KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 190


__ADS_3

Di sinilah Zein, di dalam kamar mandi. Merendam tubuhnya dengan air dingin demi menidurkan adik kecilnya yang terbangun dan bergerak gelisah.


Setelah merasa lebih baik, Zein pun keluar dari dalam kamar mandi dan mandapati Kayla yang masih berselancar di ponselnya.


"Loh, kamu kok belum tidur?" tanya Zein sambil menghampiri sang istri.


"Aku tungguin kakak." Kayla menatap Zein dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kakak kok lama di kamar mandi? Perutnya sakit banget ya?"


"Hah? Eh, itu.... emm, yaa.. Sakit banget perutnya. Makanya aku lama."


"Kakak sih, tadi ambil tauchonya kebanyakan. Padahal aku udah ingatin," ujar Kayla dengan nada khawatirnya.


Kayla pun menepuk kasur yang di sebelahnya. "Sini, biar aku elus-elus perutnya. Biar enakan," ujar Kayla.


Upss... Zein pun mulai sedikit panik dengan permintaan Kayla.


"Emm, gak papa. Perut aku udah enakan kok," ujarnya dengan gugup.


"Kakak yakin?"


"Iyaa, yakin. Yakin banget. Ya udah, sekarang kamu tidur, ya."


"Kakak?"


"Aku juga tidur kok."


Zein pun naik ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya di sebelah Kayla. Pria itu menarik tubuh sang istri masuk ke dalam pelukannya.


Jantung Kayla berdegup dengan kencang saat mencium aroma tubuh Zein. Bahkan, dia dapat mendengar degupan jantung sang suami. Perlahan, tangan Kayla naik dan meraba dada sang suami.


"Kamu mendengarnya?" tanya Zein sambil menciumi pucuk kepala Kayla.


"Hmm, ini terdengar sangat merdu."


Zein tersenyum. "Kamu menyukainya?"


"Heum, detak jantungnya bagaikan irama musik yang merdu. Bersahutan dengan detak jantungku."


"Benarkah?"


Zein mengubah posisinya. Yang tadi tubuhnya lebih tinggi dari Kayla, saat ini merubah posisi nya menjadi lebih rendah dari Kayla. Zein letakkan kepalanya di dada Kayla, membuat detak jantung itu semakin berpacu dengan cepat.


"Kak ...." cicit Kayla karena merasa gugup.


"Kamu benar, ini sungguh indah," lirih Zein.


Pria itu semakin menempelkan telinganya di dada Kayla, sehingga sang istri menahan napasnya saat gundukan kembarnya terasa terhimpit.


"Kamu sungguh wangi, wangi yang sangat membuatku candu," ujar Zein parau.


Zein pun menenggelamkan wajahnya di dada Kayla.


"Kak," Kayla mencoba menjauhkan kepala Zein dari dadanya, akan tetapi sang suami semakin mengusupkan wajahnya.


"Biarkan begini, aku mohon," lirih Zein.


Kayla hanya bisa menahan napasnya saat kulitnya merasakan hembusan napas sang suami. Tak berapa lama terdengar kekehan dari Zein.


"Bernapaslah Ila, aku gak ingin kita berakhir di rumah sakit karena kamu kehabisan oksigen." Kekeh Zien.


Pria itu mendongakkan kepala demi melihat wajah sang istri.

__ADS_1


"Atau kamu mau aku berikan napas buatan?"


Kayla membelakakkan matanya, detik selanjutnya bibirnya telah di bungkan oleh sang suami. Semua terjadi begitu cepat, hingga Kayla hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh sang suami tercintanya itu.


*


Zein menatap lekat wajah tenang Kayla. Malam ini sungguh malam yang berbeda dari malam sebelumnya. Walaupun tak bisa buka gembok, akan tetapi mereka menghabiskan malam dengan bercumbu mesra.


Kayla menggeliat dan membuka matanya perlahan. Pandangan yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan bangun tidur milik sang suami.


"Pagi sayang," sapa Zein.


Kayla tersenyum, detik selanjutnya kening wanita itu mengkerut, hingga dia membelalakkan matanya dan menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


"Kenapa?" tanya Zein masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Aku malu, belum sikat gigi. Takut adaniler yang nempel," ujar Kayla dari balik selimut.


Zein terkekeh mendengar ucapan Kayla. Pria itu pun menurunkan selimut dengan sedikit paksaan, karena Kayla menahan selimut tersebut.


"Aku gak masalah dengan hal yang kamu bilang tadi. Bahkan, aku ingin melakukan ini."


Cup.


Kayla kembali membelalakkan matanya di saat Zein mencium bibirnya.


"Jorok, kak. Aku belum sikat gigi. Bau tau,"


"Bukankah sudah aku katakan? Jika aku tak masalah dengan hal tersebut.


Cup ..


Kayla yang tadinya ingin protes, perlahan menikmati sentuhan lembut dari bibir Zein.


*


Quin sudah tersenyum menggoda saat melihat kehadiran Zein dan Kayla.


"Ciee, kayaknya ada yang keramas nih pagi ini," ledek Quin yang mana membuat wajah Kayla memerah.


"Kay, apa gak panasya pake baju yang kerahnya tinggi gitu?" tambah Anggel.


Jangan di tanya lagi, bagaimana wajah Kayla saat ini. Benar-benar sudah seperti kepiting yang di rebus. Tidak, bukan di rebus, melainkan di panggang.


Quin dan Anggel puas sekali mengetawain sang sahabat.


"Quin, Anggel," tegur Mama Kesya.


Kedua bumil itu pun langsung menutup mulutnya dan mencoba menahan tawa mereka.


Zein mendorong kursi roda Kayla ke dekat meja makan.


Sarapan pagi ini pun menjadi sarapan yang hangat namun memalukan bagi Kayla. Pasalnya, Quin dan Anggel tak henti-hentinya menggoda dirinya. Di tambah Desi dan Raysa, entah karena memang polos atau hanya di buat-buat kepolosannya untuk bertanya tentang tanda yang ada di leher Kayla.


Benar-benar sungguh menyebalkan.


"Awas aja kalian, aku akan membalasnya," geram Kayla yang mana membuat Anggel, Quin, Desi, dan Raysa semakin tertawa terbahak-bahak.


*


Hari terus berlalu, Zein rutin membawa Kayla ke rumah sakit untuk berobat jalan dan mengganti perbannya.

__ADS_1


"Tulangnya sudah mulai menyatu, akan tetapi untuk berjalan belum bisa di gunakan dulu kakinya," ujar sang dokter.


"Berapa lama lagi, Dok. kira-kira?"


"Emmm, kemungkinan dua Minggu lagi. Akan tetapi, tidak bisa di gunakan berjalan jauh dulu. Nanti kita akan melakukan terapi penyembuhannya."


"Baik, Dok. terima kasih banyak."


Zein kembali mendorong kursi roda Kayla. Seluruh mata pun kembali tertuju kepada pengantin baru tersebut.


"Aku menedihkan banget ya, Mas? Sampai semua orang menatap aku dengan tatapan iba?" tanya Zein.


"Gak kok, kamu itu cantik. Jangan pedulikan pandangan orang lain."


"Tetapi?"


"Udah, jangan mikir yang macam-macam lagi, Ya. Yang terpenting saat ini adalah, kamu itu spesial untuk aku."


Kayla mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya sampai saat ini, wanita itu masih memikirkan gadis yang ingin mencelakainya. Kayla tak sengaja mendengar percakapan Arash dan Zein. Di mana gadis yang juga bernama Kayla itu, mencoba bunuh diri saat melihat berita pernikahan dirinya dan Zein.


"Mikirin apa? kok dari tadi aku panggil gak sahut?" tanya Zein.


"Ah, gak papa kok."


Tak berapa lama ponsel Zein berdering, pria itu merogoh kantongnya dan menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan tersebut.


"Assalamualaikum, Rash?"


"Walaikumsalam. Kak, gadis yang bernama Kayla itu melarikan diri dari penjara," ujar Arash dari seberang panggilan.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Iya, dia kembali mencoba bunuh diri. Saya di perjalanan ke rumah sakit, dia mengancam supir ambulance dan kabur. Tapi__"


"Tapi apa?"


"Saat melarikan diri, dia di tabrak oleh sebuah truk yang melintas dengan kencang, hingga gadis itu meninggal dunia saat di perjalanan ke rumah sakit."


"Innalilahi wainailaihi Raji'un,"


"Kemungkinan sore ini mayatnya akan di kuburkan."


"Baik, terima kasih atas kabarnya, Rash."


Zein memutuskan panggilannya dan kembali menyimpan ponselnya.


"Siapa yang meninggal, Kak?" tanya Kayla.


Zein menghela napasnya pelan. "Itu, gadis yang mencoba mencelakai kamu. Tadi mengalami kecelakaan lalu lintas saat ingin kabur. Dia meninggal dunia saat di perjalanan ke rumah sakit."


"Innalilahi, kita lihat dia Kak?"


"Kamu yakin?"


"Ya, Ila yakin."


...Hei readers, jangan lupa Vote dan likenya yaa......


...Jangan lupa, Follow Ig authornya juga ya.....


...Rira_Syaqila...

__ADS_1


__ADS_2