
Kayla menatap jenazah yang ada di hadapannya saat ini. Sungguh malang nasib gadis itu. Hidup sebatang kara selama ini, bahkan saudara terdekatnya pun tak hadir di pemakaman jenazahnya.
Tak hanya saudara, teman yang selalu bersamanya juga tak menampakkan batang hidungnya. Alasan dari teman-temannya adalah karena tak ingin terlibat dengan keluarga Moza, dan tak ingin nama baik mereka juga ikut tercemar karena berteman dengan seorang narapidana.
Satu tetes air mata Kayla terjatuh, dia merasa tak bisa bayangkan, bagaimana jika dirinya yang berada di posisi itu. Hidup sebatang kara dan berjuang sendiri hingga di titik seperti ini.
Tak mudah untuk bertahan seperti Kayla yang telah tiada. Tapi sangat di sayangkan, karena cinta butanya kepada Zein, membuat hidup dengan masa depan yang cerah hancur seketika.
Bukan cintanya yang salah, tapi impian untuk memiliki sang pria yang salah.
"Sayang." Zein menghapus air mata Kayla yang terjatuh.
"Kak,"
"Kenapa menangis, hmm?"
"Aku hanya kasihan, andai saja dia___"
"Sudah, dia sudah tenang saat ini. Dia beruntung karena kamu memaafkannya dengan ikhlas."
"Iya, Kak."
"Kita pulang sekarang?" tanya Zein.
"Apa .. apa gak seharusnya kita mengantarkan dia ke pemakamannya yang terakhir? Aku hanya merasa iba, karena tak satu pun saudara atau teman yang mengantarkan kepergiannya."
"Kamu yakin akan baik-baik saja?"
"Hmm, aku yakin."
"Baiklah."
Zein mengikuti keinginan Kayla. Mereka pun mengantarkan Kayla ke pemakamannya yang terakhir.
*
"Aku bangga dan gak salah memilih istri," ujar Zein sambil mengecup punggung tangan sang istri.
"Kenapa?"
"Hati kamu sungguh mulia. Keturunan Mama Kesya benar-benar berhati mulia. Mereka memaafkan setiap kesalahan orang yang telah mencelakai mereka. Aku salut sama kamu. Bahkan, Mami aja gak bisa seperti Mama Kesya."
"Maksudnya? Mami kan orangnya juga baik!"
"Ya, Mami memang baik. Tapi coba kamu lihat kejahatan Paula dan Jamal. Bagaimana telah menghancurkan hati Quin, dan juga kejadian beberapa bulan lalu. Mama Kesya dengan lapang dada memaafkan kesalahan Jamal dan juga Tante Paula."
Kayla tersenyum. "Itu karena kami didampingi pria-pria hebat seperti Papa Arka, Daddy Bara, Ayah, Opa Roy, opa Bram, dan semua pria yang ada di keluarga aku dan juga kakak. Termasuk kakak bagian dari pria hebat tersebut."
"Oh yaa? Benaran aku hebat menurut kamu?"
"Hmm, kakak pria terhebat yang pernah Ila kenal."
"Masa sih? Kamu kan belum lihat kehebatan aku," bisik Zein agarbtak terdengar oleh supir.
"Maksud kakak?"
"Ini, kehebatan yang ini," ujar Zein sambil membawa tangan Kayla ke adik mungilnya.
Kayla terkejut dengan mata membesar. Cepat gadis itu menarik tangannya dengan jantung yang berdebar, serta pipi yang sudah merona.
"Kenapa? Kok malu gitu?" goda Zein.
"Kakak ih, i-itu kan..."
"Jangankan pegang, nanti kamu juga akan melihatnya. Tak hanya melihat, tapi juga akan merasakan kehebatannya."
"Kakak," lirih Kayla dengan malu.
"Aku gak sabar melihat kamu merona di bawah kungkunganku." Bisik Zein dan mengecup pipi Kayla.
"Aku akan sabar menunggu hingga saat itu tiba," bisiknya lagi sebelum mengecup bibir Kayla yang menjadi candunya itu.
*
"Assalamualaikum," Zein dan Kayla masuk kedalam rumah.
"Kalian baru pulang? Dari mana?" tanya Oma Rosa yang melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore.
"Kami dari pemakaman, Ma." jawab Kayla.
"Pemakaman? Siapa yang meninggal?"
"Itu, Kayla yang mencoba mencelakai Ila."
"Gadis jahat itu? Innalilahi wainailaihi Raji'un. Kok bisa? Kapan?"
"Ma, Kayla itu sebenarnya gak jahat. Cuma dia salah ja cara mengungkapkan perasaannya, " ujar Kayla.
"Apapun itu, yang jelas di mata Mama, dia itu gadis jahat. Dia sudah mencoba untuk mencelakai kamu. Mama gak tau bilang jika saat itu Bunda Sasa gak datang," ujar Mama Rosa dengan perasaan yang campur aduk.
Putri semata wayangnya hampir saja kehilangan nyawanya jika saja Bunda Sasa tak datang saat itu.
"Iya, Ma. Yang penting sekarang. Ila gak papa kan?"
"Gak papa gimana sih? Kaki kamu hampir patah gitu,"
"Cuma retak, Ma. Sebentar lagi juga Ila bisa jalan lagi Kok."
__ADS_1
"Hmm, Mama heran sama kamu dan Ayah kamu. Sifat kamu bener-bener menurun dari Ayah kamu, sabar banget hadapi masalah, trus gampang banget maafin orang," ujar Mama Rosa dengan kesal.
"Mendendam kebencian itu gak baik, sayang," ujar Ayah Nazar yang datang dari arah belakang.
"Iya, Mas. Tapi aku butuh waktu untuk memaafkan semua kesalahan gadis itu. Mas tau sendiri kan, gimana perjuangan aku untuk mempertahankan Ila,"
"Iya, sayang. Mas tau. Tapi, kamu harus memaafkan gadis itu. Karena dia sudah kembali ke sang pencipta."
"Hmm, iya, Mas. Aku coba buat lupakan masalah ini," ujar Mama Rosa. "Ah ya, kalian belum makan malam kan? Bersih-bersih dulu gih, terus kita makan."
"Iya, Ma."
Kayla dan Zein pun berlalu memasuki kamar mereka.
Seperti permintaan Mama Rosa. Dimana Kayla harus tetap tinggal di rumah ini, dan hal tersebut pun di setujui oleh Zein dan Kayla. Lagi pula, rumah ini nantinya akan menjadi untuk Kayla. Sedangkan Kiki sudah di belikan rumah yang lain oleh Ayah Nazar.
Ya, itu semua demi tidak adanya perbedaan kasih sayang antara anak kandung dan anak tiri. Sedangkan Mama Kesya! Beliau sudah di belikan satu toko yang cukup besarkan untuk membuka usahanya yang pertama.
Lagi pula, Ayah Nazar juga bingung ingin memberikan apa lagi kepada putri sulungnya. Secara suaminya bisa membelikan apapun yang tak bisa di jangkau oleh Ayah Nazar. Walau bagaimana pun, Ayah Nazar tetap selalu memberikan yang terbaik untuk ketiga anaknya itu.
*
Quin sedang bermain bersama Sean dan Syam. kedua bayi laki-laki itu sungguh menggemaskan. Pipinya yang tembem membuat Quin sungguh gemes untuk mencubitnya.
"Quin, jangan di cubit gitu dong," tegur Veer.
Quin hanya terkekeh sambil menunjukkan gigi putihnya.
"Gemes banget tauu,"
"Iya, tapi gak di cubit juga pipinya."
Kakek Farel menatap cucu dan cicitnya itu. Siapa yang menyangka, jika dirinya masih dapat melihat cicit kecilnya. Kakek Farel benar-benar sangat bersyukur, di umurnya yang semakin menua, di tambah penyakit yang saat ini sering kambuh.
"Kakek buyut lamunin apa?" tanya Quin sambil melambaikan tangan Syam.
Satu tetes air mata kakek Farel pun mengalir. Quin dengan sigap berdiri dan menghampiri sang kakek. Memeluk tubuh renta itu dengan sayang. Tangan lentik Quin menghapus air mata yang mengalir di pipi kakek Farel.
"Kakek bahagia dan senang. Karena dapat melihat cicit pertama kakek. Kakek harap, kakek juga dapat melihat cicit dari kamu, Quin."
"Kakek, kakek harus terus sehat. Quin akan terus menjaga kakek, agar kakek dapat melihat anak Quin dan Anggel."
"Insya Allah, semoga saja kakek bisa melihat anak kamu dan Anggel. Tapi, hanya satu lagi yang membuat kakek kepikiran."
"Apa itu kek? Kakek gak boleh banyak punya pikiran."
Kakek Farel terkekeh. "Kakek hanya memikirkan Lucas. Hanya dia yang keturunan pertama yang belum menikah."
"Kakek, Lucas pasti akan menikah. Hanya menunggu waktunya tiba saja."
"Quin, kakek tau tentang cucu-cucu kakek. Lucas itu sulit di sentuh. Kakek hanya berpikir jika dirinya tak bisa menemukan seorang wanita. Atau, dirinya yang tak bisa dekat dengan seorang wanita."
"Amiin, kakek berharap begitu."
Quin dan Veer saling memandang, seolah mereka tengah berbicara dari tatapan mata.
*
Sudah dua Minggu berlalu. Kakek terus saja berbicara tentang Lucas. Veer juga sudah berbicara dengan Lucas sebelumnya, akan tetapi pria itu masih tetap tak bisa membuka hatinya untuk seorang wanita.
Bukan tak bisa, melainkan dirinya yang tak bisa berdekatan dengan seorang wanita. Entah itu bersentuhan ataupun mencium aroma tubuh wanita tersebut.
Bahkan, staf rumah sakit yang bekerja di bawah naungan Lucas, memiliki syarat untuk tak memakai parfum yang berlebihan dan menyengat. Jika tidak, Lucas akan mengamuk karena merasa pusing.
Entah ngidam apa Mami Anggun saat hamil Lucas, sehingga pria itu sulit di sentuh dan tak ingin di sentuh.
Seperti saat ini, Lucas tengah memeriksa seorang wanita yang menggunakan parfume yang aroma parfumenya sangat menyengat. Lucas terpaksa memakai masker yang sudah di olesi oleh minyak kayu putih.
"Terima kasih, dok," ujar wanita itu.
Lucas menganggukkan kepalanya dan berlaku. Saat di perjalanan kembali ke ruangannya, Lucas melihat Kayla dan Zein yang baru saja melepas gips yang ada di kaki Kayla. Gadis itu sudah bisa berjalan, walaupun harus di bantu dengan bantuan tongkat.
"Sudah lepas gips?" tanya Lucas saat berpas-pasan dengan sepupunya itu.
"Iya."
"Alhamdulillah, ni mau ke mana lagi?"
"Cari makan, Lo mau bareng?" tanya Zein.
"Boleh deh."
Zein, Kayla, dan Lucas pun berjalan beriringan. Mereka berjalan sambil berbincang. Akan tetapi, seorang wanita terlihat terburu-buru dan berlari sambil menggeret kopernya. Tanpa sengaja wanita itu menubruk Lucas hingga keduanya terjatuh.
"Aww ..." ringis wanita itu saat merasakan telapak tangannya perih.
"Lo jalan pake mata dong," serbu Lucas.
Gadis yang merasa di bentak oleh Lucas langsung membelalakkan matanya.
"Gila Lo, udah Lo yang nabrak gue, eh malah nuduh sembarang. Sial banget sih gue." gerutu gadis itu dan mencoba berdiri.
"Aww," gadis itu kembali meringis saat melihat telapak tangannya luka dan terasa perih.
"Kamu gak papa?" tanya Kayla.
Gadis itu tersenyum tipis dan mengangguk. "Saya gak papa, cuma___" Gadis itu menatap ke arah Lucas. Lebih tepatnya membaca nametag Lucas.
__ADS_1
"Dokter saraf tu aja yang jalan gak pake mata. Keasyikan ngobrol."
"Lo...." Lucas menunjuk gadis itu.
"Apa? emang iya kan? Dasar dokter gila."
"Apa Lo bilang?"
"Dokter saraf itu yang biasanya ngobatin orang gila kan? Gak salah gue ngomong."
"Lo__"
"Luc, udah." tegas Zein.
"Tapi___"
"Nona gak papa?" tanya Zein.
"Ya, saya baik-baim saja. Terima kasih sudah bertanya. Kalau begitu saya permisi dulu." Gadis itu langsung berlalu sembari menarik kopernya dengan setengah berlari.
"Nyebelin banget sih tu cewek. Ngapain juga ke rumah sakit bawa-bawa koper. Di Kira ini hotel apa?" gerutu Lucas.
"Udah, gak usah di perpanjang. Yuk, cari makan."
Mereka bertiga pun kembali berlalu dan masuk ke dalam satu mobil. Supir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang demi membelah jalanan yang padat.
"Lo masih kesal dengan kejadian tadi?" tanya Zein.
"Hmm, ada ya cewek kayak gitu. udah salah malah nuduh orang."
"Sebenarnya dia juga gak salah. Tadi Ila sempat dengar kalau gadis itu berteriak minggir, akan tetapi kak Lucas malah berjalan ke arah gadis itu sambil tertawa dan berbicara,"
"Masa sih?"
"Iyaa,"
"Hmm, nanti aku coba cek cctv."
"Ya ampun Luc, masa begitu aja harus cek cctv sih?" ujar Zein sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau tau gue siapa yang salah. Kesal gue," ujar Lucas yang memang masih belum terima jika dirinya yang salah.
Sesampainya di resto, untungnya mood Lucas cepat kembali. Jika tidak, bisa di pastikan jika dia akan memprotes semua makanan yang tersaji saat ini. Entah apa yang membuat mood Lucas kembali. Yang jelas, setelah menerima panggilan entah dari siapa, pria itu sudah kembali tersenyum dengan lebar.
"Jadi, kapan kalian rencananya brangkat bulan madu?" tanya Lucas.
"Rencana Minggu depan. Tapi lihat kondisi Kayla lagi."
"Hmm, ntar pelan-pelan aja mainnya, jangan terlalu di paksa. Kasihan juga Kayla jika harus pegal nanti."
"Maksudnya?" tanya Kayla yang memang tak mengerti apa dari perkataan Lucas.
"Gak usah di tanya lagi, gak penting," ujar Zein.
"Tapi, aku penasaran kak. Emangnya main apa? Kenapa harus pelan-pelan?"
Lucas sudah mengulum senyumnya. Sedangkan Zein sudah menggaruk alis dan juga tengkuknya.
"Kak, kok diem? emangnya mau main apa?" tanya Kayla lagi.
Zein melirik tajam ke arah Lucas, sedangkan yang di lirik tidak peduli dja semakin menikmati makanannya.
"Kak, kok gak di jawab sih?" tanya Kayla yang memang benar-benar penasaran dengan apa yang di maksud oleh Lucas.
"Itu ... main kuda-kudaan." jawab Zein akhirnya.
"Hah? kuda-kudaan? Aku kan gak suka naik kuda, kak? Emangnya aku Quin apa?" gerutu Kayla.
"Bukan kuda yang itu, Ila. Tapi yang lain."
"Maksudnya?"
Zein menghela napasnya pelan dan kasar. "Mending makan dulu yaa, nanti aku jelasin kuda apaan."
"Janji?"
"Iya, Janji."
Kayla pun menikmati makanan yang telah tersaji. Zein menatap tajam ke arah Lucas yang sudah mengulum senyumnya. Tak berapa lama ponsel Lucas berbunyi dan menampilkan nama Lana di sana.
"Assalamualaikum, kenapa Na?"
"Di mana? Gue ada perlu,"
"Lagi makan siang sama Zein dan Kayla."
Lucas melirik ke arah Zein yang ternyata juga sedang melirik ke arahnya.
"Ah ya, Na. Lo tau gak? Sebentar lagi ada yang mau main kuda-kudaan," ujar Lucas sambil melirik ke arah Zein.
Zein menendang kaki Lucas sehingga membuat pria itu meringis. Puas mengerjai sepupu rasa sahabatnya itu, Lucas me-speaker panggilannya dengan Lana.
Jangan di tanya lagi, Saat ini Zein benar-benar kesal dengan dua pria yang selalu menjengkelkan hidupnya.
...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......
...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....
__ADS_1
...Rira_Syaqila...