
Abi melebarkan senyumnya saat melihat satu set pakaiannya sudah tersedia di tempat tidurnya. Abi berjalan mendekati Quin yang masih berada di dalam walk in closet. Quin sedang memandang semua pakaian miliknya yang ada di sana.
Aunty Risma benar-benar menyiapkan segala keperluannya, hingga sampai ke pakaian dalam.
Quin memekik pelan saat seseorang memeluknya dari belakang. Aroma maskulin langsung keluar menguar dari tubuh Abi. Aroma yang sangat memabukkan bagi Quin.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Abi yang sudah menopang dagunya di bahu Quin.
"Pakaian ini, Aunty Risma benar-benar menyesuaikannya dengan selera ku."
"Tentu, semua baju yang tersedia di sini sesuai dengan selera Kamu. Aku yang menyuruh aunty untuk menyiapkan semuanya."
"Hah? jadi kamu yang menyuruh menyiapkan semuanya?"
" Iya, aku hanya ingin membuat kamu nyaman."
Quin membalikkan tubuhnya. " Terima kasih, My. Prince." Quin mengecup bibir Abi sekilas.
Dengan cepat Quin menjauhkan bibirnya sebelum Abi menahan tengkuknya.
"Dasar curang." ujar Abi yang mana membuat Quin terkekeh.
"Aku mandi dulu, perutku sudah sangat lapar."
"Hmm, baiklah. Oh ya, terima kasih atas pakaiannya. Aku suka pilihanmu."
cup ..
Gantian Abi yang terkekeh melihat wajah Quin yang kesal. Abi melepaskan pelukannya dan membiarkan sang istri untuk membersihkan dirinya.
Abi pun beralih menuju kamarnya danemakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Quin untuknya.
*
"Abi, apa rencana hari ini?" tanya Quin yang sudah keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan kimono handuknya.
"Aku ingin mengajak kamu melihat Empus."
Mata Quin langsung berbinar saat mendengar kata Empus.
"Benarkah? kalau begitu aku akan bersiap dulu." Quin berlari kecil memasuki walk in closet, dan mengenakan pakaiannya.
Abi meraih ponselnya dan menghubungi temannya yang menjaga hutan kecil milik Empus. Abi memberitahukan jika sebentr lagi mereka akan datang ke sana, untuk melihat Empus.
"Ayo ..."
Suara Quin yang terdengar sangat bersemangat menarik perhatian Abi yang tengah menghubungi temannya itu.
"ok, ich ruf dich später an. (baiklah, nanti aku hubungi lagi)."
Abi memandang kearah Quin dan tersenyum. Quin hanya menggunakan celana jeans dan kemeja, namun terlihat sangat menawan. Padahal penampilan Quin terbilang sederhana.
"Kita sarapan dulu ya." ujar Abi dan meraih pinggang Quin.
"Hmm, baiklah."
Quin dan Abi pun keluar dari kamarnya, mereka berjalan sambil bergandengan tangan, membuat para pelayan yang melihatnya iri dan juga ikut bahagia.
Quin benar-benar sangat cantik, lebih cantik dari yang terlihat di televisi dan foto. Begitu lah yang di gosipkan oleh para pelayan. Mereka merasa takjub dengan kecantikan yang Quin miliki, di tambah lagi kesederhanaan yang Quin tampilkan.
"Kalian sudah mau pergi? makan dulu, Aunty akan menyuruh pelayan untuk menyiapkannya." ujar aunty Risma.
"Iya,"
Abi dan Quin pun duduk di meja makan. Mereka menunggun pelayan untuk sedang menghidangkan makanan untuk mereka.
"Kakek mana, Aunty?" tanya Quin.
"Kakek baru saja pergi, hari ini jadwal kontrol kesehatannya. Oh ya, bagaimana dengan kakek Kamu, Quin?" tanya aunty Risma.
"Alhamdulillah, kakek baik-baik aja." ujar Quin denagn tersenyum.
Aunty Risma menoleh kearah Abi yang tengah menggelengkan kepalanya. Aunty Risma mengerti apa yang di maksud dengan Abi. Quin gak mengetahui berita yang menimpa dirinya saat di Korea, begitu lin dengan kondisisi Kakek Farel saat itu.
Aunty Risma salut dengan keluarga Moza yang mampu menyimpan rahasia dengan rapat. Buktinya saja, identitas Quin tak ada yang mengetahuinya, hingga akhirnya pengumuman tersebut pun di umumkan. Di mana akhirnya seluruh dunia mengetahui wajah Quin yang sebenarnya.
Makanan telah terhidang di atas meja, Abi dan Quin pun mulai menikmati makanan tersebut.
Aunty Risma sedari tadi terus saja memandang kearah Abi. Di mana terlihat jelas pancar kebahagiaan di mata Abi.
__ADS_1
Abi lebih terlihat awet muda dan berbeda. Abi lebih terlihat berseri dan ceria, juga Abi terlihat lebih dekat dan tergapai oleh aunty Risma. Sungguh perbedaan yang jauh sekali saat Abi bersama Anita.
Ahh, ngomong-ngomong tentang Anita. Dua hari lalu wanita itu mencoba untuk bunuh diri karena terlalu frustasi menerima kenyataan bahwa Abi telah menikah dengan wnaita lain dan hidup bahagia. Namun percobaan bunuh diri itu gagal, tapi Anita harus dirawat ke dalam rumah sakit karena hampir kehabisan okesigen.
Aunty Risma mengatakan kepada pihak polisi yang bertuga untuk tidak memberitahukan kabar ini kepada Abi. Walaupun Aunty Risma yakin jika Abi nantinya akan mengetahui hal tersebut. Setidaknya jangan sekarang, sudah cukup masalah yang Anita berikan dalam rumah tangga Quin dan Abi. Biarkan Abi bahagia dengan istri sah nya saat ini.
"Aunty, apa yang sedang aunty lamunkan?" tanya Abi yang merasa sedari tadi aunty Risma terus memandang kearahnya.
"Aunty senang, bisa lihat kamu tertawa lepas seperti ini. Dan juga, kamu terlihat lebih muda."
"Benarkah? apa aku terlihat tua, Aunty?" tanya Quin kepada Aunty Risma.
"Tidak, kamu terlihat semakin cantik Quin."
"Aunty gak bohong kan? aku pernah denger, kalo pria menikah dengan seorang gadis muda, maka si pria akan terlihat lebih muda dari umurnya, karena aura si wanita terhisab oleh aura si pria." ujar Quin dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.
"Quin, aku tak setua itu. lagian Kita hanya berbeda 8 tahun." ujar Abi membela diri.
"Hah? jadi maksud tuan Abi, 8 tahun itu bukan jarak yang jauh ya?" ujar Quin yang mana semakin menggemaskan di mata Aunty Risma.
Quin terlihat sekali sedang menggoda Abi, dan hal itu berhasil membuat Abi terpancing dan kesal. Namun, perdebatan yang terjadi di antara mereka malah terlihat begitu romantis dan menggemaskan.
"Sayang, sebelum aku menikah dengan mu, Aku memang sudah terlihat lebih muda dari umurku." ujar Abi masih membela dirinya.
"Benarkah? tapi di mata ku kamu teihat seperti om-om genit." ujar Quin sambil terkekeh.
Tak hanya Quin, Aunty Risma juga ikut terkekeh.
"Kamu benar Quin, Abi ini dulu terlihat sekali cupu dan tua. Dia terlihat seperti om-om genit yang jablay." ujar aunty Risma yang mana membuat Quin semakin tertawa terbahak-bahak.
"Ooh, jadi Aunty sudah sekongkol dengan Quin?"
"Loh, aunty mengatakan hal yang sebenarnya. gaya kamu terlalu monoton dan terlihat seperti om-om."
Quin dan Aunty Risma pun tertawa, sehingga membuat Abi ngambek.
Quin mengentikan tawanya secara perlahan, begitu pun dengan auty Risma. Quin melihat wajah Abi yang sudah cemberut.
"Sayang, jangan marah dong. Walaupun kamu tua dan mirip om-om genit, aku tetap cinta kok, meski pun perut kamu tak seseksi ini lagi. Aku bakal tetap cinta sama kamu." Ujar Quin sambil membelai tangan Abi.
Mendengar satu kalimat yang terdengar manis di telinga, Abi tersenyum dan menoleh kearah Quin.
"Iyaa, apapun fisik kamu, aku gak peduli. Yang terpenting itu adalah kamu, hati kamu, cinta kamu ke aku. Aku hanya minta kepada kamu untuk mencintai aku seumur hidup kamu, dan hanya ada aku di hati kamu. Setia dengan satu wanita, dan itu aku. Apa kamu bisa?""
Abi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tentu, aku berjanji akan mengabdikan seumur hidup aku untuk mencintai kamu dan melayani kamu. I love you, mu Quin." ujar Abi dan mencium bibir Quin.
Aunty Risma langsung menutup matanya dnegan jari-jari tangan yang terbuka untuk mengintip. Sedangkan pelayan yang berdiri di belakang mereka, langsung menundukkan wajah dan tak berani melihat adegan romantis yang tersaji secara live tersebut.
Quin memukul lengan Abi untuk menghentikan ciuamnya. Wajah Quin sudah memerah malu karena Abi menciumnya dengan mesra di hadapan aunty Risma dan juga para pelayan.
"Dasar bucin akut." gerutu Aunty Risma kepada Abi.
Abi hanya tersenyum dan melanjutkan kembali makanya dengan oerasaan bahagia. Sedangkan Quin sudah malu dan hanya bisa menundukkan wajahnya yang merona.
*
"Maaf sayang, jangan ngambek lagi dong." ujar Abi sambil mengusap pipi Quin.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Abi mengendarai sendiri mobil sportnya menuju hutan buatan di mana empus berada.
"Kamu sih, masa cium aku di depan aunty Risma dan para pelayan. Aku kan jadi malu." ujar Quin sambil menepuk lengan Abi.
"Maaf, lagian kita udah resmi dan halalkan? Lagi pula aku udah pernah cium kamu di depan semua keluarga kamu dan juga para tamu undangan saat pesta pernikahan kita." ujar Abi mengingatkan.
"Kamu hobinya tuh ya, suka banget cium di depan umum." kesal Quin.
"Jangan ngambek lagi ya, sayang." bujuk Abi.
"Iyaa ..."
Abi pun mengecup punggung tangan Quin dengan mesra.
*
Quin merasa takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Hutan yang Abi belikan untuk empus sungguh sangat cantik dan benar-benar luas. Quin bisa melihatnya karena ada peta di dalamnya.
"Ayo, Empus sedang bersama kekasihnya." Abi mengajak Quin untuk masuk kedalam mobil yang sudah di beri pengaman.
Bukan karena takut Empus akan menerkam atau ada hewan buas lainnya. Tapi hanya untuk berjaga-jaga saja. Lagi pula, bagaimana bisa ada hewan buas di hutan buatan ini? hutan buatan ini tertutup dengan tembok yang tinggi, namun di dalamnya ditumbuhi pepohonan yang rindang, juga ada kolam untuk empus minum kapanpun ia inginkan.
__ADS_1
Mobil yang hanya bisa di masuki oleh 4 orang tersebut pun, bergerak masuk kedalam hutan.
Abi dan Quin duduk di bangku penumpang bagian belakang, sedangkan yang mengemudi mobil adalah orang yang di bayar untuk menjaga hutan tersebut.
"Empuuuuss ..….." Quin berteriak untuk memanggil Empus saat mereka sudah berada di tengah hutan.
Tak berapa lama terdengar suara langkah hewan berlari mendekat kearah mereka dengan aumannya yang keras.
Quin rasanya ingin menangis saat melihat Empus masih mengingat suaranya dan mau mendatanginya saat mendengar suaranya.
Empus membuka pintu besi tersebut dan membiarkan tangannya terbuka memeluk Empus. Empus pun berdiri dan memeluk Quin layaknya Empus juga seorang manusia.
"Hiikss ... Mama kangen."
Abi tersenyum melihat betapa kuatnya ikatan batin antara Empus dan Quin. Bahkan terlihat Empus ikut meneteskan air matanya. Memang, hewan juga akan merasakan apa yang kita rasakan. Bahkan kasus seperti ini sudah biasa Abi tangani. Ya karena memang Abi adalah dokter yang spesialis menangani hewan buas.
"Empus lapar? Mama bawain ini." Abi melototkan matanya saat melihat Quin membawa Roti di dalam tasnya dan memberikannya kepada Empus.
Penjaga hutan pun mengenalkan Quin dan Abi dengan kekasih Empus yang di beri nama Berta.
Setelah seharian bersama Empus dan Berta, Abi mengajak Quin untuk mengunjungi klinik miliknya yang terletak tak jauh dari hutan buatan milik Empus.
Quin merasa takjub dengan klinik Abi yang teihat sangat besar, jauh sekali berbeda dengan klinik miliknya yang ada di Indonesia.
"Kenapa kamu gak buat seperti ini yang di Indonesia?" tanya Quin.
"Aku hanya mengikuti pasar yang ada di Indonesia, lagi pula aku tak akan lama di Indonesia dulu. Tapi sekarang, aku sangat betah di Indonesia karena pujaan hati ku berasal dari sana. Dan aku tau, kamu gak bisa jauh dari keluarga kamu."
Quin menatap Abi dengan berkaca-kaca. Quin gak menyangka, jika Abi memikirkan dirinya sampai sejauh itu. Padahal Quin sudah mempersiapkan dirinya untuk tinggal jauh dari keluarganya, walaupun berat rasanya. Tapi siapa sangka? jika Abi sang suami tercinta sangat mengerti akan dirinya.
"Terima kasih Abi, aku mencintai kamu." Quin memeluk Abi dan tak peduli dengan tatapan orang yang ada di sekitarnya.
*
"An, kamu mau sarapan apa pagi ini?' tanya Lana yang baru saja menyelesaikan solat subuhnya.
"Aku ingin sarapan roti parota." ujar Quin yang masih setengah berbaring di tempat tidur sambil menutup tubuh telanjang bagian atasnya.
Hmm, semalam ada bayi besar yang kelaparan dan menyusu dengan sangat rakus. Sehingga Anggel merasa ujung bukitnya perih karena gigitan-gigitan kecil yang di berikan oleh Lana. Sakit, tapi kok rasanya nagih dan gak kapok yaa? he ... he ... he ...
"Baiklah, hari masih gelap, apa kamu ingin susu? biar aku hangatkan. Oh ya, akan datang seorang pembantu yang bertugas membersihkan apartemen ini. Jadi, kamu gak mesti melakukan pekerjaan bersih-bersih. Tapi untuk makanan, bolehkah aku meminta kamu untuk memasak?" tanya Lana dengan nada yang manja."
"Tentu, aku akan memasak makanan kesukaan kamu. Dan itu adalah impianku saat menjadi istri kamu."
"Waah, aku singhuh beruntung, terima kasih sayang."
"Hmm, kalo begitu aku mandi dulu. berbalik lah sebentar selama aku memakai bajuku." ujar Anggel.
"Kenapa masih malu? aku sudah melihat semuanya, bahkan darah di hari pertama kamu haid pun aku sudah melihatnya."
"Lana ..." pekik Anggel yang mana membuat Lana tertawa dan semakin senang menggoda sang istri.
"Ya sayang, apa kamu ingin aku memandikan mu juga?" tanya Lana dengan menggoda.
"Iihhh, dasar nyebelin.." Anggel mengerucutkan bibirnya, yang mana membuat Lana semakin gemas.
"Ayo, biar aku gendong kekamar mandi.' godanya lagi yang mana membuat Anggel melemparkan bantal ke arah Lana.
Lana semakin tertawa terbahak-bahak saat Anggel terus memukulinya dengan bantal.
*
"Di sini restorannya yang punya seiman dengan kita loh." ujar Lana saat mereka sudah berada di restoran yang tak jauh dari apartemen.
"Benarkah?"
"Hmm, nanti aku akan mengenalkannya dengan mu."
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF