
"Sean Malik Moza dan Syam Malik Moza,"
Semua orang mengucap alhamdulillah dan bersholawat saat Veer mengumumkan siapa nama putranya.
"Nama yang bagus, Mas Sean dan Syam," ujar Mama Kesya sambil memnyentuh kaca yang mana menjadi pembatas antara mereka dan bayi kembar mungil itu.
"Terima kasih, Veer, telah menjadikan Papa seorang kakek," ujar Papa Danu.
Veer pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Papa Danu menatap kedua cucunya yang ada di dalam tabung itu.
"Udah jangan mikirin siapa yang bakal mimpin perusahaan, biarkan mereka yang memilih nantinya," ujar Papa Arka sambil menyentuh bahu sang besan.
Papa danu pun terkekeh, "Tau aja." ujarnya yang mana membuat semua orang tertawa.
"Yang terpenting sekarang ini, kita doakan agar kondisi Sean dan Syam baik-baik saja."
"Pasti," ujar Papa danu dengan semangat.
satu-satunya Putri yang dia miliki, membuat Papa Danu khawatir dengan perusahaannya yang saat ini sedang di rebut oleh sepupu-sepupunya. Padahal, mereka sudah mendapatkan bagiannya sendiri.
Perusahaan yang di pegang Papa Danu, memang milik Nafi seutuhnya. Namun, karena kondisi Nafi yang baru saja memimpin dalam beberapa bulan perusahaannya, kemudian memilih cuti untuk waktu yang lama, membuat orang-orang ingin menduduki tahta tersebut.
Papa Danu sangat bersyukur, saat mengetahui jika Nafi melahirkan dua Putra, yang mana salah satunya akan menjadi pemimpin perusahaan miliknya yang susah payah di bangun dengan jerih payahnya selama ini.
Saat ini, perusaaan Papa Danu di pegang kendali oleh Veer dan juga dirinya. Beruntungnya Papa Danu memiliki seorang menantu yang sangat cerdas sekali. Dan juga, besan yang sangat dengan keturunan yang siap membantu tanpa pamrih.
*
"Gimana, Mas? tanya Quin kepada Abi yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Sudah seminggu Nafi melahirkan, tetapi belum bisa di izinkan pulang karena kondisi bayi dan ibu yang masih lemah.
"Nafi sudah mendingan, wajahnay juga sudah mulai berwarna, tidak pucar seperti pertama kali. Baby Sean dan Syam juga, berat badannya juga mulai naik, walaupun cuma 0,5 ons." ujar Abi memberi tahukan kondisi yang ada di rumah sakit.
"Syukurlah, semoga berat bayinya cepat naik, biar bisa pulang, aku pingin banget gendong mereka,"
"Boleh, tapi gak boleh terlalu lama ntar pas gendong ya. Ingat, kamu belum bisa menegnagkat yang berat-berat. Di sini, ada anak kita yang jug abutuh perhatian kamu." ujar Abi sambil menyentuh perut Quin.
"Iya, Mas. Aku janji, aku bakal jaga anak kita baik-baik."
*
"Kenapa?" tanya Veer kepada Nafi.
"Itu, kapan anak-anak kita bisa ikut pulang?" ujar Nafi dengan sendu.
Ya, saat ini Nafi sudah di perbolehkan pulang. Namun, kedua bayinya harus tetap menjalani perawatan yang intensif.
"Insya Allah, tak lama lagi anak-anak kita juga akan ikut pulang," ujar Veer menguatkan sang istri.
Nafi pun menghela napasnya pelan, dia harus bersiap hari ini untuk pulang, karena di nyatakan sembuh.
__ADS_1
"Nafi, nanti sampai rumah tetap di pompa ya ASI-nya, biar semakin lancar." ujar Mami Anggun.
"Iya, Mi."
Nafi bersiap untuk pulang, sebelum itu, mereka melihat dulu keruangan bayi.
"Sayang, Bunda pulang dulu ya," ujar Nafi kepada kedua putranya dari balik kaca.
Setelah berpamitan, Veer membawa sang istri untuk menjauhi dari ruang bayi-bayi mereka.
Berat memang, akan tetapi Nafi harus kuat.
Kepulangan Nafi di sambut dengan hangat oleh seluruh keluarga. Banyak dukungan yang di berikan agar Nafi tetap kuat.
"Naf," panggil Quin dan merentangkan kedua tangannya.
Nafi pun menghampiri iparnya sekaligus sahabatnya dan memeluknya dengan erat.
"Welcome home, semua akan baik-baik saja," bisik Quin sambil mengusap punggung Nafi.
Keluarga yang hangat, akan membawa pengaruh baik untuk Nafi yang masih dalam pasca penyembuhan.
*
Sudah sebulan berlalu, Baby Sean dan Syam pun sudah memasuki berat badan yang normal. Hingga akhirnya mereka telah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Untuk pertama kalinya, Nafi menggedong sang bayi dan menyusuinya secara langsung. Syukurlah, ASI Nafi sudah deras dan cukup untuk kedua bayinya.
"Gemesin banget, Mas," ujar Nafi kepada Veer saat melihat Sean menyusu kepadanya secara langsung.
"Mau nyusuin dua-dua gak?" tanya Mami Anggun.
"Emang bisa Mi?" tanya Nafi polos.
"Bisa dong, lagian kan dispenser-nya ada dua," ujar Mami Anggun sambil terkekeh.
Mami Kesya pun membantu Nafi untuk menyusun kedua bayinya secara bersamaan. Secara, Mami Kesya sudah berpengalaman kan.
"Gak papa gini posisinya, Ma?" tanya Nafi yang sedikit takut dengan posisi bayi di setiap sisi tangannya.
"Asal pas aja pegangnya. Makanya, di ganjal dengan bantal gini," ujar Mami Kesya.
Nafi pun mencoba memposisikan dirinya dengan nyaman.
"Santai aja, awal-awal emang aneh dan dan risih, tapi ntar lama-lama kebiasaan juga kok," ujar Mama Kesya.
Nafi menganggukkan kepalanya dan kembali mencoba rileks agar ASInya lancar untuk kedua bayi nya.
*
"Duh, ganteng banget sih keponakan Mama," ujar Quin sambil mencuil pipi Syam yang ada di pangkuan Veer.
__ADS_1
"Mau coba gendong?" tawar Veer kepada Abi yang juga mencuil-cuil pipi Syam.
"Pingin, tapi gak berani," ujar Abi sambil menyengir.
"Duh, calon Papa kok gak brani sih? Belajar, biar ntar gak laku," ujar Mama Kesya kepada Abi.
Abi menggaruk kepalanya kemudian menganggukkannya setelah berpikir beberapa saat.
Abi duduk di dekat Quin dan meletakkan tangannya di atas paha.
"Gini, cara pegangnya," ujar Mama Kesya saat memberikan Sean kepada Abi.
Terlihat Abi langsung menegang saat Sean telah mendarat di atas gendongannya.
"Tegang banget wajahnya, biasa aja, nyantaai.." ujar Mama Kesya dan di sambut tawa oleh yang lainnya.
"Quin mau gendong juga, boleh?" pinta Quin.
"Gak Boleh," serentak semua orang langsung menjawab.
Quin cemberut dan memanyunkan bibirnya, tapi, Quin tak marah, karena ini juga demi kebaikan dirinya dan bayinya.
"Yang Mas yang mana?" tanya Quin kepada Veer.
"Ini, Mas Sean, dan ini adek Syam." ujar veer.
"Kalau aku bakal kelupaan, mirip banget, bedanya di mana sih?" ujar Abi yang sedari tadi melihat perbedaan dari kedua bayi tersebut, tetapi tak menemukannya.
"Bibirnya, Mas Sean bibirnya mirip Nafi, agak tebel dan seksi, kalau Syam, ada lesung pipinya, mirip Opanya," ujar Quin menjelaskan kepada Abi.
"Oh yaa? Kok aku gak lihat ya lesung pipinya?" ujar Abi sambil mencuil pipi Syam.
Syam pun menggeliat hingga membuat bibirnya mengerucut, barulah Abi melihat ada lesung pipi pada bayi mungil tersebut.
"Eh iya, ada lesung pipinya," seru Abi dengan riang.
Abi merasa takjub dengan bayi mungil yang ada di dalam gendongannya. Makhluk mungil itu bisa hadir di dalam perut dan lahir kedunia, tak bisa Abi bayangkan bagaimana perjuangan Quin nantinya, mungkin, Abi akan meminta proses melahirkan ya secara Caesar, mengingat bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya, dan Quin, harus melahirkan dua bayinya secara langsung.
"Mikirin apa?" bisik Quin.
"Hmm? gak ada."
Tak mungkin Abi mengatakan hal tentang operasi Caesar, secara, Quin ngotong jika kondisi tubuhnya baik-baik saja, Quin ingin melahirkan secara normal.
** Yukk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF