
"Assalamualaikum," Ujar Arash dan menghampiri semuanya.
"Aaraashh .... hikks ..." rengek Quin yang membuat Arash bingung.
Arash pun menghampiri sang kakak kesayangannya itu.
"Kenapa? Kok nangis?" tanya Atas yang sudah duduk di dekat Quin dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Hiks, pingin itu ..." tunjuk Quin kearah televisi.
"Ooh, mau televisi kayak Kakek?" tanya Arash.
"Bukaaan ... hiks ... pingin itu .... owl .." ujar Quin kembali sambil menunjuk kearah televisi.
Arash melirik kearah sang Papa yang sudah menggaruk alisnya, kemudian melirik kearah Mama yang juga memandang kearah lain. Tak lupa, Arash melirik kearah sang kakek yang sedang mengalihkan perhatiannya kepada sang Oma.
Arash menghela napasnya, ratu rumah ini sedang menginginkan sesuatu, tapi, bagaimana cara memenuhi keinginannya?
Mami Anggun sudah memperingatkan kepada seluruh keluarga, untuk menjauhkan semua binatang-binatang kesayangan Quin dari si pemiliknya. Eh, ini malah Quin kepingin pelihara burung hantu.
" Nanti aku beli, ya!" ujar Arash yang sudah membuat Quin terswnyim bahagia.
"Beneran?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Iya, Aku beli yang boneka," ujar Arash yang mana membuat tangis Quin kembali pecah.
Seluruh keluarga mulai panik, karena Quin menangis hingg tersedu-sedu, tangis itu akan membuat Quin lelah dan takutnya mengganggu kandungannya.
"Eh, Quin, jangan nangis gitu, nanti kamu kelelahan, sayang bayinya," rayu Mama Kesya yang sudah turun tangan.
Namun, tangis Quin semakin kencang sehingga membuat semua orang yang ada di sana semakin panik.
"Quin,.." pekik Abi yang baru saja sampai dan langsung mengejar sang istri yang sudah sesenggukan dan mulai kehilangan kesadarannya.
"Ya Alla, Quin," lirih Mama Kesya yang sudah ikut meneteskan air matanya.
Arash langsung menggendong Quin dan membawanya masuk kedalam kamar.
Ya, semenjak keadaan kakek memburuk, di tambah Quin yang juga harus menjauh dari semua jenis binatang peliharaannya, terutama kucing, Quin dan Abi pun ikut tinggal di rumah kakak Farel.
Bahkan, Mama Kesya, dan Papa Arka juga ikut tinggal di rumah kakek Farel. Untungnya, rumah mereka dekat, jadi tidak sulit bagi Arash, Abash, dan Shaka untuk berkunjung kapan pun mereka mau.
Veer dan Nafi juga ikut tinggal di rumah Kakek Farel, karena tak ingin membiarkan sang kakek kehilangan banyak moment kebersamaan dengan cicitnya. Apa lagi, kondisi kakek Farel yang semakin menurun, serta, mereka sudah mendapatkan peringatan dari sang dokter jika Kakek Farel tak akan bertahan lama.
Papa Arka langsung menghubungi Mami Anguun, untuk memeriksa keadaan Quin. Sebelumnya, dokter yang bertugas merawat Kakek Farel pun sudah turun tangan untuk memerika keadaan Quin.
"Kenapa, Ma, Pa? Quin kenapa?" tanya Abi dengan suara yang bergetar, karena takut sekali akan kehilangan Quin.
"Minum dulu, Bi," ujar Mama Keysa memberikan air putih kepada Abi yang di bawa oleh asisten rumah tangga.
ABi pun eneguk air yang di berikan oleh sang mertua hingga tandas. Pikirannya sudah melayang entah kemana, Abi sungguh sangat takut jika keadaana Quin kembali drop. Abi takut kehilangan Quin dan juga anak mereka.
__ADS_1
"Duduk dulu," ujar Mama Kesya yang di turuti oleh Abi.
"Quin kenapa?" tanya Abi masih dengan suara yang bergetar, matanya masih terus memperhatikan sang istri yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
Mama Kesya menghela napasnya pelan. "Tadi, kami sedang menonton film kartun. Saat Papa pulang kerja, tiba-tiba saja Quin meminat kepada Papa Arka untuk di belikan burung hantu. Quin langsung menangis karena keinginnanya tak di kabulkan, hingga saat Arash pulang, Quin kembali meminta kepada Arash sambil menangis." Mama Kesya menghela napasnya sedikit kasar.
"Tangis Quin semakin menjadi saat Arash mengatakan akan membelikan boneka burung hantu, sedangkan Quin ingin burung hantu yang asli," ujar Mama kesya sambil menghela napasnya yang kesekian kali.
Abi mengusap wajahnya kasar. "Burung hantu?" lirih Abi.
Ya, ini semua karena burung hantu. Salah si burung hantu itu, kenapa harus memiliki mata yang besar dan menggemaskan.
"Jadi, Abi harus apa?" lirihnya dengan membuang napas sedikit kasar.
*
Quin sedang di periksa oleh Mama Anggun. seluruh keluarga langsung berkumpul saat mendapatkan kabar jika Quin pingsan. Oma Shella sudah sesenggukan sedari rumah saat mendapatkan kabar jika Quin pingsan.
"Gimana?" tanya Papa Arka kepada Mami Anggun.
"Kondisinya kembali lemah, tapi detak jantung bayinya terdenagr normal."
Semua orang bernapas denagn setengah lega.
"Lalu? Apa Quin akan baik-baik saja?' tanya Abi.
"Kita tunggu Quin bangun dulu, ya," ujar Mami Anggun dengan mengusap lengan Abi.
Abi menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya berkali-kali. "Bangun, sayang. Aku di sini," lirih Abi dengan pelan.
Sudah hampir satu jam, akhirnya Quin terbangun dari tidurnya.
"Sayang, ada yang sakit?" tanya Abi langsung saat melihat mata Quin sudah bergerak.
"Abi," lirih Quin dan mencoba untuk bangkit.
Abi langsung memposisikan dirinya di belakang Quin, agar tubuhnya menjadi sandaran untuk sang istri.
"Kamu mau minum?" tanya Abi, Quin menganggukkan kepalanya.
Abi meraih air yang ada di atas nakas dan meminumkannya kepada Quin secara perlahan.
"Udah enakan?" tanya Abi lagi setelah Quin menghabiskan setengah gelas.
"Abi, aku pingin pelihara burung hantu, tapi Mama, Papa, Arash, semuanya gak ada yang mau beliin untuk aku! Abi, kamu mau kan beliin aku burung hantu?" rengek Quin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang, kamu gak boleh dekat-dekat dengan binatang dulu," ujar Abi dengan lembut.
"Aku pingin, aku ingin melihatnya secara langsung, aku mohon, hiks ... aku janji gak akan pegang-pegang kok, aku cuma pingin liat aja," rengek Quin dengan air mata yang mulai mengalir.
Abi menghela napasnya pelan, dia mengelus punggung tangan sang istri dengan sayang.
__ADS_1
"Janji? hanya melihat dari jauh?" tanya Abi.
"Janji, tapi aku pingin burungnya jadi punya aku, burung yang sama dengan kayak di film kartun tadi," rengek Quin lagi.
Abi menggaruk keningnya yang tak gatal. Burung hantu yang di inginkan oleh Quin tidak ada di Indonesia, Abi harus memesannya ke luar.
"Abi," rengek Quin yang kembali menyadarkan Abi dari lamunannya.
"Ya?"
"Mau kan? beliin aku burung hantu? Burungnya lucu banget," rengek Quin dengan manja.
"Iya .. iya .. tapi kamu tetap harus pegang janji kamu ya, gak boleh pegang-pegang. Kalau kamu langgar janji, aku akan balikn burungnya keasal.
"Iya, aku janji. Aku cuma akan pegang burung yang ini aja," ujar Quin sambil membelai sesuatu di antara kedua paha Abi.
"Quin, jangan nakal, dia sudah puasa dua bulan lebih." bisik Abi dengan menggeram.
*
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Abi menghampiri seluruh keluarga.
"Apa boleh, Ma? Pa? Mi?" tanya Abi kepada Mama Kesya, Papa Arka, dan Mami Anggun.
"Burung hantu itu termasuk binatang buas, Abi," ujar Mami Anggun.
"Iya, Abi tau,"
"Bagaimana jika burung tersebut menggigit tangan Quin?" tanya Mama Kesya.
"Quin Sudah janji tidak akan menyentuhnya,"
"Kamu yakin?" tanya Papa Arka.
"Iya," jawab Abi dengan sangat yakin.
"Baiklah, Papa izinin kamu, tapi ingat, jaga Quin baik-baik," titah Papa Arka.
"Baik, Pa."
Tak sulit bagi Abi untuk menemukan burung hantu yang di inginkan oleh Quin. Burung hantu berjenis Snowy owl pun akan dengan mudah bagi dapatkan melalui koneksinya yang tersebar di berbagai daerah.
** Yukk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF