KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 31


__ADS_3

Quin melirik kearah Abi yang duduk dihadapannya dengan kesal. Seharusnya Abi mengatakan jika dirinya akan di jodohi dengan keluarga Moza.


Sialan..


Abi pun membalas lirikan Quin dengan tak kalah sengit. Sial, seharusnya dia mengatakan kalo dia keturunan Moza, jadi aku tidak perlu menawarkan kesepakatan bodoh yang malah semakin menjebak diri.


Apa? Saling mencintai? Cinta pada pandangan pertama?


Cih...


Sungguh menyebalkan..


Quin memotong daging dengan kesal.


" Quin ." Tegur Veer yang memang duduk di sebelahnya.


Quin menoleh, Veer pun mengambil alih piring Quin, dan memotongkannya menjadi beberapa bagian kecil.


" Makasih Veer, tidak ada pria seperti mu di dunia ini.." Quin mengatakannya sedikit keras agar Abi mendengarnya.


" Oh ya, bukankah kamu sudah menemukan seorang kekasih? Yang pastinya lebih baik dari ku..Jika tidak, mana mungkin kamu bisa jatuh cinta kepadanya." Veer mengedipkan matanya sebelah.


Quin kesal, dan Veer tau itu.


Lihat saja, aku akan membuat mu bucin sebucin-bucinnya dengan Nafi. Tatapan Veer dan Quin pun beradu dalam beberapa menit.


" Apa kalian akan tetap terus saling melempar tatapan sengit? " Tegur Papa Arka.


Veer dan Quin langsung tersenyum ramah. Abi merasa aneh dengan hubungan kedua saudara itu.


" Jadi, kalian saling mencintai?" Kakek Farel mulai membuka suaranya, yang mana membuat Quin semakin kesal.


" Rel, kamu gak tau aja, saat mereka datang menemui ku kemarin, untuk membatalkan perjodohan ini. Mereka sangat serasi, terlihat jika mereka saling mencintai. Awalnya aku merasa bersalah karena ingin membatalkan perjodohan ini, karena saat pertama kali melihat Qila, aku sudah jatuh hati. Siapa yang bisa menyangkal takdir, dan ternyata, tanpa campur tangan kita pun, mereka sudah saling mengenal dan jatuh cinta.. ha..ha...."


" Sepertinya saat ini mereka malu-malu, Quin ini baru pertama kali jatuh cinta, jadi wajar saja jika dia menyembunyikan hubungannya. Kamu tau sendiri, gimana kabar tentang Quin. Dia sangat pemalu untuk hal satu itu.. Ha..ha.."


Quin menelan kekesalannya. Quin butuh tempat untuk meluapkan kekesalannya sekarang. Quin mengambil sepotong semangka dalam ukuran besar, memakannya dalam sekali gigitan.


Uhukk..uhukk..uhukk..


Veer dengan sigap memberikan air untuk Quin, namun Quin sengaja menyenggol air itu hingga tumpah ke bajunya.


Quin mengambil tisu dan mencoba membersihkan tumpahan air tersebut.


" Maaf, Quin ceroboh." Dalam hati, Quin sudah mengeringai licik.


"Permisi, Quin ketoilet sebentar.." Pamit Quin.


Papa Arka sudah memberi kode kepada Veer untuk menyusul Quin. Veer pun berdiri.


" Maaf, Biar saya saja yang menyusul Qila, emm.. Maksud saya Quin.."


Veer pun mempersilahkan Abi untuk menyusul Quin.


Di dalam kamar mandi yang sudah di jaga ketat oleh para pengawal, Quin merutuki kebodohannya, seharusnya Quin mencari tau tentang latar belakang Abi. Kenapa Quin bisa seceroboh ini.


" Sial..sial..sial... Kenapa Bisa sial banget sih Gue.. Aakhh...." Quin mengacak rambutnya.


Braak..


Quin terlonjak kaget saat pintu di buka paksa, dan menampilkan Abi.


" Kamuu.."


Quin sudah tidak peduli dengan penampilannya saat ini, yang mana rambutnya kusut karena hasil perbuatannya sendiri.


" Kamu... Ini semua salah kamu. Seharusnya kamu bilang kalo restoran itu milik Kakek kamu. Jadi aku bisa membatalkan kesepakatan kita kemarin.. Ini semua salah kamu.. Salah kamu.."


Quin memukul dada bidang Abi dengan kuat. Hingga membuat Abi meringis.


" Qila, dengarkan saya.." Abi menahan kedua tangan Quin.


" Dengar? Karena aku mendengarkan permintaan bodoh kamu, maka aku harus terjebak dalam hubungan yang harus aku hindari. Lepaas..."


Quin yang terus memberontak membuat Abi kesal, hingga akhirnya Abi mengunci tangan Quin di belakang tubuhnya.


" Dengarkan aku.."


Suara Abi yang terdengar dingin membuat Quin menghentikan pemberintakannya dan menutup mulutnya rapat-rapat.


" Dengar, Kita tetap melanjutkan sandiwara ini, tapi.."


" Aku tidak mau.."


" Dengaaar kan aku, dan jangan potong ucapanku "


Quin kembali bungkam.


" Kita lanjutkan sandiwara ini, tapi setelah satu bulan, kita akan membuat pertengkaran hebat yang mana tidak ada jalan bagi kita untuk bersama. Gimana?" Abi melepaskan tangan Quin perlahan.


Quin berfikir sejenak, sebenarnya apa yang di katakan oleh Abi ada benarnya, tapi? apa kali ini rencana mereka akan berjalan lancar?


" Kamu setuju? "


" Baiklah, tapi apa kamu yakin jika rencana kita kali ini akan berhasil?"


" Aku yakin, intinya kita tunjukkan kepada kakek apa yang tidak mereka sukai, maka kakek pasti ilfill dengan kita, dan membatalkan perjodohan ini, gimana?." Abi menaik turunkan alisnya.


" Baiklah, tidak ada salahnya di coba, dan semoga rencana kali ini berhasil."


" Good, kamu memang partner yang terbaik."

__ADS_1


Quin berbalin kearah kaca, dan merapikan rambutnya. Rambut lembutnya yang selalu terawat tidak sulit untuk di rapikan, hingga tampilan Quin kembali mempesona.


" Cari apa?" Tanya Abi yang ternyata masih setia menunggu Quin selesai di dalam kamar mandi.


" Masker ku."


" Masker? Apa harus memakai masker? Hanya pengawalmu yang ada di luar."


" Tidak semua dari mereka mengetahui wajah ku."


Quin mendesah kesal saat melihat masker yang di pakainya terjatuh di lantai.


" Shit.."


Abi mengeluarkan sapu tangannya, membentukknya menjadi segitiga.


" Mau apa kamu?" Quin terkesiap saat Abi mengulurkan sapu tangan itu. Namun detik selanjutnya Quin mengerti, bahwa Abi sedang membantunya untuk menutup wajahnya.


Abi membuat simpul di belakang kepala Quin, hingga wajah mereka sangatlah dekat. Quin memandang kearah lain karena merasa risih dengan jarak mereka, sedangkan Abi tergoda dengan aroma rambut Quin yang sangat menyegarkan. Hingga tanpa sadar Abi mencium rambut Quin.


" Apa sudah selesai?"


Abi terkesiap dan menjauh kan wajahnya.


" Sudah.."


Quin melenggang melewati dan keluar dari toilet.


" Apa kau sudah gila Abi. Hanya wangi rambutnya kau sudah terhipnotis? Ingat, Kau sudah janji dengan Anita untuk menunggunya sampai kapanpun." Batin Abi berbicara.


Abi menghela napas, dan mengikuti Quin dari belakang.


Abi dan Quin masuk secara berbarengan, sehingga membuat senyum Papa Arka, Mama Kesya, Kakek Farel, dan Kakek Andreas mengembang.


" Veer mana?" Quin membuka penutup wajahnya yang terbuat dari sapubtangan Abi itu.


" Tadi si Mbok bilang jika cucunya panas tinggi, jadi si mbok minta izin pulang. Mama khawatir dengan Nafi di rumah, jadi Mama menyuruh Veer untuk pulang."


Quin pun ber-O ria. Lalu Quin teringat jika dirinya lupa mengatakan untuk mengurung Empus, sudah di pastikan jika Empus akan berkeliaran di dalam rumah. Quin pun tersenyum miring.


" Kenapa Quin?"


" Hah? Enggak kenapa-napa kok Ma " Dalam hati Quin berdoa, Agar Empus bisa membuat mereka semakin dekat, dekat, dan dekat.


.


.


Dirumah kediaman Arka, Nafi sedang sibuk membuat rancangan bangunan di pulau Senja.


Kruuuukk..


" Hmm, Laper deh.." Nafi memandang kearah jam dinding, sudah pukul 10 malam, namun Penghuni rumah ini belum ada yang pulang, kecuali Shaka, dan itu pun dia berada di dalam kamarnya.


" Apa ada makanan yaa? Mudah-mudahan aja ada roti, buat ganjel perut."


Nafi pun turun dan menuju dapur. Nafi mencari roti, tapi yang ada hanya selai nya. Nafi membuka kulkas dan tidak menemukan buah-buah. Nafi pun membuka lemari dibagikan atas kitchen set, dan senyum Nafi pun mengembang.


" Gimana cara masaknya yaa?" Nafi membolaj balik bungkus Mie insan, berharap ada petunjuk di sana, senyum Nafi kembali mengembang saat mendapati petunjuk tersebut.


" Ngaaauung.."


Mata Nafi melotot, dan mendapati Empus berada di dekatnya.


" Aaaaaaa ..... "


Nafi langsung berlari menjauh, namun Empus malah mengikutinya, Nafi akhirnya memanjat kursi dan naik keatas meja makan.


" Jangan mendekat ." Ancam Nafi kepada Empus yang sudah meletakkan kaki depannya di atas meja.


Empus hanya memandang Nafi sendu, padahal kan Empus cuma minta di belai dengan Nafi. Menandakan jika Empus sayang Nafi.


" Pergi.. Sana.. Huuss... Huuss..."


Nafi mencoba mengusir Empus, namun Empus malah berdiam diri di bawah meja sambil menatap Nafi sendu.


" Hikss.. Aku mohon, pergi laah.. hiikkss.."


" Naf.."


Suara bariton itu menyelamatkan Nafi..


" Veer, aku di sini.. Tolong aku ." Teriak Nafi..


Veer langsung bergegas menuju dapur, dan mendapati Nafi di atas meja sambil memeluk mie instan, sedangkan di bawah ada Empus yang memandangnya.


" Empuss.."


Empus menoleh, dan langsung merebahkan kepalanya di atas kaki depannya.


" Naf, kamu baik-baik aja?"


" Aku baik, tapi singa itu membuat ku takut."


" Nama nya Empus."


" Yaa, itu laah.. terserah.. yang penting dia singa." Nafi sudah bergetar diatas meja.


" Ayoo turun.." Veer membantu Nafi untuk turun, Namun karena tubuh Nafi yang sudah lemas, membuat Nafi tidak bisa menopang tubuhnya sendiri hingga terjatuh kedalam pelukan Veer.


" Maaf.." Cicit Nafi..

__ADS_1


Veer merelaikan pelukan mereka. " Apa yang kamu lakukan di dapur?"


" Aku lapar.." Nafi mendudukkan kepalanya.


" Jika kamu lapar, seharusnya kamu menghidangkan makanan di atas meja, bukannya malah naik keatas ya.." Veer terkekeh, membuat ketampanannya bertambah.


Nafi terpesona dengan pemandangannya itu, namun cepat dia merubah ekspresinya saat Veer menatapnya kembali.


" Itu.. sing.. Empus.. Dia mengejutkan ku.."


" Hmm, sebaiknya kalian memang harus berteman."


" Berteman? Tidaak.."


" Aku akan menemanimu.."


" Tidak Veer.."


" Ayoo lah.."


Veer meraih tangan Nafi dan memeluk pinggangnya. Nafi tentu saja gugup, tapi bukan karena Empus, melainkan aroma maskulin dari tubuh Veer yang memasuki indera penciumannya.


Veer memegang tangan Nafi untuk menyentuh bulu empuss..Seketika Nafi menarik tangannya.


" Veer, geli.." Nafi menatap Veer dengan sendu.


Veer menangkup wajah Nafi. " Aku di sini, kamu percaya sama aku kan?"


Veer sudah berbicara dengan dokter spesialis, dan trauma Nafi masih terbilang rendah untuk menyentuh bulu binatang.


Nafi menganggukkan kepalanya, seolah tersihir oleh tatapan Veer. Nafi sudah tak sadar saat tangannya di bawa kembali oleh Veer untuk menyentuh Empus. Mata Nafi masi menatao mata Veer.


" Apa yang kamu rasakan?"


" Geli?"


" Selain itu?"


" Ini sangat lembut."


" Coba kamu belai?"


" Ini geli, namun sangat lembut sekali."


" Kamu menyukai nya?"


" Heum, ini lembut.. Seperti sutra.. Sangat lembut.."


" Aku akan melepas tangan ku, teruslah membelainya."


" Veer, kamu tidak akan tinggalkan aku kan?"


" Tidak akan."


Nafi tersenyum, berharap Veer benar-benar tidak akan meninggalkannya selama nya. Nafi, sudah kembali jatuh cinta kepada pesona Veer.


" Cobalah melihat kearah Empus."


Perlahan kepala Nafi menoleh kearah Empus yang sudah terlelap oleh belaian tangannya.


" Veer.." Nafi menarik tangannya.


" Ayolah, kamu bisa.." Bisik Veer yang mana mengantarkan gelenyar aneh ke tubuh Nafi.


" Veer, dia tidak akan menggigit kan?"


" Tidak akan." Veer masih memandang wajah Nafi yang tersenyum tipis sambil menatap kearah Empus, dan terus membelai Empus walaupun masih ragu.


" Tidak buruk.."


" Iyaa, ini tidak seburuk yang aku kira Veer. Terima kasih.."


Nafi tidak mengerti apa tujuan Veer mengatakan itu, yang pasti mereka memiliki pemikiran sendiri, dan Berperang dengan pemikiran mereka.


Kruukk..


" Kamu lapar?"


Nafi mengangguk dengan wajah yang memerah.


" Ayoo, aku masakin untuk kamu.."


" Kamu serius?"


" Tentu."


Veer membuka jasnya, dan meletakkanya di sandaran kursi. Veer membuka kancing lengan bajunya, dan menggulungnya hingga siku, sehingga menampikkan kesan seksi di mata Nafi. ( Termasuk aku yaa..😁).


Nafi memperhatikan cara Veer memasak. Sungguh sangat lincah, bahkan Nafinmerasa malu karena dirinya sampai sekarang masih belum bisa mengiris bawang tipis-tipis.


Dalam bayangan Nafi, Jika mereka saling mencintai, mungkin Nafi akan memeluk tubuh Veer dari belakang, dan menghirup aroma tubuh Veer. Tapi sayangnya pernikahan ini hanya sementara. Bolehkah Nafi berharap lebih?


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.

__ADS_1


__ADS_2