
Tidak terasa sudah 4 hari Kesya dan arka berada di Bali. Dan hari ini mereka pulang kembali ke Jakarta. Sesampainya di bandara, Kesya dan Arka sudah di jemput dengan Ayah Nazar. Mereka pun menuju ke kediaman keluarga Moza, karena masih ada 2 hari lagi acara di rumah Arka.
" Rame ya Mas " Ujar Kesya saat melihat masih banyak yang berdatangan di jalan menuju rumah Arka.
" Iyaa, namanya juga undangan terbuka. Jadi siapa aja boleh datang"
Kesya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ada rasa khawatir di benak Kesya. Perihal acara terbuka yang di adakan di kediaman Moza, pastinya rentan akan kemalingan, mengingat banyak barang berharga di dalam rumah tersebut. Tapi semua pemikiran Kesya langsung lenyap saat melihat penjagaan yang sangat ketat.
Kesya juga sempat tercengang melihat pagar rumah Arka yang sangat tinggi, dan halaman yang sangat luas yang sudah dipenuhi dengan Teratak.
Mobil mereka masuk ke halaman rumah, dan saat mereka turun, banyak pasang mata yang langsung menatap kearah mereka dengan takjub.
"Ma..Ma..itu Tante yang di foto kan? Cantik banget aslinya. Aku kalo besar mau secantik Tante itu" Ujar seorang anak kecil yang masih terdengar di telinga Kesya dan Arka.
Kesya tersenyum dan memberikan buket bunga mawar yang dipegang olehnya, saat dia turun di berikan oleh seorang pelayan tanda ucapan selamat datang.
" Ini untuk kamu" Ujar Kesya sambil tersenyum, membuat anak itu bahagia karena di berikan bunga oleh Kesya.
Setelah orang tua si anak kecil tersebut mengucapkan terima kasih kepada Kesya, Kesya dan Arka kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam istana milik keluarga Moza.
" Menantu Mami sudah pulang. Selamat datang sayang di rumah kita" Ujar Mami Laura sambil membentangkan tangannya dan memeluk Kesya.
Tanpa menghiraukan Arka yang berdiri tepat di sebelah Kesya, Mami Laura mengajak Kesya untuk menuju meja makan. Karena sudah tersedia makanan untuk mereka.
" Loh, kok Raja di lupain sih Mi" Gerutu Arka.
Mami Laura seolah-olah tuli dengan perkataan Arka dan meninggalkannya.
Arka berjalan dengan cepat dan kembali meraih tubuh Kesya. Kini Arka memeluk Kesya dengan posesif di depan semua orang membuat wajah Kesya memerah Malu.
" Mas, lepasin " Bisik Kesya.
" Arka mau ke kamar dengan Kesya, Kami mau istirahat" Ujar Arka.
Namun sayang, itu hanya angan-angan Arka saja yang bisa membawa kesya langsung ke kamarnya. Mami Laura langsung menjewer kuping Arka untuk melepaskan Kesya.
" Enak aja kamu mau bawa menantu kesayangan Mami"
" Aduuhh duh.. sakit Mi" Rintih Arka.
Mami Laura langsung menarik kembali Kesya ke dalam rangkulannya.
" Hari ini Kesya milik Mami. " Ujar Mami Laura.
Arka hanya mendengus dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untuk melawan Mami nya tentu saja Arka tidak berani, karena takut kualat.
Mereka makan dengan tenang.
" Enak sekali Mi masakannya." Ujar kesya.
" Iya, Ini semua Mami yang masak, khusus buat kamu"
" Kamu tau Key?, Papi ini jatuh hati sama Mami kamu ini karena masakannya. Saat itu kami di jodohkan, tapi sama-sama nolak karena umur Papi yang jauh banget dari Mami kamu. Trus, saat undangan makan malam, Papi langsung jatuh hati ke Mami kamu. Dan Papi akan berusaha agar Mami kamu ini setuju untuk menikah dengan Papi. Awalnya Mami kamu terpaksa menikah dengan Papi, karena memenuhi permintaan terakhir dari mendiang neneknya, dan sekarang? Mami kamu malahan gak bisa jauh dari Papi. Ha..ha..ha." Ujar Papi Farel sambil mengenang masa lalunya, membuat Mami Laura tersipu malu.
" Loh pak, sama dong seperti saya. Saya juga jatuh cinta sama mendiang istri saya dulu, karena masakannya. Sepertinya cara jatuh cinta kita ini menurun ke anak kita ya.." Ujar Ayah Nazar yang mana langsung terdengar suara tawa yang menggelegar di meja makan tersebut.
__ADS_1
" Tapi masakan Key gak seenak ini" Ujar Kesya.
" Mas jatuh hati sama Kue buatan kamu." Bisik Arka yang masih terdengar dengan Mami Laura.
" Jangan goda-goda menantu Mami, Masih siang ini Raja" Ujar Mami Laura penuh dengan ancaman.
Acara penyambutan Kesya dengan makan bersama pun selesai. Akhirnya Arka bisa membawa Kesya ke lantai 2, di mana terdapat kamarnya berada.
Arka masih merangkul pinggang Kesya, seakan Kesya akan jauh darinya.
" Key, kamu masih halangan?" Tanya Arka saat menaiki tangga.
"Outchh, kok di cubit sih Key."
" Jauhin fikiran Mas yang mesum itu" Ujar Kesya.
Saat sudah sampai di lantai 2, Kesya terkesima dengan interior dan desain di lantai tersebut.
"Ada dapur juga Mas?" Tanya Kesya yang melihat terdapat dapur di lantai tersebut.
" Iya, jadi kalo kamu ada pesanan atau kamu malas masak, jadi Mas masakin untuk kamu, gak payah turun ke bawah" Ujar Arka.
" Mas bisa masak?"
" Bisa dong, Mas kuliah di luar negeri, jadi harus ekstra hati-hati dalam memilih makanan. Jadi dari pada was-was makan sembarangan, Mas masak deh"
" Yang bener Mas bisa masak?"
" Kamu gak yakin?" Tanya Arka dengan menaikkan sebelah alisnya.
" Kamu mau bilang masakan Mas beracun?"
Kesya menggelengkan kepalanya, kemudian berlari menghindari Arka yang ingin menangkapnya.
" Jangan lari kamu Key"
" Key becanda Mas. Ha..ha.."
" Awas kamu ya, saya gak akan memberikan ampun jika tertangkap"
Kesya terus berusaha menghindar dari Arka, tapi akhirnya Arka mampu menangkap Kesya. Arka menggelitik perut dan pinggang Kesya, membuat Kesya kegelian dan tertawa.
" Ampun Mas..ha.ha.. geli ini.. ha..ha..ha."
" Saya gak akan ampuni kamu"
" Aduh.. ha..ha.. ampun mas.. ha..ha. bisa pipis di celana entar Key kalo di gelitikin terus gini.. ha..ha..ha."
Akhirnya Arka menghentikan menggelitik Kesya, dan menjatuhkan tubuhnya beserta Kesya yang berada dalam pangkuannya. Arka menyelipkan rambut kesya yang tergerai kebelakang telinganya. Di sentuhnya pipi Kesya dengan sayang, kemudian perlahan di tekan tengkuk Kesya agar mendekat ke wajahnya. Tanpa perlawanan Kesya menurut dan sudah memejamkan matanya saat bibir mereka bertemu.
Kesya sudah mulai membalas ciuman Arka, walaupun masih terlihat kaku, tapi Kesya berusaha mengikuti gerakan Arka yang sepertinya sudah sangat lihai dalam masalah bibir. Padahal bibir Kesya adalah bibir pertama yang baru di cecapnya. Lama mereka saling menikmati manisnya. Hingga kesya menepuk bahu Arka pelan, memberikan tanda bahwa Kesya sudah kehabisan napas.
Arka menyatukan kening mereka, dengan napas yang tersenggal-senggal, mereka tersenyum kemudian tertawa bersama.
" Kamu berapa lama sih bisanya PMS?" tanya Arka parau.
__ADS_1
" 8 hari"
" Masih ada 3 hari lagi" Ujar Arka lesu dan menyandarkan kepalanya di dada Kesya.
" Jangan genit kamu Mas, nanti ada yang lihat gimana?"
" Lantai ini area terlarang, tanpa perintah saya tidak ada yang berani naik kesini" Ujar Arka kemudian langsung meraup bibir Kesya tanpa rasa puas.
Ciuman mereka pun berhenti saat ada yang berdehem di dekat mereka. Kesya langsung berpindah duduk dari pangkuan Arka ke sebelah Arka dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Ekheemmm."
Arka langsung menatap tajam kearah sumber suara. " Keponakan sialan" Gumam Arka.
" Cuma mau nyampein pesan kakek, Om di tunggu di ruang kerjanya."
" Kan bisa di Telpon" Geram Arka.
" Udah berulang kali, tapi gak di angkat." Ujar Vano dengan menahan senyumnya.
Arka meraih ponselnya di dalam kantong, dan melihat jika ponselnya masih dalam mode diam.
" Ya udah, nanti saya nyusul ke sana" Ujar Arka.
Vano pun membalikkan tubuhnya setelah berhasil menggoda Arka. " Lanjutannya nanti aja Om, Di kamar. Sekarang masih rame"
Arka melihat kearah Kesya yang masih menutup wajahnya. Dan dalam sekali gerakan Kesya sudah berada dalam gendongannya.
" Mass" Pekik Kesya.
Arka membawa Kesya kedalam kamar mereka. Dan dibaringkannya Kesya di atas tempat tidur yang berukuran king size tersebut.
Arka memberikan satu kecupan di bibir Kesya.
" Saya temui Papi dulu ya" Ujar Arka yang di angguki oleh Kesya.
Saat pintu tertutup dengan menenggelamkan tubuh Arka di balik pintu itu, Kesya melihat suruh isi kamar Arka. Kesya berdecak kagum dengan desain yang sangat elegan, bahkan propertinya sangat indah, dan pastinya Kesya sulit menebak berapa nominal yang berada dibelakang angka tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers... terima kasih sudah mampir. setia terus ya dukung cerita ku.
Like + Vote + Rate + komentarnya di tunggu..
__ADS_1