KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 42


__ADS_3

" Quin.." Tegur Mami Mega yang malam ini ikut menginap di rumah sakit.


" Hah? Ya Mami?"


" Quin lamunin apa?"


" Eng.. gak kok, gak papa." Quin memberikan senyumannya, namun siapapun yang mengenal Quin, akan tahu jika senyuman itu hanya kamuflase.


Abi sedari tadi memperhatikan Quin. Sejak bertemu dengan pria yang bernama Jamal, Quin seakan menjadi orang yang pendiam, bahkan Quin terlihat banyak melamun. Sebenarnya siapa Jamal?


" Quin, kami dengar Papa kan?"


Quin masih tidak menyahut ucapan Papa Arka. Pandangan Quin kosong menatap lantai.


" Quin..." Panggil Papa Arka lagi.


Anggel sudah menoleh kerah Quin.


" Quiinn." Anggel menyentuh bahu Quin. Quin menoleh.


" Hikkss... dia di sini An, dia di sini.. hikss." Lirih, sangat lirih Quin berkata. Papa Arka sampai mengerutkan keningnya, mencoba mendengar apa yang Quin katakan.


Anggel langsung memeluk Quin, dan menenangkannya.


" Hiikss... An, hikkss.. Aku harus apa?"


" Tenang Quin, ada kami di sini. Lagi pula kamu sudah ada Abi kan."


Quin semakin menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Anggel.


" Quin tertidur?" Tanya Papa Arka kepada Anggel.


" Iya Om, "


" Ada Apa An? apa yang terjadi kepada Quin?"


Anggel terdiam, telihat berfikir. Anggel juga tidak tahu harus berkata apa. Anggel juga tidak tau di mana Quin bertemu dengan dua manusia munafik itu.


" An juga gak tau Om, sepertinya Quin bertemu dengan orang yang selama ini paling di hindari nya."


Arka mengeraskan rahangnya, Arka tau siapa yang di maksud oleh Anggel. Arka meraih ponselnya, dan membuat panggilan kepada seseorang.


" Cari tau tentang si brengsek itu." Arka memutuskan panggilannya secara sepihak.


Abi yang melihat itu, merasa ada sesuatu yang terjadi kepada Quin.


.


.


" Selamat pagi, sayang."


Setangkai bunga mawar berada tepat di hadapan wanita cantik yang tengah fokus membaca bukunya.


" Jamaal.." Wanita itu tersenyum lebar melihat sang kekasih.


" Serius amat? Sampai kehadiran ku kamu tidak menyadarinya."


" Aku nanti ujian Ja, jadi hanya menghafal beberapa poin penting aja."


" Iyaa sayang ku. " Jamal mengelus rambut panjang Quin.


Wanita yang dipanggil oleh Jamal dengan sebutan sayang adalah Quin.


" Waah, romatis-romantisan gak lihat tempat." Arumi, gadis cantik dan juga anak dari seorang konglomerat. Bersahabat dengan Quin dan Jamal.


Arumi bersahabat dengan Quin sejak mereka duduk di bangku SMP. Arumi Yang sederhana, merasa cocok berteman dengan Quin yang Arumi tau berasal dari keluarga sederhana. Persahabatan mereka bertahan hingga mereka duduk di bangku kuliah. Bahkan mereka mengambil jurusan yang sama, kedokteran.


" Siapa yang lagi romantis-romantisan sih.." Wajah Quin merona.


" Duuh, malu dia.."


Mereka pun bercengkrama bertiga. Arumi sebenarnya juga memiliki kekasih, namun kekasih Arumi berada di luar negri, mengambil pendidikan di sana.


" Qila, tutup deh matanya." pinta Jamal


Quin pun menutup matanya, " Ja, lama banget sih?"


" Sabar sayang.."


Entah apa yang Jamal kerjakan, " Oke, sekarnag buka."

__ADS_1


Quin membuka matanya.


" Taraa.."


Quin menutup mulutnya. " Ja, ini !!!"


" Kamu suka?"


" Hmmm, ini lucu banget Ja."


Quin memegang Hamster yang di berikan oleh Jamal.


" Tunggu-tunggu, aku fotoin kalian. Senyumm... Satu..duaa..tigaa.."


Ceklek...


Quin membuka matanya, merasakan air hangat yang mengalir dari matanya.


" Ya Allah, Astaghfirullah." Quin mengusap wajahnya kasar.


" Quin, kamu udah bangun?" Quin menengadah, melihat Tante Mega dan Oma Laura yang baru saja masuk kedalam kamar. Tempat istirahat sambil menunggu Kakek.


" Papa mana Oma, "


" Papa udah pulang."


" Anggel?"


" Anggel di luar, bersama Abi dan Lana"


Quin menghela napasnya pelan. Quin mengambil tas dan ponselnya. Quin melirik kearah jam Yang ada di ponselnya.


" Oma, Tante. Quin pulang ya.."


" Sama siapa?"


" Abi "


" Iyaa, kamu hati-hati yaa.."


" Iya Tante, Oma." Quin pun mencium punggung tangan Oma Laura dan Tante Mega.


" Abi.." panggil Quin saat sudah berada di luar dan melihat Abi bercengkrama bersama Anggel dan Lana.


" Aku baik Lana, kamu sama siapa ke sini?"


" Sendiri."


Quin menganggukkan kepalanya.


" Ada apa Quin?" Suara Abi mengambil perhatian Lana dan Quin.


" Aku mau pulang."


" Aku antar." Ucap Lana cepat.


" Kamu temeni Anggel menginap di rumah sakit ya. Kak Zein tadi pagi berangkat ke Bali. Lucas dinas malam. Jadi jika ada apa-apa, tinggal panggil Lucas."


" Kamu?"


" Ada Abi, aku akan pulang sama Abi. Kamu mau kan antar aku?" Tanya Quin yang beralih menatap Abi.


" Tentu."


Quin tersenyum, senyuman yang terlihat lemah.


Anggel menyentuh kening Quin.


" Aku gak papa An, hanya kelelahan."


" Hah, jangan difikirkin ya.." Anggel khawatir dengan keadaan Quin.


" Iyaa, "


Quin pun berpamitan dan melangkahkan kakinya duluan. Abi mengikuti Quin dari belakang.


" Kamu gak mau cek up dulu?" Tanya Abi yang udah menyamakan langkahnya dengan Quin.


" Aku gak papa Bi, hanya kelelahan. Kamu tau sendiri aku tadi memahnya gimana."


" Iyaa..."

__ADS_1


Abi membukakan pintu untuk Quin, Quin pun masuk dan langsung menutup kembali matanya. Tubuhnya sangat lemas, Tapi Quin tidak ingin membuat semuanya khawatir.


Abi melirik kearah Quin yang sudah menutup matanya. Quin belum memasang seatbell nya.


Abi pun mencondongkan tubuhnya untuk memasang seatbel.


" kamu mau apa?" Tanya Quin yang membuka matanya.


" A-Aku cuma mau pasang ini." Abi langsung menarik seatbell dan mengaitkannya.


Klik..


" Kan bisa bilang aja."


" Aku fikir kamu tidur seperti tadi."


Quin hanya ber Ooo ria...


.


.


Di apartemen, Nafi dan Veer sedang memasak bersama, layaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta. Nafi hanya membantu Quin mengupas bawang dan timun. Intinya Nafi hanya membantu merajang, tapi itu juga dengan bantuan Veer, karena Nafi memotong wortel nya terlalu tebal, seperti saat ini.


" Gini Naf.." Veer menyentuh tangan Nafi, dan menunjukkan cara mengiris wortel.


Jantung Nafi sudah dag Dig dug karena Veer mengurung tubuhnya. Katakanlah Veer seakan memeluk tubuh Nafi dari belakang.


" Kamu mengerti, Naf?"


Nafi menolehkan wajahnya kearah Veer, dan Veer menatapnya. Mata mereka bertemu, dan perlahan wajah Veer mendekat, serta Veer mengunci tangan Nafi, memegangtangan Nafi, dan membawanya keperut Nafi.


Veer mencium bibir Nafi, Nafi pun menutup matanya perlahan, merasakan setiap cecapan dari bibir Veer.


'Naf, apa kau waras? Dia hanya mengambil kesempatan, dia hanya memanfaatkan mu Naf. Kau akan jatuh terlalu dalam untuk mencintainya, sedangkan dia? Ayo Naf, kemana fikiranmu?'


Nafi membuka matanya dan menolehkan kepalanya ke depan, membuat tautan ciuman mereka terlepas.


Napas Nafi memburu, amarah, kecewa, bahagia, dan juga sedih bercampur menjadi satu.


" Apa yang kamu lakukan Veer." Nafi bertanya dengan menahan air matanya yang ingin tumpah.


" Kamu melanggar perjanjian kita nomor 3, kamu anggap apa aku Veer?"


" Kamu istri ku Naf, dan aku mencintaimu."


Nafi menoleh, dia sertai dengan air matanya yang jatuh. Veer membalikkan tubuh Nafi, menjadikan posisi mereka saling berhadapan. Veer menghapus air mata Nafi, dan mengecuo kedua mata Nafi yang tertutup saat merasakan sentuhan tangan Veer yang menghapus air matanya.


" Aku tau, mungkin ini terlali cepat. Aku mulai tertarik kepada mu, aku tau ini bukan perasaan biasa, dan aku yakin, jika aku mulai mencintai mu. Aku mencintai mu Naf. Izinkan aku untuk membahagiakanmu."


Veer menangkup wajah Nafi. Air mata Nafi kembali terjatuh.


" Kamu pasti bohong Veer, hikks..."


" Aku berani sumpah, jika aku mulai jatuh cinta kepadamu. "


" Veer, aku__."


" Naf, maukah kamu memulai semuanya ini dari awal bersamaku? Menjalin hubungan yang sebenarnya atas nama cinta.?"


Veer menatap kedalam mata Nafi, Perlahan Nafi menganggukkan kepalanya dan tersneyum, walaupun air mata kembali jatuh ke pipi mulus Nafi.


Veer tersenyum lebar.


" Terima kasih, aku janji akan membuat kamu bahagia, Naf. Aku mencintai mu. I Love You.."


" I love you tohmmpp"


Veer langsung membungkam bibir Nafi dengan ciumannya. Veer melepaskan ciumannya, dan memberika jeda untuk Nafi menghirup udara.


Perlahan, Veer kembali mendekatkan wajahnya, dan kali ini bibir Veer di sambut hangat oleh Nafi. Bibir mereka saling bertautan, dan mencepcap satu sama lainnya.


Veer menaikkan tubuh Nafi dan mendudukkan nya di atas meja, tanpa melepas pagutan bibir mereka.


Haaahh.. ada yang sedang jatuh cinta, dan ada juga yang tengah kecewa. Begini lah hidup..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2