
Anggel menyandarkan kepalanya di dada bidang Lana. Anggel benar-benar merindukan detak jantung Lana di setiap ia menempelkan kepalanya di dada bidang Lana.
“Kamu mengganti parfume mu?”
“Parfume ku habis, aku belum sempat membelinya.” Lana mengurung tubuh Anggel dengan lengannya.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Itu tidak penting, yang terpenting bagaimana cara akubisa menaklukkan hati Oma, Mami kamu.” Lana mendaratkan kecupan di pucuk kepala Anggel.
“Mami pernah berkata, jika ia menyetujui hubungan kita, tapi saat ini masalahnya ada di Mama Puput.” Ujar Anggel dengan sendu.
“Hmm, kamu benar.”
“Apa kita harus kembali sekarang dan meminta restu kepada Mami dan Mama Puput?”
“Aku rasa itu bukan ide yang buruk, tapi apa sebaiknya kita menikmati dulu waktu kebersamaan kita di sini?”
“Maksud kamu?” Anggel mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Lana.
Lana mengecup bibir Anggel sekilas. “Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin menghabiskan waktu berlibur ini bersama kamu, apa kamu tak ingin berlibur bersama ku?”
Anggel menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh Lana. “Aku benar-benar merindukan detak jantung ini.”
“Dan aku benar-benar merindukan aroma tubuhmu.”
Anggel semakin mempererat pelukannya di tubuh Lana. Ia mencari kehangatan yang tersisa di dinginnya udara malam yan berhembus.
“Kamu gak ingin masuk kedalam?”
“Tidak, aku hanya ingin seperti ini dulu, aku takut jika semua ini hanya mimpi.”
Lana mendaratkan kembali sebuah kecupan di pucuk kepala Anggel. Lana pun semakin mempererat dan membungkus Anggel ke dalam pelukannya. Biarkan udara dingin menyentuh kulit wajahnya, asal belahan jiwanya hangat akan pelukannya.
Entah berapa lama mereka berada di luar restoran dengan udara yang semakin dingin bersamaan dengan semakin larutnya malam. Hingga Lana merasakan deru napas Anggel yang terdengar teratur. Lana tersenyum melihat Anggel yang tertidur dengan lelap di dalam pelukannya. Beberapa hari ini Lana mendapatkan kabar dari Desi jika Anggel selalu mengigau dan menyebut nama-nya. Tak jarang Anggel menangis dalam tidurnya sambil menyebut nama Lana dengan lirih.
Lana pun menggendong Anggel untuk di bawa kedalam kamarnya. Eh, maksdunya kamar Angel. He .. he.. he .. mau nya si Lana atuh bawa Anggel ke dalam kamarnya, tapi Lana masih sayang dengan nyawanya yang terbuang sia-sia jika ketahuan membawa Anggel masuk kedalam kamarnya. Apalagi di sini ada Veer dan Jo siap yang
memutilasi dirinya jika berani melakukan hal itu.
*
Desi membuka pintu kamar di saat mendengar bel berbunyi.
“Tidur?” tanya Desi.
“Gak, lagi nyanyi,” ujar Lana sambil terkekeh.
Lana mengernyitkan keningnya di saat melihat Jo berada di dalam kamar Desi dan Anggel.
“Ngapain Lo di sini?” tanya Lana sinis.
“Menurut Lo?” Jo duduk dengan santai sambil menyesap minuman yang masih menggempulkan asap dari gelasnya.
“Jangan bilang kalo kalian mau mesum?”
“Rencana gitu, Lo sih cepet banget datangnya.”
Lana bergegas meletakkan Anggel ke atas tempat tidur, dengan langkah besar Lana berjalan menghampiri Jo yang masih duduk santai di sofa sambil tersenyum miring ke arah Lana. Langkah Lana yang siap untuk menghajar Jo pun langsung terhenti di saat melihat Quin dan Abi keluar dari balkon sambil tertawa.
Jo semakin tersenyum miring mengejek Lana. Lana mengerjapkan matanya di saat Quin dan Abi semakin mendekat. Terlihat Quin mencebikkan bibirnya saat melihat kearah Lana.
“Kalian?”
“Kenapa? Aah, pasti kamu fikir Jo dan Desi berbuat mesum? Ish ... ish .. tak sadar dirikah kamu?” gerutu Quin.
Quin dan ABi ke balkon karena mereka harus mengangkat panggilan telfon dari Aunty Risma yang ingin meliat apa di Korea sudah turun salju atau belum. Lana menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia pun memilih duduk di sofa yang berlainan dengan Jo.
“Kenapa kalian bisa berada di sini?” tanya Lana kepada Quin dan Abi.
Desi datang dengan membawakan teh panas untuk Lana. “Minum kak, biar anget.”
“Kami lagi bahas Anita.”
“Kenapa lagi dengan perempuan iblis itu? Ah, biasanya di Korea sering di sebut wanita rubah.”
“Anita mencoba kabur, namun berhasil di tangkap. Namun ia terus memberontak hingga membuat lengannya yang baru saja di sambung kembali patah.”
“Buseet, ngeri banget tu cewek. Cinta banget ya di sama lo?”
“Kalo menurut aku bukan lagi masuk dalam kategori cinta, melainkan sudah masuk kedalam kategori psikopat. Dia rela melakukan segala cara untuk mendapatkan Abi kembali bersamanya. Di sangat terobsesi kepada Lo.” Jo menunjuk kearah Abi dengan gelas yang ia pegang.
“Hmm, aku sudah menyelidiki tangan kanan kakek, ternyata memang selama ini kakek mengetahui sifat Anita yang tak pernahaku ketahui. Kakek sengaja mengirim seseorang untuk menjadikan Anita simpanannya, itu adalah jalan satu-satunya untuk memisahkan aku dengannya. Anita saat itu setuju, karena ia membutuhkan uang utnuk biaya tesisnya. Padahal aku pernah bilang jika ia membutuhkan uang, ia bisa katakan kepadaku. Tapi lihatlah, uang lebih dari segala.”
“Kamu terlihat sangat kecewa , sayang?”
“Maaf jika apa yang aku katakan membuat kamu terluka, aku memang kecewa, tapi bukan karena Anita. Tapi karena kakek. Seharunya kakek cukup mengatakan nya kepada ku , jika Anita bukanlah gadis yang seperti aku kenal.”
“Lalu? Apa saat itu jika kakek mu mengatakannya kepada mu, Kamu akan percaya?”
__ADS_1
Abi terdiam, Quin benar. Apa saat itu jika Kakek mengatakan kepadanya, ia akan percaya? Mungkin untuk mencurigai sedikitpun tentang Anita bisa saja tidak Abi lakukan. Mengingat betapa besar dan tulusnya cinta Abi untuk Anita.
“Maaf kan aku sayang, Kamu benar. Tapi saat ini aku benar-benar bersyukur karena kakek telah memisahkan aku denganya, dan mempertemukan aku dengan kamu. Aku mencintai kamu, hanay mencintai kamu.”
“Aku percaya,”
Abi mengecup bibir Quin singkat.
“Lihat tempat dong kalo mau romantisan.” Gerutu Jo yang mana melirik sebal kearah Desi.
Desi hanya terkikik, karena sudah beberapa kali jika ada kesempatan, Jo ingin bermesraan dengan Desi. Namun Desi adalah Desi. Sifat ketegasan dari sang Papa dan sifat alimya dari sang Mama masih menurun dengan derasnya di dalam sifat Desi. Bukannya Desi tak pernah berciuman dengan Jo, tentu saja pernah, apalagi disaat mereka sedang berkencan. Maka Jo akan menjadi pria bucin dan posesif yang terlihat berbeda dengan Jo yang biasanya.
“Lalu, hukuman apa yang akan Anita terima?”
“Tentunya bertahun-tahun merasakan nikmatnya hidup di penjara.” Ujar Jo sambil tersenyum puas. Abi memasukkan kesalahan berlapis untuk Anita. Yang mana bisa di pastikan jika Anita akan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama.
“Baiklah, lupakan Anita. Jadi sekarang, apa rencana kita besok?” Tanya Lana dengan bersemangat.
“Aku harus bekerja, bahkan mungkin sampai lembur. Masalah yang di buat Anita benar-benar membuat pekerjaanku berantakan. Haah, seharusnya pekerjaan ku bisa lebih cepat dari yang aku perkirakan.”
“Lakukan pekerjaan mu, dan kami akan bersenang-senang. Begitu kan, Quin?”
“Tidak, kalian bersenang-senanglah. Aku akan bersama Abi, kemana pun ia pergi. Aku akan menjadi penyemangat untuknya dalam bekerja.”
“Kamu yakin menjadi penyemangat untukku bekerja, sayang?”
“Tentu saja, kamu tidak menyukainya?”
“Bukan begitu, aku sangat menyukainya. Tapi aku takut jiak kau terlalu bersemangat karena di temani oleh kamu.”
“Itu hal bagus bukan.”
“Itu tidak bagus, sayang, jika aku terlalu bersemangat di saat ada kamu di jam kerja ku. Itu akan membuat pekerjaan ku semakin terbengkalai, karena aku tidak bisa mengabaikan mu begitu saja.”
“Maksud mu?”
“Kamu yakin untuk aku mengatakannya di depan mereka?”
“Tentu, kenapa memangnya” tanya Quin polos.
“Hmm, baiklah, aku akan mengtakannya. Aku tidak tahan untuk tidak mengabaikan ku, karena hanya melihat mu saja Jaguar ku bisa terbangun.”
Quin membolakan matanya mendengar ucapan Abi. “Dasar mesum.” Gerutu Quin.
*
Abi sudah mengatakan kepada Quin jika sepulang dari Korea, mereka akan melaksanakan pesta pernikahan mereka. Lebih tepatnya seminggu setelah kepulangan mereka.
“Aku sudah menyuruh Aunty Risma untuk mengurusnya. Dan kamu tau, aku memiliki banyak Mama di sana. Ada Mama Kesya, Bunda Sasa, Mami Vina, Mami Mili dan juga Mami Ara yang akan menyiapkan gaun untuk kamu. Semua sudah di ambil alih oleh mereka, dan juga ada pihak WO yang akan membantu beliau-beliau.”
“Aku tidak sabar untuk segera kembali pulang.”
“Kamu tidak ingin menikmati waktu bersamaku di sini?”
“Kamu terlalu sibuk sayang, bahkan aku tidak mengikuti mu hingga kekantor, tapi kamu masih saja sibuk.” Rengek Quin.
“Sedikit lagi, sayang, kerjaan aku akan selesai. Setelah selesai kita akan pergi ke mana pun yang kamu inginkan.”
“Beneran? Kamu gak bohong kan?”
“Gak dong, Aku kan udah janji untuk gak bohong sama kamu dan gak akan menutupi apapun lagi dari kamu.”
“Owh ... so sweeat banget sih. Aku jadi makin cinta kalo gini.”
“Harus dong, kalo bukan aku yang kamu cintai? Siapa lagi coba?”
“Gak ada, aku Cuma mau nya kamu. Cuma sayang banget,” ujar Quin dengan sendu.
“Sayang kenapa?” Abi mengelus rambut panjang Quin yang sedang menyandarkan dirinya di dada bidang Abi.
“Kenapa kita terlambat di pertemukan? Kenapa kita harus bertemu dengan orang lain dan merasakan sakit yang hebat disini.” Quin menunjuk ke dada Abi.
Abi menggenggam tangan Quin yang ada di dada nya. “Karena rasa sakit menyadarkan kita untuk tidak menyakiti orang yang tepat.”
Quin mendongak dan mengecup bibir Abi sekilas. “Tapi kamu menyakitiku, Tuan Abimana.” Quin mengerucutkan bibirnya.
“Maaf sayang, saat itu aku takut kamu akan pergi dari ku, di saat mengetahui kehadiran Anita. Kamu tau, di saat malam pertama kita, aku mendaparkan kabar dari anak buah ku, jika ada orang lain yang mencari keberadaan Anita, dan itu kamu. Aku mencari tau apa tujuan kamu mencari Anita, dan ternyata kamu ingin menyatukan aku dengannya. Tentu saja aku tidak mau, karena aku sudah tertarik dengan mu sebelum kita menikah.”
Quin membulatkan matanya. “Benarkah?”
“Hmm, Aku sudah jatuh dalam pesona mu sebelum kamu menjadi istri ku, Nyonya Abimana.” Abi mencuil hidung Quin.
Quin tersenyum malu. Kemudian ia kembali menatap Abi dengan kesal. “Tapi tetap saja kamu membuat aku kesal.”
“Maafkan aku, aku janji, sekecil apapun masalah ku, akan aku katakan kepada kamu.”
“Baiklah, aku maafkan. Tapi, bisakah kamu panaskan air untuk ku?”
Abi menyeringai. “Dengan senang hati.”
__ADS_1
Abi bangkit dan menuju ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti di saat Quin memanggilnya kembali.
“Abi, bukan air kamar mandi yang aku minta panaskan,”
“Lalu?”
“Air untuk membuat mie seduh.” Quin menunjukkan dua bungkus mie seduh yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.
Abi berjalan dengan lesu mendekat ke arah Quin, berbeda dengan Quin tesenyum senang karena berhasil membuat sang suami kesal. Ya, Quin barusaja mengerjai Abi.
*
Anggel benar-benar melupakan masalahnya bersama Lana. Sepanjang hari mereka benar-benar keliling kota Seoul untuk menikmati waktu mereka berdua. Seperti saat ini, mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Menganggap jika dunia hanya milik bedua.
“Kamu mau tteokbokki?”
“Hmm, aku mau.”
Lana pun mengajak Anggel untuk membeli satu cup besar tteokbokki yang masih hangat, cocok sekali di makan di saat musim dingin seperti ini. Lana dan Anggel pun duduk di sebuah taman bermain. Anggel memilih duduk di sebuah ayunan.
Hmm, seingatnya terakhir ia duduk di ayunan adalah di saat mereka masih remaja, Anggel, Kayla, dan Raysa sering duduk di ayunan yang ada di taman komplek, Sambil melihat Zein, Ibra dan Fatih bermain bola.
“Lagi mikirin apa?”
“Hmm? Ah, tidak ada. Hanya mengingat masa lalu.”
“Yang mana?”
“Saat terakhir kali aku duduk di ayunan bersama Kayla dan Raysa.”
“Oh, aku kira saat di rumah Kakek.”
Anggel menaikan alisnya sebelah, “Di rumah kakek? Kenapa?”
“Apa kamu masih ingat? Saat itu kamu tertidur di ayunan rotan sambil membaca buku kedokteran.”
“Ah ya, aku ingat.”
“Kamu tau siapa yang memindahkan kamu?”
Anggel menggeleng, “Papa?”
“Bukan, tapi aku.”
“Kamu?”
“Hmm, Aku yang memindahkan kamu.”
“Tapi saat itu kamu tidak ada di sana.”
“Aku haya datang untuk berkunjung melihat keadaan kakek, sekalian jemput Veer dan Quin.”
“Ooh ...”
Tiba-tiba Anggel teringat akan mimpinya semalam, di mana Mama Puput menentang hubungan mereka. Karena Oma Mega pernah mengatakan, jika Mama Puput tidak mungkin membatalkan lamaran yang telah ia berikan untuk anak dari kerabat dekatnya itu.
Terdengar helaan napas Anggel yang berat.
“Kenapa?”
“Entahlah, aku tiba-tiba saja merasa jika hubungan kita memang tak akan pernah berhasil.”
“Hei, sstt ... jangan katakan seperti itu. Kamu gak boleh pesimis. Jangan menyerah sebelum mencoba, oke.”
“Tapi aku takut, bagaimana jika—“
“Gak ada jika-jika. Udah, sekarang jangan fikirin yang macam-macam ya. Kita nikmati aja dulu waktu kita bersama.”
Anggel pun memaksakan senyumnya, ia tak mau membuat Lana khawatir dan kecewa dengan pemikirannya yang entah kenapa sulit sekali untuk melupakan tentang mimpinya. Dimana Mama Puput menentang keras hubungan nya dengan Lana.
“Hei, melamun lagi kan.?”
Anggel terkikik dan meminta maaf.
“Ayo habiskan, sebelum mendingin.”
“Iya ...”
Baiklah, mungkin Anggel memang harus menikmati hari-harinya bersama Lana di Korea. Sebelum mimpi buruk itu menjadi kenyataan.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF