja. Aku akan tetap di sini."


Nafi menggeleng, seharian ini dirinya hanyantidue, membuat kepala nya pusing jika harus tidur lagi. Lagipula, Nafi takut untuk menutup matanya, takut akan mimpi buruk itu kembali.


"Kamu mau buah?" Tanya Veer lembut.


Nafi menganggukkan kepalanya, sepertinya perutnya mulai terasa lapar. Karena Nafi hanya memakan bubur nya sedikit.


Veer bangkit dan berjalan kearah meja makan yang ada di dalam ruangan Nafi dan Anggel. Veer sempat melirik kearah Lana dan Anggel yang ternyata mereka sedang beroegangan tangan. Dengan Lana yang sepertinya mencoba merayu Anggel.


Veer mengambil buah apel, pisau, dan piring. Di bawanya ke dekat nafi. Veer mulai memotong buah apel tersebut, dan membuang kulitnya. Diletakkannya apel yang sudah di kupas ke atas piring yang berada dalam pangkuan Nafi.


Nafi mengambil Apple tersebut dan menggigitnya.


Srrsuekk....


Gigitan pertama yang di sertaindnegan kunyahan itu terdengar nyaring bagaikan irama musik yang indah.


"Manis ..." Ujar Nafi sambil melirik malu memandang Nafi.


"Benarkah? bolehkan aku mencoba nya?"


Nafi mengangguk, namun ia bingung saat Veer membuka mulutnya dan berkata 'Aaa' ..


Entah sadar atau tidak, Nafi menyodorkan apel yang baru saja di gigitnya kedalam mulut Veer. dan jadi lah mereka baru saja berbagi apel bersama.


"Eeemmm, kamu benar. Ini manis. Sangat manis, karena aku memakan nya dari tangan kamu."


Wajah Nafi memerah karena malu. Ia menggigit bibir bawahnya. Veer meletakkan pisau di atas nakas, kemudian tangannya terulur untuk menarik bibir Nafi yang di gigitnya.


"Jangan di gigit, nanti akan terluka, dan aku gak mau kamu terluka." Ujar Veer sambil melepaskan bibir Nafi dari gigitan nya.


Mata Nafi dan Veer bertemu, perlahan Ver mendekatkan wajahnya kepada Nafi. Melihat Nafi tak bereaksi, Veer pun mencoba untuk menempelkan bibirnya.


Cup ..


" Maaf, Mama masuk di waktu yang tak tepat." Ujar Mama Ayu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mama Ayu pun terlihat ngacir kembali kuat kamar.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2