
Abi memakaikan cincin berlian kepada jari manis Quin, begitu pun sebaliknya. Pertunangan Quin pun di beri tepuk tangan yang meriah oleh para tamu undangan. Abi mengecup jari jemari Quin, membuat Wajah Quin tiba-tiba saja merona.
Abi meraih pinggang Quin, " Selamat datang di keluarga Subekti." Bisik Abi di telinga Quin.
MC mengarahkan Abi dan Quin untuk berdansa. Abi mengulurkan tangannya kepada Quin, dan di sambut oleh Quin. Abi menuntun Quin untuk ke lantai dansa, seketika lampu padam, dan detik selanjutnya hiduplah sebuah lampu yang hanya menyorot ke arah Abi dan Quin.
Abi merengkuh pinggang Quin dengan lembut, jari jemari kanan Quin dan kiri Abi saling bertautan. Quin merasakan jika tatapan Abi kepadanya telah berubah. Quin tau arti tatapan itu, tapi Quin tak ingin jatuh terlalu dalam dan berharap sesuatu hal yang mungkin tak akan pernah bisa Quin dapatkan, selain dari Lana.
" Pa, Mama dengar jika Abi menyukai seorang wanita, apa tak Masalah jika kita jodohkan Quin dengan Abi?"
kekhawatiran Mama Kesya pun mulai munucl. Mama Kesya baru saja mengetahui jika Abi memiliki seseorang yang di cintainya selama ini.
" Abi yang meminta perjodohan ini di lanjutkan. Abi juga yang meminta pernikahan ini di percepat." Jawab Papa Arka.
" Lalu wanita yang selama ini di bincangkan? Eem, Anita.. Yaa.. namanya Anita."
Papa Arka menatap Mama Kesya. " Mama percaya sama Papa kan? Papa gak akan menjerumuskan putri Papa satu-satu nya kepada seseorang yang tidak bertanggung jawab. Abi sudah berjanji akan mencintai Quin, dan Papa melihat kesungguhan itu. Abinjuga sudah berjanji, jika dia akan mengakhiri perasaanya terhadap Anita."
" Apa Papa yakin? jika Abi akan menepati janjinya?. Jika Mama tahu Abi mencintai orang lain, Pasti Mama akan menolak dengan keras perjodohan ini. Setidaknya Lana jauh masih lebih baik."
" Papa awalnya ingin menjodohkan Quin dengan Lana. Tapi Mama tahu sendiri, jika Quin menolak lamaran Lana berkali-kali. Pasti ada alasan yang kuat bagi Quin untuk menolak Lana. Kita tidak perlu tau apa alasan itu, yang pasti, Kita lihat perkembangan Abi dan Quin." Papa Arka menatap sepasang insan yang tengah berdansa itu.
" Jika Abi menyakiti Quin, Maka Papa yang akan berdiri paling depan. Tak akan Papa biarkan Abi menyakiti perasaan Quin. Cukup sekali kita kecolongan, dan kali ini tidak akan Papa biarkan."
" Mama pegang janji Papa. Jika Quin kembali merasakan sakit, Maka Papa akan Mama hukum."
Papa Arka memeluk Mama Kesya, dan mendaratkan ciuman di bibir yang selalu menjadi candunya.
" Itu tidak akan terjadi."
Zein menarik tangan Kayla untuk berdansa. Kayla yang tak sigap terpaksa mengikuti Zein. Mereka bergabung bersama Quin dan Abi.
" Mau dansa?" Tawar Lana kepada Anggel.
Anggel menggelengkan kepalanya, namun Lana menarik pinggang Anggel dan membawanya ikut ke lantai dansa.
" Hah, sepertinya sudah sangat lama kita tidak berdansa. " Ujar Papa Arka.
__ADS_1
" Udah tua, biar yang muda-muda aja lah."
" Oh yaa, bagaimana dengan beliau-beliau?"
Mama Kesya mengikuti arah tunjuk Papa Arka. Mama Kesya menggeleng sambil tersenyum. Di sana, di lantai dansa sudah bergabung Oma Shella dan Opa Roy, serta Opa Nazar dan juga Oma Rosa, dan di susul Daddy Bara dan Bunda Sasa, serta Oma Mega dan Opa Bram.
Papa Kesya menarik pinggang Mama Kesya untuk bergabung. Ternyata tak hanya mereka, Mama Puput dan Papa Fadil pun juga ikut menuju lantai dansa, hingga mereka tertawa bersama saat saling pandang.
Papi Gilang dan Mami Mili pun tak mau kalah, hingga Fatih putra mereka hanya menggelengkan kepalanya.
" Kamu gak mau ikut dansa?" Tanya seorang gadis cantik dan seksi.
Fatih menoleh dan menatap gadis itu, kemudian Fatih menarik pinggang gadis itu dan membawanya ke lantai dansa.
.
.
Quin menatap bintang-bintang yang berkeliaran. Saat pesta Dansa berakhir, Quin memilih melarikan diri, Quin tak terbiasa dengan suasana ramai yang terlalu mencolok seperti ini.
" Selamat atas pertunangannya, Qila."
Jamal..
Pria itu berdiri di sana dengan gagahnya. Quin berusaha untuk menahan emosinya. Quin memilih pergi dari pada meladenin pria bernama Jamal tersebut.
" Apa kamu menghindari ku?"
Quin menghentikan langkahnya, kemudian menatap Jamal dengan smrik angkuh nya.
" Tentu, karena aku tak Sudi berdekatan dengan seorang pengemis."
Semenjak pertunangannya dengan Jamal batal, Quin mencari tau tentang Jamal, dan ternyata Quin hanya di manfaatkan oleh Jamal untuk mendekati Quin yang sebenarnya. Sayangnya Jamal tertipu oleh Quin saat itu, Quin yang saat itu di kenalkan kepada Jamal adalah Kayla yang tengah menggunakan masker. Tentu saja, Tak ada yang boleh tau identitas Quin sebenarnya. Quin tak menyesal mengambil keputusan tetap menyembunyikan identitasnya saat menjalin hubungan bersama Jamal, Quin hanya ingin di cintai sebagai wanita biasa, bukan dari seorang anak dari pemilik kerajaan bisnis.
Jamal berusaha mendekati Quin yang di kenalnya sebagai Qila, agar dapat mendekati Quinesya. Tapi ternyata mendekati Quinesya tak semudah yang Jamal fikirkan, bahkan Quin yang di kenal Jamal sebagai Qila pun tak ingin membeberkan informasi sedikitpun tentang dirinya. Quin sengaja meminta Kayla menjadi dirinya lagi untuk bertemu dengan Jamal, agar Jamal tak curiga dengan kedekatan dirinya bersama keluarga Moza.
Jamal yang merasakan usahanya sia-sia pun, akhirnya diam-diam mendekati Arumi, yang juga seorang dari anak pengusaha kaya. Arumi awalnya menolak setiap ajakan Jamal, namun Jamal menjebak Arumi hingga Arumi tidur bersamanya.
__ADS_1
Demi menyelamatkan perusahaannya, Jamal rela melakukan hal keji, hingga persahabatan antara Arumi dan Quin pun terputus.
Bukti-bukti yang menampilkan jika Arumi tidur bersama Jamal, membuat orang tua Arumi marah dan memutuskan untuk menikahkan Arumi dengan Jamal, sebelum foto-foto tersebut tersebar.
Arumi berusaha menjelaskan kepada Quin yang di kenalnya Qila, namun Arumi selalu gagal, seolah ada yang menghalanginya, hingga malam itu, Quin datang bersama Papa Arka, Mama Kesya yang atas saran dari Ara untuk menyamar menjadi orang biasa. Ara sekaan memiliki firasat buruk tentang malam ini. Tak ada satu orang pun di acara itu yang mengenali sosok Papa Arka, riasan dan pakaian yang terlihat sederhana dan jauh dari kata mahal pun membuat tampilan Papa Arka persis sebagai seorang pekerja. Penghinaan dan cacian pun mulai terlontarkan.
Papa Arka di tuduh sengaja menyodorkan anaknya untuk menggoda Veer, seorang penerus Moza yang baru saja di ketahui identitasnya saat itu.
Termasuk Jamal, menghina Quin dengan mengatakan sebagai anak pembantu yang suka menggoda majikannya. Jamal juga memperlihatkan foto kedekatan Quin bersama Veer, hingga orang tua Jamal menyiram air ke wajah Quin. Om Jodi yang juga ikut mendampingi saat itu, langsung menahan Papa Arka, agar penyamaran mereka tak ketahuan.
Papa Arka yang sudah sangat marah, mengerti maksud dan tujuan Jodi menahannya, semua ini akan menjadi sebuah jebakan jika Papa Arka membela Quin, dan rahasia identitas Quin akan terbongkar dengan cara memalukan. Untuk itu Jodi berdiri di depan membela Quin, begitu pun dengan Ara yang memiliki mulut setajam silet, yang mampu menangkis semua hujatan yang di berikan kepada Quin. Mama Kesya sudah memeluk Quin dengan menangis.
Quin berfikir, apa salahnya selama ini kepada Jamal, sehingga Jamal tega membuat penghinaan yang membawa kedua orang tua Quin juga ikut terlibat. Tapi Quin tak menemukan jawabannya.
" Quin, atau Qila?" Jamal tertawa iblis. " Aku mendekati mu bukan karena aku mencintai mu, sungguh. Aku hanya ingin menghancurkan keluarga mu. Kau kira aku tak tau siapa kau sebenarnya dulu? Ha..ha.."
Quin tiba-tiba merasa takut dengan tawa Jamal yang sangat mengerikan.
" Kau tau, seharusnya yang masuk dalam jebakan ku adalah kamu. Tapi aku tak Sudi menikah dengan anak dari keturunan Kesya. Kau dan ibu mu sungguh sangat menjijikkan." Maki Jamal.
Quin mengerutkan keningnya, Quin semakin tak mengerti apa yang terjadi saat ini.
" Jangan pernah menghina ibu ku." Ujar Quin dengan emosi yang tertahan.
Jamal melangkahkan kakinya, mendekat kearah Quin, hingga Quin refleks memundurkan langkahnya.
" Jangan pernah berani menyentuhnya."
Jamal yang hampir dekat dengan Quin langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara bariton yang membuat ia menghentikan aksinya, pisau yang ada di dalam kantong celananya pun tak jadi di keluarkan.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF.