KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 129 " Turki"


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, akhirnya Kesya dan Arka memijakkan kakinya di Negara Turki. Dimana terkenal dengan keindahan bangunannya yang terbuat dari pahatan bebatuan.


Arka mengajak Kesya menginap di Urgup. Dimana goa yang disulap menjadi hotel dan restoran mewah itu menjadi salah satu tempat mereka berdua menghabiskan waktu dengan suasana berbeda nan romantis.


Arka juga mengajak Kesya menuju Cappadocia, dimana banyaknya balon-balon raksasa mengudara, menyuguhkan pemandangan yang indah dan menawan yang sangat mempesona.


" Mas, aku takut"


" Ada Mas di sini"


Arka menuntun Kesya naik ke balon udara, mereka menikmati pemandangan dari atas sana, pemandangan lembah, ngarai, dan juga perbukitan mendominasi tempat wisata ini. Keunikan dari bangunan yang dipahat dari bebatuan membuat pemandangan menjadi sangat menakjubkan. Dimana membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu maha besar. Dan ciptaan-Nya pun sungguh luar biasa.


Tak hanya menaiki balon udara, Arka juga mengajak Kesya menikmati tarian Sufi atau Whirling Dervishes, Tarian khas turki yang membuat takjub para penonton.


Tak hanya itu, Arka juga mengajak Kesya berjalan-jalan dan tak lupa juga membeli oleh-oleh. Hingga mereka sampai di Blue Mosque atau Mesjid Biru.


" Subhanallah, sungguh indah" Ucap Kesya.


" Hmm, Kamu tau kenapa mesjid ini di namakan Mesjid Biru?"


" Emm, Karena warnanya yang memantulkan warna biru"


" Yaa, itu benar. Mesjid ini di bangun oleh Sultan Ahmed 1 yang berasal dari masa dinasti Ottoman abad ke 14, sedangkan konstruksi bangunannya di mulai pada tahun 1609" Jelas Arka.


" Berarti mesjid ini terbilang mesjid bersejarah ya Mas."


Kesya dan Arka pun melanjutkan perjalanann mereka. Di Turki mereka hanya menghabiskan waktu selama 3 hari, setelah itu mereka mengepak barang dan melanjutkan untuk menuju ke Negara selanjutnya.


" Perjalanan ini akan menjadi sejarah Bagi kita" Ujar Kesya dan memeluk lengan Arka. Kemudian terlelap kedalam mimpi.


Di rumah Daddy Roy, Kiki sedang berebut nasi goreng teri dengan Bara.


" Bara, kamu sudah tambah hingga 2 kali, biar Kiki yang menghabiskan." Tegur Mami Shella.


" Tapi Mi, Kiki juga sudah menghabiskan 2 piring"


" Aduh Bara, kamu ngalah dong sama Kiki."


Bara dan Kiki saling memberi tatapan tajam, kemudian mereka langsung menyendokkan nasi tersebut dan berlomba menghabiskannya.


" Yeey, Mas Bara menang"


"Ih, Mas Bara curang"


" Yee, siapa suruh mulutnya kecil. Weekk"


Mami Shella hanya mampu menggelengkan kepalanya. Kedua putra nya ini sungguh benar-benar menggemaskan. Eh, boleh kah Mami Shella menganggap Kiki anaknya? Ah, terserah Mami Shella dong. Kesya aja di monopoli oleh Mami Shella, bagaimana Kiki Tidak. Ha.ha..ha..


Rumah yang sempat sepi sejak Vina dan Kesya menikah, terisi oleh kehadiran Kiki. Kemudian tak lama Bara yang kembali pulang kerumah, dan syukur Alhamdulillah Bara juga sudha di pindah tugaskan di sini. Jadi Mami Shella tidak perlu berjauhan lagi kepada sang Putra


"Bara, ada yang mencari kamu di depan" Panggil Daddy Roy.


Bara melangkahkan kakinya menuju teras. Bara melihat Andi, anak buahnya yang sedang memegang tas seorang wanita.


" Maaf Pak, ini tas Nona Sasa"


Bara baru teringat jika Tas Sasa masih berada di kantor polisi dan belum dia serahakn kepada Sasa.


" Ah ya, terima kasih"


Kemudian Andi pun meninggalkan rumah Bara.


" Siapa Bar?" Tanya Mami Shella.


" Oh itu, Andi anak buah Bara."


" Tas siapa itu?


" Oh, Sasa"

__ADS_1


" Sasa? Sasa yang kerja di toko kue Kesya?"


Bara menganggukkan kepalanya, "kenapa Bisa sama kamu?"


" Emm, crita panjang"


Bara pun menceritakan tentang kejadian saat Sasa di jambret, dan masuk rumah sakit.


" kalo gitu Bara siap-siap dulu ya Mi, mau balikin ni tas. Mana tau dia perlu"


" Ya sudah, hati-hati nanti ya."


" Mas Bara mau ke toko kue ya, aku nitip black fores potong ya"


" Siaapp "


Bara yang sudah melajukan mobilnya menuju toko kue yang juga menyatu dengan Cafe cake pun entah kenapa tersenyum saat menatap tas Sasa yang berada di bangku penumpang. Bara jadi teringat saat dia mengantarkan Sasa pulang. Sasa ngotot akan pulang sendiri, tapi kondisinya yang ternyata lemas membuat dirinya tak mampu berdiri lama. Padahal yang terkena goresan pisau adalah lengannya. Tapi kenapa kepalanya yang pusing?. Saat Sasa masih belum sadarkan diri, Sasa sempat mengigau dan mengatakan 'jangan tembak', Dan dokter sempat memberikan obat penenang kepada Sasa. Trauma yang diidap oleh Sasa adalah suara tembakan yang sempat dia dengar saat Salah satu temannya melumpuhkan penjambret yang akan kabur tersebut. Entah apa alasannya hingga dia memiliki trauma tersebut. Akan tetapi Dokter yang menangani Sasa mengatakan, agar tidak membahas tentang suara tembakan tersebut.


Sasa yang tadinya tersenyum ramah, yiba-tiba berubah menjadi jutek karena sudah ada Bara di hadapannya.


" Mau pesan apa?" Tanya Sasa jutek.


" Mau balikin ini" Bara menunjukkan Tas nya.


Sasa ingin mengambil Tas tersebut, namun Bara menarik dengan cepat tas tersebut hingga Sasa hanya menggapai angin. Sasa menatap Bara tajam.


" Ada yang mau Saya omongin"


Sasa menaikkan alisnya sebelah, seolah-olah bertanya tentang apa.


" Soal Puput"


Sasa mengernyitkan keningnya, kemudian dia menganggukkan kepalanya. " Duduk di sana aja."


" Ketempat lain, karena Saya merasa di sini gak aman"


" Jam berapa Anda selesai?"


" Sore"


" Saya gak bisa menunggu lama"


" Ya udah, duduk di situ aja kalo mau ngomong"


Bara mendengus kesal. " Oke, kita bicara di situ"


Sasa menganggukkan kepalanya, Sasa keluar dari meja kasir, dan saat Sasa berjalan menuju meja cafe, Bara langsung mencengkram tangannya dan menarik Sasa. Sasa tidak mau kalah, Sasa mencoba melepaskan diri, namun Bara yang ternyata juga bisa bela diri mengunci gerakan Sasa, sehingga Sasa yang badannya kecil, tenggelam dalam rengkuhan Bara. Dan sedikit dorongan Bara membawa Sasa keluar dari toko dan memasukkannya ke dalam mobil.


" Dasar Polisi gi**aaa" Teriak Sasa,


Bara tersenyum miring mendapati Sasa yang kesal. Sasa sedari tadi mencari cantelan untuk membuka kunci agar dia bisa langsung melompat dari mobil Bara. sayangnya mobil Bara termasuk mobil canggih, yang tidak bisa sembarangan di buka.


" Sial" Umpat Sasa.


" Cewek manis itu mulutnya jangan pedas-pedas, mending keluarin kata-kata yang manis aja"


Sasa menatap tajam kearah Bara. jika membunuh tidak dosa, mungkin saat ini juga Bara sudah di mutilasinya. 'Hah, untung sudah tobat' Batin Sasa.


Bara menghentikan mobilnya di kantor polisi di daerah tempat kejadian Puput bermula di kejar. Sasa yang sadar akan di mana Bara membawanya langsung menahan amarahnya.


" Untuk apa Anda bawa saya ke sini?" Ujar Sasa yang sudah dengan wajah memerah.


Bara menaikkan alisnya sebelah, " Kita akan bahas di dalam"


Bara membuka kunci mobil, dan ini kesempatan Sasa untuk lari, namun Bara dengan cepat mengejar Sasa, dan menariknya untuk masuk.


" Lepasin"


" Jangan melawan, saya perlu kamu."

__ADS_1


" Saya gak mau masuk kesana, lepasin" Berontak Sasa.


Bara langsung saja menggendong Sasa di bahunya. Sasa masih saja terus memberontak, hingga Bara menurunkan Sasa di kursi.


"Lepasin brengsek "


" Sasa"


Sasa dan Bara langsung mengalihkan pandangan kearah sumber suara. Sasa membelalakkan matanya, pria yang berada di depan pintu itu adalah pria yang hampir melecehkannya. Seperti biasa, saat itu Sasa sedang menangkap pencopet, naasnya Sasa yang di tuduh mencopet. Untungnya Sasa sudha mengenal Fadil, hingga Fadil yang membebaskannya. Saat menunggu Fadil, Sasa hampir saja di lecehkan, dengan kondisi Sasa yang terborgol, membuat Sasa susah untuk bergerak.


Bara melihat ada kemarahan terpancar dari mata Sasa.


" Ngapain Lo di sini" Bentak Sasa.


Pria itu hanya tersenyum miring dan mendekati Sasa. Pria itu berfikir jika Sasa di tangkap oleh Bara, maka pria itu berniat untuk memberikan pelajaran kepada Sasa, karena pernah menendang aset berharganya.


Pria itu mencengkram ingin mencengkram wajah Sasa, namun dengan gerakan cepat, Sasa memelintir tangan pria itu, Sasa bangkit dari duduk nya, dan membuat pria itu berlutut dengan tangan yang terplintirnke belang punggungnya.


" Sasa" Panggil Bara dan langsung melepaskan juniornya dari cengkraman Bara.


Sasa langsung di bawa ke belakang tubunh Bara. Bara memanggil Andi dan menyuruh membawa Tio, pria yang di plintir oleh Sasa tadi.


"Lepasin Gue" Teriak Sasa.


" Dengerin Saya dulu"


Sasa yang sudah berteriak histeris langsung di rengkuh oleh Bara kedalam pelukannya, tak berapa lama ponsel Bara berdering dan menampilkan nama Fadil di sana.


" Halo Dil"


" Bar, Sasa Sama Lo? anak buah gue bilang__" Perkataan Fadil terhenti karena mendengar teriakan histeris Sasa.


" Aaaakkhh, gue gak salah, lepasin gue, Dasar brengsek" Teriak Sasa yang sudah memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


" Bar, di mana Lo? Sasa kenapa?"


Tak ada sahutan dari Bara, Bara sudah sibuk menenangkan Sasa yang terus saja berteriak histeris. Tak berapa lama datang seorang polwan, yang bernama Risa. Risa juga mengenal Sasa, karena Risa yang membantu Fadil melepaskan Sasa.


" Sasa "


" Bar, ngapain Lo bawa dia ke sini? Dia trauma kantor polisi "


Wajah Bara langsung tegang, dan rasa bersalah langsung menyerebak di seluruh tubuhnya.


" Sasa, ini Mbak Risa. Kamu aman sama Mbak" Ujar Risa dan memeluk Risa kedalam pelukannya.


" Mbak Risa? Mbak, bawa aku pergi mbak. Plis mbak.." Ujar Sasa dengan Isak tangis yang terus berderai.


Risa membantu Sasa berdiri, tiba-tiba saja Sasa oleng dan jatuh pingsan. Untungnya Sasa masih dalam dekapan Risa, dan Bara langsung mengambil alih Sasa dan menggendongnya. Bara langsung membawa Sasa kedalam mobil, dan langsung melarikan Sasa ke rumah sakit. Sebelum Bara pergi, Risa berpesan kepada bara, agar jangan pernah membawa Sasa lagi ke kantor polisi.


" Sa, Maafin Saya" Ucap Bara yang jelas-jelas gak akan di dengar oleh Sasa


.


.


.


.


.


.


Dukung terus ya cerita author.


LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..


Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..

__ADS_1


__ADS_2