
Kesya memeluk tubuh sang suami yang peluh dengan keringat, setelah tiga bulan pasca operasi, akhirnya mereka melakukan kembali ritual suami istri.
" Sayang, Menurutmu Ando itu bagaimana?" Tanya Kesya sambil memainkan bulu halus di dada Arka secara abstrak.
" Ando? Dia pria yang baik, tetapi misterius"
Kesya menengadahkan wajahnya " Misterius?"
"Hmm" Arka hanya menjawabnya dengan bergumam. Terlalu lelah untuk menjawabnya dengan panjang. Karena napasnya yang masih belum teratur.
Kesya tidak melanjutkan lagi pertanyaannya. Karena melihat sang suami sudah memejamkan matanya. Tangan Kesya masih tetap memainkan dada Arka yang dipenuhi bulu halus secara abstrak.
" Sayang, apa kau tidak lelah? Kita sudah tiga ronde malam ini" Ujar Arka yang mana tangannya sudah mulai bermain di punggung telanjang Kesya.
" Aku lelah, aku akan tidur" Ujar Kesya cepat dan langsung menarik selimut hingga menutup wajahnya. Jika Kesya meneruskan memainkan jarinya, bisa di pastikan mereka akan bermain di ronde ke empat. Dan Kesya sudah sangat lelah karena permainan Arka yang semakin liar.
Untung saja Kesya bisa mengimbanginya berkat film dewasa yang di tonton nya dengan mbak nya. Kata Mbak Vina, biar suami makin lengket dan semakin hot.
Arka hanya terkekeh melihat tingkah sang istri yang sangat menggemaskan.
Di sisi lain, Mili merasa perutnya sakit dan terbangun di tengah nyenyaknya tidur. Mili berusaha mengatur napasnya untuk meredakan rasa sakit dari pergerakan sang bayi yang sangat aktif.
Mili berusaha turun secara perlahan dari tempat tidur agar tidak membangunkan Gilang yang terlihat letih, karena ingin menyesuaikan pekerjaannya secepat mungkin, agar saat mendekati HPL, Gilang bisa menemani sang istri setiap saat.
Mili mengelus perutnya, sambil berjalan pelan keluar kamar. Akan tetapi tiba-tiba saja Mili merasa jika dirinya sudah melayang.
" Ammppp" Mili memejamkan matanya dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Gilang.
Gilang terkekeh, Mili membuka matanya dan memukul dada bidang Gilang.
" Turunin Mas, aku berat loh"
Bukannya menjawab, Gilang malah balik bertanya. " Mau ke dapur?"
Mili mengaggukkan kepalanya. Dengan perlahan Gilang membawa Mili yang berada di gendongannya ala bridal style. Mili menatap wajah sang suami. Selintas ada rasa bersalah di hatinya karena pertemuannyan dengan Fadil saat acara tujuh bulanan.
Flashback On
" Mas, kamu ngapain di situ?" Ujar Mili saat berjalan ke dapur.
Mili terkejut saat yang di lihatnya adalah Fadil, bukan Gilang.
" Kak Fadil, aku kira tadi Mas Gilang" Ujar Mili dan ingin berbalik, tapi Fadil menahan lengan Mili, dan dalam detik selanjutnya Mili berada di dalam pelukan Fadil.
" Maafin aku Mil, yang terlambat menyadari jika aku juga mencintai kamu. Maafin aku"
__ADS_1
Mili sempat tertegun, tetapi detik selanjutnya Mili kembali berontak untuk terlepas dari pelukan Fadil. Fadil melepaskan pelukannya saat mendengar suara Kesya yang memanggil Mili.
Mili menatap musuh kepada Fadil, dan meninggalkannya. Tanpa Mili dan Fadil sadari, ada Puput yang melihat semuanya.
FLASHBACK OFF
Gilang menurunkan Mili dan mendudukkan nya di sofa, Gilang berjalan dan mengambil segelas air hangat untuk Mili. Mili menatap punggung Gilang dengan perasaan bersalah.
"Maafin aku mas" lirih Mili.
Gilang kembali dengan membawa segelas air, dan menyerahkannya kepada Mili. Mili menerima dan menghabiskan setengah gelas. Di tatapnya wajah Gilang yang tengah mengelus perutnya dan mengecup perut buncitnya. Mili meletakkan gelas di atas meja samping sofa.
"Mas" Panggil Mili sambil mengelus rambut pirang Gilang.
"Hmm"
" Emm, jika aku memiliki rahasia, dan rahasia itu akan menyakiti mu, apa kamu akan memaafkan aku?"
Gilang sempat terdiam, lalu dia kembali mengecup perut Mili, kemudian duduk di samping Mili dan meraih wajah tembam milik Mili.
" Aku akan memaafkannya, asalkan kamu tetap mencintai aku dan selalu bersama ku, bertahan hidup dengan ku hingga maut yang memisahkan kita" Ujar Gilang dan mengecup kening Mili.
Tanpa Mili sadari air matanya mengalir, dan Mili langsung memeluk tubuh suaminya yang terlihat kurus karena kurang istirahat.
separuh jiwaku: Mas, aku otw kantor, bawa makan siang.
Setelah membalas pesan sang istri, Arka kembali larut dalam pekerjaannya yang harus di selesaikan dalam 3 hari ini.
Kesya melangkahkan kakinya di lobinkantor Arka. Semua karyawan Arka yang melihat Kesya langsung menunduk dan memberikan salam. Kesya tersenyum menanggapi semuanya. Lalu Kesya menghentikan langkahnya saat melihat Puput keluar sambil menangis dari sebuah ruangan dan berlari kearah belakang. Kesya tahu, jika di sana ada sebuah taman. Kesya memutar langkahnya dan mengikuti arah Puput berlari, tapi Kesya kembali dikejutkan dengan kehadiran Fadil yang berlari dari tangga darurat, 'Ahh, ternyata puput keluar dari ruangan tangga darurat.'
Rasa kepo Kesya menjadi saat mengingat penampilan Puput yang sedikit berantakan dan berlari sambil menangis. Begitupun dengan Fadil yang rambutnya sudah acak-acakan.
Perlahan tapi pasti Kesya mencari keberadaan mereka di taman belakang kantor yang memang jarang di datangi orang, karena karyawan kantor Arka lebih sering menjernihkan pikiran di taman samping yang terdapat kantinnya.
"Lo brengsek ya, Lo kira gue murahan yang bisa seenaknya Lo mainin?, dasar bajingan, bedebah" Pekik Puput.
Kesya bersembunyi di sebuah pilar bangunan, dan mendenguping percakapan mereka. Rasa penasaran Kesya kembali timbul, memang benar jika ada yang tidak beres dengan hubungan Fadil dan Puput.
" Put, gue tau gue salah, tapi gue juga cinta sama Lo"
"Cinta? Rain kucing sama cinta yang Lo ucap. Lo bilang Lo cinta smaa gue, tapi dari dasar hati Lo, kalo Lo berharap Mili masih mencintai Lo dan menikah dengan Lo"
Kesya membelalakkan matanya dan menutup mulutnya.
" Put, kasih gue waktu buat menata hati gue"
__ADS_1
"Bullshit, mending Lo lepasin gue sekarang. Dan mulia saat ini, gue berhenti jadi sekretaris Lo" Ujar Puput dan melangkah pergi.
Tapi Fadil menahannya dan langsung mencium bibir Puput dengan kasar. Puput berusaha melepaskan ciumannya, tetapi kekuatan Fadil lebih kuat darinya, hingga Puput meraih rambut Fadil dan menariknya kuat hingga ciuman mereka terlepas dan Fadil meringis kesakitan. Puput ingin melangkah pergi, tapi lagi-lagi Fadil menahan lengan Puput.
" Dengerin gue dulu, Kasih gue waktu buat menata hati gue untuk Lo"
Suara dering ponsel mengalihkan pandangan mereka berdua, dan menemukan satu sosok cewek cantik yang berdiri dibelakang pilar bangunan. Yang mana mereka langsung menebak jika sang wanita cantik yang berstatus istri bos besar itu sudha mendengar semua percakapan mereka.
Kesya memegang ponselnya dan juga melihat kearah kedua insan yang tengah berantam itu. Kesya menghembuskan napas kasar, dan mengangkat panggilan dari ponselnya yang tak lain adalah sang suami tercinta, si pemilik belahan jiwanya.
" Assalamualaikum Mas"
"...."
" Iya, aku udah di kantor, tapi ketemu Puput di lobi. Jadi aku berbincang dengannya sebentar."
"......"
" Baiklah, aku akan segera ke sana"
Kesya menutup teleponnya setelah mengucapkan salam. Kesya berjalan kearah Puput dan Fadil.
" Maaf, aku tidak sengaja melihat Puput keluar dari tangga darurat sambil menangis, karena itu aku mengikutinya. Dan maaf karena sudah mendengar percakapan kalian"
Tanpa aba-aba Puput langsung memeluk Kesya. " Bawa gue pergi dari sini" Bisik Puput.
Kesya membalas pelukan Puput dan mengelus punggungnya, matanya menatap Fadil dengan tatapan tidak bersahabat. Sebenarnya saat tujuh bulanan Mili, bukan hanya Puput yang melihat kejadian saat Fadil memeluk Mili, tetapi Kesya juga sudah melihatnya. Bedanya Kesya sudah tau jalan cerita tentang kisah cinta Mili untuk Fadil yang katanya hanya bertepuk sebelah tangan. Adik iparnya itu sudah menceritakannya kepada Kesya sebelum menyatakan perasaannya kepada Gilang. Saat ini cinta Mili memang benar hanya untuk Gilang, dan Fadil hanya masa lalunya, tetapi kenapa pria itu seakan tidak rela melepas Miki, tetapi juga tidak ingin melepas Puput?.
Kesya perlahan melonggarkan pelukannya, menghapus air mata Puput, dan menariknya pergi dari taman itu. menyisakan Fadil dengan kessndiriannya. Kesya menyuruh Duda untuk mengantarkan Puput pulang.
Kesya kembali masuk kedalam kantor, dan saat di lift, Kesya bertemu kembali dengan Fadil yang juga sedang menunggu pintu lift terbuka.
Ting..
Kesya masuk kedalam lift, dan di susul oleh Fadil. Hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut, karena lift itu khusus untuk pejabat tinggi seperti Arka dan Fadil. Kesya berdiri di depan Fadil yang saat ini sedang bersandar di besi kotak itu. Tak ada yang membuka suara untuk saling menyapa, Kesya hanya menatap angka yang terus naik kelantai atas di mana sang suami berada, tetapi saat ini Kesya merasa jika lift itu sangat lambat. Hingga Kesya di kejutkan dengan suara Fadil.
" Gue hanya menganggap Mili adik gue, saat itu hati gue masih milik Renata. Gue udah tau dari awal jika Mili suka dengan gue, jauh sebelum Arka memperingatkan gue untuk tidak mempermainkan perasaan Mili. Gue juga gak tau kapan perasaan itu muncul, saat Renata ninggalin gue, Mili dengan setia berada di samping gue. Dan gue masih menganggapnya sebagai adik, gue gak tau kapan perasaan itu muncul, dan kapan semua itu di mulai. Gue mendengar jika Mili berlibur ke Korea, gue juga pergi kesana, awalnya hanya untuk menemaninya berlibur. Hingga Mili menyatakan cintanya, dan gue masih menganggapnya sebagai adik. Tapi perasaan itu terasa nyata saat gue dengar jika Mili akan menikah dengan Gilang, ada rasa tidak iklas untuk kehilangan Mili, tetapi di sisi lain, gue juga tidak ingin kehilangan Puput. Gue udah jatuh cinta sama Puput"
Ting..
pintu lift pun perkahan terbuka.
" Lupakan Mili, karena dia bukan milik kamu lagi. Dan jauhi Puput, jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia."
Setelah mengatakan itu, Kesya berjalan keluar dan menuju ruangan sang suami tercinta.
__ADS_1