KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF - 183


__ADS_3

Gadis itu menatap uluran tangan Zien, perlahan tangannya bergerak untuk menyambut uluran tangan pria itu.


"Kayla ..."


Mendengar nama Kayla, Zein menaikkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang sangat manis sekali. Gadis yang bernama Kayla itu sampai terkesima menatap betapa tampannya wajah Zein saat tersenyum.


"Kayla," gumam Zein sambil tersenyum yang masih di dengar oleh gadis bernama Kayla tersebut.


'Dia tersenyum, pria itu tersenyum sambil menyebut namaku. Apa dia menyukai lku?' batin Kayla atau biasa di panggil dengan Ela.


Sudah 2 hari Zein menemani gadis bernama Kayla. Pria itu tak tega meninggalkan gadis bernama Kayla itu sendirian tanpa ada yang menemaninya.


"Terima kasih, kak Zein," ujar gadis bernama Kayla itu.


Ya, Zein menyuruhnya memanggil dengan sebutan 'kakak', setelah mengobrol selama dua hari ini bersama Kayla.


Saat ini, Zein baru saja mengantarkan Kayla pulang ke rumahnya.


"Sama-sama, ingat. Jangan pantang menyerah karena semua orang yang ada di sekelilingmu itu mengucilkan kamu. Kamu harus jadi gadis yang kuat dan wanita yang hebat," ujar Zein menyemangati.


"Kakak, apakah kita akan bertemu kembali?" tanya Kayla.


"Entahlah, yang pasti dalam waktu dekat ini, saya tidak ada di Indonesia."


"Kakak mau ke mana?"


"Ada sesuatu yang harus suaa kerjakan. Baiklah, saya harus kembali." Zein pun meninggalkan gadis yang bernama Kayla itu.


Jika saja tak merasa iba dengan latar belakangnya, maka Zein tak akan seramah ini dengannya.


Sifat Zein yang sangat mirip dengan sang Papi Pun, membuat Zein berbeda dari sepupunya Veer, Lana, Fatih, dan Lucas. Zein cenderung lebih pendiam dan gak ingin ambil pusing dengan hal sekitarnya.


Zein melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia harus mengejar pesawatnya dan kali ini tidak boleh terlambat. Zein sudah sangat merindukan Kayla-nya.


*


Beberapa tahun kemudian.


"Kayla, aku mencintai kamu. Sampai kapan pun, hanya kamu yang aku cinta. Aku kembali hanya untuk kamu."


Seorang wanita yang penampilannya sudah jauh berubah dari masa gadisnya dulu, terdiam saat mendengarkan ungkapan perasaan seorang pria yang ingin dia sapa karena telah lama tak bertemu.


Wanita itu sangat senang saat mendengar bahwa pria yang dia cintai sejak melihat senyuman pertamanya itu, mencintai dirinya. Pria itu sangat jelas mengatakan bahwa dia mencintai wanita bernama Kayla, dan itu adalah dirinya.


"Kak Zein, aku juga mencintai kamu." lirih wanita itu dan ingin mendekat kearah Zein.


"Zein, Lo di sini?"


Tiba-tiba seorang pria berparas bule menghampiri Zein. Wanita bernama Kayla itu pun menghentikan langkahnya untuk mendekati Zein.


Entah apa yang mereka bicarakan, karena pria bule itu membisikkan sesuatu kepada Zein. Tak berapa lama mereka pergi tanpa menoleh kearah wanita bernama Kayla.


"Tak apa, masih ada hari lain."


Beberapa ahli kemudian, Kayla atau sering di sapa Ela itu tanpa sengaja melihat Zein di dekat tempatnya melakukan pemotretan. Perasaannya saat senang, Ela pun mengikuti ke mana Zein pergi.


Bagaikan di sambar pergi, Ela merasa marah saat Zein memeluk seorang wanita yang dia ketahui sebagai guru musik.

__ADS_1


"Kak, ini gak bener, gimana kalau ada yang lihat?" ujar Kayla.


"Ila, aku gak peduli. Ayo, kita katakan semuanya kepada seluruh keluarga."


"Gak, ini salah. Hubungan kita salah. Aku gak mau,"


"Ila, kamu gak bisa menolaknya."


"Bisa, aku bisa."


Ela melihat dan mendengar perdebatan antara Zein dan wanita yang di panggil Ila itu. Amarahnya memuncak. Ela benci dengan Ila yang berani-beraninya memarahi pujaan hatinya.


"Gak, gak ada yang boleh melukai Kak Zein. Gak ada yang boleh." monolognya dan melangkah besar ke arah Zein dan kayla.


Baru beberapa langkah, kakinya kembali berhenti karena mendengar Zein menyebut nama Kayla.


"Kayla, aku mencintai kamu. Cuma kamu. Aku cuma maunya sama kamu. Kayla Az-Zahra."


Ela merasa hatinya tercabik-cabik. Baru beberapa hari lalu dia merasa bahagia saat Zein menyatakan cinta untuknya ,tapi sekarang?


"Gak, ini pasti salah. Yang Kak Zein cinta itu aku, Kayla Ayunda, bukan Kayla Az-Zahra. Aku yang duluan bertemu dengan Kak Zein dari pada wanita itu. Ya, Kak Zein pasti hanya mencintai aku, bukan wanita itu. Lihat saja, aku akan menyadarkan Kak Zein, jika Kayla yang dia cintai itu aku, bukan gadis jelek itu," geramnya dengan tangan terkepal.


*


Kabar pertunagan Zein dan Kayla pun langsung tersebar luas. Ela semakin geram, apa lagi saat dia mengetahui jika Zein adalah salah satu CEO dari perusahaan Moza.


"Sial, lihat saja. Aku akan merebut Kak Zein ku kembali." Geram Ela sambil melempar gelas ke arah televisi.


Sudah beberapa kali usaha yang Ela lakukan, akan tetapi tidak membuahkan hasil. Kayla selalu saja selamat dari rencananya.


Ela semangka menyebar luaskan bahwa Kayla menikah dengan Zein karena harta, melihat bagaimana kayanya keluarga Zein.


Tidak hanya sampai di situ, Ela juga memberikan teror terus menerus dari ponsel, tetapi selalu di abadikan, hingga akhirnya Ela mengirim ancaman berupa boneka di lumuri darah dan juga di tusuk-tusuk pisau.


Ela merasa kesal karena Kayak seakan tak takut dengan ancamannya dan lebih memilih untuk mencari ide lain untuk mencelakai Kayla.


Saat mendengar bahwa Zein dan Kayla akan melakukan pemotretan di tempat yang sama dengannya, Ela sungguh bahagia. Dia merogoh koceknya untuk membayar lebih kepada orang suruhannya untuk membuat Kayla terluka.


Andai saja,..


Andai saja staf yang bekerja saat itu tak membantu Kayla, mungkin saat ini yang akan terbaring di rumah sakit dan mengalami kecacatan parah adalah Kayla.


Ela semakin geram, hari pernikahan Zein dan Kayla semakin dekat. Ela pun nekat mendatangi rumah Kayla dan memberikan pelajaran kepada calon istri Zein itu dengan tangannya sendiri.


*


Kamu pikir, karena namamu sama dengan Kayla, Zein mencintai kamu? Kamu salah, Nona. Kayla yang hanya di cintai oleh Kak Zein adalah Kayla Az-Zahra. Tak ada Kayla yang lain."


"Bohong? Zein, milikku. Kak Zein hanya mencintai aku. Bukan wanita itu." pekik Ela kepada Arash.


"Kamu memilih lawan yang salah" ujar Arash akhirnya dan membiarkan Ela sendirian dengan emosi yang memuncak.


Zein benar-benar emosi saat mengetahui jika semua yang terjadi memang sengaja di rencanakan untuk mencelakai Kayla.


Zein menatap gadis bernama Kayla itu dari balik kaca tembus pandang satu arah.


"Beneran Kakak gak kenal sama dia?" tanya Arash.

__ADS_1


"Jika namanya Kayla dan orang yang pernah aku tolong, mungkin saja. Tapi wajahnya sangat berbeda."


"Sepertinya dia telah melakukan operasi pada bagian wajahnya. Terlihat sangat jelas sekali perbedaannya," ujar Arash sambil menunjukkan foto Ela yang dulu dan sekarang.


"Lakukan yang terbaik untuk menghukumnya," titah Zein dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Zein sama sekali tak berniat untuk menemui gadis yang pernah di tolongnya dulu. Baginya, dia tak pernah mengenal gadis bernama Kayla, selain Kayla Az-Zahra.


Hukuman dengan pasal berlapis pun harus diterima oleh Ela. Karir yang sudah susah payah dia bangun, seketika hancur dengan sekejap mata. Cinta yang dia damba-dambakan, malah menganjurkannya sehancur-hancurnya.


"Aku gak akan biarkan kalian bahagia. Kalian gak boleh bahagia di atas penderitaan aku," pekik Ela dengan menangis meraung-raung


*


Kayla telah di perbolehkan pulang. Besok adalah hari pernikahannya dengan Zein. Kayla sudah katakan kepada semua orang, jika kakek bertanya mengenai kakinya, Kayla meminta untuk mengatakan bahwa dirinya jatuh dari tangga. Gadis itu tak ingin membuat sang kakek khawatir.


"Duh, calon manten. Gimana perasaannya?" tanya Anggel yang baru saja masuk ke dalam kamar Kayla.


"Gugup. Apa kamu juga meraskan hal yang sama?" tanya Kayla kepada Anggel.


"Aku? Gugup?" Anggel tertawa. " Emosi iya. Rasanya ingin banget menghilang saat itu juga," ujar Anggel mengingatkan akan pernikahannya dengan Lana.


"Ah iya, Aku lupa." Kayla pun terkekeh. Tak berapa lama, Quin dan Raysa pun ikut masuk ke dalam kamar Kayla.


"Bumil, hati-hati jalannya," tegur Anggel kepada Quin.


Quin hanya menyengir kuda.


"Ntah, dari tadi heboh banget. Si suruh pake kursi roda gak mau," gerutu Raysa dengan kepala.


"Iih, Deket doang. Lagian aku juga butuh gerak," protes Quin.


"Iya, tapi gak boleh terlalu lincah." tegur Anggel.


"Iya buk dokter," ujar Quin akhirnya.


Kayla hanya menatap sepupu-sepupunya itu. Dia benar-benar bersyikur bisa merasakan kumpul bersama di saat malam terakhirnya menyandang status gadis.


"Duh, kok pada ngumpul di sini? Udah, pulang sana, biarin Kayla istirahat." tegur Bunda Sasa.


"Bun, kami mau tidur sini, boleh ya.." rengek Anggel, Raysa, dan Quin.


"Kalau Raysa sih bisa, lah kalian berdua ini udah punya suami, izin dong dengan suaminya."


"Pasti di izinin kok. Tenang aja."


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2