KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 9


__ADS_3

Penampilan Nafi yang sangat memukau dengan riasan yang Bold membuat semua mata tertuju kepadanya. Termasuk Veer.


" Cantiikk Bos.." Ujar Dedi yang menyadarkan Veer dari rasa kekagumannya.


" Biasa aja, Lagian mendung gini ngapain pake kaca mata hitam!!"


" Namanya juga horang kaya. Suka-suka dia lah.. Artis aja kalo malam pake kacamata hitam. Lebih aneh kan?"


Veer tidak menanggapi ucapan Dedi, Dia hanya fokus kepada ponselnya. Berchat ria bersama Quin dan Mama Kesya.


Veer, Nafi, Dedi, dan Tata menghabiskan sarapan mereka dengan candaan Dedi yang membuat Tata tertawa dan Nafi tersenyum. Veer hanya memutar bola matanya, karena merasa garing dengan candaan Dedi.


Veer, Nafi, Dedi, dan Tata mendatangi Lolajo yang sedang asyik berbicara dengan seseorang. Mereka sempat mendengar sedikit pembicaraan Lolajo.


" Di dekat sini ada Pulau??" Tanya Veer.


" Ya Tuan, Di dekat sini ada pulau lain. Dan sedang ada ritual untuk para arwah leluhur mereka setiap enam bulan sekali. Jadi sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum matahari semakin tinggi. Jika mereka sudah mengadakan ritual, tidak ada yang boleh menyeberang lautan."


" Kenapa begitu?"


" Sudah adat dan tradisinya begitu Tuan."


" Baiklah. Kita berangkat sekarang."


Veer, Nafi, Tata, dan Dedi pun bersiap untuk berangkat kembali ke kota B. Lolajo berusaha untuk menghidupkan mesin kapal, tapi mesinnya seakan tidak mau hidup.


" Apa bensinnya habis?"


" Tidak Tuan, saya baru mengisinya."


Entah berapa kali tarikan, dan akhirnya mesin boat pun hidup. Veer memberikan tangannya kepada Nafi, Namun Nafi tidak menyambutnya. Nafi hanya memandang tangan Veer.


" Nona, cepat. Kita harus segera kembali." Tegur Tata yang menyadarkan Nafi untuk menerima uluran tangan Veer.


Nafi menghela napas, dan dengan terpaksa menerima uluran tangan Veer.


Greekkk...


" Aammpp "


Deg..


Tata dan Dedi saling memandang, saat ada sebuah ikan besar menyenggol boat, boat tersebut bergoyang tepat Nafi menginjakkan kakinya kedalam boat, yang mana membuat Nafi terjatuh dan memeluk tubuh Veer.


" Maaf.." Cicit Nafi dan segera berdiri dengan tegak.


Nafi mendudukkan dirinya, sedangkan Veer mengulurkan tangannya untuk membantu Tata, tentulah Tata dengan senang hati menerimanya. Kapan lagi coba bisa menggenggam tangan pria tampan pujaan setiap wanita, katakan saja Tata sedang beruntung.


Lolajo menjalankan boatnya, namun saat ditengah jalan, tiba-tiba saja angin menjadi kencang, langit berubah gelap, dan ombak pun membesar.


" Lolajo, apa ini aman?" Tanya Nafi yang sudah terlihat pucat.


" Semoga saja Nona, Sebaiknya saya mempercepat laju boatnya."


Satu tangan Nafi memegang pinggiran Boat, dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Tata.


" Semua akan baik-baik saja, sebaiknya anda tenang saja." Ujar Veer mencoba menenangkan Nafi, namun hanya di balas lirikan oleh Nafi.


Angin bertiup semakin kencang, membuat boat semakin bergoyang karena terhempas ombak yang meninggi.


" Tata, jika aku tenggelam, dan aku tidak selamat, tolong kamu jaga papa. Kamu jadi anak yang baik untuk papa yaa ... hikkss.."


Tiba-tiba saja Nafi berkata seperti itu, membuat Veer mengernyitkan keningnya.


" Tenang Nona, semua akan baik-baik saja. Tuan Veer dan bang Dedi pasti bisa berenang. Mereka pasti akan menyelamatkan kita. " Ujar Tata dengan mata yang berkaca-kaca.


" Nona Nafi, sebaiknya kamu tenang dan jangan berfikiran macam, Semua akan baik-baik saja." Veer mencoba menenangkan Nafi yang terus meracau sesuatu hal yang tidak jelas dan semakin terisak.


Brruukk...


"Aaa.."

__ADS_1


Nafi berteriak saat merasakan ada sesuatu yang menabrak boat mereka.


Lolaju berusaha melajukan boatnya, namun karena angin yang kencang, dan ombak yang lumayan tinggi, membuat boat kesusahan melaju.


Boat terus terombak ambik ke kiri dan ke kanan, hingga Nafi memegang pinggiran Boat dengan kedua tangannya. Veer pun juga sudah memegang pinggiran Boat, tetapi matanya terus memandang wajah Nafi yang terlihat ketakutan.


Bruukk.....


" Aaa..."


Byuurrr....


" Nona.."


" Nafi.."


Veer membuka jas nya dan ikut loncat kedalam laut. Menyelamatkan Nafi yang terombak ambik, dan tenggelam timbul karena ombak. Tangannya sudah melambai-lambai keatas untuk meminta tolong. Katakanlah, saat ini Nafi sedang berenang dengan menggunakan gaya dada.


" Ummpp.." Nafi berusaha untuk membuat dirinya tetap berada di atas air, namun ombak menghembas dirinya dan membuat dirinya kembali tenggelam.


Veer meraih tangan Nafi, menariknya dan melingkarkan tangan Veer dari ketiak Nafi, hingga tangan Veer berada di atas dada Nafi. Veer berenang mendekati boat, namun Veer melihat jika boat sudah menjauh dengan kecepatan kencang.


" Shit"


Veer berusaha menarik tubuh Nafi untuk berenang ke daratan. Dengan susah payah, dan membutuhkan tenaga hingga waktu yang lama, Akhirnya Veer berhasil membawa dirinya dan Nafi ke bibir pantai.


" Nona Nafi.." Veer menarik tubuh Nafi dari air, dan menepuk-nepuk pipi Nafi.


" Nona Bangun.. Nafi.." Veer terus menepuk pipi Nafi pelan.


Di atas boat, Tata sudah menangis dalam pelukan Dedi. Saat Veer loncat dari atas boat, tiba-tiba saja boat berjalan cepat menjauh dari Veer dan Nafi. Padahal Lolaju sudah berusaha untuk mematikan mesinnya, namun entah kenapa mesin boat tidak bisa mati hingga boat sampai ke pelabuhan kota B.


" Bagaimana ini Bang? hiikksss..."


" Kamu tenang dulu yaa.." Dedi berusaha menenangkan Tata. " Lolaju, kita kembali sekarang?" Perintah Dedi


Lolaju terlihat bingung, Satu sisi ada dua nyawa yang harus di selamatkan. Satu sisi lagi, dia takut akan kutukan yang terjadi saat menyeberang lautan di saat adanya ritual para arwah leluhur.


Akhirnya setelah berfikir beberapa menit, Lolaju kembali menghidupkan mesin boatnya. Namun seseorang menahan mereka.


Di pulau yang Veer tidak ketahui namanya. Veer masih terus berusaha membangunkan Nafi. Veer memberikan CPR kepada Nafi, memompa dadanya guna untuk mengeluarkan air dari dalam paru-parunya. Namun itu tidak membuahkan hasil, Nafi masih belum sadarkan diri.


" Nafi.." Veer menepuk-nepuk kembali pipi Nafi.


" Apa aku kasih napas buatan? " Veer terlihat berfikir. " Tapi..?? Ah, yang penting dia selamat, yaa.."


Veer menutup hidung Nafi, Dan membuka sedikit mulutnya. Veer menundukkan wajahnya, dan menempelkam bibirnya di atas bibir Nafi, dan memberikan napas buatan untuk Nafi. Veer menarik napas, dan menghembuskannya ke mulut Nafi. Veer lakukan itu berkali-kali hingga Nafi terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.


"Uhuuk...uhukk..uhuk..."


" Nafii... syukurlah, kamu selamat." Veer bernapas lega. Tanpa Veer sadari jika dia memeluk Nafi.


Veer merasakan tubuh Nafi yang menggigil, ditambah angin kencang dan hujan gerimis. Veer pun melihat kesekeliling, berharap ada tempat mereka untuk berteduh, namun sayang, tidak ada tempat untuk mereka berteduh. Veer menggendong Nafi untuk berada di bawah pohon kelapa. Veer menyandarkan Nafi di batang kelapa, sedangkan Veer mengumpulkan daun pohon kelapa yang sudah jatuh. Veer membuat alas untuk mereka duduk, kemudian membuat tenda darurat yang terbuat dari daun kelapa yang sudah Veer kumpulkan.


Opa Roy dan Opa Nazar sering mengajak Veer, Qila, Zein, Abash, dan Arash untuk mengenal alam. Mendaki gunung, dan bagaimana cara bertahan hidup di sana. Jadi, hal tersebut terbilang gampang bagi Veer untuk membuat tenda ala kadar dengan menggunakan alat-alat yang ada di sekitarnya.


Tubuh Nafi terus menggigil, Tidak ada cara lain selain memeluknya. Veer memandang bajunya yang basah, dan baju Nafi yang juga basah.


" Sial."


Veer kembali memandang ke arah Nafi yang masih terus menggigil.


"Gak ada cara lain."


Veer membuka bajunya, meremasnya agar kering, dan menjemurnya. Kemudian Veer dengan mengalihkan pandangannya membuka baju Nafi, hingga menyisakan Bra. Veer meremas baju Nafi dan menjemurnya juga.


Veer memeluk tubuh Nafi, menggosok punggungnya dengan telapak tangan agar hangat. Setelah beberapa lama Veer mencoba menghangatkan tubuh Nafi, Veer merasakan jika tubuh Nafi tidak semenggigil tadi. Veer tetap memeluk tubuh Nafi dan tidak berhenti mengusap-ngusap tubuh Nafi hingga mereka tertidur.


Di Kota B, Dedi sedang bernegosiasi kepada kepala suku yang berada di pulau Gapura.


" Baiklah, setelah matahari turun, kita akan mencari mereka."

__ADS_1


" Baiklah, Tapi ingat, jika terjadi sesuatu dengan mereka, maka saya akan menuntut pulau Gapura"


" Silahkan, Tapi saya bisa jamin, Jika para arwah leluhur kami menyelamatkan mereka."


Dedi sudah geram dengan jalan fikiran kepala suku Gapura. Setelah matahari tidak lagi berada di atas kepala, Dedi, Tata, Lolaju, dan kepala suku yang entah siapa namanya, Dedi juga tidak terlalu mengingatnya, karena fikirannya hanya terfokus kepada bos nya, pun pergi menuju pulau Gapura.


Boat yang di kendarai oleh Lolaju pun menuju Pulau Gapura. Hujan sudah berhenti turun, dan angin pun sudah tidak berhembus kencang seperti tadi. Di sana mereka melihat sepatu Veer dan Nafi yang berada di pinggir pantai.


" Apa mereka selamat?, jika iya, di mana mereka?" Gumam Dedi, bertanya entah kepada siapa.


Mereka pun mencari keberadaan Veer dan Nafi.


" Bos... Nona Nafi.." Teriak Dedi sambil menyusuri masuk kedalam semak-semak yang terlihat bagaikan hutan.


" Nona Nafi, Tuan Veer." Tata ikut berteriak memanggil nama mereka.


Sayup-sayup Veer mendengar namanya di panggil, Perlahan Veer membuka matanya, pertama kali yang di lihatnya adalah wajah pucat Nafi yang tertidur di dalam pelukannya.


" Bos... Nona Nafi.."


" Tuan Veer... Nona Nafi.."


Kembali terdengar suara teriakan yang memanggil namanya..


" Kami di sini.." Sahut Veer dengan berteriak.


Veer seakan tersadar dengan posisinya dan Nafi, Veer dengan cepat menyambar baju Nafi, dan memakaikannya.


" Apa yang kalian lakukan?" ujar kepsla suku.


Veer terlonjak kaget. Untungnya Nafi sudah mengenakan baju, walaupun ada beberapa kancing yang belum terkancing sempurna.


" Kami..." Veer tidak menemukan alasan yang tepat. " Saya akan jelaskan nanti."


Tata langsung mengejar Nafi, dan mengancingkan baju Nafi. Tata sempat melirik kearah Veer yang masih bertelanjang dada, dan memamerkan roti sobeknya.


" Pakai baju mu tuan, Dan ikut kami. Kalian telah mencemarkan pulau Gapura yang suci ini, dan kalian harus di berikan hukuman. yaitu kalian berdua harus dikawinkan"


" Apa?? kawin?, Saya tidak melakukan apapun dengannya." Veer mencoba membela dirinya.


" Siapa yang tau Tuan? Kami melihat Tuan dan Nona itu tidak mengenakan pakaian, jadi siapa yang tau apa yang telah kalian perbuat."


" Saya bisa jelaskan semuanya. Saya hanya membantu dirinya untuk tetap hangat."


" Bisa saja Anda berbohong. Yang jelas, pulau Gapura adalah pulau suci, siapapun yang mencemarkan pulau Gapura, maka mereka harus mendapatkan hukuman. Apalagi disaat hari perayaan ritual untuk para arwah leluhur. Karena perbuatan kalian, kami yang akan kena imbasnya jika tidak mengawinkan kalian berdua."


Veer meremas rambutnya frustasi, Dedi memberikan baju Veer yang dijemurnya tadi. Veer menyambar baju tersebut dan memakainya. Veer terpaksa menggendong Nafi menuju ketempat gubuk suku Gapura atas perintah kepala suku.


Nafi merasakan pusing pada kepalanya, perlahan Nafi membuka matanya sambil memegang kepalanya. Nafi terkejut saat mendapatkan dirinya dalam gendongan Veer


" Kau... Turunkan aku.." Pekik Nafi.


Semua mata langsung menuju kearah Nafi yang sudah sadar.


" Dengan senang hati." Jawab Veer dengan wajah kesal nya.


" Apa yang kau lakukan, kenapa aku__," Ucapan Nafi terhenti saat menyadari jika dirinya sedang di tatap oleh banyak pasang mata.


" Dimana ini?" Nafi reflek menarik baju lengan Veer dan bersembunyi di belakang tubuh tegapnya.


" Baguslah jika anda sudah sadar Nona. Karena kalian akan di kawinkan hari ini juga."


" Kawin? Siapa?"


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya yaa..


Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2