KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 79


__ADS_3

Anggel keluar dari ruangan operasi, Anggel mengatakan jika Arumi telah meminum obat penggugur kandungan. Hampir saja Anggel gagal menyelamatkan anak yang di kandung dari Arumi. Jika saja Quin gak cepat membawanya ke rumah sakit, mungkin Arumi dan anaknya tidak dapat di selamatkan.


"Kau dengar? seharusnya kau berterima kasih kepada Quin, Bukannya malah ingin membuat Quin menderita." Geram Lucas kepada Jamal.


"Lebih baik kau diam, jika tak tau permasalahannya."


"Kau yang seharusnya diam. Oh tuhan, kenapa ada manusia berhati set*An seperti mu." Ujar Lucas yang rasanya ingin menyuntik mati Jamal.


"Heh ... Bagaimana bisa aku melihat orang yang telah membuat kedua orang tua ku meninggal, hidup dengan bahagia." Ujar Jamal menatap sinis kepada Quin, Lucas, dan Abi.


Lucas sudah mengepalkan tangannya, rasanya ia sudah ingin menghajar si Jamal tak berakhlak ini.


"Katakan, apa kesalahan ku sebenarnya" Ujar Quin dengan tatapan yang tak kalah benci dengan tatapan Jamal kepadanya.


"Tanyakan kepada kedua orang tua mu yang sok alim itu. Dosa apa yang telah mereka perbuat."


"Apa maksud mu?"


"Maksud ku? Ha ... ha ... ha ... Baiklah, akan aku katakan. Ibu mu telah membuat ayah ku meninggal, dan ayah mu telah membuat ibu ku gila dan bunuh diri karena ancaman yang di berikan oleh si Arka bajingan itu."


Quin mengerutkan keningnya, tak hanya Quin, Lucas dan Abi juga melakukan hal yang sama.


"Jangan mengarang cerita kau, Jamal." Geram Lucas.


Jika saja saat ini Lucas sedang tak dinas, mungkin saja Lucas sudah mendaratkan bogem mentah nya ke wajah Jamal yang sudah membiru dan membengkak akibat ulah Abi.


"Apa kalian masih ingin berdebat?" Tanya Anggel dengan tatapan tak suka.


"Kau diam perempuan murahan. Jangan ikut campur. " Ujar Jamak kepada Anggel dan ...


Bugh ...


Jamal tersungkur dan terjatuh dari brankar.


"Lana"


Gumam Anggel yang terkejut dengan kehadiran Lana yang tiba-tiba. Sedangkan Quin sudah di tarik dan di peluk oleh Abi untuk tak melihat saat Lana meninju Jamal. Abi hanya tak ingin Quin kembali gemetaran dan merasa bersalah. Saat ini saja tubuh Quin masih bergetar karena dirinya memukul Jamal hingga babak lebur.


"Aku ingin pergi dari sini." Lirih Quin yang sudah meneteskan air matanya.


Abi langsung membawa Quin menjauh dari Jamal dan yang lainnya.


Dan, disinilah Abi dan Quin. Mereka berada di atap gedung rumah sakit.


"Hikks ... Apa salah ku? hikks ... sehingga orang-orang yang ada di sekitar aku terluka. Termasuk kamu ..." Quin menatap wajah Bai dengan air mata yang terus mengalir.


Tangan Quin terulur untuk menyentuh sudut bibir Abi yang kembali terluka.


"Akkh ..." Rintih Abi pelan.


"Apa sakit?"

__ADS_1


"Sedikit ..."


"Kamu bohong ... Hiks ... ini pasti sangat sakit .."


"Tidak, ini tidak terlalu sakit."


"Jangan bohong Abi, hikss ... aku tak suka pembohong."


"Baiklah, ini sakit."


"Apa yang harus aku lakukan agar rasa sakitnya berkurang?" Ujar Quin menatap wajah Abi dengan sendu.


Abi membalas tatapan mata Quin, dan terlintas dalam fikirannya untuk menggoda Quin.


"Cium Aku."


Quin masih menatap mata Abi hampir satu menit, kemudian tangan Quin perlahan kembali terulur dan menangkup wajah Abi. Abi terkejut di saat tiba-tiba Quin mengecup bibirnya.


"Apa masih sakit?" Tanya nya dengan masih menatap mata Abi dengan dalam.


"Tidak sakit, jika kamu menciumnya seperti ini."


Abi langsung menarik tengkuk Quin, dan melum*at bibir Quin yang selalu menggoda iman dan jiwa nya. Abi terus berusaha menerobos pertahanan Quin yang masih setia menutup rapat bibirnya, hingga akhirnya Abi merasakan jika Quin membalas ciumannya di saat bersamaan dengan tangannya yang mengalung di leher Abi.


Abi bersorak riang di dalam hati. Akhirnya ia berhasil mendapatkan balasan ciuman Quin kembali.


Angel dan Lana yang menyusul Abi dan Quin. menghentikan langkahnya di saat melihat pemandangan tersebut.


Anggel mengerutkan keningnya di saat melihat Lana tersenyum.


Lana menoleh kepada Anggel, "pingiin.. " Ujar nya manja.


Anggel mengerutkan keningnya, kemudian saat Lana memonyongkan bibirnya, Anggel mencebikkan bibirnya dan menginjak kaki Lana, dan pergi meninggalkan Lana.


"Tunggin Honey " ujar Lana Manja.


"Apaan sih, geli tau dengarnya."


"Gak boleh ngomong gitu sama pacar sendiri." Ujar Lana dengan tersenyum lebar.


"Iih, ngaku-ngaku."


"Loh, kan kamu yang mengakuinya waktu itu."


"Apaan sih, gak ingat." Anggel terus melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Oh yaa?" Lana berjalan cepat dan berhenti tepat di depan Anggel.


"Apaan sih ..."


Lana memanjukan langkahnya, sehingga membuat Anggel memundurkan langkahnya, sehingga membuat tubuhnya menubruk dinding. Jantung Anggel berdetak cepat di saat Lana semakin maju dan mengurung dirinya.

__ADS_1


Anggel mendongak, menatap wajah Lana yang menatapnya dengan sendu. Perlahan Lana menundukkan wajahnya, sehingga membuat Anggel menutup matanya perlahan di saat hidung Lana menyentuh kulit wajahnya.


Bibir Lana yang dingin menempel sempurna di bibir Anggel yang terasa manis bagi Lana. Namun, baru saja Lana ingin melakuka ln lebih, suara menjengkelkan merusak momen romantis mereka.


"Waah ... di suruh nyariin Abi dan Quin, malah kalian yang mesum di sini." Lucas sudah berkacak pinggang dan menatap Anggel dan Lana dengan tajam.


Wajah angg sudah memerah karena ketahuan oleh sang ponakan.


"Ganggu aja Lo."


"Wooii ... Aunty gue dia ya ... Kalo mau, lamar sana. nikahi, jangan di mesumi, dasar jablai."


"Brengsek mulut Lo." Kesal Lana dan menarik tangan Angg untuk menjauh dari Lucas.


"Waah, gue aduin ke Oma."


"Aduin, gue gak takut. malah bagus, gue langsung bisa nikahi Anggel tanpa penolakan dari orangnya." Lana sudah menutup mulut Anggel agar tak membalas ucapan Lucas.


"Wooi, Abi dan Quin mana?" Teriak Lucas di saat Lana dan Anggel sudah menjauh.


"Gak tau, Lo cari aja sendiri." Teriak Lana.


Lucas mencebikkan bibirnya kesal. Masa ia dirinya yang harus mencari Abi dan Quin? Lucas pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut dan menghirup udara segar.


"Haah ... Adem banget emang ninl atap."


Lucas terus berjalan lurus, hingga ia terkejut saat melihat pemandangan yang membuat matanya berdosa.


"Pantes aja si Lana ikutan mesum, ada guru ternyata."


Lucas mengusap tengkuknya yang merasa merinding. Ia menelan ludahnya kasar melihat pemandangan tersebut.


"Kayaknya udah saatnya gue akhiri masa jomblo."


Lucas pun membalikkan tubuhnya, dan membiarkan Abi dan Quin menikmati waktu mereka bersama.


"Nape Lo balik?" Tanya Lana yang sudah duduk di ruangannya.


"Ngapain Lo di ruangan gue? kenapa gak lanjutin mesum Lo di ruangan Anggel?"


Lana mencebikkan bibirnya, "Di usir gue."


Lucas tertawa terbahak-bahak. Ia sangat senang melihat wajah Lana yang frustasi seperti ini.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2