
Sudah sebulan Veer menjabat sebagai CEO, dan Quin pun mulai memegang kendali terhadap toko kue Yang berada didepan kampus swasta terkenal.
" Quin, Haus." Bisik Anggel.
Quin melototkan matanya, karena Anggel memanggil namanya Quin di depan umum, bukan Qila. Anggel hanya menampilkan gigi putih dan rapinya.
" Jangan lebar-lebar melotot nya, ntar gelinding tu bola mata." Veer datang dan ikut bergabung.
Mereka duduk di privat room yang terbuat dari kaca dan kedap suara. Jadi , apapun yang mereka bicarakan tidak akan ada yang dengar dari luar.
"Kayaknya toko sebelah ada yang nempati ya." Veer memperhatikan toko yang sedang direnovasi itu.
" Iyaa. Udah, lupain masalah toko. Oh yaa, kamu besok jadi ikut makan malam bersama keluarga Danudirja?" Tanya Quin kepada Veer.
" Kakek maksa buat aku ikut. "
" Aku kok kayak cium perjodohan yaa.." Tambah Quin.
" Aku sih mikirnya gitu juga, karena Danudirja hanya memiliki seorang anak, dan itu cewek pula satu-satunya."
" Waah, selamat yaa.." Quin menyelamati Veer
" Apaan sih. Ingat, gak ada di dalam kamus kita yang namanya perjodohan."
"Iyaa ... iyaa..."
Tak berapa lama Fatin datang dengan rambut kritingnya dan kemeja yang melambai karena kancingnya sengaja tidak di kancingkan.
" Gaya Lo, kayak anak ABG alay aja."
" Pusing gue.."
"Kenapa?" Tanya Quin.
" Sikembar minta kuliah di luar negri."
" Lah trus?"
" Ya Lo tau sendiri kalo gue cuma punya 2 adik, dan itu kembar."
" Ya tau. Trus?"
" Ya gue gak mau lah jauh dari adik-adik gue."
" Trus.?"
" Tras trus tras trus aja Lo dari tadi."
" Ya habis, aku harus bilang apa?"
" Hah, bujuk si kembar kek biar jangan ke luar negri. "
" Jaman udah canggih Bro, Lo bisa video call dan menghubungi mereka kapanpun. Dan Lo tinggal bilang ke Abash, untuk di buatkan pelacak yang dipasang ke adik Lo."
" Bener juga ide Lo, ntar gue suruh Abash buat kalung. Jadi gue masih bisa mantau mereka. Pintar Lo Veer."
" Dari dulu kalee, Lo aja yang blok..blok.."
Setelah menghabiskan waktu istirahatnya di toko kue, Mereka pun kembali mengerjakan rutinitas masing-masing. Termasuk Quin yang harus mencoba resep baru, dan ini sudah ke lima kalinya dan gagal.
__ADS_1
" Mbak Qila Deket yaa sama Tuan Veer?" Tanya Nisa, salah satu karyawan toko. sepertinya dia tertarik dengan Veer, siapa sih yang tidak tertarik dengan Veer.
Qila tersenyum menanggapi ucapan Bisa. "Saya lahir dan besar disana, jadi wajar kan kalo saya dekat dengan mereka?"
" Oh yaa? Mbak Qila kan Tangan kanannya Quin yaa.. "
Qila kembali tersenyum, tangannya sibuk mencuci perlengkapan yang dipakainya tadi.
" Nona Quin kok gak pernah terlihat ya?"
" Tau sendiri kan kalo Nona Quin sedang kuliah di luar negri?"
" Oh iyaa..iyaa... Saya penasaran banget dengan wajah Nona Quin."
Qila hanya tersenyum, dia sudah biasa mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Makan malam bersama keluarga Danudirja pun di hadiri oleh kedua orang tua Veer beserta Kakek dan Omanya. Minus Quin yang memang tidak ingin ikut.
" Veer, perkenalkan ini Nafisa Danudirja." Ujar Kakek Farel.
"Veer."
Veer pun mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah kepada Nafisa. Tapi diluar dugaan Veer, Nafisa hanya memandang tangan Veer. Hingga sebuah suara mengintruksinya dan mau berjabatan tangan dengan Veer.
" Nafi "
Terlihat dari wajah Nafi jika dirinya enggan dalam acara makan malam ini. Dan Nafisa adalah perempuan pertama yang tidka terpesona dengan ketampanan Veer. Dan itu sedikit membuat Veer merasa harga diri Veer terluka.
Loh, kenapa harus terluka? bukannya Veer berharap tidak ada perjodohan. Bagus kan jika Nafisa tidak menyukainya.
" Veer, Nafisa ini sebentar lagi akan menduduki jabatan sebagai CEO."
" Jadi, saya minta tolong kepada nak Veer, untuk membimbing Nafi untuk menjadi CEO yang hebat."
Veer hanya menampilkan senyumnya. 'ujung-ujungnya di suruh nikah deh."
" Kenapa harus saya ya Tuan Danudirja? Bukannya Nona Nafi sudah ada PA nya?"
" Iyaa, Nafi memang sudah memiliki PA, tapi saya ingin Nafi bisa menjadi hebat seperti kamu. Hanya sampai kerja sama kita. erakhir. Lagian Nafi tidak ingin ada perjodohan dalam bisnis."
Veer tersedak ludahnya sendir. Apa? Apa saat ini seperti di tolak sebelum berperang?. Tapi masa sih pesona Veer tidak mempan kepada tu cewek? ah, bukannya bagus yaa kalo dia gak mau ada perjodohan. Jadi gue gak perlu cari-cari alasan buat menolak. Bathin Veer berbicara.
" Baiklah, saya setuju dengan keputusan Nona Nafi yang tidak ingin ada perjodohan dalam bisnis."
Veer mencuri pandang kepada Nafi, tetapi yang di pandang sedari tadi hanya menatapnya datar, bahkan terkesan tidak suka. Tapi Veer tetap menampilkan senyumnya.
' Dasar Playboy kampret' Batin Nafi.
Satu jam sebelum acara makan malam.
" Pokoknya Nafi gak mau ada yang namanya perjodohan. Titik."
" Kenapa? Veer tampan, mapan, dan pintar.?"
" Yaa, dan dia juga seorang play boy. Apa papa mau anak papa yang cantik dan seksi ini, serta cuma satu-satunya di kehidlan Papa jatuh ketangan plaboy kampret itu?"
" Masa sih Veer plaboy?"
" Lihat." Nafi menunjukkan sebuah foto dimana Veer terlihat dengan beberapa wanita berbeda di sebuah cafe, terlihat Veer tertawa manis kepada sang perempuan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Papa Danudirja menggaruk pelipisnya. Sepertinya Nafi benar, sebaiknya tidak ada yang namanya perjodohan dalam bisnis. Papa Danudirja tidak ingin putri kesayangannya jatuh ketangan yang salah. Pertemuan makan malam kali ini cukup hanya sebatas makan malam untuk terjalinnya kerja sama mereka. Dan Papa Danudirja hanya meminta Veer untuk membimbingnya. Tidak lebih.
Waktu makan malam pun dihabiskan dengan bercerita tentang kehebatan Veer dalam memimpin perusahaan. Baru satu bulan, tetapi Veer sudah menampakkan taringnya.
" Nafi cantik ya Ma" Ujar Papa Arka. Saat ini mereka tengah berada dijalan pulang.
" Iyaa, anaknya juga ramah."
" Ramah dari mananya? Mama tau? Nafi itu terkenal sombong dan galak." Ujar Veer.
" Sok tau kamu."
" Ya tau lah Pa, sebelum bekerja sama dengan Veer, Veer harus tau dulu bagaimana perilaku orang yang akan bekerja sama dengan Veer. Jadi Veer tau harus akan menjalankan misi ini seperti apa."
" Misi, emangnya kamu mau perang.."
" Dalam dunia bisnis, pasti banyak musuh berkeliaran, seperti di Medan perang. Jadi sebagai pejuang, Veer harus memiliki Misi dan strategi."
" Iyaa... Mama percaya sama Veer." Dalam Hati Mama Kesya, Mama Kesya yakin jika Nafi sebenarnya anak yang baik. Nafi mirip seperti Quin yang tidak ingin mudah di dekati karena harta.
" Gimana makan malam nya?" Quin sudah masuk kedalam kamar Veer. bahkan Quin juga ikut masuk kedalam selimut dan ikut duduk disebelah Veer yang masih fokus dengan tablet nya.
" Biasa aja"
" Ada bau-bau perjodohan?"
" Gak, "
" Masa sih? biasanya kan ada?"
" Putri Tuan Danudirja tidak ingin ada perjodohan."
" Yang bener? Nafi bilang gitu?"
Veer meletakkan tabletnya. " Nafi? Kok tau ka.u namanya Nafi?"
" Eh itu.. Siapa sih yang tak tau nama penerus Danudirja." Quin membaringkan tubuhnya, dan memeluk guling.
" Ngapain tidur sini, sana balik kekamar kamu."
" Bisa cerita kalo dikosnya ada hantu, aku takut."
" Hah.. Dasar penakut."
" Heum.. yang pemberani."
Veer mengelus kepala Quin agar cepat tertidur. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus dari Quin. Veer meletakkan tabletnya dan ikut tidur memeluk guling.
Nafisa Danudirja, umur 24 tahun. Satu-satunya keturunan keluarga Danudirja, pemilik perusahaan terbesar dalam bidang resto dan penginapan.
IG ; RIRA SYAQILA
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
Mari saling berbagi kebahagiaan. Salam KeSar..
__ADS_1