
Lana menatap laporan yang di berikan oleh sekretarisnya. Ia menatap kertas bertulisan tinta hitam itu dengan tatapan kosong. Fikiran Lana berkelana masih dengan percakapan sang Mama dengan Oma Mega.
Mama Puput ingin Lana melupakan Anggel dan tak menemuinya untuk selamanya. Berbeda jika ada keluarga, dan Mama Puput harap jika Lana tak terlalu menyapa Anggel saat pertemuan tersebut.
"Pak ...." Panggil sekretaris Lana yang sedari tadi menunggu laporan tersebut di bubuhkan tanda tangan.
Tak ada respon dari Lana, sehingga sekretaris Lana mencoba memanggilnya dengan nada sedikit kuat.
"Pak ...."
Lana tersentak dan menoleh. "Ah ya, Maaf ...."
Lana membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut, kemudian ia mengembalikan laporan itu kepada sekretarisnya.
Lana mendesah setelah sang sekretaris meninggalkan ruangannya. Lana merindukan Anggel.
*
"Mami sudah meminta maaf dengan Mama Puput." Ujar Oma Mega kepada Anggel.
Anggel hanya melirik dan menjawabnya dengan deheman.
"Mami dan Mama Puput sepakat jika Kamu dan Lana tidak memilki hubungan apapun."
Anggel langsung menoleh kearah Oma Mega dengan tatapan tak suka.
"Mami harap, kamu mulai melupakan Lana dan menerima pria yang akan Mami jodohkan."
"Mi, Anggel gak mau di jodohi. Anggel cinta Lana."
"Lupakan dia, kamu hanya menjadi wanita pelarian bagi nya."
"Enggak Mi, Anggel bukan tempat pelarian Lana. Lana cinta sama Anggel, kami saling mencintai Mi, Hiks ...."
"Dan mulai sekarang belajarlah mencintai pria yang sebentar lagi akan Mami jodohkan kepada kamu. Kami harus lupakan Lana."
"UDAH MI, UDAH ... Hiikss ... Anggel udah pernah mencoba melupakan Lana, tapi Anggel gagal Mi. Hiks ... Asal Mami tau, Anggel udah pergi ke psikiater untuk melupakan Lana, tapi apa hasilnya? Anggel semakin mencintai Lana Mi, Anggel cuma cinta Lana."
"Cukup An, Mami gak mau dengar ungkapan hati kamu untuk Lana. Sudah Mami putuskan, dan keputusan Mami sudah bulat."
Oma Mega pun meninggalkan Anggel yang masih terisak di dalam kamar nya.
*
Kabar pertengkaran Oma Mega dan Mama Puput pun sampai terdengar di telinga Papa Arka dan juga Daddy Bara.
"Mas jangan bilang masalah ini kepada Mbak Sasa atau pun Mami ya. Aku juga nyimpan berita ini dari Kesya."
"Masalah apa yang aku, Mbak Sa, dan Mami gak boleh tau?"
Suara wanita yang sangat sudah di hafal oleh papa Arka, membuat Papa Arka dan Daddy Bara menolehkan kepalanya kepada empat wanita cantik yang tengah berdiri di hadapan mereka.
Papa Arka sengaja mengajak Daddy Bara untuk berbicara tentang hal ini di luar rumah. Mereka memilih sebuah cafe yang tenang dan tak terlalu ramai pengunjung. Namun siapa yang sangka, jika percakapan mereka terdengar oleh orang-orang yang mereka sayang. Kesya, Vina, Sasa, dan Mami Shella.
"Key, Eeng ... Ini bukan masalah serius. Hanya masalah pekerjaan." Jawab Papa Arka dengan gugup.
"Mas, kamu mau nyimpan rahasia dari aku?" Tanya Bunda Sasa yang sudah membelai dada bidang Daddy Bara.
Jika sudah begini, maka Daddy Bara tak bisa lari dan terpaksa mengatakan yang sebenarnya.
Daddy Bara dan Papa Arka saling pandang. Papa Arka menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya udah kalo Mas gak mau kasih tau, nanti malam jangan tidur sama aku yaa ...." Ancam Bunda Sasa dengan nada yang menggoda.
Daddy Bara menelan ludahnya, ia tak peduli lagi dengan tatapan peringatan dari Papa Arka.
"Tante Mega dan Puput memiliki kesalahpahaman."
Mengalirlah cerita dari bibir Daddy Bara. Papa Arka menghela napasnya dan merangkul sang istri yang sudah mulai ingin menangis.
"Hikss ... kamu nyimpan masalah ini dari aku Mas?"
"Maaf Key, bukannya Aku mau menyimpan masalah ini, tapi aku gak mau kamu jadi kefikiran dan sakit."
"Lana anak aku, Puput udah seperti saudara aku Mas. Hikks ...."
__ADS_1
"Iya, Maafin aku ya ...."
"Hmm, aku maafin, tapi nanti malam kamu tidur di luar, aku gak mau tidur sama kamu."
"Yah, jangan gitu sayang. Kamu tau kan aku gak bisa tidur kalo gak peluk kamu."
"Gak peduli ...." Jawab Mama Kesya yang masih berada di dalam pelukan Papa Arka.
Bunda Sasa, Mami Vina, dan Oma Shella pun hanya terkekeh melihat wajah Papa Arka panik karena tak diizinkan tidur seranjang dengan Mama Kesya.
*
"Abi, jenguk Anggel yuk, perasaan aku kok gak enak ya?"
Quin membuat panggilan telpon kepada Abi. Seharian ini Quin menemani Nafi di apartemen milik Veer.
"Iya Sayang, sepulang aku kerja ya."
"Jam berapa kamu pulang? bisa dinoercepat sejam gak?"
"Baiklah, sesuai permintaan My Quin."
Quin tersenyum malu mendengar panggilan sayang dari Abi. Sehingga membuat Nafi juga ikut tersenyum. Panggilan pun berakhir, Quin menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat melihat wajah Nafi yang sedang menggodanya.
"Aku gak tau, kalo kamu bisa seimut ini." Ujar Nafi.
"Naf, jangan goda aku."
"Sejak kapan kamu jatuh cinta dengan Abi?"
"Baru aja, tapi aku masih takut untuk mengatakannya."
"Hmm, karena masalah yang kamu ceritakan itu ya?"
Quin menganggukan kepalanya. "Oh ya, kamu sama Veer gimana? apa keponakan ku sudah hadir di sini?"
Gantian Nafi yang tersipu malu dan merona saat ini. "ka-kami belum melakukannya."
"Masa sih? aku gak percaya." Quin menatap curiga kepada Nafi.
"Haah?? waahh, kalo itu mah aku udah sering liat. Veer sering banget cium kamu. Veer suka gak liat tempat." Gerutu Quin.
"Be-benarkah? Quin kamu membuat ku malu." Nafi menutup wajah nya dengan kedua tangannya.
*
Kayla benar-benar menghindari Zein. Sehingga membuat Zein menjadi penasaran dengan apa yang terjadi kepada Kayla. Bahkan Kayla tak membalas pesan dan tak menjawab telpon dari nya.
Zein pun akhirnya mendatangi Kayla ke kampus. Zein menunggu dengan sabar hingga Kayla selesai mengajar. Ketika Zein melihat Kayla keluar dari kelasnya, Zein langsung menghampiri Kayla.
"Kak Zein." Pekik Kayla pelan.
"Aku mau bicara sama kamu."
"A-aku masih ada kelas."
"Aku tau kamu bohong."
Zein menarik tangan Kayla dan emmaksanya untuk mengikuti dirinya.
"Kak Zein, lepas. Gak enak di lihat orang."
"Aku gak peduli."
Zein terus memaksa Kayla untuk mengikutinya dan masuk kedalam mobilnya.
"Kak, A-aku___"
Kayla benar-benar tak bisa berkata apapun. Zein langsung menyalakan mesin mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan tinggi.
Di sinilah mereka, setelah menempuh satu jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah tempat yang asri dan jauh dari hiruk pikuk padatnya kota.
Kayla masih diam dengan jantung yang berdebar-debar. Kayla tahu, jika Zein merasakan jika dirinya menghindari Zein. Mungkin ini saatnya yang tepat untuk mengakhiri hubungan mereka. Sebelum masalah besar datang dan menyakiti hati orang-orang yang di sayang.
"Ila mau putus."
__ADS_1
Belum lagi Zein membuka suaranya, suara Kayla yang meminta putus pun terdnwgar oleh Zein.
"Apa?"
"Ila mau putus. Ila mau hubungan kita berakhir. Ila gak bisa maksain diri Ila buat cinta sama kakak. Ila gak cinta sama kakak."
"Kamu bohong Ila."
"Ila gak bohong, Ila gak cinta sama kakak."
Zein menarik lengan Kayla sehingga tubuh Kayla menghadap kearahnya.
"Katakan, katakan kamu gak cinta sama aku."
"Ila gak cinta sama kakak."
"Katakan lagi, katakan dengan menatap mata aku."
Kayla menarik napasnya, ia menatap mata Zein dan memberanikan diri untuk mengatakan jika dirinya tak mencintai Zein.
"Ila gak cinta sama kakak." Ujar Kayla dengan menatap mata Zein.
Namun Zein menangkap nya berbeda, karena Kayla mengatakannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu gak cinta aku?"
"Iya, Ila gak gak cinta kakak."
"Katakan sekali lagi." Zein sudah menangkup wajah Kayla, dan mendekatkan wajahnya perlahan.
"Ila gak cinta sama kakak."
"Katakan lagi." bisik Zein yang mana napasnya menyapu wajah Kayla.
Terlihat Kayla memejamkan matanya sehingga air mata nya pun ikut terjatuh. Kayla kembali menatap mata Zein yang mana wajah Zein semakin dekat dengan wajahnya.
"Ila gak cinta sama kakak." lirihnya.
"Katakan lagi." Bisik Zein tepat di depan bibir Kayla.
"I-ila gak cinta sa-hmmppp."
Bibir Kayla langsung di bungkam oleh bibir Zein. Kayla memberontak untuk melepaskan dirinya, namun Tenaga Zein sangat kuat, dan tenaga Kayla bukan apa-apanya bagi Zein.
Zein melepaskan ciumannya.
"Katakan lagi." bisik nya
"Ila gak cinta sama kakak."
Cup ...
"Katakan lagi."
"Hiks ... Ila benci kakak. Hiks ... Ila benci ...."
Zein langsung memeluk tubuh Kayla.
"Jangan bohongi hati kamu Ila, Kamu cinta sama aku, dan aku juga mencintai kamu. Kita saling mencintai. Gak akan ada orang yang akan memisahkan kita."
Zein merelai pelukannya dan menangkup lagi wajah Kayla.
"Kamu harus percaya sama aku. Aku gak akan biarin satu orang pun memisahkan kita. Sampai kapan pun aku akan memperjuangkan kamu untuk menjadi istri aku. Secepatnya."
Zein langsung membungkam kembali bibir Kayla. Kali ini, Kayla membalas ciuman itu. bagi Zein, ini ciuman terindahnya karena Kayla membalas ciumannya. Tapi tidak bagi Kayla, Kayla akan menerima tawaran sang Mama yang pernah di tolak ymbya demi Zein. kali ini Kayla akan menerimanya juga demi Zein. Kayla bersedia di jodohkan dengan salah satu anak dari teman sang Mama.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF