KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2- SULTAH KHILAF 118


__ADS_3

Oma Rosa dan Oma Shella tengah sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan calon besan.


"Duuh, kok aku yang deg-degkan yaa." ujar Mami Vina sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


"Kenapa?" Tanya Oma Shella.


"Ila mana?" tanya Mami Vina.


"Ila lagi pergi sama Sasa ke tempat Ara."


"Pas." Mami Vina menarik napasnya panjang, kemudian ia menghelanya dengan pelan.


"Vina deg-degkan Mi. Gak tau deh gimana reaksi Zein saat tau jika dirinya di jodohi sama Ila."


"Emangnya Zein udah tau kalo Ila bakal di lamar hari ini?" tanya Oma Rosa.


"Bentar lagi Vina rencana mau hubungi dia. Biasalah, tanyai makan siang nya jangan sampai kelupaan."


Mami Vina kemudian Terkikik geli.


"Kenapa?" Tanya Oma Rosa dan Oma Shella dengan kening berkerut.


"Lucu aja yaa, Kesya yang adik aku, eh malah jadi Tante aku. Kayla yang seharusnya jadi Tante Zein, jadi calon istrinya. Tante yang jadi Mama aku, jadi besan aku. Lucu kan. Ha..ha..ha.." Mami Vina tertawa hingga air matanya keluar dari sudut mata nya.


"Iya ya, lucu banget. Mutarnya di situ-situ aja. Kurang gaul mereka ih." Ujar Oma Rosa yang juga ikut tertawa hingga menguarkan air matanya.


"Ada apa nih? kok pada ketawa?" Tanya Opa Nazar.


"Eh, ada Ayah besan." Ujar Vina sambil Terkikik.


Opa Nazar mengerutkan keningnya mendengar panggilan Mami Vina untuknya. Dan semakin berkerut di saat melihat Opa Shella dan Oma Rosa juga ikut Terkikik.


"Serem banget di sini, banyak nenek-nenek Kunti." Ujar Opa Nazar dan berlari ke halaman belakang sebelum sayur yang ada di tangan sang istri mendarat di atas kepalanya.


*


"Assalamualaikum, kesayangan Mami." Ujar Mami Vina dari panggilan videonya dengan Zein.


"Walaikumsalam, Mi." Vano menjawab dengan wajah tak seceria biasanya.


"Kamu kenapa? ada masalah?"


"Mami di mana?" tanya Zein.


"Mami di rumah Oma Rosa. Mau ada acara lamaran untuk Ila."


"Mi, bisa batalin perjodohan itu gak?" Pinta Zein.


"Loh, kenapa?" tanya Mami Vina pura-pura tak tahu.


"Mami, Zein mau ngomong berdua sama Mami. Mami bisa cari tempat sepi gak?"


"Oke, Mami ke rumah Oma Shella sebentar ya. Di rumah Oma Shella sepi, mereka pada di rumah Oma Rosa." Ujar mami Vina sambil berjalan menuju rumah Oma Shella.


Tanpa Zein ketahui, jika Oma Rosa dan Oma Sa sudah duluan berjalan sambil menutup mulutnya.


"Mau ke mana?" Tanya Oma Mega.


Oma Shella langsung menutup bibirnya dengan jari telunjuknya untuk memberi isyarat kepada Oma Mega untuk Taka bersuara dan mengikuti mereka tanpa suara. Oma Mega pun menurut apa yang di katakan oleh Oma Shella.


"Mami udah di rumah Oma Shella, kamu mau ngomong apa?" Tanya Mami Vina.


"Beneran kan gak ada orang lain di sebelah Mami?"


"Iya, beneran, tuh lihat." Mami Vina menunjukkan sisi kosong yang tak terdapat Oma Mega, Oma Shella, dan Oma Rosa.


"Huuff," Zein menarik dan menghembuskan napasnya perlahan. "Mami jangan terkejut dan jangan marah ya." Ujar Zein pelan.


"Kalo kamu buat kesalahan besar, tentu Mami akan marah. Sekarang katakan, ada apa?"


"Emm, Zein cinta sama Ila."


"Aphaaah?" Ujar Mami Vina dengan dramatis, seolah-olah terkejut dengan pernyataan sang putra.


"Ila dan Zein sebenarnya sedang menjalin hubungan, Mi. Ila dan Zein pacaran. Tapi kami takut untuk mengatakannya, takut Mami dan Oma Rosa gak setuju."


"Kenapa kamu bilang sekarang, sayang? Kamu tau kan, Mami gak pernah milih-milih calon menantu untuk Mami."


Tanpa Vina sadari, jika Oma Mega merasa tersindir dengan ucapan Mami Vina. Sebenarnya Mami Vina tak bermaksud berkata seperti itu. Tapi kenyataannya Oma Mega memang memilih calon menantu bukan?


"Zein udah pernah bilang smaa Ila untuk mengatakan kepada semua orang tentang hubungan kami. Tapi Ila menolaknya, dan Zein hargai keputusan Ila. Tapi Mi, kenapa Ila mau di jodohi? apa Ila setuju dengan perjodohan ini?"


"Hmm, kalo bukan atas persetujuan Ila yang menerima perjodohan ini, mana mungkin Oma Rosa menyambut kehadiran calon menantu nya."


"Mi, tolong bujuk Oma Rosa, bilang jangan terima lamarannya. Zein cinta Ila Mi. Tolong Zein. Zein gak mau kehilangan Ila."


"Mami gak tau harus berbuat apa. Kamu telat banget bilangnya. Lagian semua persiapan sudah siap. Ntar sore mereka akan datang. Gak jadi malem."


"Mi, Zein udah hubungin Ila dari tadi, tapi gak nyambung. Tolong Zein Mi, pliss.."


"Hmm, urusan kamu udah selesai di sana?" tanya Mami Vina.


"Belum Mi, tapi Zein akan pulang dengan penerbangan jam 3."


"Selesaikan pekerjaan kamu dulu."


"Gak Mi, Zein gak bisa fokus kalo Ila jadi milik orang lain. Mami tolong Zein."


"Mami usahain ya, tapi Mami gak janji."


"Ya udah Mi, Zein siap-sial dulu."


"Makan dulu, biar ada tenaga."


"Gak selera Mi."

__ADS_1


"Makan Zein, kalo kamu mau berjuang, kamu harus memiliki tenaga untuk bertahan."


"Iya Mi, nanti Zein makan."


"Makan, atau Mami gak mau ngomong sama Oma Rosa."


"Iya Mi, nanti Zein makan."


"Mami tunggu video kamu 15 menit paling lama dari sekang."


Mami Vina memutuskan panggilannya secara sepihak.


"Zein buru-buru pulang ke sini." Ujar Mami Vina sambil Terkikik.


"Jahat banget gak sih? Zein lagi di Surabaya dan bertemu dengan klien penting?" Ujar Oma Rosa.


"Gak Ma, Itu sih cuma akal-akalan Mas Vano aja. Vina sengaja suruh Mas Vano kirim Zein k daerah lain, biar greget gitu perjuangannya."


"Kamu ini, sayang tau Zein."


Mami Vina hanya terkikik geli mengingat bagaimana sang putra kelimpungan dengan persiapannya kembali ke Jakarta.


"Baiklah besan, jangan lupa hubungi Tante Arma dan mengingatkannya jika acaranya di percepat menjadi nanti sore, habis ashar."


"Tentu."


Oma Mega terlihat murung di saat yang lain tersenyum.


"Mami kenapa?" Tanya Vina.


"Hmm, andai saja Mami bisa seperti kamu, menerima Lana dengan mudah. Pasti Anggel sangat bahagia sekarang. Tapi Mami gak bisa."


"Kuncinya hanya mencoba untuk Ikhlas." Ujar Oma Shella dan menepuk bahu Oma Mega.


"Sedang aku Coba, tapi aku sudah menerima lamaran Martin. Anggel dan Martin akan menikah bulan depan."


"Kebahagiaan Anggel ada bersama Lana, Meg." Ujar Oma Shella.


"Entahlah, tapi aku masih belum bisa melupakan bagaimana Lana melamar Quin berkali-kali."


Hening, hanya helaan nafas saja yang terdengar.


"Mi, semuanya udah siap." Ujar Naya, putri kedua Vina dan Vano.


"Oh ya, makasih sayang. Mi, Ma, Vina pulang duluan ya. Mau siapin semuanya."


"Iya,." jawab Oma Rosa dan Oma Shella berbarengan.


Setelah kepergian Mami Vina, Oma Mega masih termenung mengingat bagaimana kebahagiaan sang putri nanti nya.


*


Zein mengirimkan video kepada snag Mami di mana dirinya tengah makan siang di kamar hotel nya. Setelah itu Zein turun ke baseman dan melihat jika ban mobil nya kempes


Zein sungguh kesal, bagaimana bisa di saat segenting ini ban mobilnya malah kempes. Zein sudah menggeram kesal.


Tampilan Zein yang seperti itu malah menambah kesan seksi dan Maco pada diri Zein, sehingga membuat beberapa pasang mata yang melihat Zein menjadi lapar dan seolah ingin memakan Zein.


"Mau saya carikan taksi Tuan Muda?" Ujar supir Zein.


"Kamu selesaikan itu, saya bisa sendiri."


Zein mencari taksi di sekitaran hotel tempatnya akan bertemu dengan klien penting. Zein juga sudah membatalkan pertemuan tersebut, untungnya sang klien tidak keberatan membatalkan pertemuannya.


Zein benar-benat frustasi. Belum lagi Kayla yang tak mengangkat panggilannya dan juga membalas pesan-pesannya.


Zein kembali menggeram di saat semua taksi yang di panggilnya penuh.


"Aarrrghhhh ...." Geram Zein sambil meremas rambutnya.


Zein membuka jas nya karena merasa gerah, serta menarik dasi nya dan membuka satu kancing teratas kemeja nya. Jangan di tanyakan lagi bagaimana penampilan Zein.


Zein berjalan dan berlari hingga akhirnya ia menemukan tukang ojek yang bersedia mengantarkan nya ke bandara.


Sempat terjadi tawar menawar dengan si Abang ojek, hingga akhirnya Zein harus membayar mahal ojek tersebut karena jarak yang di tempuh lumayan jauh. Zein tak peduli, saat ini yang Zein fikirkan hanya datang tepat waktu sebelum Kayla benar-benar menerima perjodohan tersebut.


"Cepat pak, saya buru-buru."


"Iya Pak."


Tukang ojek pun melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi. Untungnya Tak ada polisi yang mengejarnya.


Sesampainya di bandara, Bayaran yang seharusnya 250 ribu itu, di tambah oleh Zein menjadi 500 ribu.


"Untuk anak istri bapak, Doain saya, supaya bisa melamar calon istri saya." pinta Zein.


"Terima kasih banyak Pak, saya doakan semoga bapak dan calon istri nya selalu sehat dan bahagia. Dan semua urusannya di lancarkan."


"Amin, terima kasih Pak, ini helmnya."


Zein langsung berlari untuk cek in, namun sayang, pesawat yang akan Zein naiki delay selama satu jam. Zein kembali menggeram dan menjambak rambutnya.


Zein melirik jam tangannya, sudah pukul dua lewat lima belas menit. Rasa nya ingin sekali Zein menyuruh seseorang untuk menyiapkan pesawat pribadi keluarga Moza. Tapi itu juga butuh waktu sekitar sejam paling cepat. Sama aja kan, jadi Zein pun duduk di ruang tunggu dan mencoba sabar dengan cobaan yang tengah di hadapinya.


Zein mencoba menghubungi Mami Vina, namun tak di angkat. Begitu pun dengan Nara. Ponsel gadis manisnya itu bahkan tidak aktif. Zein kembali menghubungi Bunda Sasa, namun hal yang sama terjadi, tak ada yang menjawab panggilannya.


Zein mencoba menghubungi Quin.


"Halo Quin."


"ya Zein?"


"Kamu di mana? apa kamu sudha berada di tempat Oma Rosa?"


"Aku masih di toko. Acaranya nanti malam kan?"

__ADS_1


"Mami bilang di percepat jadi sore."


"Oh, benarkah? aku gak tau. Nanti aku coba tanya Mama."


"Quin, tolong hentikan Kayla. Aku cinta banget sama dia. Gak ada perempuan yang bisa ngertiin aku selain dia."


"Aku gak janji bisa menghentikan acara itu, tapi aku akan mencoba meyakinkan Ila."


"Makasih Quin, aku tutup dulu telponnya. Aku mau mencoba menghubungi Mami lagi."


"Oke, kamu jangan terlalu stres ya."


"Iya Quin, makasih."


Zein memutuskan panggilannya, ia benar-benar frustasi saat ini. Zein meraup wajahnya yang sudah berkeringat, menyugar rambutnya kemudian mengajaknya lagi.


Beberapa pasang mata memandang Zein dengan berbinar karena ketampanan Zein, namun beberapa pasang mata menatap Zein dengan heran.


"Ila, kamu di mana? kenapa telfon aku gak di angkat sih." geram Zein berbicara kepada ponselnya dan terus berusaha menghubungi Kayla.


*


Bunda Sasa tersenyum melihat betapa cantiknya Kayla dengan kebaya yang di rancang oleh Mami Ara. Juga penampilan Kayla yang sudah di dandan cantik oleh Mami Ara yang di bantu oleh asisten nya.


"Duh, anak Mami udah cantik gini kok cemberut sih." Goda Mami Ara yang juga mengetahui rencana Oma Shella, Oma Rosa, Bunda Sasa, dan Mami Vina.


"Senyum dong," ujar Mami Ara sambil mengangkat dagu Kayla agar menatap wajah Mami Ara.


Kayla memaksakan senyum nya agar tak terlihat jika ia sedang bersedih.


'Ingat Ila, ini keputusan mu yang menjauh dari Kak Zein, dan meminta untuk di jodohkan dengan orang lain.' batin Kayla mengingatkan hati nya.


"Gitu dong, kan cantik lihat nya." Puji Mami Ara dan Bunda Sasa.


"Mungil, udah siap?" Tanya Daddy Bara yang menjemput dua wanita cantik di hadapannya.


"Udah Mas, lihat deh Ila, cantik banget kan. Siapa yang mau nolak cewek cantik gini!" Goda Bunda Sasa.


"Daddy yakin, calonnya pasti minta langsung kawin deh."


Kayla hanya tersenyum menanggapi ucapan Daddy Bara. Senyum yang tak sampai ke mata dan kehati.


Daddy Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat 46 menit. Sebentar lagi Kayla akan bertemu dengan keluarga calon suaminya.


Oma Rosa menyambut sang putri dengan senyum yang mengembang. Ada Quin juga di sana yang sudah menatap iba kepada Kayla.


"Quin, kamu temani Ila di kamar ya. Sebentar lagi keluarga calon pria nya datang untuk melamar." Ujar Oma Rosa.


"Iya Oma."


Quin pun membawa Kayla ke dalam kamarnya bersama Anggel.


"Kay, kamu yakin mau di jodohi dengan pria yang gak kamu cintai?" Tanya Quin.


Kayla masih diam dan menatap kosong ke lantai.


"Kay, jawab dong. Zein cinta banget sama kamu. Kamu harus menolak perjodohan ini, Zein pasti bakal ngelamar kamu."


Kayla masih diam.


"Kay, jawab aku jujur, apa yang kamu takutkan? apa kamu takut jika Oma Mega tak merestui hubungan kalian?"


Tak hanya Kayla, Anggel pun menatap kearah Quin yang sedari tadi mencoba membujuk Kayla untuk membatalkan perjodohan nya.


"Gak usah jawab, reaksi wajah kamu udah bilang 'Iya.'" Quin menghela napasnya.


"Aku mewakili Tante aku, ngucapin beribu-ribu maaf jika kamu tersinggung dengan ucapannya waktu itu. Tante aku gak bermaksud berkata seperti itu. Aku tau, Tante Mega salah, tapi semua hanya salah paham. Tante Mega sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Mama Puput. Mama puput juga sudah memaafkan Tante Mega. Kamu mau kan maafin Tante Mega? Oma kamu?" pinta Quin memohon.


"Aku udah maafin Oma Mega, tapi aku memang gak yakin dan gak percaya sama diri aku sendiri. Aku merasa jika, aku dan kak Zein bagaikan langit dan bumi. Mungkin aku dekat dengannya, tapi sesungguhnya dia jauh sekali untuk aku gapai." Ujar Kayla dengan air mata yang jatuh.


"Maafin Mami aku ya, Kay." Anggel memeluk Kayla dan mereka menangis.


"Hei, kalian jangan menangis. Ingat, kalian masih bisa berjuang sebelum janur kuning melengkung. Kay, kamu harus batalin pertunangan ini, sebelum semuanya terlambat."


"Iya Kay, kamu jangan memiliki nasib seperti aku. Bukan deoan aku udah nikah dengan orang yang sama sekali gak aku cintai. Kamu bisa bayangin kan bagaimana hidup aku nanti. Mungkin aku bakal permak si Martin itu biar setampan Lana. Aku gak mau munafik, Aku juga pingin punya suami tampan."


"Martin sebenarnya tampan, cuma yaa gitu deh." ujar Quin.


"Kamu gak mau perjuangin cinta kamu dan Lana An?" tanya Kayla.


"Aku gak mungkin perjuangkan sendiri jika Lana menghindar. Besok Lana akan ke India, ada proyek pembuatan film di sana. Dan mungkin juga di saat aku nikah, dia gak akan datang." Ujar Anggel sendu.


"Jadi kamu nyerah?" tanya Quin.


"Berat Quin, Mani ngancam aku dan Lana. Aku gak mau durhaka sama orang tua."


Quin dan Kayla hanya menghela napasnya pelan.


"Oh ya, Zein sedang menuju ke sini. Kamu harus batalkan pertunangan ini. Dan meminta Zein untuk melamar kamu terus." Ujar Quin.


"Iya Kay, kamu harus batalin pertunangan ini." Tambah Anggel.


Tak berapa lama, pintu kamar di ketuk dan menampilkan Oma Rosa.


"Loh, kok pada nangis sih?" Tanya Oma Rosa saat melihat mata Quin, Anggel, dan Kayla basah.


"Ma, bisa gak Ila minta untuk membatalkan perjodohan ini." ujar Kayla dengan bergetar dna air mata yang mengalir.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2