
Mobil Abi berhenti tepat di depan gerbang rumah Quin, menunggu seorang satpam membukakan pintu setelah Quin melambai dan tersenyum. Setelah gerbang terbuka, Abi pun menjalankan kembali mobilnya.
" Bentar.. bentar.."
Abi menghentikan lagi mobilnya tepat setelah mobilnya masuk gerbang.
" Pak Ojo.." Quin berteriak dan memanggil satpam yang bernama Pak Ojo itu.
" Ya Non."
" Nih, buat ngemil malam." Quin memberikan plastik yang berisi 5 bungkus Mie tiaw tadi kepada Pak Ojo.
" Makasih Non."
" TOS dulu dong, biar semangat kerjanya."
Mereka pun melakukan TOS yang seperti di film-film.
' Unik banget sih. Bisa akrab dengan bawahannya. Jarang banget cewek kayak gini.' Abi tanpa sadar sedari tadi terus memuji Quin.
Hati-hati Bi, jatuh cinta ntaar...
" Ayo jalan.."
" Kamu sering beliin mereka makanan?" Tanya Abi sambil melajukan mobilnya.
" Iya, kenapa? Mereka kan juga mau merasakan apa yang aku rasa."
" Waah, baik banget sih kamu."
" Ya kalo gak baik, aku udah di rumah sakit kali.."
" Itu sih sakit, lawannya sehat. Bukan baik.."
" Pernah gak kamu kalo liat orang terjatuh, terus kamu bilang gini. ' Kamu gak sehat-sehat aja kan?', Pernah gak?, gak pernah kan?, pasti tanyanya gini, ' Kamu baik-baik aja kan?'. " Quin berikan senyuman khasnya yang menampilkan lesung pipi nya.
Abi terpelongo mendengar ucapan Quin. hah, yang benar saja.. Eh, tapi dia bener juga sih.
" Masuk lagi?" Tanya Quin yang melihat Abi mengikutinya.
" Sekedar pamit. Sekalian kasih laporan bahwa anak perempuan pemilik rumah ini pulang dengan selamat."
" Cak ilee, gaya nya ngomong. Gak tersanjung gue. Biasa aja.."
" Quin.."
Quin menoleh saat namanya Di panggil.
" Arash.."
Arash pun melihat kearah Abi, seakan meminta penjelasan dari Quin.
" Oh, ini Abi. Abi, ini Arash."
Abi tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya. " Abi."
" Arash."
" Aku masuk duluan yaa, udah lengket banget ini."
" Eh, iyaa.." Quin melepaskan rangkulan tangannya.
" Ituu?, yang dulu pernah antar kamu ke Toko kan?"
" Iyaa, itu Arash, adik aku."
" Oooh..."
Abi rasanya ingin menertawakan dirinya. Lihatlah, Abi sempat berfikiran jelek kepada Quin, karena dihari yang sama terlihat mesra dengan dua pria berbeda, dan itu lah yang memicu Abi untuk menjadikan Quin pacar bohongan nya yang mana sekarang terpaksa menjadi pacar benerannya.
" Ayo masuk.."
Abi pun ikut masuk kedalam rumah Quin, dan betapa takjubnya Abi saat yang menyambut Quin adalah seekor Singa putih.
" Empuuss... Kangen Mama yaa.."
" Ngauuung.."
Quin pun memelum Empus dan memainkan bulunya.
Abi sampai membuka mulutnya, jantungnya berdebar lebih cepat.
" Udah pulang?"
Suara Mama Kesya mengintruksi Quin untuk melepaskan pelukannya dari Empus.
" Ma.."
" Tan..Eh, Mama maksdunya. Anak gadisnya udah Abi antar dengan selamat, kalau begitu Abi langsung pulang ya.."
" Iya nak Abi, Makasih banyak yaa.."
Abi menoleh kearah Quin, tiba-tiba saja Empus berjalan kearah Abi, dan Abi berjongkok.
" Hai tampaan... "
Seolah sudah kenal lama, Empus terlihat nyaman dengan Abi.
" Waah, Nak Abi suka kucing juga?"
__ADS_1
" Abi punya dua di Amerika."
" Wooowww, keren banget.." Puji Quin.
" Iyaa, aku udah lama loh ngincar yang putih, tapi selalu gak kebagian. Beruntung banget kamu bisa dapat dia."
" Rezeki anak Soleh ini Mah..."
" Eemm, lain kalo aku boleh main ke sini gak? Main sama dia.."
" Boleh dong nak Abi, masa main ke rumah calon istrinya pake minta izin segala."
Abi langsung tersenyum kikuk, sedangkan Quin sudah memutar bola matanya malas.
" Udah malem, Aku balik ya.." Pamit Abi kepada Quin.
" Eeumm.."
" Ma, Abi balik yaa.."
" Iyaa, hati-hati di jalan yaa.. Quin, antar sampai depan dong.."
" Nggih ndoro ratu.." Ujar Quin sambil menekuk lututnya sesaat.
.
.
Di dalam Kamar, Veer dan Nafi merasa canggung dengan kejadian tadi. Tapi mereka juga tidak bisa berdiam saja, akan terasa sangat aneh.
" Emm, Naf.. Kamu sudah tidur?" Tanya Veer.
" Belum.. Kenapa?" Nafi menjawab tetapi dirinya masih membelakangi Veer yang tidur di sofa.
" Soal di ruang makan tadi. Aku minta maaf, aku gak maksud untuk berlaku lancang. Aku mungkin hanya terbawa suasana. Jadi, aku harap kamu gak mikir yang macam-macam yaa.. Sekali lagi, aku minta maaf. "
" Heem.."
Tanpa Veer sadari, jika air mata Nafi menetes karena mendengar perkataan Veer.
.
.
Sudah 2 Minggu berlalu, Hubungan Nafi dan Veer kembali dingin. Nafi dan Veer seakan kompak menjaga diri mereka lagi.
" Yaaah, gosong lagi.." Nafi harus kecewa dengan telur mata sapi buatannya.
" Kenapa?"
" Gosong lagi Quin.."
" Iyaa.. Terus, ini gimana?"
" Biar aku aja yaa.. Kamu tolong potongin Timun bisa?"
" Aku coba yaa.."
Quin mengangguk dan tersenyum. Mama Kesya bahagia melihat Nafi yang sudah mau membantu di dapur. Nafi pernah bertanya, kenapa tidak menggunakan jasa pembantu?. Alasan Mama Kesya adalah, agar Quin dan yang lainnya terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.
Nafi saja sampai kaget saat satu hari, Mama Kesya memang sengaja meliburkan semua pembantu di rumah, Kecuali satpam. Dan yang membersihkan rumah adalah seluruh anggota keluarga, termasuk Veer. Nafi yang saat itu baru 3 Minggu tinggal di rumah Veer pun, merasa heran, dan bingung harus berbuat apa, hingga Mama Kesya menyuruh Nafi membersihkan debu di meja, dan hasilnya Nafi terbatuk-batuk hingga Mama Kesya merasa bersalah dan menyuruh Nafi beristirahat di kamar.
" Auch..." Nafi langsung memegang jarinya yang berdarah.
" Kenapa Naf ?, Yaa ampun, berdarah.."
Quin langsung berlari mengambil kota P3 K, namun saat Quin balik, Quin tersenyum karena Veer sudah duluan menghisap darah Nafi. Perlahan Quin memundurkan langkahnya dan membiarkan mereka berdua, Mama Kesya pun melajukan hal yang sama.
" Masih sakit?" Tanya Veer lembut.
" Ehm, cu-cuma perih.."
" Ayoo.." Veer menuntun Nafi ke meja makan, dan mendudukkannya. Quin langsung memberi kotak P3k kepada Veer.
" Lain kali hati-hati, kalo gak bisa pegang pisau, mending gak usah pegang deh.." Omel Veer.
" Ini salah Quin, Quin yang mengajari Nafi cara memegang pisau. Jadi wajar saja kalo tangan Nafi bisa terluka, coba Veer yang ngajar, pasti Nafi gak akan terluka." Mama Kesya mencoba mengompori Veer.
Veer hanya diam saja, dan malas menanggapi ucapan sang mama. Karena Veer tau, jika Mama Kesya berusaha untuk mendekatkan Veer dengan Nafi.
Mobil yang biasa di kendarai oleh Nafi mengalami kempes Ban, dan mau gak mau Nafi harus berangkag bersama Veer kekantor.
Mama Kesya sudah mengacungkan jempolnya kepada supir Nafi, karena ban kempes itu adalah ide dari Mama Kesya dan Quin.
" Masih perih?" Tanya Veer saat melihat Nafi meringis.
" Sedikit..."
" Apa setiap luka kamu selalu begini?"
" Maksdunya?"
" Tidak tahan sakit."
" Ooh, Aku tidak pernah terluka, kecuali saat masa kecil."
" Hmm... Pantees..."
Saat dipertengahan jalan, ternyata terjadi kecelakaan lalu lintas, di mana pengendara sepeda motor tertabrak oleh pengendara mobil.
__ADS_1
Nafi melihat kearah luar, ada orang yang berlari dengan tangan berdarah. Dan menyuruh memanggil Ambulance.
" Mau kemana?" Tanya Veer saat melihat Nafi membuka pintu.
" Mau lihat, mana tau mereka butuh bantuan kita "
Veer pun terpaksa mengikuti Nafi. Nafi berlari saat melihat tak ada satu orang pun yang berani mendekati si korban. Karena kaki sang korban patah, dan tulangnya menusuk daging hingga keluar.
" Ya Tuhan..." Nafi menutup mulutnya.
" Apa yang kalian lihat? Kenapa tidak ada yang membantu menghentikan pendarahannya?" Bentak Nafi yang mana membuat semua orang tercengang dan menatap kearahnya.
Nafi menoleh kearah Veer, dan langsung membuka Dasi Veer yang sudah terikat rapi di lehernya.
Veer hanya diam memandangi apa yang akan di lakukan oleh Nafi.
" Tahan laah.."
Nafi mengikat bagian pahanya dnegan kuat, agar darah berhenti mengalir. Veer yang melihat itu merasa takjub.
" Apa yang kalian lihat? Apa tidak ada satu orang pun yang dari kalian memanggil Ambulance?"
Diam, mereka hanya merekam kejadian, tapi tidak melakukan apapun. Manusia macam apa mereka? Demi konten rela membiarkan seseorang berjuang sendiri.
Nafi melihat Mobil pick up, dia pun beralih ke mobil tersebut.
" Siapa pemilik mobil ini?"
" Sa-saya Nona."
Nafi membuka dompetnya. " Ini duit satu juta, Antarkan pria itu kerumah sakit."
Dengan bantuan warga lain, termasuk Veer. Korban kecelakaan yang berjenis kelamin laki-laki itu di naikkan ke atas mobil pickup, Nafi tanpa segan ikut naik dan memangku kepala si korban, bahkan Nafi tidak peduli jika bajunya sudha berlumur darah.
" Apa itu Nafi yang selama ini ku kenal?' batin Veer.
Veer menyewa ojek online, dan mengendarai motornya dengan berbonceng si tukang ojek. Veer mendahului mobil pickup tersebut, membunyikan klakson, sehingga menjadi perhatian polisi, polisi pun mengejar Veer, taoj saat Veer menunjuk kearah mobil Pickup, polisi ikut membuka jalan untuk lajunya mobil pickup tersebut.
" Siap kan ruang operasi.." Teriak Lucas, yang sudah menyambut kedatangan Veer. Tadi Veer sempat menghubungi Lucas.
Lucas Leonard Bramansyah, Putra pertama dari Leo dan Anggun. Berprofesi sebagai seorang Dokter bedah. ( Gak ada visual yaa, karena Lucas hanya bintang sekilas.)
" Veer? " Veer menoleh saat mendengar suara Anggel.
" Siapa yang kecelakaan?"
" Hanya korban tabrak lari katanya. Aku hanya membantu Nafi menolongnya.
"Nafi? Mana dia?"
" Ke toilet, sedang membersihkan darah."
Tak berapa lama, Nafi pun datang. Anggel yang melihat penampilan Nafi tersenyum. Quin sudah menceritakan tentang Nafi, sebenarnya Nafi adalah orang yang baik, hanya saja dia tidak ingin kebaikannya di manfaatkan oleh orang kain, maka dari itu Nafi bersikap jutek ke semua orang, dan seolah tidak peduli.
" Naf, mau ganti dengan baju aku?"
" Eemm, gak pa-pa, nanti jadi merepotkan."
" Enggak kok, yukk.." Anggel menarik tangan Nafi menuju ruangannya.
Anggel memberikan baju kemeja berwarna putih polkadot, dan celana. Kamu ganti baju terus ya, aku mau ambilin Baju ganti untuk Veer.
" Veer, mau pakai baju Lucas?"
" Boleh.."
" sebentar yaa, aku ambilin.." Anggel pun masuk keruangan Lucas, namun di dalam ruangan Lucas ada kekasih Lucas yang tengah tertidur. Maklum, baru dinas malam. Jadi, Lucas membiarkan sang kekasih tidur di ruangannya.
" Nih, ganti di ruangan aku aja yaa. Ada pacarnya Lucas lagi bobok."
Veer pun mengacungkan jempol, dan Veer masuk keruangan Anggel. Di dalam ruangan Anggel, ada ruangan lagi yang memang khusus untuk Anggel merebahkan dirinya. tidak besar, tapi lumayan nyaman.
Kreeekk..
Veer tertegun saat melihat tubuh Nafi hanya menggunakan Pakaian dalamnya.
" Maaff..." Ujar Veer dan kembali menutup pintu.
Veer memegang jantungnya, kemudian bibirnya terbesit senyuman mengingat wajah nafinyang terkejut dengan tubuh yang begitu seksi. Veer menunggu Nafi selesai.
Kreekk..
" Eemm, maaf yang tadi.. "
" Heem..." Nafi hanya menunduk karena malu, dan berjalan melewati Veer.
Veer masuk keruangan istirahat Anggel, dan mengganti pakaiannya. Veer mencari keberadaan Nafi. Ternyata Nafi menyuruh seseorang untuk menghubungi keluarga korban, ternyata korban adalah seorang anak dari tukang cuci. Nafi langsung membiayai semua perawatan si korban tabrak lari tersebut.
" Sebenarnya seperti apa sifat kamu Naf? Setelah aku mengenal kamu sejauh ini, Tidak ada satu sifat pun yang aku temukan seperti yang di katakan orang-orang. Kamu memang keras kepala, tapi kamu sebenarnya penurut. " Veer berjanji akan mencari tau tentang Nafi lebih dalam lagi.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.
__ADS_1