KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 81


__ADS_3

Veer menggendong tubuh Nafi menuju helikopter yang ada di atap gedung. Veer tak ingin orang asing menyentuh istri tercintanya. Dengan menggunakan Helikopter, mereka menuju ke bandara, di mana Jet pribadi keluarga Moza sudah menunggu kehadiran mereka. Dengan penjagaan yang sangat ketat, dan Dedi sendiri yang memimpin pemeriksaan kepada setiap pilot, co-pilot, dan juga pramugarinya.


Dalam sekejap dan dengan kekuasaa Veer, Mereka tiba di Indonesia dengan selamat. Eeitss, tapi semuanya belum tentu benar-benar aman untuk Nafi.


Mobil ambulans juga sudah siap siaga menunggu kedatang Veer, Nafi, Tata, dan juga Dedi.


"Bagaimana ini bisa terjadi Veer?" Tanya Leo yang memimpin tim penanganan Nafi dan Tata.


"Nanti Veer akan jelaskan Om."


Mobil ambulan yang sudah di kawal oleh pengawalan ketat pun menuju rumah sakit keluarga Moza.


Nafi belum juga sadar dari pingsannya. Veer sudah mulai gelisah.


"Tenang lah Veer, semua akan baik-baik saja."


Veer mencoba tenang, namun bagaimana pun Veer tetap juga tak bisa tenang, seblum Nafi sadar dari tidur nya.


"Veer."


Veer menoleh kala mendengar suara sang kembaran. Veer langsung melangkahkan kakinya besar dan memeluk Quin dengan erat.


"Aku gak mau kehilangan dia, Quin. Aku mencintainya." Lirih Veer dalam pelukan Quin.


Quin mengusap punggung Veer, memberikan ketenangan kepada sang kembaran yang mulai meneteskan air matanya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."


*


"Kenapa lama sekali?"


Nafi melihat jam Yang ada di pergelangan tangannya. Ia sedang menunggu jemputan dari supir pribadinya yang sudah bekerja selama dua tahun ini.


Nafi yang merasa jenuh akhirnya melangkahkan kakinya untuk mencari udara segar.


Doorr ...


Terdengar suara tembakan, Nafi terkejut dan merasa panik. Hingga akhirnya Nafi bersembunyi di dekat tong sampah sambil memeluk lututnya. Tubuh Nafi bergetar hebat karena merasa takut.


Terdengar suara krasak krusuk, Nafi semakin takut dan sudah menangis. Nafi menutup mulutnya agar suara isakan tangisnya tak terdengar oleh orang yang sedang membuang sesuatu yang berbau anyir kedalam tong sampah.


Suara ponsel Nafi berbunyi, membuat Nafi semakin panik dan meraih ponselnya dengan cepat.


"Nona?"

__ADS_1


Nafi menengadahkan kepalanya. Mata Nafi seketika membola saat melihat supir pribadinya memegang sebuah pistol dengan baju yang berlumur darah.


"Ri- Riki ..." suara Nafi bergetar saat menyebut nama supir pribadinya.


Seketika mata Riki yang menatap sendu kepada Nafi, langsung menjadi tajam, seolah ingin menerkam Nafi saat itu juga.


Riki berjongkok di hadapan Nafi, dan menunjukkan smrik iblis nya.


"Sayang sekali, kau melihatnya." Riki berdecak sambil menodongkan pistolnya ke dagu Nafi. Dan mendongakkan wajah Nafi yang ketakutan dan sudah berderai air mata.


"A-aku tak melihat ap-apa pun." Tubuh Nafi semakin bergetar hebat, air matanya terus mengalir deras.


"Sayang sekali, tapi aku tak percaya Nona."


"Aaakkkkh ..." Nafi memekik saat tubuhnya di seret oleh Riko, dan di masukkan kedalam gudang yang tak jauh dari tempat Nafi bersembunyi.


Nafi merasa mual karena mencium amis darah yang masih segar. Bahkan darah tersebut masih segar.


"Sayang sekali, seharusnya kau tidak mengetahui hal ini .."


"Hiks ... Aku mohon, hiks ... lepaskan aku. Aku janji, aku tak akan mengatakan kepada siapapun tentang ini."


"Maaf, aku tak bisa mempercayai mu."


Riki menodongkan pistolnya kearah Nafi.


Riki seolah tak mendengarkan ucapan Nafi, ia menarik pelatuk, hingga kemudian ...


Door...


"Aaaa ..." Nafi menutup kedua telinganya dengan tangan.


Nafi tak merasakan rasa sakit pada tubuhnya. Ia merasa dirinya baik-baik saja. Nafi memberanikan diri untuk melihat kearah Riki.


Riki tersenyum miring menatap wajah Nafi yang ketakutan.


"Dengar, aku punya satu rahasia yang harus kamu tau."


Nafi menelan ludahnya kasar.


"Aku mencintai mu Nona. Aku sangat mencintai mu. Aku tak akan membiarkan siapapun memiliki mu. Hanya aku yang boleh miliki dirimu."


"Enggak, hiks ... "Lirih Nafi sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama. Dan aku sengaja melamar sebagai supir mu, agar aku bisa selalu bersama mu. Aku hanya butuh waktu yang tepat untuk menjadikan diri mu milikku. Dan aku rasa, ini adalah saat yang tepat."

__ADS_1


Nafi menggeleng, ia mundur sambil memundurkan dirinya yang terduduk di lantai. Riki semakin memajukan langkahnya, untuk mendekati Nafi. Bahkan Riki sudah membuka tali pinggang yang ia kenakan, dan melemparnya secara asal.


Nafi semakin mundur hingga tubuhnya menubruk tumpukan kardus. Riki sudah membuka pengait celananya, dan menurunkan resletingnya. Saat mendekat dengan Nafi, Riki menurunkan celananya dan menampilkan 'miliknnya' yang sudah menegang. Nafi menutup matanya dan membuang wajahnya kearah lain. Namun Riki menarik rambut Nafi, sehingga memaksa Nafi membuka mulutnya, agar Riki bisa memasukkan miliknya kedalam mulut Nafi.


"Eemmp.." Nafi seakan mau muntah karena Riki memaksanya.


Air mata Nafi mengalir semakin deras, rasanya ia lebih baik mati, dari pada di perlakukan seperti perempuan malam yang suka menjajalkan tubuhnya kepada pria asing yang mau membayarnua.


Riki mendesah nikmat dan semakin memaju mundurkan pinggulnya secara kuat sehingga menyentuh tenggorokan Nafi.


Setelah puas, Riki mengeluarkan miliknya dari mulut Nafi, dan menarik tubuh Nafi agar berdiri. Riki tak membiarkan Nafi memuntahkan apa yang telah dia semprot kedalam mulut Nafi. Riki belum puas, ia masih menginginkan hal yang lebih.


setelah memastikan Nafi menelas semua cairan putih kental itu, Riki mencium bibir Nafi secara brutal, dan merobek kemeja Nafi hingga kancingnya terlepas semua.


"Jangan ... hiks ..." Nafi mendorong tubuh Riki, namun tenaga Nafi tak berarti apapun.


Riki menurunkan Br* yang di pakai oleh Nafi, sehingga menampilkan gunung kembar yang sintal milik Nafi.


"Dasar brengsek." Maki Nafi dan menampar pipi Riki.


Riki yang tak terima mendapatkan tamparan dari Nafi pun, akhirnya mendorong paksa tubuh Nafi hingga terjatuh. Dan saat itu juga Riki membuka paksa celana yang digunakan Nafi sehingga tubuh bagian bawah Nafi tak memakai apapun.


" hikss ... aku mohon lepaskan aku."


"Tenanglah sayang, ini akan membuatmu ketagihan."


Riki terus mencumbu tubuh Nafi, hingga meninggalkan jejak-jejak merah keunguan di bagian leher, dada, dan perut Nafi. Nafi berusaha melawan, namun tenaganya bukanlah tandingan bagi Riki.


Riki menekuk kan kaki Nafi, dan siap memasukkan miliknya kedalam Nafi.


Bugh ...


Riki terpelanting akibat tendangan seseorang. Sebuah jas pun sudah melayang menutupi bagian bawah Nafi, dan selanjutnya menyusul jas yang lain menutup tubuh bagian atas Nafi.


"Sebaiknya kau mati Riki .."


Riki pun mendapatkan pukulan membabi buta dari mantan pengawal Nafi yang pernah di geser posisinya oleh Riki demi mendekatkan dirinya dengan Nafi.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2