
kedatangan Quin di sambut heboh oleh karyawan toko.
" Yaa Allah Mbak, eh.. Non.." Lala membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
" Biasa aja kali. Gak usah yang gimana juga." Jawab Quin santai dan menyuruh Lala menegakkan tubuhnya.
" Hehe, habisnya ngejutin banget. Selalu penasaran dengan yang namanya Quin, eh gak nyangka kalo orangnya di depan mata selama ini. "
Quin tersenyum.
" Pernh sih berfikiran kalo Mbak sama Tuan Veer itu mirip, tapi karena pernah dengar Mbak dan Tuan Veer bilang love you love you gitu, aku nya jadi gak yakin. Iihh, bisa aja Mbak sama Tuan Veer ngelabuin orang-orang."
" Namanya nutupin identitas." Jawab Quin santai. " Sekarang ayo cerita, apa yang terjadi semenjak toko aku tinggalin?"
Lala pun menceritakan jika banyaknya pengunjung yang datang demi melihat langsung ratu dari keturunan Moza itu. Bahkan ada beberapa pria yang menangis karena merasa putus cinta di saat yang sama jatuh cinta.
Quin hanya menggelengkan kepalanya, dan sesekali ikut tertawa menanggapi cerita Lala.
Ponsel Quin berdering dan menampilkan nama Anggel.
" Assalamualaikum An."
"....."
" Aku di toko, ke sini aja, aku tunggu."
Quin pun mengakhiri panggilannya. Quin kembali teringat saat kejadian di rumah Abi tadi pagi.
" Aku serius, aku ingin kamu menjadi istri aku."
" Abi, pernikahan itu bukan hal yang sepele, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dengan orang yang aku cintai dan juga mencintai aku."
" Aku mencintai mu Quin."
" Tidak, kamu tidak mencintai aku. jangan paksa hati kamu untuk mencintai aku, jika hanya untuk melupakan orang lain, kamu tidak akan pernah melupakan dia walaupun kamu mencintai aku. Untuk itu, aku memberikan penawaran kepada kamu, bantu aku mengulur waktu pernikahan kita, dan aku akan menemukan Anita secepatnya. Aku mohon." Pinta Quin dengan memelas.
Abi mengeraskan rahangnya, ia tak menyangka jika Quin menawarkan penawaran yang gila. Memang, Abi saat ini belum terlalu mengerti dengan perasaannya sendiri, tapi Abi tak memungkiri, jika ada rasa rindu dan ingin bertemu dengan Anita, namun di saat itu juga, rasa untuk memiliki Quin jauh lebih besar saat ini. Abi hanya ingin Quin menjadi miliknya, dan hanya Abi orang yang hanya boleh di cintai oleh Quin.
" Apa kamu tak percaya denganku? " Tanya Abi dengan tatapan kecewa setelah diam beberapa saat lalu dan menatap wajah Quin dengan tajam.
Quin menarim napasnya dengan pelan. " Iya, aku tak percaya kamu bisa secepat itu jatuh cinta dengan ku. Sebelum semuanya semakin sulit, aku mohon, bantu aku mengundur pernikahan kita."
Setelah mengatakan itu, Quin berdiri dan meninggalkan Abi.
Quin meraup wajahnya dan mengusapnya, mengingat perbincangannya dengan Abi, membuat kepalanya sedikit pusing. Quin butuh sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya.
.
.
" Kamu serius An?" Quin terkejut saat Anggel mengatakan jika Lana di larang menemui Dirinya dan Abi saat mereka berada di rumah sakit.
__ADS_1
" Kenapa?" Tanya nya lagi.
Anggel pun terpaksa menceritakan penyebab kenapa Lana tak di izinkan menemui Quin dan Abi.
Saat pagi, Lana yang sedikit pusing karena mabuk, harus memaksakan dirinya untuk membaca pesan Yang sedari tadi masuk memenuhi ponselnya. Lana terkejut dan langsung menyusul ke rumah sakit. Lana sangat emosi dan ingin menemui Abi.
Lana lupa untuk membersihkan diri, hingga bau alkohol masih menempel di tubuhnya, dan membuat Papa Fadil meradang dan Marah hingga memukul Lana.
" Kamu gak papa?" Tanya Quin yang mengetahui jika Anggel juga di marahi oleh Opa Bram.
" Aku gak papa, "
" jadi, di mana Lana sekarang?"
" Papa Fadil mengirimnya untuk mengurus resto Papa Fadil yang ada di Kalimantan."
Quin menghela napasnya, dan meraih ponselnya.
" Percuma, Papa Fadil meminta Abash untuk memblokir panggilan masuk dari ponsel kita."
Ponsel keluarga Moza yang sudah ditanami memori chip oleh Abash agar memudahkannya untuk melacak keberadaan mereka. Itu lah yang membuat Abash selalu mengetahui keberadaan keluarga Moza, termasuk keberadaan Anggel malam itu.
Quin tak kehilangan akal, Quin meminjam ponsel Lala dan mendial nomor Lana. Terdengar nada sambung, hingga tak berapa lama suara bariton itu terdengar.
" ....."
" Lana, ini Aku, Quin.."
" Kamu gilaa? aku gak mau tau, pokoknya besok kamu harus temui aku. Aku tunggu kamu di toko." Quin pun memutuskan pangilan secara sepihak.
" Apa yang terjadi di antara kalian?" Tebak Quin.
" Hah? Apa?" Anggel menatap Quin kikuk.
Quin menghela napas, " Lupakan."
.
.
Sudah sepuluh hari semenjak kejadian penggeroyokan Abi dan Quin, namun Abash masih belum menemukan siapa dalangnya, begitupun pihak kepolisian, gengster itu lebih memilih menutup mulutnya, sepertinya mereka benar-benar di bayar mahal untuk melakukan hal itu.
Lana pun tak datang seperti yang Quin perintahkan, Lana juga tak kembali menghubungi Quin, Lana memilih menghubungi Veer dan meminta Veer menyampaikan maafnya untuk Quin.
Hubungan Lana dan Anggel pun terasa dingin. Lana menghampiri Anggel ke rumah sakit dan juga ke kampus, namun Anggel juga sepertinya menghindar dari Lana. Mungkin Anggel tak ingin membahas tentang malam itu.
Pintu rumah Bunda Sasa pagi-pagi sudah di ketuk oleh seseorang, Daigo, anak kedua Bunda Sasa dan Daddy Bara pun yang berprofesi sebagai tentara membukakan pintu.
" Eem, Selamat Pagi, Saya Abi.."
" Saya tau, tapi Quin tidak ada di sini."
__ADS_1
Abi terlihat terkejut, namun dengan cepat merubah ekspresinya.
" Saya mencari Tante Sasa."
Daigo menaikkan alisnya sebelah, kemudian terdengar suara lembut dari belakang Daigo, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik.
" Cari Bunda." Ujar Daigo memberi tahu.
" Siapa yang cari bunda?" Ujar Bunda Sasa yang sudah berada di samping putra nya.
" Loh, ada tamu kok gak di suruh masuk? Ayo masuk Abi."
Diego pun memberi jalan untuk Abi masuk. Bunda Sasa mempersilahkan Abi untuk duduk.
" Siapa Bun?" Tanya Daddy Bara yang baru saja keluar kamar dengan pakaian dinasnya. Walaupun sudah paruh baya, Daddy Bara tetap masih terlihat gagah.
" Nak Abi, Mas."
" Loh, tumben pagi-pagi datang ke sini?" Daddy Bara duduk di sofa tunggal.
" Eemm, begini.. Om, Tante, Abi mau minta tolong."
Bunda Sasa dan Daddy Bara setia menunggu kelanjutan kalimat Abi.
" Abi mau Bunda latih Abi bela diri." Pinta Abi, "Abi mohon."
Bunda Sasa dan Daddy Bara saling berpandangan, kemudian tersenyum.
" Kenapa Bunda?" Tanya Bunda lembut.
" Karena Bunda pahlawan."
Bunda terkekeh, begitupun dengan Daddy Bara.
" Kamu harus benar-benar pulih jika ingin berlatih."
" Abi udah pulih Tante, Abi udah sehat. Abi gak mau menunggu lama lagi, keselamatan Quin sedang terancam Tante, Abi ingin melindungi Quin."
" Apa semua karena Quin?" Tanya Daddy Bara.
" Ya, Abi ingin menjadi pelindung untuk Quin."
Bunda Sasa dan Daddy Bara pun tersenyum, namun kabar yang mereka dapatkan dari Papa Arka, membuat mereka juga ikut khawatir. Takut jika suatu saat nanti, Abi kembali kepada masa lalunya.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.