
Sepanjang perjalanan Kesya terlihat memikirkan sesuatu. Arka yang melihat Kesya menaikkan alisnya sebelah.
" Kamu mikirn apa sayang?" Tanya Arka. Tapi Kesya tidak menggubris ucapan Arka. Bisa dibilang Kesya tidak mendengar saat Arka berbicara dengannya.
" Sayang" Panggil Arka lagi.
Kemudian Arka menepikan mobil yang di kendarai nya. Masih terlihat Kesya sedang sibuk dengan fikirannya sendiri. Arka membuka seatbelt nya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Kesya. Tepat disebelah wajah Kesya, Arka menghentikan gerakannya, dan berbicara setengah berbisik kepada Kesya.
" Sayang" Panggil Arka.
Kesya yang terkejut mendengar suara Arka langsung menolehkan wajahnya kesumber suara.
Cup
Bibir Kesya dan Arka pun bertemu. Tidak ingin membuang kesempatan, Arka langsung ******* bibir Kesya dengan lembut membuat Kesya terpaku sesaat mendapatkan perlakuan dari Arka, namun setelah fikirannya kembali, Kesya mendorong tubuh Arka untuk menghentikan aksinya.
"Apaan sih Mas" Sungut Kesya.
Arka terkekeh melihat wajah Kesya yang kesal kepada dirinya.
" Kamu dari tadi Mas panggilin gak jawab-jawab. Mikirin apa sih?"
" Oh, mikirin Ayah sama Gilang!"
Arka menaikkan alisnya sebelah. Ada rasa tidak suka saat Kesya mengatakan jika sedang memikirkan Gilang.
" Gilang?"
Kesya menganggukkan kepalanya.
" Kenapa dia"
" Emm, rahasia.. " Ujar Kesya sambil tersenyum yang membuat Arka kesal.
Sesampainya di kediaman keluarga Moza, Kesya turun dengan Arka yang sudah membukakan pintu dan menggandeng tangannya.
"Dasar anak nakal. Kenapa kamu gak bilang kalo kamu balik ke Jakarta?" Ujar Papi Farel.
Arka hanya terkekeh mendengar kekesalan Papinya. Pasalnya Papi Farel tadi pagi menyusul Arka ke Bandung, tapi setibanya di sana, Arka sudah tidak ada.
" Namanya juga pengantin baru Pi, Mana bisa jauh-jauh." Ujar Arka sambil terkekeh.
" Lebay" Ujar Papi Farel.
" Duuh, yang bilang lebay dulunya gimana? Sampai bilang kunci kamarnya hilang" Ujar Mami Laura yang datang dari belakang Papi Farel.
Papi Farel hanya terkekeh dan merangkul istrinya, dan mengecup hidung mungil milik sang istri. Kesya yang melihat pemandangan di depannya menjadi ikut merasakan bahagia.
__ADS_1
" Ya udah Pi, Mi, Kami ke atas dulu yaa." Ujar Arka dan langsung merangkul Kesya untuk ikut dengannya setelah mendapatkan persetujuan dari Papi Farel dan Mami Laura.
Klik.
Kesya langsung menoleh ke arah Arka yang sedang menatapnya dengan intens. Kesya meneguk salivanya. Arka berjalan ke arah Kesya sambil memainkan rambut poni alakadarnya dengan gaya seseksi mungkin.
Kesya mundur secara perlahan ketika merasa ada yang tidak beres dengan Arka. Langkah Kesya terhenti karena terhalang oleh tempat tidur yang berada di belakangnya. Arka semakin tersenyum licik karena Kesya sudah tidak bisa lagi menghindar darinya. Arka semakin dekat sehingga Kesya terduduk di atas tempat tidur.
Arka mendorong bahu Kesya dengan lembut, dan tanpa penolakan Kesya mengikuti gerakan Arka yang membuat dirinya sudah dengan posisi dibawah Arka.
Arka mendekatkan bibirnya ke bibir Kesya yang selalu menjadi candu dan menggoda dirinya.
Tok...tok..tok..
Ketukan pintu membuat Arka menggeram kesal. Arka langsung berdiri dan berjalan kearah pintu dengan geram.
" APA?" Bentak Arka.
Art yang mengetuk pintu kamar Arka tadi pun langsung menciut dan pucat mendengar kemarahan Arka.
" It- It___"
" It it apa? Bilang yang jelas" Ujar Arka masih dengan nada kesalnya.
" It-itu, Tuan Besar menyuruh Tuan Muda untuk bersiap, karena Nyonya Mega akan segera melahirkan" Ujar art tersebut terbata-bata.
" Kenapa Mas?" Tanya Kesya yang melihat wajah Arka panik.
" Mbak Mega mau melahirkan sayang" Ujar Arka dan meraih jaketnya.
" Aku ikut"
Sesampainya di rumah sakit, Daddy Roy, Mami Shella, Mbak Vina, Kak Vano, Leo, dan Mas Bram pun sudah berada di sana.
" Oma, Mami" Ujar Leo sambil menahan Isak tangisnya dan memeluk Oma Laura.
" Apa yang terjadi?" Tanya Papi Farel.
" Tadi Mami lagi siram bunga di halaman depan, lalu Mami terpeleset dan terjatuh." Ujar Vano dengan gemetar. " Mami mengalami pendarahan karena perutnya yang terbentur"
Bram sudah terduduk lemas dan tidak fokus dengan sekelilingnya. Papi Farel yang melihat Bram pun langsunh duduk di sebelah Bram dan memeluknya.
" Mega itu wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini" Ujar Papi Farel.
Sudah hampir satu jam akhirnya Anggun keluar memberitahukan kepada seluruh keluarga pasien, bahwa operasinya berjalan lancar. Akan tetapi keadaan bayi saat ini kritis, di tambah usia kandungan yang baru masuk tujuh bulan.
Ada rasa syukur karena Mega baik-baik saja, tetapi ada rasa sedih dan khawatir karena ada seorang nyawa seorang bayi yang tak berdosa sedang berjuang dengan kehidupannya.
__ADS_1
Papi Farel mengajak Bram untuk solat, dan memohon pengampunan dosa kepada yang Maha Kuasa.
Mega sudah berada di kamar inapnya, Tapi Mega belum siuman, karena efek bisu yang masih bekerja.
Kesya melihat dari balik kaca, dimana bayi mungil yang baru saja lahir kedunia, sedang berjuang dengan hidup dan matinya. Tubuh mungilnya penuh dengan alat-alat kedokteran yang terpasang. Kesya menyentuh kaca pembatas itu, seolah-olah dia sedang menyentuh bayi mungil tersebut. Kemudian Kesya menyentuh perutnya yang rata. Tanpa Kesya sadari sebulir air bening jatuh dengan mulut dari matanya.
Semua pergerakan Kesya tidak luput dari pandangan Arka. Arka mendekat dan meraih tubuh Kesya kedalam pelukannya. Kesya memeluk tubuh Arka dan menangis. Arka sedikit panik karena Kesya menangis.
" Sayang. Ssttt, " Ujar Arka menenangkan Kesya.
Setelah merasa Kesya tenang, Arka mengajak Kesya duduk di taman rumah sakit yang juga milik keluarga Moza yang di kelola oleh Bram, yang akan di wariskan untuk Leo.
Kesya membuang sisa cairan dalam hidungnya dengan menggunakan tisu yang di beli oleh Arka saat sedang membeli minuman untuk Kesya.
Arka membuka minuman dingin untuk Kesya, dan menyodorkannya. Kesya mengambil minuman tersebut, kemudian menatap Arka sendu.
" Kenapa sayang? Bilang sama Mas." Ujar Arka sambil
Kesya masih menatap kearah Arka. Kemudian Kesya mengalihkan pandangannya kearah depan. Kesya menghela napasnya, kemudian menatap perutnya. kemudian kesya mengelus perut ratanya, dan kembali menangis. Membuat Arka kembali panik.
Arka kembali memeluk Kesya, dan mengelus punggung Kesya dengan lembut. " Sayang, kamu kenapa? Coba cerita sama Mas"
Arka meringis saat Kesya melap segala cairan yang keluar dari mata dan hidungnya tepat di baju bagian dada Arka.
"Mau cerita?" Tanya Arka lagi.
Kesya menghela napasnya, " Mas, seandainya aku gak bisa memberikan keturunan kepadamu gimana? Apa Mas akan mencari wanita lain yang bisa memberikan keturunan untuk Mas" Ujar kesya menatap kedalam mata Arka.
" Kamu ngomong apa sih sayang, Mas gak mau dengar kamu ngomong kayak gitu lagi. Lagian kan kita belum coba, dan kalo pun dalam waktu dekat kita juga belum di kasih kepercayaan sama Yang Kuasa, kita masih bisa mencobanya kan?. Lagian peralatan kesehatan jaman sekarang udah canggih sayang. Yang penting kita usaha dan berikhtiar" Ujar Arka sambil menggenggam tangan kesya.
Kesya menatap suaminya, dan kemudian memeluk tubuh kekar sang suami.
.
.
.
.
.
Dukung terus ya cerita author.
LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..
Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..
__ADS_1