KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 172


__ADS_3

Usia kandungan Quin sudah masuk 5 bulan, kesehatan Quin pun perlahan mulai membaik. Bahkan, berat badan Quin sudah bertambah, sehingga membuatnya semakin chubby.


Quin sudah boleh berjalan menggunakan kakinya sendiri, tapi tetap, Quin tak boleh berjalan jauh dan juga terlalu lelah.


"Kakek senang masih di beri umur panjang dan bisa melihat cicit kakek." ujar Kakek Farel dengan pelan dan lirih, "Kakek juga berharap, agar di beri kesempatan untuk melihat anak kamu, Quin."


Kakek Farel membelai rambut sang cucu kesayangannya.


"Kakek harus tetap sehat, gak lama lagi kok, Quin juga akan melahirkan," ujar Quin sambil menahan air matanya.


Dokter memang sudah mengatakan, jika waktu kakek tidak banyak lagi, penyakit diabetesnya sudah menggerogoti tubuhnya hingga menjadi kurus kering. Bahkan, saat ini hanya terasa tulangnya saja jika di pegang.


Kakek pun tak lagi mengkonsumsi nasi, hanya sayur dan ubi. Sudah banyak obat dokter dan juga obat tradisional yang di coba oleh kakek, hanya agar untuk bertahan hidup.


Seperti saat ini, Kakek rajin mengkonsumsi daun ubi pepaya Jepang. Di mana batangnya berbentuk seperti batang ubi pada umumnya, sedangkan daunnya mirip dengan daun pepaya pada umunya. Daun tersebut di rebus dan di minum oleh Kakek Farel, banyak manfaat dari daun tersebut, maka dari itu Kakek Farel rutin mengkonsumsinya.


"Pi, minum dulu," ujar Mama Kesya sambil memberikan air rebusan dari daun ubi pepaya Jepang.


Kakek Farel pun menghabiskan air tesebut dengan menegukkan secara perlahan. "Alhamdulillah," ujar Kakek Farel dan mengembalikan gelas kosong kepada Mama Kesya.


"Kakek harus tetap sehat, sampai Quin melahirkan, oke? Kakek harus janji," ujar Quin sambil menahan air matanya.


"Insya Allah, doakan saja umur kakek panjang."


Quin pun menikmati sinar mentari pagi bersama sang kakek. Sedetik pun dia tak melepas genggaman tangannya dari sang kakek.


"Kek, boleh Quin minta sesuatu?" ujar Quin sambil mengusap lembut punggung tangan kakek Farel.


"Katakan," lirih kakek Farel yang terdengar seperti berbisik.


"Quin ingin, kakek yang menyiapkan nama anak-anak, Quin."


Kakek Farel tersenyum, perasaannya sangat bahagia sekali saat ini, karena diberi kepercayaan untuk memberi nama kepada sang cicit buyutnya.


"Terima kasih, dengan senang hati kakek akan menyiapkan namanya untuk anak-anak kamu."


*


"Mas," panggil Quin saat Abi baru keluar dari kamar mandi.


"Ya, sayang." Abi pun menghampiri sang istri yang sedang duduk bersandar di kepala divan mereka.


"Ada yang mau aku omongin, kamu pake baju dulu gih," ujar Quin sambil menelan ludahnya susah payah.


Memang, tubuh Abi tak polos, hanya terbalut oleh handuk kimono, namun, tetesan air yang menetes dari rambut Abi dan juga bagian dadanya yang terlihat sedikit, membuat gairah Quin memuncak.

__ADS_1


Mami Anggun melarang Quin dan Abi untuk berhubungan badan, hingga keadaan Quin benar-benar di nyatakan pulih. Berkali-kali juga Mami Anggun mengingatkan Abi untuk hal itu, karena Quin benar-benar harus terhindar dari kelelahan jenis apapun itu penyebabnya.


"Oke sayang, sebentar ya," Abi bangkit dan mengecup kening Quin, akan tetapi, Quin menarik jubah kimono Abi, sehingga pergerakan Abi pun terhenti saat ingin menjauh dari Quin.


"Aku menginginkan kamu," lirih Quin dengan mata yang berkabut.


Abi menangkup wajah Quin, serta mengusap pipinya dengan lembut. "Aku juga, tapi kita harus menahannya, demi kesehatan kamu, demi anak kita juga." ujar Abi dengan mengusap pipi Quin lembut.


"Hmm, setidaknya aku punya teman yang tak bisa merasakan sentuhan dari pasangannya." ujar Quin sambil mengerucutkan bibirnya.


"Maksud kamu?"


"Ada Anggel yang juga jablay," ujar Quin yang mana membuat Abi terkekeh.


"Dan aku juga memiliki teman jablay, Lana."


Quin dan Abi saling tertawa, kemudian, tawa itu memudar dengan mata yang saling berkabut gairah.


Quin pun langsung menarik baju Abis ehingga tubuhnya semakin mendekat kearahnya, saat bibir Abi mulai menempel di bibirnya, Quin langsung ******* bibir itu penuh cinta dan kerinduan, begitu pun dengan Abi.


Beruntung Abi menemukan kewarasannya, sehingga dia menjauhkan wajahnya dengan napas yang ngos-ngosan, begitu pun dengan Quin. Abi harus ingat, bahwa ciuman juga dapat membuat Quin lelah, untuk itu, Abi segera menghentikannya.


"Maaf, aku terbawa suasana," lirih Abi sambi mengusap bibir Quin dengan lembut.


Abi mengecup kening Quin dengan lama, sebelum dia berdiri dan menghilang di balik walk in closet.


Quin menghela napasnya pelan, sampai kapan dia harus menahan hasrat yang selalu membuatnya merindukan sentuhan Abi.


Abi keluar dari dalam walk in closet dan menghampiri Quin yang sudah tenggelam dengan buku-buku masakannya.


"Sayang," sapa Abi dan mengecup kening Quin.


Quin mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Kamu mau ngomongin apa tadi?" tanya Abi mengingatkan apa yang ingin Quin katakan.


"Oh, sebelumnya aku mau minta maaf, karena aku tak meminta izin darimu saat mengambil keputusan ini," ujar Quin sambil menatap dalam ke mata Abi.


"Hmm, katakan saja,"


"Aku tadi meminta kepada kakek, untuk memberikan nama kepada anak kita, kamu marah?" tanya Quin hati-hati.


"Kenapa harus marah?" tanya Abi balik.


"Biasanya kan, seorang ayah selalu ingin memberikan nama anak mereka yang pertama."

__ADS_1


"Memang, tapi kondisinya saat ini berbeda. Aku gak akan marah akan hal itu, lagi pula, aku masih punya kesempatan untuk memberi nama anak kita, suatu saat nanti," ujar Abi dengan penuh arti.


Quin tersenyum dan mencium tangan Abi. "Terima kasih, kamu yang terhebat."


*


Quin sedang menonton film kartun, di mana para pemainnya adalah burung hantu dari berbagai jenis. Quin menonton bersama sang kakek, Oma, dan juga sang mama.


"Assalamualaikum," ujar Papa Arka yang langsung menyalami tangan Kakek Farel dan Oma Laura. Tak lupa mengecup kening Quin dan juga Mama Kesya.


"Pa, Quin boleh minta sesuatu?" pinta Quin persis seperti anak kecil yang berumur 5 tahun.


"Quin mau apa?" tanya Papa Arka sambil mengusap kepala sang anak.


"Quin mau itu, Quin mau pelihara itu," ujar Quin dengan suara yang manja sambil menunjuk kearah televisi.


Papa Arka menaikkan alisnya sebelah, kemudian melirik kearah Mama Kesya. Mama Kesya pun mengangkat kedua bahunya, seolah memberikan jawaban jika itu bukan urusannya.


"Quin yakin mau pelihara itu? Itu burung ha tu loh," ujar Papa Arka.


"Quin mau itu."


Dan, Papa Arka pun mulai panik saat melihat bilir bening yang sudah tergenang di pelupuk mata sang putri.


"Quin, gimana kalau tanya Abi?" ujar Papa Arka.


"Kalau Abi gak kasih gimana? hiks ... Quin mau itu, hikss ... Quin mau pelihara owl, hiks.. hewan itu lucu, lihat matanya yang besar, hiks ... lucu kan? Quin mau itu, Pa, hiks .."


Papa Arka pun menggaruk kepalanya yang tak gatal, ini sungguh keputusan yang sedikit sulit. Mengingat kondisi kesehatan Quin yang harus benar-benar steril. Bahkan, peliharaan Quin pun tak boleh satu pun berada di dekat sang majikan.


"Assalamualaikum," Ujar Arash dan menghampiri semuanya.


"Aaraashh .... hikks ..." rengek Quin yang membuat Arash bingung.


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2