KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 36


__ADS_3

Quin mendengarkan cerita Abi tentang Anita. Di situ Quin tau, jika Abi sangat mencintai Anita, walaupun wanita itu tidak menepati janjinya untuk kembali setelah satu tahun kepergian nya. Bahkan Abi masih menunggu setelah 4 tahun lama nya Anita pergi, dan menghilang tanpa kabar.


" Hmm, kamu tidak mencarinya?"


" Sudah, tapi dia seakan terlalu asik dengan dunia baru nya."


" Anita beruntung," ujar Quin menatap kosong pandangannya di depan matanya.


" Kau juga beruntung, ada Lana yang mencintai kamu."


Quin terkekeh. " Jangan bawa-bawa Lana, dia hanya memegang teguh pendiriannya. Mencintai wanita satu wanita untuk selamanya."


" Jadi, Kamu cinta pertamanya Lana?"


" Katakanlah begitu."


" Dan kamu?"


" Aku? ha..ha..ha. aku tidak pernah jatuh cinta."


Bohong, tentu Quin bohong. Quin hanya tidak ingin mengingat pria itu, pria yang meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam.


" Masa sih?"


" Hmmm, "


" Waah, aku gak percaya.."


" Jangan percaya, ntar nambah rukun iman nya."


Quin dan Abi pun tertawa bersama. Ini lah yang Abi sukai dari Quin. Quin selalu bisa membuat Abi tertawa tanpa beban dengan lelucon recehnya. Tanpa Abi sadari, jika Quin menyimpan rasa sakit yang tidak akan pernah mereka bayangkan bagaimana sakitnya.


.


.


" Abi, tolong kamu antarin parfum ini ya untuk Quin." Aunty Risma yang baru pulang dari Paris membelikan oleh-oleh untuk Quin.


" Abi..." Panggil Aunty Risma yang melihat keponakan nya itu malah termenung.


" Hei..." Aunty Risma memukul bahu Abi, sehingga Abi terlonjak kaget.


" Aunty... Ngagetin aja.."


" Kamu dari tadi Aunty panggilan gak nyahut-nyahut sih."


" Kapan?"


" Ya ampun Abi.. Dari tadi Aunty udah panggil-panggilin kamu. Mikirin apa sih?, mikirin Quin yaa?"


Tanpa Abi sadari sudut bibir Abi terangkat membentuk sebuah senyuman.


" Aunty ada perlu?"


" Iyaa, nih.. kasih ke Quin yaa.. Oleh-oleh dari Paris. Aunty harap Quin suka. Ini parfum limited yaa.. "


" Oh, iyaa..."


Entah kenapa Abi merasa bersemangat untuk bertemu Quin. Di tambah ada alasan baginya untuk mendatangi Quin.


" Mau ke mana?" Tanya Aunty saat melihat Abi langsung meninggalkannya.


" Ke tempat Quin?"


" Sarapan dulu Abi.. "


Sarapan?, seringai lembut muncul dari wajah Abi. " Nanti aja Aunty, bareng Quin."


Aunty tersenyum, berharap jika Abi benar-benar mencintai Quin. Aunty sebelumnya sudah menebak, jika mereka awalnya hanya berpura-pura. Untuk itulah Aunty berharap jika dari kepura-puraan mereka, ada secercah harapan menjadi kebenaran.


" Semoga kamu jatuh cinta dengan Quin. Dia wanita yang baik dan berbeda bi, kamu bisa menemukan 10 Anita, tapi kamu tidak akan menemukan wanita yang lain seperti Quin. Wanita hebat yang yang memilih kehidupan sederhana, bukan kehidupan sultannya." Monolog Aunty Risma sambil memandang punggung Abi.


.


.


" Quin, ada tamu tuh.." Mama Kesya menghampiri Quin yang tengah memperhatikan anak-anak Popo yang sudah membuka matanya.


" Siapa Ma? , pagi-pagi gini cariin Quin?. Gak biasanya."


Yaa, memang gak biasanya Quin memiliki teman yang mencarinya. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, kecuali___.


Quin mendesah, kembali mengingat seseorang yang pernah mencuri hatinya.


Quin berdiri dan memakai celemek Yang ada di dapur. Beginilah Quin, jika ada tamu untuknya, maka Quin akan berubah menjadi seorang pelayan. Sudha kebiasaan Quin.


" Kamu yakin pakai celemek?"


Quin hanya tersenyum dan berjalan menuju teras.


" Ehh.." Quin terkejut saat mendapati Abi sudah duduk cantik di ruang tamu.


" Kamu?"


Abi menatap penampilan Quin yang memakai celemek dan memegang kemoceng, seolah-olah dirinya benar-benar seorang pelayan di rumah ini.


" Hai.. " Abi melihat lucu dengan penampilan Quin.


" Kenapa? Aneh ya?" Quin tertawa. " Aku fikir tadi siapa, karna Mama bilangnya teman aku, Mama gak bilang kalo itu kamu."


" Tumben ke sini gak ngasih kabar? ada apa?"


" Jadi kamu berpenampilan seperti ini jika ada yang mencari kamu?" Abi malah berbalik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan Quin.


" Hmm, biar beneran di kira pembantu.." Quin terkekeh.


" Anehh, di mana-mana biasanya orang akan bangga jika mereka jadi kamu."


" Aku bangga, tapi aku punya alasan sendiri. Eh, kamu ngapain pagi-pagi ke sini?"

__ADS_1


" Ooh, ini.." Abi memberikan papar bag kepada Quin.


" Apa nih?" Quin meraih paperbag tersebut dan melihat isinya.


" Woww, parfume limited edition." Quin menghirup aromanya.


" Wangi banget.. Makasih yaa.."


Abi semakin yakin, Jika Quin berbeda. Lihatlah, tanpa Abi berkata jika parfume tersebut limited edition, Quin sudah tahu.


" Aunty yang belikan. Oleh-oleh dari Paris."


" Waah, baik banget sih.. telpon Aunty dong, aku mau ucapin makasih."


Abi pun meraih ponselnya, dan mendial nama aunty Risma dengan panggilan Video call.


" Hallo Abi.."


" Hai Aunty, assalamualaikum.." Ujar Quin yang sudah berdiri di sebelah Abi.


" walaikumsalam, apa kabar Quin."


" Alhamdulillah baik Aunty, aunty gimana?"


" Aunty baik, eh.. gimana parfume nya, kamu suka?"


" Banget Aunty. Makasih banyak yaa.."


" Syukur deh kamu suka. "


Terjadilah percakapan antara Quin dan Aunty Risma. Abi hanya menjadi pendengar dan memegang ponselnya agar Quin bisa bervideo call dengan nyaman.


" Ya sudah kalo gitu, lain kalo kita makan siang bareng yaa..".


" Siip deh Aunty.. Kabari aja yaa.. Insya Allah aku luangi waktu buat aunty."


" Makasih sayang. "


Setelah bertukar beberapa kata, panggilan pun berakhir.


" Quin, ajak Abi sarapan."


" Iyaa Ma.."


" Kamu pasti belum sarapan kan?"


" Kok tau? Dukun yaa?"


" Bukan, cuma paranormal."


" Bedanya apa Quin?" Abi pun tertawa.


Hah, rasanya bersama Quin penuh banyak warna.


.


.


' Ayoo Veer, berfikir lah..'


Asal kalian tau, Ini adalah pertama kalinya Veer jatuh cinta, maka dari itu Veer tidak memiliki pengalaman seperti Lana, yang sering menaklukkan hati banyak wanita dengan perkataan manisnya. Tentu saja Tidak berlaku untuk Quin.


" Naf, kamu masih marah?"


Veer mencoba berbicara dengan Nafi.


" Untuk? "


" tentang kejadian itu, aku.."


" Sudahlah, lagipula kamu mana mengerti dengan perasaan orang lain. " Nafi merai tasnya, dan melenggang pergi melewati Veer.


" Naf.." Veer menahan lengan Nafi.


" Aku minta maaf, sungguh.."


Nafi menghempas tangan Veer. Tidak ada jawaban apapun dari Nafi, dia hanya pergi meninggalkan Veer.


" Maaf ya Ma, Nafi telat bangun."


" Gak pa-pa kok,sini.."


Nafi terkejut saat melihat Ada orang asing di meja makan. Dan Nafi tahu siapa pria itu, Satu-satunya penerus salah satu perusahaan terbesar di Eropa.


Dan siapa yang tak mengenal Nafi, satu-satu nya penerus Danudirja.


" Mr. Abimana?" gumam Nafi.


" Mrs. Nafisa?"


" Kalian kenal?" Tanya Quin.


" Aah, kami pernah bekerja sama beberapa kali."


" Quin, jangan bilang kalau??" Jari Nafi menunjuk kearah Abi.


" Abi ini calon tunangannya Quin."


Nafi membesarkan matanya. Yang benar saja?, kenapa harus Abi?. Mata Nafi menatap Abi tidak suka.


" Kenapa Mrs. Nafisa bisa ada di sini?"


" Ehh, itu.. Eem.."


" Dia istri saya.."


Suara Veer membuat Nafi semakin membesarkan matanya, di tambah lagi Veer memeluk pinggangnya. Rasanya Nafi ingin menenggelamkan Veer Ke sumur.


" Sudah, jangan pamer adegan romantis di sini. Ada Shaka, masih kecil " Ujar Papa Arka.

__ADS_1


" Kayak Papa gak sering aja." gerutu Shaka.


" Eeh ."


" Assalamualaikum Ma," Arash yang baru pulang dinas, masih dengan pakaian seragam polisi nya mencium pipi Mama Kesya, mencium punggung tangan Papa Arka, dan mengecup kepala Quin.


" Arash lelah?" Tanya Quin.


" Iyaa Quin, Quin mau apa?"


" Tidaak, Arash mau apa? nanti Aku buatin."


" Lemon Tea. Aku tunggu di kamar. Makasih Quin." Arash berlalu setelah bersapa dengan Abi dan Veer, dan juga Nafi.


Tak berapa Lama Abash turun dan mengajak rambut Quin.


" Pagi Quiin"


Quin mencebikkan bibirnya, dan kembali merapikan rambutnya.


Abi mengerjap, bukannya tadi Arash menunggu Quin mengantarkan minumannya ke kamar. Lalu kenapa dengan secepat kilat dirinya turun dengan keadaan rapi dan segar. Terlihat wajah bingung yang terpampang di wajah tampan Abi.


" Kenapa??" Tanya Quin.


" Bukannya barusan Arash naik yaa?, kok cepat banget turunnya."


Semua orang memandang Abi dan tersenyum. Memang, tidak ada yang mengetahui jika Abash kembar. Abash memang terkenal di dunia bisnis, berbeda dengan Arash yang hanya ingin menjalani kehidupan abdi negaranya tanpa embel-embel nama belakang keluarganya. Terkadang jika Arash sedang membantu Veer, Arash selalu mengatakan jika namanya adalah Abash. Maka tidak ada yang tahu bahwa ada nama Arash dalam keluarga Arka dan Kesya. Seperti Quin, Arash memilih menjalani hidupnya tanpa memamerkan kekayaannya.


" Apa Quin tidak mengatakan jika Arash kembar?" Tanya Papa Arka.


Abi menggelang.


" Quin aneh, masa sama calon suami gak di kasih tahu sih." Celetuk Papa Arka.


" Ehh? Penting dan harus yaa?"


" Iyaa dong.."


" Baiklah, Abi, ini Abash, Abash ,ini Abi."


" bedanya?"


" Apa? "


" Mereka sangat mirip.."


" Tentu, mereka kembar .."


" Lalu, bagaimana membedakannya?"


" Arash memiliki warna mata milik Mama, coklat muda, kalau Abash memilik warna mata Papa, hitam pekat."


" Ooh..."


.


.


" Abi, kamu ada acara lain?" Tanya Quin.


" Tidak, kenapa?"


" Aku ingin berkunjung ke panti, kamu mau ikut?"


" berkunjung ke panti?"


" Hmm, Aku, Nafi, dan Veer, ah yaa.. ada Lana dan juga Anggel di yang akan nyusul."


" Baiklah, lagi pula aku belum pernah ke panti."


Quin tersenyim, sedangkan Nafi masih menatap Abi dengan tidak suka.


" Kamu kenapa?" Tanya Veer yang menyadari raut wajah Nafi.


" Itu, sebenarnya.."


" Veer, Nafi.. ayo.. Bunda dan yang lainnya sudah berangkat."


" Ah yaa.." Veer dan Nafi pun berpamitan kepada Mama Kesya dan Papa Arka.


" Kamu gak naik ke sini?" Tanya Veer yang melihat Quin mendorong Abi menuju ke mobil Abi.


" Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Abi, bersifat rahasia. Nikmatilah waktu mu." Quin mengedipkan matanya.


Veer mengerti, Quin ingin memberi banyak waktu untuk Dirinya dan Nafi bersama.


" Naf, kamu kenapa? apa ada yang kamu fikirkan?"


" Hah? Oh.. Itu.. Emm, kamu yakin membiarkan Quin bersama Abi?"


" Kenapa?"


" Karena__"


Nafi pun menceritakan tentang Anita kepada Veer. Bahwa tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menggantikan posisi Anita di hati Abi. Sudah banyak wanita yang di dekati Abi, ataupun yang di kenalkan kepada Abi, dan mereka semua berakhir dengan patah hati. Nafi hanya tidak ingin Jika Quin merasakan hal yang sama.


" Kamu yakin?"


" Yaa, tentu.. Jika kamu tak percaya, Cari tahu saja tentang Abimana."


" Aku perrcaya."


Sebelumnya Veer sudah mencari tahu, awalnya Veer berfikir jika mungkin saja Abi sudah melupakan wanita bernama Anita tersebut, karena melihat bagaimana perlakuan Abi terhadap Quin. Namun, sepertinya Veer harus menjaga hati Quin kembali. Veer tak ingin kecolongan lagi, seperti beberapa tahun lalu, yang mana membuat Quin sangat menderita.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2