
Braaakk ... Prang ...
Abi terkesiap saat merasakan meja di hadapannya bergeser dengan kasar, begitu juga dengan suara pecahan kaca. Abi menarik kain penutup matanya dan melihat wajah Quin yang sudah memerah karena emosi dan menatapnya tajam.
“Br*ngsek\, B*jingan\,” maki Quin penuh dengan amarah.
Abi yang linglung pun akhirnya dengan cepat menyadari situasi apa yang terjadi saat ini. Abi melihat jika wanita yang di ciumnya adalah Anita, bukan Quin.
Abi berdiri dan ingin menghampiri Quin, namun Quin menunjukknya dan menyuruhnya berhenti.
“Jangan mendekat.” Pekik nya dengan air mata yang berlinang.
Hati Abi yang melihatnya pun terasa sakit.
“Quin, aku jelaskan.”
Byuurr ...
Quin menyiram air ke wajah Abi.
“Persetan dengan penjelasan mu, B*jingan.”
Quin langsung berbalik dan berlari menjauhi Abi dan Anita. Anitapun tersenyum menang, akhirnya rencananya pun berhasil.
“Kau, dasar iblis, aku kan buat perhitungan dengan mu.” Abi menunjuk kearah Anita dengan penuh amarah.
Abi mengejar Quin yang mulai menjauh dan sialnya sudah naik ke dalam taksi.
“Quin, dengarkan aku ... Quin ... aku bisa jelaskan, ini gak seperti yang kamu fikirkan, Quin...”
Abi terus memukul jendela kaca mobil taksi tersebut.
“Jalan Pak.” Pekik Quin dengan bahasa indonesia.
Sang supir taksi yang bingung pun bingung dan langsung menancapkan gas nya.
“QUIIIINNN .....” Pekik Abi yang terus mengejar taksi yang melaju dengan kencang tersebut.
Abi yang tak mampu mengejar taksi yang di tumpangi oleh Quin pun hanya bisa berlutut sembari berteriak.
“Abi ...” Pekik Anggel dan mendekati Abi yang sudah berlutut di lantai dengan wajah penuh air mata.
“Quin, An. Quin. Di salah paham.”
“Apa yang terjadi?” Tanya Jo.
“Wanita itu, rubah itu menjebak aku dan Quin.” Ujar Abi dengan penuh amarah.
Jo langsung melihat kesekeliling, ia tak menemukan Anita di sana. Seperti nya ini memang sudah di rencanakan dengan sangat matang oleh perempuan iblis tersebut.
“Apa yang terjadi? Kenapa Quin sampai pergi?”
Abi membeku, namun ia tak punya cara lain selain jujur untuk saat ini.
“Quin, dia melihat aku dan anita berciuman.” ujar Abi dengan terbata.
Bughhh ..... Bughh ....
“JO.” Pekik Abi.
“Brengsek lo, gue udah duga kalo emang gak bisa move on dari ular itu.”
“Lo dengerin dulu cerita gue, jangan main pukul aja, sakit tau.”
“Gak rasa.”
Plak ...
Abi kembali terkejut di saat Anggel menamparnya.
“Ini dari Quin, yang pantas untuk kamu terima.” Desisnya.
Anggel merasa kepalanya pusing, sebenarnya apa yang terjadi? Tadi di mobil Desi menceritakan jika mantan Abi juga sedang berada di Korea. Anita juga lah yang menyebar video Abi dan Quin yang tengah berciuman panas dan membuat seluruh dunia bisnis gempar, namun itu sudah teratasi dengan konferensipers yang Abi dan Papa Arka berikan. Dan juga video akad nikah Abi dan Quin. Minus dengan berita tentang kakek yang masuk rumah sakit karena mendengar berita tersebut.
*
“Apa Quin ada di kamar?” tanya Anggel kepada Abi yang tak dapat membuka pintu kamar hotelnya.
“Quin menguncinya dari dalam.”
“Quin, buka pintunya sayang, aku bisa jelaskan, ini gak seperti yang kamu lihat.” Abi terus mengetuk pintu tersebut.
Praangg ....
Terdengar suara dentuman yang di susul dengan suara pecahan kaca.
“Pergi ... Aku gak mau liat dan mendengar suara kamu, Dasar brengs*k.”
“Abi, sebaiknya biarkan Quin tenang dulu.” Bujuk Anggel.
Abi pun menurut saat Anggel menarik tubuhnya. Anggel sebenarnya juga marah dan kecewa dengan Abi, namun ia ingin mendengar cerita selengkapnya dari Abi.
Anggel membantu Abi membersihkan sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan dari Jo.
“Ceritakan, apa yang terjadi.”
Abi pun menceritakan tentang isi pesan dari Quin. Abi juga memperlihatkan jika pesan tersebut juga berasal dari nomor Quin.
“Ada yang beres.” Gumam Anggel dan menatap Jo.
“Gue akan periksa cctv di salon.”
Jo langsung mulai bergerak untuk membuktikan jika Abi di jebak. Dan semua ini adalah permainan dari Anita. Walau bagaimana pun, Jo tak ingin membuat Quin merasakan putus cinta karena di khianati dengan orang yang di cintainya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi Jo untuk mendapatkan hasil cctv tersebut. Terlihat jika ada seseorang menuangkan sesuatu dalam minuman Desi, kemudian seorang pelayan memanggil Anggel, hingga hanya bersisa Quin saja di dalam ruang tunggu khusus mereka. Terlihat Quin sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel selularnya, hingga akhirnya Quin memutuskan panggilan mencharger ponsel miliknya. Seorang pelayan pun menghampiri Quin dan membawanya pergi dari ruangan tersebut, tak berapa lama Quin pergi, seorang pelayan lain masuk dan
mengutak atik ponsel Quin.
“Bagus, kita sudah mendapatkan buktinya.”
“Brengs*k, pantes aja perut aku mules banget. Ampe lemes gini.” Ujar Desi yang masih terlihat pucat.
“Hmm, aku akan mencoba untuk berbicara dengan Quin.” Ujar Anggel dan berjalan menuju kamar Quin.
*
“Masuklah.”
Quin membukakan pintu untuk Anggel. Awalnya Quin tak ingin di ganggu, namun Anggel memaksa karena ingin menunjukkan sesuatu kepada Quin. Anggql melihat kamar Quin sudah bagaikan kapal pecah. Semau abrang berantakan dan juga terdapat banyak pecahan kaca dari vas bunga lainnya.
Anggel menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, termasuk hasil cctv yang ada di salon. Abi juga mengatakan jika saat itu ia mencium aroma parfum yang sering Quin gunakan.
“Parfum?” gumam Quin.
Quin berjalan menuju meja riasnya, benar saja, Quin tak menemukan parfum miliknya. Seharusnya Quin menyadari hal itu sebelumnya, tak ada yang masuk kedalam kamar ini selain dirinya dan Abi.
“Sepertinya keamanan hotel ini tidak baik.” Gerutu Quin.
“Abi sudah menyelesaikannya. Ia meminta semua pelayan yang berani masuk ke dalam kamar nya untuk di introgasi.”
Anggel menghela napasnya, ia pandangi wajah Quin yang sembab. Sepertinya Quin menangis sedari tadi dan tak berhenti. Saat dirinya masuk kedalam kamar pun, Anggel masih mendapati sisa-sisa air mata di pipi Quin.
“Abi gak bersalah.”
“Aku benci dia, karena dia terlalu bodoh. Aku membencinya, hiks ... aku membenci nya. Seharusnya dia dari awal mengatakan jika sudah bertemu dengan Anita.”
Anggel langsung memeluk tubuh Quin yang saat ini berguncang hebat karena menangis. Anggel tahu, bagaimana rasanya di kecewain dengan orang yang kita cintai.
Anggel mengusap rambut Quin dengan sayang, saat ini Quin sudah tertidur di dalam pelukan Anggel. Anggel pun mengirim pesan kepada Abi jika Quin baik-baik saja.
Di kamar yang lain, Abi duduk di sofa sambil membayangkan wajah Quin yang selalu tersenyum dan tertawa kepada.
“Maafin aku, Quin.” Gumam nya.
Jo hanya memprhatikan dari jauh dan menarik selimutnya. Jo butuh istirahat agar bisa kembali bertempur besok.
Ya, Malam ini Abi tidur bersama Jo. Gak mungkin juga kan Abi tidur dengan Desi? Sedangkan Quin tak ingin melihat ataupun mendengarkan suaranya.
*
“Gak tidur lo?” Tanya Jo yang sudah mengembalikan semua kesadarannya setelah tidur dengan nyenyak.
“Gak bisa tidur gak kalo gak ada Quin.”
“Manja,”
“Lo gak tau sih rasanya jatuh cinta.”
Bugh ...
“Sakit tau.”
“Gak rasa. Lagian lo hobi banget main nyosor-nyosor.”
“Lah, mana aku tau kalo itu bukan Quin. Lagian parfumnya mirip.”
“Emang Quin doang yang punya parfum itu?”
“Iya, hanya Quin yang memiliki parfum itu, karena akku yang memesankan untuknya.”
Ya, parfum yang Quin gunakan adalah Parfum pemberian Abi. Di mana saat Quin bertanya tentang parfum Abi yang ada di walk in closet-nya, Abi mengatakan jika parfum tersebut hanya ada satu di dunia. Abi pun memberikan Quin satu parfum yang sempat ia pesan bersama dengan parfumnya yang lain. Saat Quin mencium aroma dari parfum tersebut, Quin langsung menyukai nya, dan saat itu Quin memakai parfum pemberian Abi.
Maka dari itu, Anita membayar orang untuk mencuri parfum yang di pakai oleh Quin. Dan parfum tersebut hanya bisa di pesan atas nama Abi dan Quin.
*
“Masih gak mau ketemu kamu juga.”Ujar Angel kepada Abi yang sudah berdiri di depan pintu.
“Quin, aku mohon, dengarkan aku kali ini saja. Aku mohon...” Pekik Abi dari depan pintu.
Tak ada sahutan apapun dari Quin. Abi kembali menghela napasnya pelan.
“Pergilah, nanti aku coba membujuk Quin lagi.”
Abi mengangguk dan terpaksa melangkahkan kaki nya menjauh dari kamar Quin dan dirinya.
“Dia sudah pergi?” Tanya Quin saat Anggel kembali dengan mendorong troli makanan.
“Hmm, kamu yakin gak ingin bertemu dan berbicara dengannya?”
Tak ada sahutan dari Quin, setelah ia melihat video tersebut dan memikirkan semua kejadian ynag terjadi, Quin
merasa jika Abi mungkin saja memang tak bersalah. Tapi Quin benar-benar merasa sakit di hati ya, setiap ia mengingat Abi, maka Quin akan mengingat saat di mana Abi menarik tangan Anita dan mencium bibirnya.
“Hah ...” Quin kembali menghela napas berat di saat mengingat kejadian itu.
“Makanlah, dari semalam kamu belum makan.”
“Aku gak lapar.”
“Quin, kalo kamu mau menang melawan pertempuran ini, kamu harus makan, agar kamu punya tenaga dan kuat menghadapi semuanya.”
“Tumben bijak?” gerutu Quin.
Anggel hanya tersenyum, iahanay mengulang apa yang pernah Lucas katakan padanya dulu saat dirinya tak ingin makan dan merasa jika hidupnya tak akan pernah merasakaan bahagia. Ya, walaupun Anggel akan menikah dengan Martin, orang yang tidak ia cintai, setidaknya Anggel harus makan dan memiliki tenaga untuk melawan Martin nantinya.
Quin pun memakan sop Miso dan nasi putih yang di suguhkan oleh Anggel.
__ADS_1
“Makan yang banyak ya.” Anggel mengelus kepala Quin dengan sayang.
“Di kira aku kucing apa.” Gerutu Quin dengan bibir yang di majukan.
Anggel pun ikut menikmati sarapan yang tersaji untuk mereka berdua.
“Desi mana?” Tanya Quin.
“Nanti dia akan ke sini, ada yang harus ia selesaikan. Aku juga tidak tahu apa itu.”
Quin dan Anggel pun melanjutkan kembali sarapan mereka.
*
“Bagaimana?” tanya Abi kepada Jo dan Desi yang baru saja selesai mengintrogasi beberapa karywan salon dan juga hotel.
“Beberapa orang tak tahu siapa yang membayar mereka, karena mereka juga di ancam jika tak melakukan apa yang di perintahkan.” Ujar Jo menjelaskan kepada Abi.
“Buat mereka menerima hukuman masyarakat yang berlaku di kota ini. Dan bagi yang mengetahui orang yang membayar mereka, pecat dan jangan pernah di izinkan untuk bekerja di perusahaan yang bersangkutan dengan SS.Group” Ujar Abi kepada manager hotel.
Ya, hotel yang mereka tempati adalah hotel di mana terdapat saham dari SS.group yaitu Setyo Subekti Group.
“Sekarang, kita cari Anita dan memberikan pelajaran kepada ular itu.”
Jo mengangguk setuju dan mereka langsung berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan mereka ke tempat di mana Anita berada.
“Bagaimana dengan aku?” Tanya Desi.
“Kamu tetap di sini, temani Quin dan Anggel.”
*
“Mereka sedang menuju ke sini Nona.” Ujar seorang pria kepada Anita yang sedang menatap keluar jendela.
“Bagus, mereka masuk kedalam perangkap ku dengan mudah.”
Anita berbalik dan menghadap kearah pria yang memberikannya laporan tersebut.
“Siapkan semuanya untukk menyambut kedatangan mereka.”
Pria itu pun menganggukkan kepalanya dan berjalan mundur untuk pergi dari hadapan Anita.
Anita memegang dua botol obat di tangannya. Satu obat perangsang dan satu lagi adalah obat penyubur yang beberapa hari ini ia minum demi melancarkan aksinya.
“Lihat saja abi, aku kan membuat kamu menanam benih dalam rahim ku. Dan secepartnya, aku akan mengandung buah cinta kita.” Anita tersenyum manis menata dua botol obat yang ada di tanganya itu.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku. Menjadi milikku seutuhnya. Abimana Setyo Subekti.”
*
Desi yang memiliki firasat tak enak pun mencari jalan keluar untuk mengikuti Jo dan Abi. Tapi saat ini Desi sendiri dan tak tahu harus kemana, sebab ini adalah negara orang.
Desi melihat pria yang menggunakan mantel putih dan juga topi yang menutupi wajahnya, Dengan kekuatan ninja. Eh, maksud aku, dengan gerakan secepat kilat dan menyerupai ninja, Desi menangkap pria tersebut.
“Mau lari kemana?” Ujar Desi yang sudah menahan langkah pria tersebut.
“Sial.” Umpat pria itu.
Desi tersenyum di saat pria itu kesal karena penyamarannya di ketahui olehnya.
“Aku butuh bantuan kamu.”
Desi langsung menghubungi Abash dan meminta melacak keberadaan Abi dan Jo. Abash langsung mengirimkan GPS kemana tujuan mereka.
*
Abi, Jo, dan dua pengawal mengikuti dari belakang. Mereka masuk kedalam rumah yang terlihat mewah namu sepi.
“Perasaan gue gak enak.” Gumam Jo.
“Sama, kita harus hati-hati.”
Jo membuka pintu yang tak terkunci, Jo sudah mengeluarkan senjatanya karena merasa aneh dan curiga dengan pintu yang tak terkenci itu.
Tap ... Tap ...
Akh ...
Dua pengawal yang berada di belakang Abi dan Jo pun jatuh pingsan, Abi dan Jo sudah siaga untuk keluar, namun mereka di hadang oleh dua pria yang berbadan besar. Jo sudah menodongkan pistolnya untuk melindungi Abi, namun.
Greeekk ...... Pusshh .....
Tiba-tiba sebuah kaleng meluncur di kaki Jo dan langsung mengeluarkan asap tebal yang menyesakkan.
“Tahan napas.” Ujar Jo dengan wajah yang ia tutupi dengan mantel.
Bugh ... Akh ...
Seseroang memukul Jo dan pingsan, begitu pun dengan Abi.
“Bawa mereka ketempatnya masing-masing.” Titah Anita kepada dua pengawalnya.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF