
" Apa? Kawin? kita? Gak. Aku gak Sudi kawin sama Anda." Nafi melipat kedua tangannya di atas dada.
" Anda fikir saya Sudi kawin sama cewek sombong dan angkuh seperti anda?" Veer tidak terima dirinya di tolak secara kasar. Selama ini, jika ada perempuan yang menyatakan cintanya kepada Veer, maka Veer akan menolaknya secara halus, dan tetap ramah kepada perempuan tersebut.
" Kenapa gak Anda biarin saya tenggelam? Seharusnya anda tidak perlu menyelamatkan saya."
" Yaa, karena saya masih punya hati, makanya saya menyelamatkan Anda, Nona Nafi yang tidak tau berterima kasih."
" Lebih baik saya mati dari pada harus kawin sama Anda."
" Silahkan, jika kamu tidak memikirkan perasaan orang tua kamu. lagipula, jika Anda tidak ingin menikah, silahkan Anda kembali kedalam lautan yang airnya dingin itu. Kalo aku ogah"
Nafi menatap Veer tajam. Tapi, apa yang di katakan Veer benar. Bagaimana perasaan kedua orang tuanya jika dirinya tiada, pasti sangat sedih sekali. Nafi sendiri tidak bisa membayangkan betapa terpukulnya kedua orang tuanya, terlebih kakeknya. Dan untuk kembali kedalam lautan? Oh tidak, tadi saja Nafi sudah sangat tersiksa karena kelelep air. Rasa perih di tenggorokan dan hidungnya yang kemasukan air masih terasa sampai saat ini, membuat dirinya terserang flu.
" Nona, Tuan, Kalian sudah di tunggu oleh Kepala Adat." Tata memanggil Nafi dan Veer.
Acara perkawinan pun di mulai, Kepala adat memanggil penghulu dari kota B, untuk menikahkan Veer dan Nafi.
" Apa tidak ada cara lain, selain menikah?" Tanya Nafi kepada Kepala suku.
" Seperti yang ada di agama kalian, Setiap perempuan dan laki-laki berduaan, apalagi tidak mengenakan pakaian, maka dipastikan yang ketiga adalah setan. Kami tidak ingin ada keturunan yang lahir tanpa ayah."
" Tapi, kami tidak melakukan apa pun. Bukankah Tuan Veer sudah menjelaskannya tadi?"
" Tidak ada yang tahu apa yang di lakukan oleh pria bernama Tuan Veer ini, selain para arwah leluhur dan Tuhan kalian."
" Baiklah, bagaimana jika saya terbukti tidak hamil, apa kami bisa berpisah?"
" Kalian bisa berpisah setelah menjalani pernikahan selama 6 bulan. Karena setiap enam bulan sekali, kami penduduk gapura selalu melakukan ritual untuk para leluhur kami. Dan, jika kalian ingin berpisah, kalian harus berpisah di sini, agar di saksikan oleh para leluhur kami."
" Enam bulan? baiklah, itu bukan waktu yang lama. lagian kita tidak akan tinggal bersama." Nafi meyakinkan dirinya jika dia tidak akan jatuh kedalam pesona Veer. Apalagi mereka tidak akan tinggal bersama. Yaa, pernikahan hanya sebuah status. Bukannya itu yang sering terjadi di kalangan mereka.
" Maaf Nona, Anda tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan. Kalian harus tetap tinggal bersama, dalam satu atap. Jika tidak, kalian akan terkena musibah."
" Apa? lalu? Apa kami harus tinggal bersama?"
" Ya, tentu saja. Kalian harus tinggal bersama untuk menghargai ikatan perkawinan ini."
Veer dan Nafi menghela napasnya kasar secara bersamaan, lalu mereka saling memandang dengan tatapan penuh kebencian, terutama tatapan dari Nafi.
Kepala adat sudah mempersiapkan acara pernikahan Veer dan Nafi yang di selenggarakan secara adat Suku Gapura.
" Dengar, saya rasa kita harus meluruskan ini. Kita menikah bukan karena saling cinta, dan itu tidak akan pernah terjadi. Karena saya tidak Sudi jatuh cinta dengan playboy seperti anda. Dan satu hal lagi, Sesampainya di Kota B, kita harus membuat surat perjanjian."
" Baiklah, yang penting itu tidak merugikan siapapun. Lagi pula, saya juga tidak tertarik dengan cewek jutek dan sombong seperti anda."
" Bagus kalo begitu. "
Dengan lantang, Veer mengucapkan janji suci pernikahan. Dengan Penghulu sebagai wali nikah Nafi, dan yang menjadi saksi yaitu Dedi dan Lalojo.
Dalam sekali tarikan Napas, Veer mengucapkan Ijab Qabul dengan sempurna, dan di sambut kata Sah oleh Dedi dan Lalojo. Dan mulai detik itu juga, Nafi telah sah menjadi istri dari Safeer Arkana Mahaputra Moza. Veer memetik batang rumput dan merangkainya menjadi dua buah cincin. Satu di sematkan di jari Nafi, dan satu lagi untuk di sematkan di jarinya.
Kepala suku menjelaskan, bahwa setiap pengantin baru yang dinikahkan secara paksa, seperti Nafi dan Veer, harus menginap di satu tenda yang sudah disediakan, dan mereka harus berbagi alas tidur beserta bantal dan selimut.
" Yang benar saja, apa kita juga harus mengikuti adat di sini?" Gerutu Nafi.
" Sudahlah, aku lelah, dan aku mengantuk." Veer merebahkan dirinya di alas tidur yang hanya muat untuk satu tubuh kekar Veer.
Nafi menatap kesal kepada Veer. Sebenarnya setelah makan malam tadi, Nafi sudah merasa ngantuk dan lelah. Tubuhnya masih terasa pegal, seolah baru saja berlari ribuan kilometer.
' Gak mungkin kan aku tidur di sebelah dia.'Batin Nafi. Nafi menghembuskan nafasnya kasar, dan duduk di sebelah kaki Veer.
Nafi menatap wajah Veer yang tenang bagaikan bayi. Lihatlah, bahkan saat tidur saja dia terlihat sangat memukau. Apa Nafi yakin jika dirinya tidak akan terjatuh dalam pesona Veer?. Nafi lagi-lagi menghela napasnya lelah, akhirnya Nafi tidur dengan memeluk lututny, dan menyandarkan kepalanya di atas lutut.
Kriikk... krikk... krikk...
Nafi yang baru saja menutup mata, lantas langsung membuka matanya saat mendengar suara yang untuk pertama kali di dengarnya. Tiba-tiba saja bulu kuduk Nafi merinding, dan fikirannya langsung traveling ke dunia horor.
Krrokkk... kroook...
__ADS_1
Kriikk... krikk... Kriikk...
" Aaaaaaa" Nafi berteriak dan memeluk tubuh Veer yang tersentak dan langsung terduduk karena teriakan Nafi. Nafi merasakan ada sesuatu yang menyentuh punggungnya.
" Ada apa?" Tanya Veer panik.
" Ituu.. ba-bahu.. itu... hikkss..."
Veer menatap kearah punggung Nafi, ada seekor jangkrik yang sedang bertengger di sana. Veer pun mengambil jangkrik tersebut, dan menunjukkan nya kepada Nafi.
" Hanya sebuah jangkrik."
Nafi perlahan melirik kearah tangan Veer yang sedang memegang jangkrik. Nafi pun bergidik geli, ini untuk pertama kalinya dia melihat jangkrik.
" Jauhkan dari ku." Nafi semakin menenggelamkan wajahnya di dada Veer karena merasa geli.
"Eem, aku tidak bisa bergerak jika kamu memelukku terlalu erat." Veer menahan napasnya saat mengatakan itu, ada sesuatu yang aneh hinggap di dadanya.
Nafi tersadar dengan apa yang telah di lakukannya. " Maaf.." Cicitnya dan menjauh dari Veer.
Veer keluar dari tenda, dan membuang jangkrik itu setelah berbicara dengan sang jangkrik.
" Dasar aneh" Gerutu Nafi yang mendengar Veer mengucapkan selamat malam kepada seekor jangkrik.
" Aku terbiasa mengikuti hal gila adik ku. Yang suka berbicara dengan binatang."
" Adik Anda, Quin?"
Veer menaikkan alisnya sebelah. " Apa kamu mengenalnya?"
" Tidak, tapi aku mendengar tentang Quin dari Qila."
" Qila__?"
Seakan teringat akan satu hal, wajah Nafi langsung berubah panik.
" Aduuh, bagaimana ini. Apa yang harus aku katakan kepada Qila?"
" apa maksudk mu? Kenapa anda terlihat santai? Bukannya kalian berpacaran?"
Veer ingin tertawa, namun di tahannya.
" Sepertinya kami harus putus, karena aku sudah menikah." Veer memperlihatkan cincin di jarinya yang tadi sempat di rangkainya dari rumput.
" Apa Anda gila? Kalian sungguh serasi, bagaimana mungkin semudah itu anda mengatakan putus. Bagaimana dengan perasaan Qila? Lalu, apa yang akan difikirkan Qila tentang aku?.. Aakhh.." Nafi merasa frustasi dan mengusap wajahnya. Pasalnya, Qila adalah satu-satunya teman rahasianya, yang selama ini selalu ada untuknya.
" Apa aku boleh tanya sesuatu?"
Nafi mendongakkan wajahnya menatap Veer. "Apa? apa yang ingin kamu tanyakan?"
" Sejak kapan kamu dekat dengan Qila?"
Nafi mengutuk dirinya, dia baru saja keceplosan tentang Qila. Padahal dia sudah berjanji kepada Qila, apapun yang terjadi, Dia tidak akan memberitahukan kepada siapapun tentang kedekatan mereka, termasuk Veer
FLASHBACK ON
" Nafi?"
" Qila?"
" Hai, kamu di sini?" Quin yang datang ke kantor Veer dengan membawakan makanan untuk sang kembaran pun terkejut saat mendapati Nafi berada di ruangan Veer. Bukannya Quin tidak tahu tentang kerja sama yang terjalin di antara perusahaan Danudirja dan Moza, Akan tetapi Quin terkejut karena mendapati Nafi berada di ruangan Veer. Karena Nafi pernah mengatakan jika dirinya sangat membenci pria seperti Veer.
" Aku sedang menjalankan proyek. Tunggu, apa kamu pacar Veer? Yang selama ini di ceritakan oleh orang-orang?"
" Eehhh, itu... "
Kreeekk...
Pintu terbuka dan menampilkan Veer dan Dedi.
__ADS_1
" Qu... Qila." Veer langsung merubah panggilannya saat melihat tatapan tajam Quin.
" Hai, aku bawa makan siang. Kamu sibuk?"
" Tidak, kamu sudah makan?"
" Belum, "
" Kita makan bersama. Nona Nafi, perkenalkan, ini Qila."
" Nafi." Nafi mengulurkan tangannya dengan senyum yang mengembang. Veer saja sampai terpanah oleh senyuman Nafi.
" Qila "
"Eem, kalo begitu saya permisi__"
" Saya sudah memesankan makanan untuk kita semua tadi. Mari kita makan bersama." Tawar Veer.
Nafi melirik kearah Quin, dan Quin mengedipkan matanya untuk menyetujui permintaan Veer.
" Baiklah."
Quin mengirim pesan kepada Nafi, untuk tidak memberitahu kepada Veer jika mereka berteman baik.
Flashback off
" Heeii.." Veer melambaikan tangannya di depan wajah Nafi.
" Ah, eh itu.. Emm.. Kebetulan saja bertemu di panti, setelah pertemuan di kantor waktu itu. Dan kami menjadi akrab.
" Oh yaa, Secepat itu kalian akrab? " Veer menatap curiga kepada Nafi. Veer tau, jika Quin bukan orang yang gampang untuk menceritakan tentang Dirinya kepada orang lain. Quin memang orang yang ramah, tetapi tidak semua orang akan gampang bisa Quin ajak untuk mengobrol terbuka.
" Yaah, begitulah. Qila orang yang baik dan ramah."
" Yaa, Qila memang orang yang sangat ramah."
" Lalu, bagaiaman hubungan kalian? Sebaiknya kita bahas tentang perjanjian kita sekarang. Terutama menyembunyikan hubungan kita dari Qila."
" Kamu tau? Qila tinggal di rumahku. Jadi mana mungkin kita bisa menyembunyikan pernikahan ini."
" Maksudmu, apa kita akan memberitahu kepada semua orang tentang pernikahan ini?"
" Tentu, karena kita akan tinggal di rumah ku."
" TIDAK."
" kenapa?"
" Aku tidak mau, pokoknya kita akan tinggal di apartemen. Hubungan kita hanya Dedi dan Tata saja yang tahu."
" Ide bagus. Dan aku kasih tau kepada kamu. Papa ku selalu menyuruh orang untuk mengintai kami. Jadi, beliau bisa kapan saja memergoki kita berdua di apartemen, dan langsung mengumumkan pernikahan kita di media. Kamu mau hal itu terjadi?"
Nafi spontan menggelengkan kepalanya. " Jadi, apa kita akan mengumumkan pernikahan sementara ini?"
" Tentu, dan sebaiknya kita bahas ini nanti. Sumpah, Aku sangat lelah. Menyelamatkan kamu dan juga harus menggendong tubuh mu yang berat itu. Saat ini yang aku butuhkan adalah istirahat." Veer kembali merebahkan dirinya.
" Bagaimana dengan ku? Aku juga lelah." Lirih Nafi.
" Tidurlah di sebelah sini, bukannya kita dia uruh untuk berbagi?. Aku tidak akan melakukan apapun. Tenang saja." Veer memposisikan dirinya memunggungi Nafi.
Perlahan Nafi membaringkan dirinya, dan ikut membelakangi Veer. Mereka saling memunggungi. Hingga Nafi langsung terlelap, dan tanpa sadar membalikkan dirinya dan memeluk Veer, seperti memeluk guling.
Satu kata, Nyaman.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.