KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 71


__ADS_3

Quin berdecak kesal saat melihat yang lainnya pada berpasangan. Lihatlah, pekerjaan mereka sudah hampir selesai, sedangkan Quin masih memotong rumput dengan gunting, belum lagi menyapu nya..


Aaaa....


Rasanya Quin ingin tidur nya.. Mana sudah berulang kali Quin menguap.


" CK.. Nyebelin.. Lanaaa... Faatiiihhh....bantuiiiinnn.." Rengek Quin.


" Capek Quin..." Ujar Lana dan Fatih berbarengan.


Quin kembali berdecak kesal, meminta bantuan kepada Abi pun percuma, karena saat ini Abi sedang bercengkrama dengan Papa Arka dan Daddy Bara.


Menyebalkan...


" Sepertinya Quin mulai lelah " Ujar Papa Arka.


Abi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Apa Abi boleh bantu Quin sekarang, Pa?"


Di sana, Quin sudah beristirahat sambil mengipasi dirinya dengan topi kebun nya.


" Kamu udah gak sabar untuk berdua dengan Quin?" Goda Daddy Bara.


" Bukan gitu Om, Eh. Daddy." Abi tersenyum kikuk. " Kasian Quin udah sangat kelelahan."


" Itu hukuman untuk dia."


" Tapi Quin gak sepenuhnya salah, Abi juga salah, karena udah memaksakan diri untuk menikahi Quin secepatnya."


Daddy Bara dan Papa Arka pun tersenyum.


" Sepetinya Quin sudah mulai tertidur."


Abi menoleh, terlihat guratan khawatir di wajahnya.


" Pergilah, temani dia." Titah Papa Arka.


Senyum Abi langsung mengembang saat mendapatkan lampu hijau dari Papa Arka. Dengan cepat Abi berdiri dan menghampiri Quin dengan langkah besarnya.


Sesampainya Abi di dekat Quin, Abi melihat jika Quin sudah tertidur di sana, berbaring di atas rumput dengan wajah yang terlihat lelah. Abi memanggil pelayan dan meminta di bawakan kain santai untuk Quin.


*


Quin mengerjapkan matanya, kemudian ia terbangun saat menyadari tangannya tak menyentuh rumput, melainkan kain lembut. Quin langsung terduduk, di sebelahnya Quin mendapati beberapa macam roti dannjuga minuman soda.


" Siapa yang siapin ini semua? gak mungkin___"


Quin mengalihkan perhatiannya saat melihat seluet Tubun seorang pria yang berjalan menghampirinya dengan dua buah piring di tangannya. Quin mengernyit, kemudian membuka sedikit mulutnya.


" Segitu terpesonanya?" Goda Abi.


Quin mencebikkan bibirnya, aroma macaroni yang di bawa oleh Abi membuat perut Quin keroncongan.


" Kamu yang masak?"


" Bukan ,Fatih."


Quin hanya mengangguk dan menerima Piring yang di ulur oleh Abi.


" Hmm, ini enak banget." Puji nya sambil mengaduk- aduk macaroni.

__ADS_1


Abi hanya memperhatikan wajah Quin, sambil mengaduk macaroni miliknya. Quin menyuapkan satu sendok macaroni kedalam mulutnya, kemudian matanya memandang kearah rumput yang tadi ia potong. Quin terbatuk saat melihat pekerjaannya sudah selesai dan bersih.


" Si-siapa yang menyelesaikan pekerjaan aku?"


" Menurut kamu?"


Quin memandang tubuh Abi yang memang terlihat berkeringat, karena bajunya yang terlihat basah. Apa mungkin Abi?


" Lana?" tebaknya, kemudian Abi menggeleng dengan tersenyum.


" Fatih?"


Abi kembali menggeleng.


" Veer?, Dara?, Doni?"


" Kenapa harus mereka? Apa kamu gak bisa nebak yang lain?"


" Kamu?"


Abi menganggukkan kepalanya.


" Kamu? beneran kamu?"


" Kamu gak percaya? "


" Serius?" terlihat Quin mengulum senyumnya.


" Kenapa?"


" Enggak.." Quin kembali tersenyum, kemudian mendekat kearah Abi. " Makasih" ujarnya dengan lembut.


Abi tersenyum miring. " Apa hanya terima kasih? tidak ada yang lain?"


Abi terkejut saat Quin mengecup pipi nya. Sama seperti halnya Abi, Quin juga terkejut dengan apa yang di lakukannya.


" Maaf, refleks. Biasanya aku mengucapkan terima kasih kepada Veer seperti itu." Ujarnya dengan cepat.


" Tak apa, Aku suka."


Jantung Quin sudah berdegup kencang. Ia memaki dan merutuki perbuatan bodohnya, kenapa bisa sampai main nyosor sih, ntar Abi bisa mikir yang macam-macam lagi. Quin pun kembali melanjutkan memakan macaroni nya.


Abi terkekeh saat melihat bibir Quin yang belepotan. Tangan Abi pun terulur untuk membersihkan bibir Quin.


" Pelan-pelan Quin, jangan sampai belepotan."


Quin membeku, dengan bibir yang di kulumnya, hingga kedua mata Abi membalas tatapan mata Quin. Abi mengusap bibir Quin, dan menarik lembut bibir Quin yang di kulum, perlahan Abi mendekatkan wajahnya, beriringan dengan Quin yang menutup matanya perlahan.


Seakan mendapatkan lampu hijau, Abi dengan cepat mendekatkan lagi wajahnya, hingga bibir mereka menempel. Abi mengulum bibir Quin yang masih terasa saos spageti, tangan Abi pun terangkat untuk menahan tengkuk Quin, Abi mencecap rasa pedas manis yang ada di bibir Quin, hingga suara Auman Empus menghentikan kegiatan mereka.


Quin mengalihkan perhatiannya sambil memanggil Empus untuk mendekat kearahnya. Sedangkan Abi sudah mengusap tengkuknya yang tak gatal.


" Empus sepertinya lapar." Ujar Quin.


" Hmm, iyaa.."


" Aku akan memberi makan Empus."


Namun tak sesuai dengan pemikiran Quin, Empus malah merebahkan dirinya di pangkuan Quin.


" Sepertinya dia ngantuk, dan ingin di belai."

__ADS_1


" Yaah, sepertinya.."


Suasana yang hangat pun menjadi canggung, namun untungnya ada Empus yang bisa mengalihkan perhatian mereka dari ciuman yang sangat mendebarkan tadi.


Ya, Quin menikmatinya, bahkan saat Quin baru saja membalas ciuman Abi, Empus datang dan merusak segalanya.


' Quin, apa yang kamu fikirkan.. ' gerutunya di dalam hati, ketika ia merasa kesal dengan kehadiran Empus yang tiba-tiba.


' Huuf, Empus, cepat banget sih datangnya, baru juga rasa enak dapat balasan.' Gerutu Abi yang ternyata juga kesal dengan kehadiran Empus.


Ya, salahkan saja Empus. Salahkan.. Siapa suruh Quin jarang belai-belai Empus akhir-kahir ini. Kan Empus rindu untuk di belai.


*


" Kamu tidur di sofa lagi?" Tanya Quin yang melihat Abi kembali mengambil bantal dan guling.


" Hmm, sampai kamu merasa nyaman dengan keberadaan ku."


" Apa kamu nyaman tidur di sofa?"


Sepeti mendapatkan angin segar, Abi pun menggelengkan kepalanya.


" Sebenarnya tidak, badan ku pegal ketika bangun pagi."


Wajah Quin terlihat iba, kemudian ia meraih gagang telpon dan berbicara dengan seseorang. Abi hanya memperhatikan gerakan Quin saja, sambil menunggu Quin menawari dirinya untuk tidur di kasur yang sama.


Tak berapa lama pintu di ketuk, Quin membuka pintu tersebut, dan meraih satu papeebag besar dari seorang pelayan.


" Apa itu?" Tanya Abi yang mulai penasaran.


" Ooh, ini kasur angin. Kamu bisa tidur di sini."


Jleebb...


Abi meluruhkan bahu nya, ternyata fikiran Abi terlalu jauh untuk mengharapkan Quin menawarinya untuk tidur di kasur yang sama. Sepertinya Abi harus berusaha keras untuk membuat Quin jatuh cinta kepadanya.


Quin mengeluarkan kasur tersebut dari kotaknya, kemudian ia mulai mengisi angin ke kasur tersebut hingga mengembung dan siap di gunakan.


" Tidurlah, di sini lebih nyaman dari pada di sofa."


Abi menghela napasnya, ia pun berjalan gontai kearah kasur angin tersebut.


" Hmm, terima kasih."


" Selamat tidur, Abi. Mimpi Indah."


" Selamat tidur, Quin. I love you."


Quin berdiri dengan kikuk, kemudian ia membalik badannya dan berjalan cepat kearah tempat tidurnya. Abi terkekeh pelan melihat tingkah Quin Yang sangat lucu. Abi berharap, agar Quin bisa membuka hatinya untuk Abi, dan benih-benih cinta pun tumbuh di antara mereka, hingga maut memisahkan.


Jangan tanya Anita, Abi sudah melupakannya. Tapi, Quin sampai saat ini masih mencoba menghubungi Anita. Sepertinya Anita sudah sangat lama sekali tidak membuka email nya.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2