KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 166


__ADS_3

Lana menutup wajahnya, dia benar-bemar tak bisa menegur sang istri saat ini. Baru saja Lana menegur dengan tatapan, Anggel sudah terisak dengan air mata yang menggenang di pipi.


Lana pasrah, pasrah dengan Anggel yang benar-benar pecicilan kepada Hrithik Roshan. Bahkan, artis Bollywood itu pun memesan makanan mewah hanya untuk menjamu Anggel, istri dari sang sutradara.


Berapa sedihnya nasib Lana, Anggel benar-benar melupakan dirinya saat ini. Lana kesal dan cemburu, hingga akhirnya Lana pun marah-marah dengan kru-nya.


"Kenapa? ada masalah?" tanya Anggel tanpa berdosa.


"Gak ada, cuma lagi kesal aja." ujar Lana tanpa memandang kearah Anggel.


"Kesal dengan siapa?" tanya Anggel yang sudah duduk dengan Lana. Acara kencannya bersama Hrithik Roshan sudah selesai, artis Bollywood itu harus kembali kepada aktivitas.


"Sama mereka tuh, kerjanya pada gak bener."


"Masa sih? aku perhatiin mereka bener semua, Om Hrittik juga gitu bilangnya." ujar Anggel.


"Kamu kan gak tau kinerja kerja mereka, kalau di lihat dari sisi kamu, ya mereka udah bener aja kerjanya, padahal pada ngeyel semuanya." kesal Lana.


"Kamu remehin aku? Aku lulus S2 kedokteran saat umurku 23 tahun ya, Bahkan aku menjadi seorang dosen di salah satu universitas ternama. Kamu terlalu remehin aku tau gak sih, mentang-mentang aku bukan dari bidang kamu. tapi, aku tau bagaimana cara menilai orang yang bekerja dengan baik dan tidak. Hiks ... Kamu tuh yang kerjanya gak bener." Kesal Anggel dan berdiri dari tempatnya.


Lana melupakan satu hal, jika saat ini mood sang istri sedang tidak baik dan mudah berubah-ubah. Lana berdiri dan bergegas mengejar sang istri.


"Lepasin.." pekik Anggel yang mana membuat orang yang ada di sekitarnya menoleh kearah mereka.


"Sayang, maafin aku ya. Aku gak maksud gitu, aku cuma__"


"Apa? kamu kesal sama aku kan sebenarnya? Kesal karena aku makan siang bareng Hritik? Hiks ... Egois kamu, Lana. Kamu sering makan siang dengan Artis-artis cantik dan muda, aku gak marah, tapi di saat aku makan bareng artis Bollywood, kamu cemburu, marah,m gak jelas. Kamu mikir gak sih? jika kamu di posisi aku? Setiap hari selalu mendengar, kalau kamu makan siang dengan artis ini, artis itu. Kamu fikir aku gak cemburu? hiks ... Aku cemburu, tapi aku diem, karena itu bagian dari pekerjaan kamu. Tapi, hiks ... taphhmppp..."


Anggel pun menelan kembali kata-katanya karena Lana telah membungkam bibir sang istri. Bahkan, saat ini mereka tengah mencecap bibir satu sama lain tanpa memperdulikan sekitar.


Mereka menjadi tontonan para kru dan juga artis. Lana tak peduli, begitu pun dengan Anggel. Lana terlalu bahagia, karena Anggel cemburu kepadanya. Itu menandakan jika Nagg takut kehilangan dirinya, kan?


Lana ngelunjak ih...


Bolehkah Lana bersyukur? Karena mereka berada di negeri orang saat ini? Jadi, saat Angg marah-marah tadi, bisa di pastikan jika Tak ada yang mengerti apa yang sang istri katakan.


Jika ada yang bertanya, maka Lana akan mengatakan bahwa Anggel sedang mengungkapkan keinginannya untuk di cium olehnya, seperti adegan yang di perankan oleh artis tadi. Haha... pintar sekali kamu Lana mencari alibi.


"Jangan ngambek lagi, ya. Maafin aku." bisik Lana dan mengusap bibir Anggel dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Pulang yuk, Aku pingin lebih dari sekedar ciuman," ujar Anggel dengan manja.


Pulang?


Baiklah, sepertinya itu adalah ide yang bagus. Rumah adalah tempat yang bebas untuk Lana dan Anggel mengekspresikan perasaan mereka.


*


Kepulangan Quin dan Abi di percepat, keadaan sang kakek tiba-tiba turun drastis. Untungnya, pekerjaan di kantor bisa di handle oleh orang kepercayaan Abi.


"Tenang ya, semua akan baik-baik aja," ujar Abi sambil mengenggenggam tangan Quin.


Di dalam pesawat, ternyata terjadi trouble, sehingga membuat sedikit guncangan.


"Aww..." rintih Quin sambil menyentuh perutnya.


"Kenapa sayang?" tanya Abi dengan khawatir.


"Perut aku sakit,"


Abis merendahkan sandaran kursi Quin, sehingga membuat tubuh Quin terbaring.


"Hmm, lumayan. Lakukan terus sayang, ini mengurangi rasa sakitnya." lirih Quin yang menahan rasa sakitnya.


Abi mengelus perut Quin tanpa pembatas, hingga sampai Quin tertidur. Setelah Quin tidur, Abi pun memperhatikan wajah Quin yang terlihat pucat. Abi membelai wajah itu dengan lembut, tak lupa Abi mendaratkan kecupan di dahi Quin.


Perjalanan yang lama, membuat tubuh Quin semakin terasa lemah. Quin merasa seakan tubuhnya remuk dan pegal. Ingin bergerak, namun perutnya masih terasa sakit. Quin merasakan kram di perutnya, untuk itu Quin sulit bergerak.


Perjalanan pun berakhir. Mereka tiba juga di bandara pribadi milik keluarga Moza. Quin dan Abi berjalan bergandengan secara perlahan, karena Quin masih merasakan kram di perutnya.


"Mau pakai kursi roda?" tawar Abi.


"Gak usah, sedikit lagi udah sampai."


Quin kembali berjalan, namun, baru beberapa langkah, dia memekik kesakitan sambil menyentuh perutnya.


"Abi, sakitt..." rintih Quin dengan keringat yang sebesar jagung.


"Tuan, darah," seru pengawal Abi menunjuk kearah kaki Quin.

__ADS_1


Jantung Abi berdegup dengan kencang, langsung saja Abi menggendong Quin dan membawanya berlari menuju kemobil.


"Abii, sakitt..." rintih Quin karena mendapatkan goncangan saat Abi berlari.


"Tahan, sayang, sedikit lagi." Abi terus berlari dan berteriak untuk membuka pintu dan bersiap segera berangkat kepada pengawalnya.


Dengan kecepatan tinggi, Jo yang memang menjemput mereka pun, langsung menancapkan gas menuju rumah sakit.


*


"Tenanglah," ujar Veer sambil menyentuh bahu Abi.


Tak berapa lama, Lucas keluar dari ruang tindakan dan memerintah Veer untuk mendonorkan darahnya saat ini juga. Quin kehilangan banyak darah dan itu mengancam keselamatan janinnya.


Tubuh Abi membeku saat mendengar janin yang ada di perut Quin. Jika tak ada Jo dan Om Duda, maka saat ini Abi sudah terduduk di lantai.


Abi benar-benar lemas dan membeku, dia telah mencelakai anak mereka. Jika saja Abi tak berlari sehingga membuat goncangan pada tubuh Quin, mungkin keadaan Quin tak separah ini.


"Berdoalah, semoga Quin dan janinnya selamat." ujar Jo kepada Abi.


"Anak aku, aku gak bisa maafin diri aku, jika terjadi sesuatu kepada mereka." lirih Abi dengan mata yang sudah digenangi oleh air mata.


"Quin gadis yang kuat. Aku yakin, jika Quin akan baik-baik saja, begitu pun dengan anak kalian." ujar Jo lagi untuk menyemangati Abi.


"Saat ini yang paling baik adalah berdoa, berdoa untuk keselamatan Quin." ujar Om Duda.


"Abi," panggil Mama Kesya.


Abi menoleh dan langsung berlutut di hadapan Mama Kesya. "Maafin Abi, hiks ... maafin Abi, Ma. seharusnya Abi lebih peka jika saat ini Quin sedang mengandung. Maafin Abi, hiks ..."


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2