
Nafi sedari tadi terus mengerucutkan bibirnya. Desi dan Jo hanya saling melirik melihat kejutekan Nafi. Desi pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Veer.
“Kenapa Mas?” bisik Desi yang takut di dengar oleh Nafi.
“Ngambek, Quin sama Anggel sibuk pacaran.”
Desi pun menganggukkan kepalanya mengerti. Tak berapa lama, Quin dan Abi pun ikut bergabung dengan mereka.
“Maaf ya kakak ipar, suami ku yang manja ini minta di temenin kerja.”
Abi membelalakkan matanya. Kenapa jadi dirinya yang di salahkan? Bukannya Quin yang terus bergelayut manja pada dirinya? Bahkan pekerjaan Abi terbengkalai karena Quin terus saja menggodanya hingga mereka pun harus menghabiskan waktu yang lebih lama untuk saling menghangatkan dan mengeluarkan keringat bersama.
Nafi masih mengerucutkan bibirnya karena kesal, Ahh ... bumil emang beda yaa. Bahkan aura merajuk Nafi sudah membuat Quin menelan ludahnya kasar. Pasalnya Veer menatapnya dengan tajam dan tanpa berkedip.
“Sorry ....” lirih Quin dengan suara yang cukup halus kepada Veer.
Veer melanjutkan kembali menikmati cemilan dan coffe nya.
“Anggel dan Lana belum kembali?” tanya Quin kepada Desi.
“Hmm, kayak gak tau mereka aja, Mbak. Palingan mereka bakal balik malam.”
Quin mengangukkan kepalanya meng-iya kan apa yang di katakan oleh Desi adalah benar. Sudah beberapa hari ini setelah sarapan mereka langsung pergi berdua, katanya ingin menghabiskan waktu bersama sebelum negara api kembali menyerang. Hmm, Quin berharap sepulangnya mereka dari Korea, akan ada kabar baik dari Anggel dan
Lana.
“Ah ya, tadi Mama telpon, persiapan pernikahannya sudah berjalan 80 persen. Tinggal tunggu kepulangan kita untuk mencoba pakaian yang di jahit dengan kilat oleh Mami Ara.” ujar Veer kepada Quin.
“Kenapa Mama gak hubungi aku?”
“Kamu susah di hubungi dan juga kata kakek, kamu pulang harus dengan membawa calon cucunya di dalam perut kamu."
Bluss ...
Sontak saja pipi Quin langsung mendengar ucapan Veer. Tapi rasanya Quin masih ingin menikmati masa pacaranya yang panas dengan Abi. Quin benar-benar gila di buat oleh Abi. Abi sungguh membuatnya selalu ingin lagi ... lagi ... lagi ... dan lagi. Itu semua karena permainan Abi yang lembut dan sangat memabukkannya.
Ah, membayangkannya saja Quin jadi kepingin lagi. Tapi, hmm ... Kenapa Quin bisa semesum ini sih? Hi .... hi ... hi ... mungkin ini efek dari kenikmatan yang halal ya, di tambah cuaca dingin yang sangat mendominan untuk tubuh di
hangatkan.
“Gimana kalo kita kuliner bareng?” Ide Quin untuk menaikkan mood Nafi yang sedari tadi masih saja ngambek.
“Kuliner?” Nafi terpancing dengan omongan Quin.
Quin tersenyum lebar. “Iya, kuliner. Banyak makanan enak di sini, dan kalian,” Quin menunjuk kearah Jo dan Desi. “Aku lepas tugaskan untuk berkencan bersama kami. Aku tidak ingin melihat kalian seperti pasangan robot yang sangat kaku.”
Jo sudah tersenyum lebar, sedangkan Desi hanya tersenyum tipis. Desi melirik kearah Jo yang mana baru saja mengedipkan matanya sebelah.
“Baiklah, ayo ... Aku sudah tidak sabar untuk jalan-jalan,” ujar Nafi dengan semangat.
“Oke, tapi Kamu jangan terlalu capek ya. Ingat, ada anak kita di dalam sini.” Veer mengelus perut rata Nafi.
“Baiklah, Mas.”
Quin langsung menghubungi Anggel dan Lana. Setelah panggilannya terhubung dengan Anggel, Quin langsung menyampaikan niatnya untuk berwisata kuliner hari ini. Anggel pun menyetujuinya. Kapan lagi bisa kencan empat kayak gini. Jarang-jarang banget kan ya. Apalagi keadaan sudah aman. Anita sudah tertangkap dan di masukkan di tahanan rumah sakit jiwa. Anita benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya demi mendapatkan Abi kembali.
*
Nafi benar-benar bahagia, ia tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Quin, Anggel, dan Desi, bersama mereka Nafi seolah memiliki saudara kembar. Apalagi saat ini mereka menggunakan mantel dingin dengan model yang sama dan warna yang sama.
Yang katanya kencan empat pun, ternyata hanya menjadi isapan jempol belaka. Lihatlah, para wanita sibuk bersama menikmati kuliner pinggir jalan sambil saling suap menyuapi. Sedangkan para pria hanya kebagian memegang belanjaan mereka dan membayar tagihan yang mereka beli.
Anggel mengajak semuanya duduk di sebuah cafe pinggir jalan, yang mana menyediakan cemilan korea yang beraneka ragam.
“Masih mau makan lagi?” tanya Desi yang memang sudah kekenyangan. Sedari tadi mereka memang terus saja mencicipi setiap stand yang berjualan di tepi jalan pejalan kaki.
“Bumil nih, masih laper katanya.”
“Aku juga” ujar Quin dengan tersenyum lebar.
Desi hanya mampu menggelenggkan kepalanya. Ia memang tak meragukan perut Quin yang memang doyan makan, tapi berat badannya tidak bertambah. Tapi bagaimana dengan nya yang hanya memakan cake saja sudah terlihat gendut? Huff, di tambah lagi Desi tak berolah raga setiap pagi selama di Korea. Bisa Desi rasakan jika berat
__ADS_1
tubuhnya mulai bertambah. Seperti nya sepulang dari sini desi benar-benar akan menurunkan kembali berat badannya.
Para pria pun duduk di sebelah pasangannya masing-masing dengan wajah yang cemberut. Kencan romantis yang mereka bayangkan ternyata tak seromantis kenyataannya.
“Kok cemberut? Kenapa?”
Wow, jika bumil sudah mengeluarkan suara emasnya, maka terpaksalah para pria langsung tersenyum lebar.
“Gak, gak cemberut kok. Cuma capek aja.” lirih Veer di akhir kalimatnya.
“Oo, capek. Ya udah, balik aja Kamu sana ke hotel. Aku bisa bareng mereka yang setia sama aku,” ujar Nafi sambil mengerucutkan bibirnya.
Anggel, Quin, dan Desi sudah mengulum senyumnya melihat Veer merayu Nafi yang tengah ngambek. Hi .. hi .. bumil dilawan.
Quin melirik kearah Abi yang sedang mengurut lehernya.
“Capek?” bisik Quin dengan lembut.
“Hah? Oh, gak kok.” Abi melebarkan senyumnya hingga menampilkan gigi putih nya.
“Mau aku pijitin?”
“Gak, aku gak capek. Kamu capek?”
“Iya, capek, tapi ini sangat menyenangkan. Kaki aku rasanya pegel deh,” ujar Quin dengan nada manjanya.
“Naikin ke sini, biar aku pijitin.” Abi menepuk pahanya untuk Quin meletakkan kakinya di sana.
Quin dengan senang hati melakukan apa yang Abi perintahkan. Quin menaikkan kakinya di atas pangkuan Abi. Dan Abi pun mulai memijit pelan kaki Quin. Quin tersenyum kepada Anggel dan Desi.
“Ekhem, pegel banget deh bahu aku,” seru Anggel sambil memukul-mukul bahunya pelan.
Lana berdehem dan tersenyum kepada Anggel.
“Mau aku pijitin juga?”
“Hah? Oh, gak kok. Aku tau kamu pasti juga capek,” ujar Anggel yang berpura-pura menolak tawaran Lana, padahal ngarep banget.
“Emm, enak banget ... Kamu gak boleh mijitin orang lain ya. Cuma aku yang boleh kamu pijitin.”
“Iya sayang.” Lana menghela napasnya sepelan mungkin agar Anggel tal mendnegarnya. Lana melirik Abi dan mereka saling memuatr bola matanya malas.
Quin dan Anggel sudah melirik kearah Jo yang masih duduk dengan santai sambil melipat kedua tangannya di dada. Quin dan Anggel memberi kode kepada Desi untuk membuat Jo memijit bagian tubuhnya. Kapan lagi kan bisa ngerjai para pria secara masal seperti ini. Mungkin jika ada Kayla dan Raysa. Pasti akan lebih seru lagi dengan kebucinan Fatih dan Zein.
“Ekhem, pe-pegel,” ujar Desi sambil mengurut bahunya sendiri.
Jo hanya memperhatikan Desi, sehingga membuat Desi kembali berdehem dengan lebih kuat.
“Ekhem ....”
Jo memutar bola matanya malas. Ia tahu jika saat ini para wanita tengah mengerjai mereka para pria. Jo menggeser kursinya dan duduk edi belakang Desi. Tanpa aba-aba Jo langsung mengerahkan tenaganya memicit bahu Desi.
“Akh, sakit ...,” rintih Desi dan berusaha untuk melepaskan tangan Jo dari bahunya.
Jo seolah tuli dan dengan santainya memijit bahu Desi. Desi yang kesal langsung memegang tangan Jo dan memelintirkannya, sehingga membuat keseimbangan Jo goyang dan terjatuh dari kursinya. Tangan Desi yang masih di pegang oleh Jo pun, memaksakan Desi juga ikut terjatuh bersama Jo, dengan Desi yang menimpa
tubuhnya. Untungnya Desi tidak sampai mencium bibir Jo. Ya, walaupun hanya 3 centimeter lagi maka bibir mereka akan menyatu.
Desi bangkit dari atas tubuhnya, namun Jo yang sudah duduk kembali menarik tangan Desi sehingga membuatnya oleng dan terjatuh di atas pangkuan Jo.
“Kamu ....”
“Aku meminta kamu membangunkan aku, kenapa malah duduk dipangkuan aku? Pingin banget ya Aku pangku?” Jo menyerigai melihat wajah kesal Desi.
Namun, detik selanjutnya mereka terpana dengan turunnya salju pertama di akhir tahun ini. Desi menengadahkan tangannya untuk menampung salju yang jatuh dari langit.
“Sungguh indah.”
“Ya, sangat indah,” ujar Jo sambil menatap ke arah wajah dsi yang tersenyum dengan begitu cantiknya di atas pangkuanya.
Hal yang sama di lakukan oleh Anggel dan Quin. Mereka sama-sama menengadahkan telapak tangannya untuk menampung salju yang jatuh.
__ADS_1
“Akhirnya aku bisa melihat salju pertama turun. Ternyata ini benar-benar indah,” ujar Quin sambil menatap kearah salju yang turun dengan indahnya di bawah sinar lampu.
Abi menatap wajah Quin yang begitu cantik di saat ada salju yang mengenai wajahnya. Setiap helaan napas Quin mengeluarkan asap yang begitu indah di mata Abi. Senyuman di bibir itu membuat yang dingin itu membuat Abi ingin sekali menghangatinya.
Quin memekik terkejut di saat Abi mengangkat tubuhnya dan memindahkannya di atas pangkuannya. Sontak saja Quin langsung mengalungkan tangannya di leher Abi agar tak terjatuh walaupun sudah Abi memegang kuat pinggangnya.
Napas Quin tiba-tiba sedikit memburu di saat wajahnya di terpa oleh helaan napas Abi yang terasa hangat.
“Kamu cantik sekali, My Quin. Aku mencintai kamu.” Abi menahan kepala Quin dan menempelkan bibir mereka.
Hal yang hampir serupa juga terjadi dengan Anggel dan Lana.
Tiba-tiba saja Lana sudah memeluk tubuh Anggel dari belakang, yang mana Anggel sedang menikmati keindahan salju pertama. Anggel menolehkan kepalanya ke arah samping, di mana ia sduah mendapakan wajah Lana yang sangat dekat dengan dirinya.
“Katanya, jika sepasang kekasih berciuman pada saat salju pertaman turun, maka mereka akan menjadi pasangan seumur hidupnya.”
“Benarkah?”
Lana pun menganggukkan kepalanya, detik selanjutnya Anggel sudah menempelkan bibirnya di bibir Lana, tentunya dengan senang hati Lana menerima ciuman dari Anggel.
“Apa?” tanya Desi di saat Jo masih saja menahan tubuhnya di atas pangkuannya. Yang mana mereka sedang terduduk di atas tanah.
“Gak ada, aku hanya memandang wajah cantik dari gadis yang ada di pangkuan ku ini. Apa salah?”
“Ck, kamu kira aku akan berbunga begitu mendnegarnya? Anda salah mencari lawan tuan,” ujar Desi dengan tersenyum miring di saat Jo mengeluarkan jurus merayunya.
“Benarkah? Bagaimana kalo dengan ini?”
“Hmmpp”
Belum sempat Desi bergerak untuk menjauh, Jo lebih cepat dan berhasil mencium bibirnya. Ah, baiklah. Mari kita nikmati saja, begitu lah yang Desi rasakan. Karena saat ini mata Desi perlahan mulai tertutup sambil menikmati sapuan hangat dari bibir Jo.
Di saat pasangan lain sedang memadu kasih, Veer masih setia merayu Nafi yang sudah berdiri dan siap meninggalkan semuanya. Namun langkahnya terhenti di saat melihat salju pertama turun. Nafi mengangkat telapak tangannya dan mulai merasakan dinginnya salju yang jatuh di telapak tangannya.
Veer mendekati Nafi dan menutup kepala nafi dengan penutup kepala yang ada di mantelnya. Veer langsung menggenggam tangan Nafi yang masih menampung salju dan membawanya ke tubuh Nafi. Veer memeluk Nafi dari belakang.
“Maaf, jika aku membuat kamu kesal. Aku hanya merasa kamu mengabaikanku. Maaf, karena aku cemburu dengan kedekatan mu bersama saudari-saudari ku. Aku seharusnya aku mengerti perasaan kamu yang selama ini merasakan kesepian, karena kamu hanya anak tunggal di keluarga kamu. Maaf, karena aku tak mengerti jika kamu sedang menikmati masa yang membuat kamu bahagia. Maaf kan aku.”
Nafi melonggarkan pelukan Veer di tubuhnya dan berbalik menghadap wajah Veer. “Aku terima permintaan maaf kamu.”
“Terima kasih.”
Tanpa kata lagi, Veer langsung saja menempelkan bibirnya di bibir Nafi. Veer memeluk tuhuh Nafi dengan hangat, agar sang istri kesayangannyaini tak merasakan kedinginan.
Ya, malam ini adalah malam yang begitu romantis yang mereka lalui bersama. Di mana tak hanya mereka yang berciuman dan memadu kasih, mealinkan banyak pasangan lain yang juga melaukan hal yang sama.
Anggel dan Quin sengaja membawa mereka berjalan ke arah taman ini, di mana memang mereka sudah mengetahui dari ramalan cuaca, jika malam ini akan tuurn salju pertama. Impian Quin dan Anggel pun tercapai, mereka bisa menikamti malam turunnya salju pertama bersama orang yang mereka cintai.
*
Jo melongo di saat Anggel mengatakan jika semua makanan yang mereka beli di supermarket adalah hasil dari traktiran Jo. Yang mana untuk merayakan terjalinnya hubungan Jo dan Desi. Dengan meringis, Jo pun mengeluarkan uangnya dari dalam dompetnya.
Desi hanya terkikik melihat wajah sedih Jo yang harus mengeluarkan uang untuk membayar makanan mereka. Pasalnya bukan sedikit makanan yang mereka beli, melainkan banyak sekali cemilan dan minuman yang mereka belu untuk menghabiskan malam yang dingin ini bersama di dalam kamar hotel.
Ya mereka akan menghabiskan malam ini bersama-sama, dan menginap bersama di satu kamar hotel yang sama. Nafi sungguh bahagia, karena sebelumnya ia tak pernah merasakan kebersamaan yang terasa sangat hangat ini.
‘Terima kasih Tuhan, karena telah mempertemukan aku dengan Veer. Karena telah menjodohkan aku dengannya. Terima kasih,’ batin Nafi mengucap rasa syukurnya atas nikmat yang telah Allah berikan untukknya.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF
__ADS_1