KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 126


__ADS_3

"Aku harus pergi." Ujar Abi dan melangkah menjauh dari Anita.


Baru saja Abi memegang gagang pintu, tiba-tiba saja Abi merasakan tangan kurus yang melingkar di perutnya, serta kepala yang bersandar di punggungnya.


"Maafkan aku, maafkan aku Abi.  Aku tau kamu marah kepada ku, karena aku selalu menghindar dari kamu. Aku terpaksa, aku terpaska melakukannya, karena saat itu aku masih belum siap untu menikah. Aku masih ingin mengejar cita-cita dan impian ku. Dan saat semua itu telah aku raih, aku mencari mu. Aku mencari kamu ke Jerman dan Australia, tapi aku tak bisa menemukanmu. Kabar yang aku dapatkan, kamu pergi ke Inggris, aku juga mencari kamu ke sana, tapi kamu tidak ada. Aku putus ada dan berharap agar kamu juga mencari ku. Aku berharap suatu saat kita akan di pertemukan kembali. Dan saat itu tiba, kamu memanglah jodohku. Kita memang di ciptakan untuk bersama. Percayalah kepada ku, aku juga mencari mu, Abi. karena  Aku mencinta mu, aku masih mencintai kamu. dan sampai kapan pun hanya kamu yang ada di dalam hati aku." ujar Anita yang masih menyandarkan kepalanya di puggung tegap Abi.


Punggung yang selalu menjadi tempatnya bersandar dan menenangkan perasaannya. Punggung tegap itu masih terasa sama seperti dulu, masih terasa hangat dan nyaman bagi Anita.


Tangan Anita  yang berada di perut Abi, perlahan naik dan meraba dada Abi, dapat Anita rasakan detak jantung Abi yang berdebar hebat. Sama halnya seperti detak jantungnya yang juga berdebar hebat karena Abi. Anita tersenyum lebar, ia sangat yakin, jika Abi masih memiliki perasaan yang sama dengannya.


Perlahan, Anita menurunkan tangannya dan memutar tubuh Abi untuk menghadapya. Abi masih diam dengan keterkejutannya. Anita tersenyum manis kepada Abi, di tangkupnya wajah tampan Abi yang selalu menghiasi hari-harinya dulu.


"Aku tau kamu masih mencintai aku, dan cinta kamu hanya untuk aku. Aku mencintai kamu Abi, aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu."


Anita berjinjit dan mengecup bibir Abi. Tak ada respon penolakan dari Abi, Anita tersenyum dan mulai ***** bibir Abi dan memejamkan matanya.


Abi yang kesadarannya belum sepenuhnya kembali pun perlahan terhanyut dengan ciuman Anita dan mulai menutup matanya. Namun bayangan Quin muncul di pelupuk matanya yang mana membuat kesadaran Abi kembali sepenuhnya dan mendorong tubuh Anita dengan pelan hingga ciuman mereka pun terpisahkan. Tanpa kata, Abi meninggalkan Anita dengan rasa kekecewaan nya.


*


Abi meremas rambutnya, ia benar-benar frustasi saat ini. Ia tak menyangka jika akan bertemu dengan Anita di saat yang tidak tepat. Bahkan Abi tak menyiapkan hati nya untuk kembali bertemu dengan Anita.


"Apa yang harus aku lakukan, ya Allah. Aku merasa bersalah kepada Quin."


Abi meremas rambutnya dan meninju kaca mobil dengan kepalan tangannya.


"Abi bodoh, dasar Abi brengsek, lo brengsek Abi, lo benar-benar brengsek." Maki Abi kepada dirinya sendiri dan meninju kaca mobil yang pastinya tak akan pecah, karena kaca tersebut merupakan kaca anti peluru.


*


Quin melirik jam tangannya, sudah dua jam berlalu saat Quin menghubungi Abi. Tapi Abi tak juga muncul di restoran yang telah Quin kirimkan lokasinya.


"Quin, coba kamu hubungi Abi lagi." Ujar Anggel yang melihat wajah Quin yang terlihat cemas.


Quin menganggukkan kepalanya dan kembali mendial nomor Abi. Tapi nomor Abi malah tak bisa dihubungi.


"Gimana?" Tanya Anggel yang juga ikut merasa khawatir.


"Di luar jangkauan nomornya."


"Coba lagi," titah Anggel.


Quin pun mencoba kembali untuk menghubungi Abi, namun hasilnya tetap saja nihil. Nomor Abi masih di luar jangkauan.


"Gimana?" tanya Anggel lagi.


Quin menggeleng, "Masih belum bisa di hubungi."


Quin menghela napasnya, ia merasakan jika ada sesuatu yang terjadi, yang mana membuat perasaannya tak enak. Quin brdoa agar tak terjadi hal buruk kepada Abi.


"Udah, mungkin ponsel Abi habis batre." Ujar Anggel yang mana mencoba untuk membuat Quin tenang.


"Iya Mbak, bisa jadi kan ponselnya habis batre, trus ban mobilnya kempes. Berfikir postif aja ya Mbak." tambah Desi yang juga mencoba membuat Quin untuk tenang.


Quin tersenyum menanggapi ucapan Anggel dan Desi. Walaupun Quin mencoba untuk berfikir tenang, namun Quin merasa ada sesuatu yang menghantui perasaannya.


Anggel melirik kearah Desi, begitu pun sebaliknya. "Ah, ini Jo yang bayar kan? itung-itung rayain hubungan kalian." Ujar Anggel untuk membuat suasana kembali ceria.


Jo hanya menaikkan alisnya sebelah, ia pandangi semua menu makanan yang telah kandas itu di atas meja. Jo pun menghela napasnya pasrah. Apa boleh buat, seperti Jo akan mengikat tali pingganggnya lebih kencang, dan menahan hasratnya untuk mengajak Desi makan di tempat yang mewah.


Anggel bersorak senang begitu pun dengan Desi. Sedangkan Quin mencoba untuk tersenyum, namun sangat terlihat di wajahnya jika senyumnya itu penuh dengan kecemasan.


*


Quin, Anggel, Desi, dan Jo pun kembali ke hotel di mana tempat mereka menginap.


"Ah, hari ini benar-benar sangat melelahkan." Ujar Desi sambil merenggangkan tubuhnya di depan kamar hotel mereka.


"Hu'um, dan besok akan menjadi hari yang lebih melelahkan." Tambah Anggel dengan semangat.

__ADS_1


Quin hanya tersenyum dan menghela napasnya pelan. Saat ini fikirannya hanya di penuhi oleh Abi. Entah mengapa, saat ini Quin sangat merindukan Abi.


"Aku masuk dulu ya," ujar Quin dan melangkah masuk. Beberapa pengawal membawa masuk barang belanjaan Quin kedalam kamar.


Desi dan Anggel pun saling memandang.


"Mbak Quin kok agak lain ya?" Ujar Desi.


"Iya, apa karena gak dapat kabar dari Abi? Tapi gak biasanya Quin gitu. Apa ada yang mengganggu fikirannya?"


"Bisa jadi sih Mbak, besok deh kita tanya. Semoga aja bukan masalah yang besar ya, Mbak."


"Iya, yuk ah masuk. Udah lelah juga nih badan, Udah pada lengket minta di bersihin."


"Iya, padahal cuacanya dingin ya Mbak."


Desi dan Anggel pun memasuki kamar mereka yang berada di sebelah kamar Quin.


"Des, gue mandi duluan boleh ya."


"Silahkan Mbak, aku mau kirim pesan dulu sama bang Jo."


Anggel pun memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket.


*


Quin baru saja selesai dengan membersihkan dirinya. Dengan masih menggunakan kimono dan handuk di kepalanya, Quin pun keluar dari kamar mandi, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Abi yang sudah berada di dalam kamar dan duduk di tepi ranjang dengan penampilan yang acak-acakkan.


"Abi, kamu baik-baik aja?" tanya nya dengan nada yang sangat khawatir.


Quin pun mendekat kearah Abi, namun ia menutup hidungnya saat mencium aroma alkohol dari tubuh Abi.


"Kamu minum?" Ujar Quin dengan geram.


Abi mendongakkan kepalanya, ia tersenyum dan menarik tangan Quin dengan kuat hingga Quin terjatuh keatas pangkuannya.


"Maafin aku, Quin. Maafin aku. Aku mencintai kamu. sangat mencintai kamu. Hanya kamu yang aku cintai saat ini, maafin aku." Abi menangis dan menyusupkan kepalanya di ceruk leher Quin.


"Uwwkk ..." Abi merasa mual dan ingin muntah.


Abi dengan cepat menurunkan Quin dari pangkuan nya, kemudian ia bergegas lari kedalam kamar mandi untuk memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya.


Quin menghela napasnya, ini adalah pengalaman pertama bagi Quin mengurus orang mabuk. Quin dengan terpaksa menyusul Abi kedalam kamar mandi dan mengurut punggung nya agar memuntahkan semua miuman haram tersebut.


Quin membantu Abi berdiri dan memapahnya dengan susah payah kembali ke atas tempat tidur. Qui baringkan Abi dan mengangkat kaki Abo yang menggantung di bawah tempat tidur. Quin juga membuka kan sepatu Abi. Quin mendengus kesal dan hanya mampu menggerutu. Quin benci dengan pria yang suka minum.


Quin menyelimuti tubuh Abi, kemudian ia berjalan kearah lemari dan memakai pakaiannya. Quin mengambil bantal dan guling yang ada di tempat tidur, untungnya di kamar ini menyediakan selimut lebih. Quinn kembali menggerutu saat memandang wajah Abi yang terus mengigau dan meminta maaf kepadanya.


"Minta maaf sana sama Allah." kesal Quin dan berjala dengan membawa bantal, guling, dan selimut menuju sofa.


Quin lebih baik tidur di sofa dari pada harus tidur bersama dengan Abi yang tengah di bawah pengaruh minuman ber-alkohol.


*


Abi mengerang merasakan pusing yang sangat hebat di kepalanya. Abi bukan seorang peminum, memang Abi pernah mencicipi minuman itu, tapi hanya sekedar mencicipi di ujung bibirnya saja, dan  itu hanya terjadi sekali saat Abi berada di sebuah club malam milik temanya. Tak mungkin juga Abi memesan jus, karena memang tak tersedia jus di sana. Hanya ada minuman beralkohol yang harganya sangat menguras kantong.


Abi merasakan saat ini kepalanya seakan terhantam kayu besar yang membuatnya tak sadarkan diri. Abi mendudukkan dirinya perlahan dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Kenapa? Pusing? huuh."


Abi terkesiap di saat mendengar suara orang yang di cintainya itu yang terdengar sangat jutek. Abi tau, pasti saat ini Quin sangat marah kepada dirinya. Karena Abi sangat tau jika dikeluarga Quin tak ada yang boleh menyentuh minuman haram itu.


Quin berjalan mendekat kearah Abi, memberikan segelas air hangat dan satu butir obat penghilag rasa sakit kepala.


"Aku memintanya kepada pelayan hotel." Ujar Quin seolah tau apa yang ada di dalam kepala Abi.


Abi meraih gelas dan obat yang ada di tangan Quin, kemudian ia meminum obat itu dengan sekali tenggak.


"Kamu tau Abi, aku sangat membenci peminum seperti kamu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Quin keluar dari dalam kamarnya dan meninggalkan Abi yang masih termanggu menatap kepergian Quin.


"Aku tau, maafin aku Quin. Maafin aku." Lirihnya menatap kearah pintu yang tertutup.


Abi meremas rambutnya  dan mengutuk dirinya yang terhasut oleh bisikan setan.


"Iman lo masih secuil upil Bi, lo harus lebih banyak solat dan tadarus, serta berzikir agar Allah senantiasa melindungi lo dari bisikan setan." Ujar Abi dengan bijak untuk dirinya sendiri.


Abi menoleh kearah paperbag yang terletak di dekat sofa. Abi berdiri dan berjalan mendekati paperbag tersebut. Abi penasaran, apa saja yang di beli oleh Quin.


Senyum Abi mengembang saat melihat sebuah jam tangan pria yang ada di atas meja, kemudian sepasang mantel couple bulu berwarna coklat. Senyum Abi semakin mengembang, ia tak menyangka jika Quin akan mengigat dirinya dan membelikan barang juga untuk dirinya.


"Lihatlah Abi, Quin memang belum mengutarakan isi hati nya kepada lo, tapi lo bisa lihat sendiri, ini adalah sebagian kecil perhatian Quin buat lo. Itu tandanya Quin juga cinta sama lo. Quin cinta sama lo, Lo harus ingat itu Abi, dan jangan pernah lo khianati cinta Quin, jika Lo gak ingin menyesal untuk seumur hidup." batin Abi dan menatap semua barang-barang yang Quin beli untuk dirinya.


*


"Kamu kenapa Quin? kok di tekuk gitu wajahnya?" Tanya Anggel yang mana pagi-pagi Quin sudah mengetuk pintu kamar mereka.


"Aku kesal dengan Abi."


"Kalian berantam?" tanya anggel.


Quin menggelengkan kepalanya, "Kamu janagn bilang sama siapa-siapa ya." pinta Quin.


"Iya, kamu cerita aja, ada apa?"


"Abi mabok semalam, dan aku kesal karena dia mabuk." Ujar Quin dengan mengerucutkan bibirnya.


Anggel menghela napasnya pelan. "Quin, ini Korea, udah jadi tradisi mereka menyambut tamu dengan minuman ber-alkohol. Bukannya aku membenarkan perbuatan Abi, bukan. Bisa aja Abi sudah menolak untuk tidak minum, namun tetap dipaksa minum. Tapi coba deh kamu bicara baik-baik sama dia. Dan bilang kalo kamu gak suka Abi menyentuh minuman itu."


Quin menghela napasnya, Anggel benar, bisa saja Abi di paksa untuk minum. Sebaiknya Quin akan bicarakan hal ini dengan Abi setelah kepalanya dingin. Kalo untuk saat ini, yang ada Quin bisa meledak dan masalahnya tidak akan pernah selesai.


*


Abi sudah selesai dengan membersihkan dirinya. Abi juga sudah memakai pakaian lengkapnya untuk ke kantor. Abi menoleh saat pintu kamar hotel mereka terbuka dan menampilkan Quin dengan wajah juteknya.


Abi menggigit bibir bagian dalamnya, karena takut akan amukan Quin. Abi berjalan mendekati Quin dan mengambil tangan Quin. Abi membawa tangan Quin ke dadanya, dan meminta maaf kepada Quin.


"Maafin aku Quin, maafin aku. Aku janji, ini yang pertama dan yang terakhir kalinya aku menyentuh minuman haram itu.


Quin menoleh dan sedikit terkejut saat mendengar jika ini yang pertama bagi Abi. Quin menghela napasnya pelan, baiklah, Quin akan memaafkan Abi kali ini, karena ini yang pertama bagi Abi. Tapi Quin gak akan memaafka Abi di lain waktu lagi jika berani kembali menyentuh minuman haram itu.


"Quin, maafin aku. Aku mohon, maafin aku."


Quin menghela napasnya pelan. "Oke, aku maafin kamu untuk kali ini. Dan aku gak mau kamu kembali menyentuh minuman itu. Kalo kamu di tawari minuman haram itu, kamu harus menolaknya dengan tegas. Inti nya kali ini aku maafiin kamu, tapi aku masih marah ya sama kamu."


Abi menganggukkan kepalanya bagaika anak kucing yang menurut apa kata majikannya. "Iya, aku janji aku gak akan menyentuh minuman itu lagi. Aku janji."


Quin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh aku peluk kamu?" pinta Abi dengan manja.


Dengan bibir yang manyun, Quin menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Quin, aku mencintai kamu."


 


Yuukkk..


follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2