KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 40


__ADS_3

Abi memberikan sebotol air mineral untuk Quin. Quin meraihnya dan meminumnya sedikit.


" Hikks.." Quin masih sesenggukan.


Abi meraih ponselnya yang bergetar, jari Abi pin bermain di atas layar pipih itu, kemudian menyimpan kembali ponselnya.


" Ayoo.."


Quin menatap Abi, seolah bertanya.


" Anak buah kakek sudah mengantarkan mobil, ayo kita kembali."


" Hikkss... Bisakah hiks.. tidak kembali dulu?"


" Kenapa?"


Kriiiuukk....


Suara perut Quin menjawab pertanyaan Abi. Quin hanya mengulum bibirnya, menahan malu.


" Kami lapar?"


Quin menganggukkan kepalanya.


" Okee, kita cari makan dulu. Sekalian ada yang mau aku bilang ke kamu."


" Hmm..."


Abi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju sebuah restoran mewah. Abi turun dan diikuti oleh Quin.


" Mau pesan apa?" Abi bertanya kepada Quin yang enggan melihat menu. Quin hanya memandang ke arah luar, melihat padatnya lalu lintas Yang ada di luar sana.


" Terserah, yang penting kenyang."


Abi pun mengangguk dan memesan 2 porsi udang+cumi bakar, serta minuman jus jeruk dan air mineral.


" Kamu suka seafood" Tanya Abi sekedar mencairkan suasana.


" Asal gak batu sama kayu aja kamu kasih ke aku."


Abi mengerjap, lagi marah masih bisa aja Quin bercanda.


Tak berapa lama pesanan mereka pun datang.


" Mas, bisa minta kobokan gak?"


pelayan itu pun mengerjapkan matanya. Tidak hanya pelayan, Abi juga mengerjapkan matanya.


Quin menghela napas, inilah yang Quin malas jika makan di restoran mewah.


" itu, tempat Cuci tangan. yang dari baskom atau dari kaca. Ada gak?"


Pelayan itu masih bingung.


" Hadeeww, pernah makan di rumah nasi Padang?" Tanya Quin. Pelayan tersebut mengangguk. " Nah, Kan ada tu kobokan nya, tempat cuci tangannya. tau kan?"


" Iya, tau Mbak."


" Ya udah, mana? cepetan ambilin."


" Iyaa, sebentar yaa Mbak."


Pelayan itu menggelengkan kepalanya, cantik-cantik, makan di restoran mewah, tapi tetap aja minta kobokan. ' Batinnya.


" Kamu serius makan di restoran pake tangan?" Tanya Abi pelan.


" Kenapa? malu? maklumlah, aku gak biasa makan di tempat mewah. Lagian aku gak selevel dengan pacar kami Anita itu. Sorry yaa, kalo aku bakal buat kamu malu." ujar Quin santai.


Quin menyeringai saat mendapati wajah kesal Abi.

__ADS_1


Quin benar-benar tidak peduli dengan pandangan orang lain. Dengan santainya Quin makan menggunakan jari-jari tangannya. Quin juga menghisap jarinya yang berlepotan saus.


" Makan kayak gini, ya enaknya ya begini.. Mana ada rasanya kalo pake sendok." Ujar Quin sambil memasukkan kembali suapan nasinya.


Abi sudah mengeraskan rahangnya karena menjadi pusat perhatian.


" Quin, bisa gak kalo makannya kalem dikit?"


" Gak bisa. Namanya juga aku orang kampung, Lagian ini pertama kalinya aku makan di tempat mewah begini." Quin sengaja membesarkan suaranya.


" Quin, Pliss, jangan bikin aku malu.."


" Ooh, kamu Malu.. ya udah, kamu tinggal bilang ke Papa kalo kamu berubah fikiran."


Kini Abi mengerti, tujuan Quin bertingkah seperti ini. Abi hanya menghela napasnya lelah. Selera makan Abi pun menguap entah kemana, Abi meletakkan sendoknya, dan hanya memandang lurus kearah Quin.


Quin benar-benar tidak menjaga image nya, bahkan Quin terlihat sangat menikmati makanan di hadapannya itu.


Deg..


Darah Abi berdesir saat melihat Quin yang terlihat cantik dengan tampilan dirinya yang cuek itu.


" Alhamdulillah, kenyang banget. Makasih yaa.."


Quin melihat kearah Abi yang tidak berkedip memandangnya. Quin pun melambaikan tangannya di depan wajah Abi.


" Hei, Mr. Abimana.."


" Hah? yaa?"


" Ngelamun? " Quin terkekeh, dan itu menampilkan lesung pipinya yang mana menambah kecantikan Quin.


" Udah selesai?"


" Hmm, oh yaa, kamu mau bilang apa ke aku?"


Quin memandang punggung Abi yang berjalan kearah kasir. Quin pun mengangkat kedua bahunya cuek. Quin pun mengikuti Abi dibelakangnya.


Abi membawa Quin kesebuah taman yang ada danau buatannya. Quin menarik sudut bibirnya sebelah. Quin benci tempat ini.


" Kenapa?" Abi menoleh kearah Quin yang masih menatap kosong kearah taman tersebut


" Kenapa ke mari?" Tanyanya tanpa menoleh kearah Abi.


" Taman ini nyaman dan tenang, aku rasa tempat ini cocok untuk berbicara dengan kepala dingin. Ayo.."


Abi berjalan mendahului Quin.


" Aku tau tempat ini tenang, dan tempat ini juga penuh dengan kenangan manis dan juga menyakitkan. Bagaimana aku bisa tenang jika semua berada di tempat yang aku hindari selama ini." Gumam Quin.


Quin menghela napasnya, mau tak mau dia pun mengikuti Abi. Abi memilih duduk di salah satu taman, yang menghadap ke danau buatan. Quin kembali menghela napasnya, namun Quin tetap duduk di sebelah Abi.


" langsung saja, aku tidak suka berlama-lama di tempat ini." ujar Quin saat mendaratkan bokongnya di sebelah Abi.


Abi menaikkan alisnya sebelah. Bukankah setiap orang senang jika di bawa ke taman yang menenangkan seperti ini?.


" Baiklah, " Abi menjeda ucapannya. Di tatapnya manik mata Quin.


" Sebelum kita berangkat ke panti, Tuan Arka menemui aku, dan beliau meminta kepadaku untuk setuju menikah dengan kamu. Awalnya aku menolak, dan aku rasa kamu tau kenapa alasannya aku menolak. Namun penjelasan yang Tuan Arka yang mengatakan ingin melindungi kamu, maka itu aku setuju."


Quin bergeming, masih menatap Abi dengan ekspresi tak terbaca.


" Quin, jika status mu terbongkar, maka posisi mu dalam bahaya. Banyak orang di luar sana yang haus akan kekuasaan, berbeda jika status mu sudah berubah menjadi seorang istri, maka mereka akan mundur secara perlahan."


" Apalagi jika statusku menjadi bagian dari keluarga Setyo gitu?" Tambah Quin.


" Jika kamu menolak menikah dengan ku, maka kamu bisa menikahi Lana. Tapi aku gak bisa jamin, apa Lana bisa melindungi mu sepenuhnya atau tidak."


" Heh... Setidaknya Lana lebih baik dari mu."

__ADS_1


" Kalau begitu kamu bisa menikah dengan Lana."


" Dan menghancurkan dua hati sekaligus?"


Abi menaikkan alisnya sebelah.


" Kamu tidak tau apapun Abi. Kalian yang tidak tau, akan gampang menyuruh ku menikah dengan Lana. Kalian tidak pernah tau bagaimana posisi ku saya ini, menjaga dan merahasiakan perasaan orang lain. Kamu mungkin tau arti kehilangan, tapi kamu tidak tau arti pengkhianatan Abi. Itu sakit, sangat sakit sekali, di saat orang yang kamu percaya, malah mengkhianati kamu, dan menusuk kamu dari belakang. Kamu tidak tau bagaimana rasanya itu Abi, karena kamu hanya peduli dengan perasaan mu sendiri, bukan perasaan orang lain."


Air mata Quin jatuh, dengan cepat Quin menghapusnya. " Jika hanya ini yang ingin kamu bicarakan, baiklah, aku mengerti. Sebaiknya kamu menolak pernikahan ini, dan bukannya malah ikut bersandiwara." Quin berdiri, bersiap meninggalkan Abi.


" Tunggu, bersandiwara? apa maksdunya?"


" Kamu juga tau kan jika kakek mu dan kakek ku berpura-pura sakit?"


" Apa?"


" Gak usah deh pasang tampang sok gak tau gitu, kebaca banget tau gak." Quin berbalik dna meninggalkan Abi.


" Quin tunggu." Abi meraih tangan Quin, namun Quin menghempasnya kasar.


" Dengar, aku benar-benar gak tau masalah kakek berpura-pura, aku berani sumpah."


Quin menatap kedalam mata Abi. " Terserah kamu." Quin berbalik lagi.


" Quin.."


" Apaaan sih?" Quin kesal karena Abi menarik nya lagi.


" Aku serius, aku berkata jujur, aku gak tau kalo kakek berpura-pura sakit."


" Hah,... Oke, udah?"


Abi mengerutkan keningnya.


" Aku mau pulang. "


" Aku antar."


Abi membukakan pintu untuk Quin. Quin masuk dan langsung menutup matanya.


" Pasang seatbell nya dulu Quin.."


Tidak ada pergerakan dari Quin.


" Quin.."


Abi menghela napasnya saat mendengar suara dengkuran halus dari bibir Quin. Abi Pi. berinisiatif memasangkan seatbell Quin.


Sreett..


Wajah Abi menatap wajah tenang Quin yang tengah tertidur. Mata sembab, dan sedikit kerutan di dahi karena Quin mengernyit.


Sepertinya Quin memimpikan sesuatu. memundurkan tubuhnya, namun saat melihat satu tetes air mata mengalir dari sudut mata Quin, Abi mengernyit.


" Apa dia menangis sambil tidur?" Gumam Abi.


Tangan Abi mengulur ke pipi Quin, dan menghapus air mata yang baru saja jatuh membasahi sudut matanya.


Abi memandang wajah Quin. Entah kenapa, Abi merasa ada sesuatu yang Quin pendam. Tapi Apa itu??.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2