KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 174


__ADS_3

Sudah delapan hari berlalu semenjak Quin menangis hingga pingsan karena menginginkan burung hantu. Akhirnya, saat ini keinginan Quin untuk memiliki burung hantu pun terkabuli.


"Gimana? Suka?" tanya Abi sambil memeluk Quin dari belakang.


"Hmm, cantik banget, gemesih," ujar Quin yang sudah melepaskan pelukan tangan Abi dari perutnya.


"Mau kemana?" tanya Abi yang menahan tangan Quin untuk tak menjauh dari dirinya.


"Mau pegang," ujar Quin tanpa berdosa.


"Kamu gak ingat dengan janji kamu, sayang?" ujar Abi dengan tersenyum manis sekali.


"Janji apa?" ujar Quin masih dengan wajah tak berdosanya.


"Janji kalau kamu gak akan pegang burung itu."


"Kapan aku janji begitu?" tanay Quin masih dengan wajah polosnya.


"Abi menghela napasnya pelan, sepertinya dia harus bersabar menghadapi sang istri tercintanya.


"Sayang, kamu janji sama aku, kalau aku beliin kamu burung hantu, maka kamu gak boleh memegangnya. Ingat, kesehatan anak kita," ujar Abi sambil mengelus perut Quin yang mulai terasa membuncit.


"Emang aku janji begituan, ya?" tanya Quin yang sudah membalikkan dirinya menghadap Quin.


"Heum, kamu janji. Kamu bilang kamu hanya melihatnya dari jauh saja," ujar Abi dengan membelai rambut Quin dengan sayang.


"Benarkah? Aku kok gak ingat ya?" ujar Quin denagnw ajah imutnya. "Kalau burung yang ini, boleh gak di pegang dan di lihat?" ujar Quin sambil membelai sejengkal di bawah pusat.


Abi menggeram denganw ajagh yang memerah. "Quin, di lihatin orang, malu," bisik Abi dengan menahan malu, karena ada asisten rumah tangga dan juga kurir pengantar burung hantu yang berada diruangan yang sama dengan mereka.


"Tumben kamu malu? Dulu aja, cium aku di depan umum gak malu," ujar Quin dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kalau itu beda sayang," Abi membelai rambut Quin dengan sayang.


"Kalau burung yang ini belum boleh ya masuk sangkar?" bisik Quin dengan sensual.


"Belum boleh, kalau kondisi tubuh kamu udah stabil, pasti di bolehi sama Mami Anggun."


"Hmm, burung itu gak boleh, burung ini gak boleh, semua gak boleh, membosankan." Kesal Quin dan pergi meninggalkan Abi.


"Quin, pelan-pelan jalannya," ujar Abi mengingatkan sambil mengejar sang istri tercinta yang tengah merajuk.


"Kenapa lagi Quin?" tanya Veer kepada sang istri.


"Mungkin karena gak dapat burung dari Abi," ujar Nafi yang mana membuat Veer terbatuk.


"Tau dari mana kamu?" tanya Veer menatap sang istri dengan mata sedikit memicing.


"Quin cerita, katanya dia kangen burung Abi,"


"Oke, jangan di lanjut lagi. Kamu ngomongnya serem gitu ih, pake bawa burung-burung segala."


"Kam Mas yang tanya? Ya aku jawab dong, lucu ih," kesal Nafi dan meninggalkan sang suami.


"Lah, ikut ngambek dia. gra-gara si burung nih, bikin susah aja," gerutu Veer dan mengejar sang istri yang kembali ke dalam kamar mereka.


*


Di saat ada dua pasang sejoli yang tengah merajuk, satu pasang sejoli sedang berbunga-bunga menantikan pujaan hatinya.


"My Anggel," ujar Lana sambil memeluk sang istri. Bahkan, lana rtak segan-segan mencium bibir sang istri di depan orang ramai.

__ADS_1


"Malu ih," ujar Anggel sambil memukul dada Lana dengan gemas.


"Tapi kamu suka kan?" ujar Lana sambil menaik turunkan alisnya.


"Banget, bahkan pingin lebih," bisik Anggel dengan sensual.


Lana berjongkok dan menyamakan wajahnya dengan perut Anggel.


"Hai anak Ayah, apa kabar nih? Sehat-sehatkan?" tanya Lana kepada calon anak mereka yang ada di dalam perut Anggel.


"Kami baik Ayah, kami rindu Ayah," ujar Anggel dengan menirukan suara anak kecil.


"Ayah juga rindu kalian," ujar Lana sambil mengecup perut Anggel.


Lana berdiri dan merangkul sang istri. "Kecebong minta di lepasin, tapi sepertinya mereka harus bersabar," bisik Lana.


"Kenapa gitu?"


"Aku mau lihat kondisi kakek."


"Oh, ya udah, kita kesana aja dulu atau mau istirahat dulu?"tanya Anggel.


"Pulang dulu, aku mau mandi, bersih-bersih, peluk kamu sebentar, baru kita ke tempat kakek."


"Baiklah, suamiku."


*


Lana dan Anggel terpaku saat melihat burung hantu berada di rumah Kakek Farel.


"Serius Quin ngidam burung hantu?" tanya Lana kepada Anggel.


Mereka pikir, itu hanya candaan Nafi aja, yang mengatakan jika Quin meminta burung hantu, ternyata itu benar.


"Serem apanya? lucu gitu," celetuk Quin yang mendengar percakapan Lana dan Anggel.


"Lucu? Ntar mata anak kamu belok, besar, melotot gitu gimana?" celetuk Lana.


"Kamu nyumpahi anak aku?" pekik Quin yang mana mengambil perhatian Mama Kesya, Papa Arka, dan Kakek Farel yang baru saja keluar dari kamar.


"Sumpahi gimana? Kan emang gitu, apa yang di pinginin ntar anaknya kayak gitu juga," ujar Lana membela diri.


"Dasar pelepas kecebong, lihat aja, anak kamu mirip kecebong," kesal Quin yang sudah meneteskan air mata.


"Loh, kok jadi ngatain anak aku?" kesal Lana.


Anggel sudah menghentikan Lana untuk tak berdebat dengan Quin lagi. Akhir-akhir ini, Quin memang lebih sensitif.


"Lah, kan kamu sendiri yang bilang sama Anggel, kalau kamu sering ngajak lepasin kecebong," ujar Quin gak mau kalah.


Veer yang baru dengar perdebatan Lana dan Quin pun menggeleng. Kemarin Maslaah burung, sekarang kecebong, nanti apa lagi?


"Quin, Lana," tegur Papa Arka saat Lana ingin menjawab Quin kembali. Lana pun langsung terdiam.


"Quin, Lana, gak baik ngatain calon anak kalian seperti itu," ujar Papa Arka dengan bijak.


"Lana yang duluan, Pa, hiks ...."


"Tetap aja, gak baik. Lain kali gak boleh gitu ya," ujar Papa Arka sambil membelai rambut sang putri.


"Iya," jawab Quin dengan pelan.

__ADS_1


Anggel menyikut perut Lana, memberi kode untuk meminta maaf dengan Quin.


"Quin, maafin aku yaa, udah ngatain anak kamu matanya melotot seperti burung hantu," ujar Lana sambil mengulurkan tangannya.


"Hmm, aku juga, udah bilang anak kamu mirip kecebong," ujar Quin sambil membalas uluran tangan Lana.


Lana dan Quin pun kembali tersenyum, "oleh-oleh untuk aku mana?" tanya Quin.


"Ada, Sari India, Nanti deh bongkarnya sama-sama."


Mereka pun berjalan menuju ruang keluarga. Lana bertanya tentang kondisi sang kakek yang terlihat lemah.


"Kakek tadi sudah menyuruh Zein dan Kayla ke sini, apa mereka belum sampai?" tanya Kakek Farel dengan suara bergetar.


"Mungkin sebentar lagi, Kek."


Lana menyuruh asisten rumah tangga untuk mengambil kotak yang ada di dalam mobilnya. Tentu saja bukan satu, melainkan ada dua kotak besar di sana.


Saat kotak tersebut berada di depan mereka, Quin dengan semangat untuk membuka kotak-kotak tersebut.


"Gak ada makanan?" tanya Quin.


"Ada, udah di bawa duluan ke dapur tadi."


"Kok ke dapur? aku mau rasa masakan India," rengek Quin.


"Sabar sayang, lagi di hidang," ujar Mama Kesya.


"Manisan India gak ada?" tanya Quin.


"Ada, nih," ujar Oma Laura sambil membawa nampan yang berisi manisan khas India.


"Kakek mau," pinta Kakek Farel.


"Dikit aja, gak boleh banyak-banyak," ujar Oma Laura dan menyuapkan sepotong kecil manisan less sugar.


Tak berapa lama, Opa Nazar dan keluarga datang, beserta Oma Shella dan Opa Roy.


"Loh, Zein dan Kayla gak bareng kalian?" tanya Oma Laura.


"Mereka belum nyampek? Tadi sih udah duluan mereka," ujar Oma Rosa.


"Mungkin sebentar lagi. Oh ya, Kiki udah pindah kerja di sini?" tanya Oma Laura.


"Iya, dinas di rumah sakit bhayangkara. Aly, bisa berkumpul di sini semuanya."


"Berarti bakal rame dong di rumah, secara ada anaknya Kiki."


"Iyaa, mana lagi pintar-pintarnya berjalan. Semuanya di raih, untung aja kemarin gak sampai kejatuhan vas bunga," ujar Oma Rosa, dan cerita pun berlanjut hingga Zein dan Kayla tiba.


"Zein, Kayla, kakek ingin kalian segera menikah,"


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2