
Quin benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Aksi gilanya yang mencium Abi yang hanya untuk membuat Jamal yakin jika dirinya mencintai Abi, malah membuat Boomerang bagi dirinya sendiri. Bibir Abi masih sangat terasa menempel dan bermain di bibir Quin. Cara Abi menghisap bibirnya, bergantian atas dan bawah, membuat Quin melayang hingga takut untuk menutup matanya.
Quin hanya membolak balikkan tubuhnya, menghadap kanan, laku kiri, kembali ke kanan, laku ke kiri lagi. Semua posisi serba salah bagi Quin. Hingga akhirnya Quin memutuskan untuk menuju kamar Veer. Masa bodo' jika Nafi marah karena mengganggu mereka saat ini, Quin hanya tak ingin tidur sendirian.
" Belum tidur?" Quin terkejut saat mendengar suara bariton yang sangat familiar. Quin pun menoleh dan tersenyum kikuk.
" Be-belum.." Quin mengusap lengannya yang terbalut baju tidur yang berbahan satin itu.
hening.. hingga Quin memberanikan diri untuk bertanya lagi.
" Eemm, kamu belum tidur?"
" Kamu mau ke mana?"
Quin dan Abi serentak bertanya, hingga akhirnya mereka tertawa.
" Aku belum ngantuk, kamu mau ke mana?" Tanya Abi.
" Emm, ke kamar Veer." Lirih Quin sambil menundukkan kepalanya Malu.
" Mau ngapain ke kamar Veer?"
" Eemm, aku gak bisa tidur. Jadi mau minta temenin sama Veer dan Nafi." Quin merasa malu dengan apa yang di katakannya. Quin mengutuk mulutnya yang keceplosan jujur.
" Emm, gimana kalo kita duduk di cafe?"
" Hah?"
" Yaa dari pada kamu gangguin Veer dan Nafi."
Quin menganggukkan kepalanya pelan, Abi pun tersenyum dengan jantung yang berdebar.
" Tunggu sebentar, aku ganti pakaian." tak berapa lama Quin kembali keluar dengan pakaian casual nya.
Asal kalian tau, Abi sebenarnya tak bisa tidur karena memikirkan ciumannya dengan Quin. Ciuman yang Abi tebak, bahwa itu adalah ciuman pertama Quin. Bolehkah Abi merasa beruntung karena mendapatkan ciuman pertama dari Quin? eh, bukannya Abi pernah curi ciuman yaa dari bibir Quin?
Abi dan Quin berjalan beriringan, hingga saat memasuki lift, Abi merangkul pinggang Quin saat mengetahui ada mata yang menatap Quin dengan lapar. Awalnya Quin menolak, namun Quin cepat menyadari situasinya.
" Kamu gak papa?" tanya Abi saat mereka sudah keluar dari lift dan berjalan menuju cafe yang ada di sekitaran hotel tersebut.
" Hmm, sebenarnya aku udah biasa di lihatin seperti itu, tapi tadi sangat menakutkan. Aku seakan ingin di terkam."
Abi memilih tempat duduk yang nyaman dan tak berdekatan dengan orang lain. Abi sempat melihat bayangan pria yang menatap Quin dengan lapar saat di lift tadi. Abi meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Kenapa?'
" Jangan menoleh." Abi menggenggam tangan Quin dan menciumnya, agar perhatian Quin sepenuhnya kepada Abi.
__ADS_1
" Apa ada yang mengikuti kita?"
" Aku rasa begitu. Kamu jangan takut, ada aku."
" Apa kamu bisa bela diri?"
" Lumayan?"
Sebenarnya Abi tak terlalu pintar dalam bela diri, ia hanya tahu kuda-kuda dasar dan cara melindungi diri.
Saat pesanan mereka tiba, Abi merasa ada yang aneh. Ada bau obat yang sangat Abi kenali. Abi juga sengaja menjatuhkan minuman mereka, berpura-pura jika tak sengaja menyenggolnya.
" Maaf, bisa di bersihkan?"
" Baik pak, tinggu sebentar."
Pelayan itu pergi mengambil pel dan sapu untuk membersihkan pecahan kaca dan air yang tumpah.
" Jangan minum." Bisik Abi.
Quin yang mulai ketakutan pun hanya mengaduk-aduk minumannya.
" Aakkh..."
Quin panik saat melihat Abi memegang perutnya.
" Kamu kenapa?" Tanya Quin yang sudah memegang Abi.
Quin mengerti, ia langsung berakting bersama Abi, untuk mengelabui penjahat yang tengah mengikuti mereka.
Quin mengeluarkan uang dalam sakunya, dan meletakkannya di atas meja. Quin membantu Abi untuk berjalan, seolah-olah Abi benar-benar kesakitan.
Namun saat mereka ingin keluar, Pintu cafe langsung di kunci dan beberapa pria berbadan besar langsung menghadang mereka.
" Sial.." umpat Abi.
Anak buah Abi masih di luar Cafe, jadi Abi harus melawan 8 pria berbadan kekar.
Satu pria maju dan langsung menyerang, Abi langsung menangkis tangan lawannya, dan perkelahian pun terjadi.
Abi tak mampu melawan, karena memang Abi tak memiliki mu bela diri yang baik. Quin sudah menjerit dan menangis saat melihat Abi di pukuli oleh pria asing yang menutup wajah mereka dengan stoking.
" Kau harus mati Nona."
Pisau yang ingin di tancapkan ke arah Quin melayang di udara, dengan Quin yang menahan napasnya dan menutup wajahnya.
Praaang....
__ADS_1
Pecahan kaca pintu membuat semua mata beralih kearah si pemecah kaca.
" Bunda.." lirih Quin saat perlahan menurunkan tangannya dan melihat siapa yang datang.
Dengan mengepalkan tangannya, Bunda yang di panggil oleh Quin meninju semua penjahat Yanga da di sana hingga babak belur. Jangan di tanya lagi bagaimana keadaan cafe tersebut. Kursi dan meja sudah tak berbentuk akibat ulah Bunda Sasa.
Ya, bunda yang di panggil Quin adalah Sasa. Sasa yang tak sengaja sedang membeli minyak angin untuk sang suami pun melihat kejadian yang sedang ditonton oleh orang-orang dari luar cafe tanpa menghubungi pihak berwajib. Bunda Sasa langsung saja menghubungi suami tercintanya untuk membawa pasukannya ke lokasi kejadian.
Abi yang melihat Bunda Sasa menghajar 5 orang preman merasa takjub, hingga tiba anak buah Abi yang membantu Bunda Sasa melumpuhkan musuh mereka.
Quin berlari kearah Abi yang sudah tergelatak di lantai dengan bibir yang di penuhi darah, hingga hidungnya juga mengeluarkan.
" Hikss.." Quin memanggu kepala Abi.
Ini lah yang Quin takuti jika statusnya terungkap, akan ada orang terluka di sekitarnya. Ini masih dugaan Quin, jika yang mengikuti mereka adalah suruhan dari rival sang ayah ataupun kembatannya.
" Abii... hiikkss.."
" Heii, aku tak apa, tenanglah." Ujar Abi sambil tersenyum dan menahan sakit.
" Hiikkss.." Quin menghapus darah yang mengalir dengan lembut di sudut bibir Abi. Abi memejamkan matanya, merasakan semua belaian dari Quin.
Ah, bisa-bisanya Abi berfikiran negatif di saat genting seperti ini.
Daddy Bara, Veer, Papa Arka, Papa Fadil, Papi Vano, Papi Gilang, dan Fatih, Abash, dan Arash pun ikut berdatangan ke cafe yang di laporkan oleh Bunda Sasa tadi.
" Quin.." Panggil Papa Arka panik dan langsung memeluk putri nya.
" Papa, hikkss..." Quin menangis di dalam pelukan Papa Arka.
Penjahat tersebut langsung di serahkan kepada pihak yang berwajib, karena tak berapa lama polisi pun datang atas laporan Bara.
" Siap Pak." Laporan dari seorang polisi yang memberi hormat kepada Bara.
" Introgasi mereka sampai bicara." Titah Bara.
" Sayang.." Bunda Sasa langsung memeluk Quin yang juga sudah di anggap sebagai putrinya.
Abi merasa malu dan juga takjub kepada Bunda Sasa, walaupun tak muda lagi, Bunda Sasa memiliki tenaga yang super kuat. Tak seperti dirinya yang tak bisa melindungi dirinya sendiri, apalagi untuk melindungi Quin, sudah jelas itu tak mungkin terjadi.
Jangan lupa Follow IG q yaa. Agar selalu dapat info terbaru di setiap novel ku.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.