
Sudah tiga bulan berlalu. Quin masih belum mendapatkan kabar baik dari dirinya sendiri Lagi-lagi, pagi ini Quin melihat ada bercak merah pada celananya. Quin hembuskan napas pelas dengan rasa kecewa.
"Sayang, kenapa?" tanya Abi saat melihat wajah Quin murung.
"Gak papa, aku dirumah aja ya, kayaknya aku gak enak badan," ujar Quin dengan lesu.
"Loh, Kamu sakit?" Abi menyentuh kening sang istri yang terasa normal.
"Gak kok, cuma lemes aja. Mungkin kelelahan karena semalam bergadang."
Ya, Quin dan ABi menghabsikan waktu semalaman, namun mereka hanya bermain satu ronde dalam bercinta. Yang membuat mereka menghabiskan malam yaitu, mereka sedang melakukan acara barbeque bersama keluarga dari suami aunty Risma.
"Masuk angin ya? Mau aku panggilin dokter?" tanya Abi dengan nada khawatirnya.
"Tidak, aku lemes karena pengaruh menstruasi." uar Quin dengan lirih namun terdengar menyedihkan di telinga Abi.
Abi tau, Quin sangat ingin mengandung saat ini, karena beberapa hari lagi mereka akan kembali ke Indonesia. Quin ingin memberikan kabar gembira tersebut kepada sang kakek.
Abi membuka kembali jasnya, sehingga membuat Quin mengernyitkan keningnya. "kok dibuka lagi jasnya?"
"Iya, aku gak kekantor, aku temenin kamu dirumah ya."
"Jangan, kamu kan lagi sibuk-sibuknya ya di kantor, karena sebentar lagi kita bakal balik ke Indonesia, jadi kamu ke kantor aja. Biar semua urusannya cepat selesai."
"Kamu yakin mau gak mau aku temenin dirumah?"
"Iya, lagian aku cuma datang bulan aja kok, gak papa."
"Hmm, ya udah kalau gitu, aku pergi yaa."
Sebenarnya Abi sudah mulai terasa pusing, di saat mengingat jika tak ada Quin yang akan menemaninya di kantor. Namun, Abi menahan rasa tak nyaman itu, karena saat ini dia benar-benar harus hadir pada rapat kali ini.
Hanya beberapa hari lagi, setelah itu mereka akan kembali ke Indonesia.
"Abi," panggil Quin saat Abi ingin menekan handle pintu kamar.
"Ya, sayang." Abi berbalik dan menatap sang istri yang tengah berjalan mendekat kearahnya.
"Aku boleh gak? Pergi jenguk Empus?" pinta Quin dengan puppy eyes nya.
Abi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mungkin bermain dengan empus akan membuat sedih Quin terobati.
"Boleh, di antar supir ya,"
"Terima kasih, Abi. I love you." Quin memeluk tubuh Abi dan menghirup aroma tubuh sang suami. Quin sangat menyukai aroma tubuh ini, aroma yang membuatnya selalu tenang dan nyaman.
__ADS_1
Quin merenggangkan pelukannya, ia berjinjit dan mencium bibir sang suami, namun ABi menahan kepala Quin dan memperdalam ciuman mereka.
"Jika begini, kamu akan terlambat nanti," ujar Quin dengan napas tersengal dan dan membersihkan bibir Abi yang terdapat bekas lipstiknya.
Abi terkekeh dan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Quin, hanya sebuah kecupan, tidak lebih. Setelah itu, Abi pun keluar dari dalam kamar. Quin kembali berjalan kearah kasur dan membaringkan tubuhnya. Satu tetes air mata Quin pun keluar tanpa bisa ia tahan lagi.
*
"Empuuss ..."
Teriakan Quin membuat singa putih itu berlari kearahnya. Quin langsung merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Empus berdiri dan memeluk dirinya.
'Wow .. Wow .. anak mama udah besar banget.." seru Quin sambil mengusap-usap bulu empus yang lebat.
"Empus, kamu berdebu," Quin menepuk-nepuk bulu empus.
Empus menggigit baju Quin dan mengajak QUin untuk mengikutinya. Quin pun mengikuti kemana arah empus membanya. Sungguh menakjubkan, singa betina yang menjadi pasangan empus saat ini ternyata tengah hamil.
"Waah, selamat ya empus."
Ada rasa sedih dalam hati Quin, kenapa Abi tak mengatakan hal ini kepadanya?
QUin mengelus perutnya, kemudian ia menatap singat betina yang tengah bermanja dengan empus.
"Hmm, keduluan empus deh." lirih Quin kemudian tersenyum.
Di tempat lain, ABi tengah memicit kepalanya yan terasa sangat pusing. Setiap orang yang mendekat, terutama perempuan langsung diusir jauh-jauh oleh Abi, Abi merasa parfume yang mereka gunakan sangat menyengat.
"Ada yang perlu saya bantu, Pak?' ujar Asisten Abi.
"Siapkan mobil, kita pulang sekarang." titah Abi yang tak ingin di bantah.
Abi menyuruh supir untuk menuju dimana Quin berada saat ini, yaitu hutan rimbanya empus. Rasanya Abi mulai kehilangan pasokan oksigen saat ini, dia melepaskan dasinya dan membuangnya asal. Begitu pun dengan jasnya. Jangan ditanya lagi bagaimana penampilan Abi saat ini, sungguh sangat mengenaskan.
Rambut acak-acakan, baju yang sudah setengah kusut dan keluar dari celana, bahkan tiga kancing kemeja teratasnya sudah terbuka dan menampilkan dada bidang Abi.
Abi langsung bergegas turun disaat mobiny atelah sampai di mana tempat Quin berada. Abi langsung menghampiri sang istri dengan berlari dan tak memperdulikan sapaan dari sahabat dan juga pekerjanya.
Saat melihat Quin yang tengah duduk bersama dua singa putih itu, Abi langsung memelankan langkahnya dan memandang wajah bahagia Quin.
"Quin terkesiap saat ada sebuah tangan yang melingkar dilehernya.
"Aku merindukanmu," bisik pria itu.
Quin yang sudah hafal dengan parfume dan juga suara Abi pun melengkungkan senyumnya.
__ADS_1
Quin menggenggam erat lengan Abi yang bertengger disekitaran leher dan dadanya itu.
"Kenapa kesini? bukankah ada rapat penting hri ini?" tanya Quin dengan menikmati setiap kecupan yang Abi berikan di pipi dan juga kepalanya.
"Aku sangat merindukan kamu, makanya aku nyusul kamu."
"Lebay banget sih."
"aku serius."
Abi membalikkan tubuh Quin, sehingga membuat posisi Quin sudah berhadapan dengan dirinya.
"Aku merindukan kamu, sangat." Abi mendaratkan ciumannya di bibir Quin, begitu pun dengan Quin yang langsung membalas ciuman Abi. Rasa kesal yang ia rasakan tadi untuk Abi entah menguap kemana. Quin rasanya hanya ingin menikmati kebersamaan ini bersama sang suami tercinta.
"Ngaauumm ...."
Auman Empus membuar Quin dan Abi terkejut sehingga mereka melepaskan pagutan bibirnya. Abi dan Quin terkekeh saat melihat empus berdiri dan kembali membaringkan kepalanya di pangkuan Quin.
"Cemburu dia," bisik Abi dan kembali mencium bibir Quin.
*
"Lana, aku ikut ya," rengek Anggel.
"Nnati kamu kelelahan gimana? Lagian kamu ada tugas kan?"
"Tugas Online, aku bis ngerjain d mana pun aku berada. AKu ikut yaa," rengek Anggel lagi.
"Okey, tapi ingat, gak boleh terlalu heboh seperti waktu itu."
Lana mengingatkan Anggel, untuk tak bersikap ceroboh saat syuting berlangsung. Bagaimana tidak, Anggel berloncat-loncat disaat sedang berbadan dua. Anggel melakukan hal tersbeut karena mengungkapkan rasa gembira kepada artis idolanya. Bagaimana tidak, Syahrukhan menajdi bintang tamu dalam projek film yang tengah digarap oleh Lana.
Saat itu, Anggel hampir terjatuh, jika Lana tak cepat menangkap tubuh Anggel, mungkin Anggel akan berakhir dirumah sakit dan kehilangan bayi mereka.Begitulah analisis terburuknya.
"Aku janji, aku gak bakal nakal." uajr Anggel sambil mengangkat jarinya berbentuk huruf V.
Lana mengghela napasnya pelan, selain mengizinkan anggel untuk ikut, apalagi yang bisa dilakukan oleh Lana. Dari pada menghadapi bumil yang emosinya suka berubah-ubah dan ngambekkan, terus Lana gak dapat jatah, ya kan. Sayang dong kecebong gak bisa lepas.
** Yukk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF