
“Ah ya, aku dengar jika ada seorang pria yang datang bersamamu untuk menyelamatkan Jo dan Abi, siapa?” tanya Anggel penasaran.
Anggel sempat bertanya kepada salah satu pengawal yang ikut bersama Desi saat itu, dan pengawal tersebut mengatakan jika Desi bersama dengan seorang pria berparas barat dan bermata biru. Anggel curiga jika itu adalah Lana, namun ia juga tak yakin dengan apa yang ia rasakan. Karena di dunia ini berparas bule dan bermata biru
bukan hanya Lana, melainkan banyak lagi umat manusia yang bermata biru. Walaupun Anggel selalu merasakan kehadiran Lana di dekatnya.
“Itu? Emm, hanya pengawal bayangan.” Kilah Desi yang melindungi samaran Lana.
“Benarkah?”
“Hmm, kamu tau kan, jika Tuan Arka selalu menempatkan seorang pengawal yang tak terlihat.”
“Hmm, kamu benar.”
Anggel pun meraih ponselnya dan membuka sebuah aplikasi online untuk membaca sebuah novel yang berjudul “Secret love” karya dari Rira Syaqila sembari menunggu kehadiran Quin, Abi, dan juga Jo.
*
Sudah pukul 10 pagi, Quin dan Abi masih belum bisa di hubungi. Anggel merasa khawatir dan kembali menghubungi ponsel Quin. Namun saat dering pertama sudah tersambung, Anggel melihat Quin yang berjalan sambil bergandengan dengan Abi.
Tunggu, kenapa jalan Quin sangat aneh sekali?
Hmm ... An, kamu gak tau saja apa yang telah mereka lakukan sehingga melewatkan sarapan mereka. Entah berapa ronde Abi lakukan dengan Quin, sehingga membuat pangkal paha Quin terasa ngilu, namun Quin ketagihan untuk melakukannya lagi.
“Huuf, maaf, kami terlambat bangun. Aku menjaga Abi semalaman.” Ujar Quin yang sangat jelas sekali berbohong di depan seorang dokter kandungan yang sudah pasti sangat jelas tahu apa yang terjadi dengan Quin dan Abi. Apalagi melihat raut wajah bahagia di antara keduanya.
“Benarkah?” Tanya Anggel dengan tatapan menggoda.
“I-iya.”
Anggel mencondongkan sedikit tubuhnya untuk berbisik kepada Quin.
“Seharusnya kamu menutupi bekas tanda kepemilikan itu dengan benar, Quin.”
Angel mencoba mengerjai Quin dan itu berhasil. Liatlah, Quin panik sehingga meraih ponselnya dan melihat lehernya sendiri. Quin menggeram dan melototkan matanya ke arah Anggel yang sudah terkikik geli menahan tawanya yang ingin meledak.
Bagaimana bisa tanda itu terlihat jika Quin memakai baju sweater berleher panjang yang hampir menutupi dagunya. Desi yang tak mengerti pun hanya memandang dengan tatapan polos kearah Anggel dan Quin yang mana Quin melemparkan tatapan sengit sedangkan Anggel sudah tertawa terbahak-bahak.
“Apa yang lucu? Kasih aku.” Pinta Desi.
“Ini urusan orang dewasa, anak kecil gak boleh tau.” Jawab Quin dan Anggel secara bersamaan, namun dengan nada yang berbeda. Quin dengan nada judesnya, sedangkan Anggel dengan menahan tawanya.
Desi pun cemberut mendapatkan jawaban kompak dari kakak-kakaknya itu.
“Jo,” Sapa Abi.
“Wah, udah bugar aja lo,” Ujar Jo sambil meminum teh milik Desi.
Anggel yang masih dengan sisa tawanya pun tanpa sengaja melihat sosok yang sangat ia rindukan.
“Lana?” lirihnya.
Desi, Jo, Quin, dan Abi langsung menoleh kearah Anggel dan mengikuti arah pandangnya.
“Lana??” Pekik Anggel dan berdiri menghampiri pria yang menggunakan mantel coklat tersebut.
Anggel berlari mengejar pria yang mengenakan mantel coklat tersebut hingga sampai keluar resto. Anggel melihat kesekelilingnya dan tak melihat pria tersebut, namun saat Anggel melihat kearah dimana orang-orang sedang menyeberang jalan, Anggel menemukan pria yang ia lihat sebagai Lana. Anggel berlari dengan kencang
dan menarik lengan pria yang di lihatnya sebagai Lana tersebut hingga wajah mereka bertemu.
Anggel terkejut jika pria itu bukanlah Lana. “Sorry.” Ujar Anggel merasa bersalah.
Anggel menghela napasnya lelah dan kembali ke pinggir jalan. Anggel terduduk di depan sebuah toko yang terdapat kursi umum di sana sambil menatap mobil yang berlalu lalang dengan teratur dan juga masyarakat yang berjalan kaki.
“Hah, bodoh sekali aku. Berlari sejauh ini untuk mengejar orang yang aku kira dia.” Angel tertawa melihat kebohoannya sendiri. “Anggel ... Anggel, lo udah kayak orang bego tau gak? Yang selalu memikirkan dia dan berharap dia berada di sini melihat mu. Lo bego An, bego banget. Memikirkan orang yang belum tentu juga
memikirkan lo.”
Anggel terkagum dengan kebodohannya, “Sepertinya lo harus di kasih recor muro karena kebodohan lo.” Monolog Anggel sedari tadi. Untungnya tak ada yang mengerti apa yang ia katakan.
Tanpa Anggel sadari, jika Lana berada di belakangnya dan mendengar semua apa yang ia katakan.
“Hiks ... aku merindukan mu, NA ... Aku merindukan mu, hikss ... dan aku juga membenci mu, sangat membencimu.” Ujar Anggel dengan terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
*
“Kamu menemukannya, Jo?” Tanya Quin yang merasa khawatir dengan Anggel yang berlari entah mengejar siapa dan kearah mana. Di tambah lagi Anggel meninggalkan ponselnya di atas meja. Quin tak bisa ikut mengejar karena masih merasa sakit di baawah sana. Hanya Desi dan Jo yang mengejar Anggel, sedangkan Abi menemani Quin.
Jo menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Bohong Jo.
__ADS_1
Sebenarnya Jo tau di mana Anggel, karena Lana telah mengiriminya pesan bahwa Angel masih dalam pengawasan dia. Jo tak ingin memberi tahu Quin, karena takut Quin akan mengatakan hal ini kepada Anggel. Sudah menjadi kode etik Jo dan Desi untuk tetap merahasiakan apa yang memang harus di rahasiakan. Termasuk keadaan kakek
Farel yang memang Quin dan Anggel tak mengetahuinya atas perintah Veer dan Papa Arka.
“Hmm, ke mana kamu, An?”
*
Anggel berjalan kaki mengikuti langkah kakinya yang entah kemana. Di bawah teriknya matahari, walaupun cuaca terasa dingin, Anggel yang hanya memakai sweater tebalnya tanpa mantel bulu nya pun terus melangkahkan kaki jenjang nya menyusuri jalananan yang di penuhi oleh pejalan kaki. Anggel tak tau jika Lana berada tepat di belakangnya dengan wajah tertutup setengah oleh sweaternya dan juga memakai softlens. Lana sengaja menyamar agar Anggel tak terlalu mencurigainya. Bahkan Lana mengganti parfum miliknya dengan parfum yang
harganya sangat murah namun wanginya tetap lembut tercium.
Sudah 4 Jam Anggel berjalan entah kemana, mungkin pun Anggel saat ini sudah tak ingat lagi jalan ke hotelnya. Lana yang mulai khawatir dengan kesehatan Anggel mengerutu kesal. Di tambah juga Lana mulai merasakan pegal di kakinya. Bayangkan saja, 4 jam berjalan kaki tanpa berhenti dan tanpa tujuan. Lana memandang Anggel yang terus memeluk tubuhnya dan mengusap-usapkan tangannya di lengannya guna menghangatkan tubuhnya.
Geram dengan Anggel yang masih saja tak ingin berhenti, Lana melihat sekeliling. Di mana jalanan yang mereka lewati ini bukan lagi jalan di pinggir jalan, melainkan jalan yang di tumbuhi oleh pepohonan dan jarang kendaraan umum untuk melewati jalanan ini. Merasa aman, Lana pun menepuk punggung bagian bawah leher Anggel dan membuatnya tak sadarkan diri. Lana meraih ponselnya dan menyuruh supir yang mengikuti mereka sedari tadi untuk segera mendekat ke arah mereka.
Lana menggendong Anggel dan memangkunya di dalam mobil. Lana pandangi wajah Anggel yang terlihat lelah dan kantung mata di bawah matanya. Lana menangkup wajah Anggel yang terasa dingin dan menghangatkan wajah pujaan hatinya itu.
“Maafkan aku An, tapi kamu harus tau, jika aku sangat mencintai kamu, percayalah.”
Lana menempelkan bibirnya di bibir Anggel. Lana tak peduli jika supir melihat apa yang ia lakukan kepada Anggel. Lana tak peduli jika supir tersebut melaporkannya kepada Oma Mega atau Mama Puput. Lana tak peduli, saat ini Lana hanya ingin melepaskan rindunya.
Lana menggendong Anggel memasuki hotel dengan di sambut oleh Jo dan Desi.
“Quin mana?” Tanya Lana memastikan jika Quin sudah di amankan oleh Abi.
“Tenang aja, Quin udah aman dengan Abi.”
“Baguslah, bisa kacau semua rencana gue kalo dia tahu.”
Lana membaringkan Anggel di atas kasur, tak lupa Lana menyelimuti Anggel dan memberikan kecupan di keningnya.
“Apa lo butuh waktu lebih lama berdua bersama Anggel agar bisa melakukan itu?” goda Jo yang jengah melihat semua orang terus bermesraan dengan pujaan hatinya. Sedangkan dirinya? Hmm, baru kecup pipi aja udah kena cubitan maut di pinggang. Sungguh wanita yang susah untuk di taklukkan.
“Dan membuatnya terbangun?”
“Ya terserah lo.” Ujar Jo dengan mengangkat kedua bahunya acuh.
“Gue gak mau buat dia semakin terluka karena melihat gue.” Lirih Lana.
“Dia sudah terluka kak, sudah terluka oleh mu.” Jawab Desi yang selalu mendengar isak tangis Anggel setiap malam yang selalu merindukan Lana.
“Hanya sesaat, dan sebentar lagi ia juga akan bahagia, percayalah.”
Lana hanay tersenyum kecut mendengar tutur kata dari Desi. Lana hanya bisa menyakitinya saat ini.
*
Anggel mengerang merasakan sakit di bagian pundaknya dan juga kepalanya.
“Kamu sudah bangun, kak?” Tanya Desi yang sedari tadi setia menemani Anggel.
“Hmm, kenapa aku bisa sampai di sini?”
“Oh, kamu kejatuhan batang kayu, sehingga membuat mu pingsa di jalan. Untungnya Jo bisa menemukan kamu dengan bertanya kepada orang-orang.”
Anggel duduk dan menerima gelas berisi air putih yang diberikan oleh Desi.
“makasih.” Ujarnya sembari mengembalikan gelas tersebut.
“Kakak mikirin apa?” tanya Desi yang melihat Anggel melamun dan tersenyum.
“Kamu tau Des, aku bermimpi tentang di bodoh Lana.”
Desi menaikkan alisnya sebelah, “Oh ya?”
“Hmm, mimpi yang aneh, tapi terasa sangat nyata.”
“Tentang apa?”
“Lana menciumku di saat aku tertidur. Rasanya sangat nyata sekali.” Anggel mendengus sambil tertawa. “Mencintainya membuat aku seperti orang gila.”
*
Quin menyandarkan kepalanya di dada Abi, saat ini mereka sedang menonton sebuah berita tentang bursa saham dan bisnis. Bukan mereka, lebih tepatnya hanya Abi saja. Quin hanya memperhatikan sekilas dan mulai mengganggu Abi dengan memberikan sentuhan-sentuhan kecil di dadanya, lengan, dan juga tangannya.
Tak tahukah Quin, jika semua gerakannya itu membangunkan Jaguar yang merasa di undang untuk memasuki sarangnya lagi? Abi menahan hasratnya karena merasa kasihan dengan Quin yang berjalan saja terlihat kesusahan. Abi tak ingin membuat Quin semakin susah berjalan, ya walaupun saat jaguar nya sudah masuk sarang, Abi dapat melihat wajah Quin yang menikmati kunjungan jaguarnya.
“Quin, hentikan sayang.” Ujar Abi yang sudah tak sanggup lagi menahannya. Jika Quin masih melanjutkannya, bisa di pastikan jika Abi benar-benar menerima undangan untuk jaguarnya masuk kedalam sarang.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu tak menyukainya?” Ujar Quin dengan mengerucutkan bibirnya.
“Kamu membangunkanya sayang.” Ujar Abi dengan suara tertahan dan mata yang terpejam menikmati setiap sentuhan Quin yang memainkan jari telunjukknya membentuk pola abstrak di dada bidangnya.
“Biarkan dia terbangun.” Bisik Quin seksi.
Abi spontan membuka matanya dan menatap kearah Quin. “Kamu yakin? jika Jaguar terbangun, maka ia meminta untuk mengunjungi sarangnya.”
“Biarkan dia mengunjungi sarangnya.”
“Kamu yakin?” tanya Abi kembali.
“Hmm, aku menginginkanya lagi Abi.”
“Tapi itu masih sakit.”
“Kamu gak mau?” Quin merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
“Baiklah, aku akan melakukannya dengan perlahan. Jaguar pasti senang sekali bisa mendapatkan pijatan di dalam sarangnya.” Uajr Abi dan mencium buas bibir Quin.
Ya, walaupun masih terasa nyeri, suasana dingin membuat Quin menginginkan nya lagi melakukan kegiatan panas di atas ranjang. Tapi kali ini sepertinya mereka kan melakukannya di sofa besar yang ada di dalam kamar mereka.
*
“Veeerrr ....” Pekik Quin dan berlari untuk memeluk kembarannya. “Awww ...” baru beberapa langkah Quin meringis karena merasa nyeri di bagian pangkal pahanya. Padahal untuk berjalan saja Quin masih merasa sakit. Ini Quin malah berlari mengejar Veer.
Veer yang melihat Quin tiba-tiba membungkuk pun langsung menghampirinya, begitupun dengan Abi.
“Quin, kamu baik-baik aja?” Tanya Veer dan Abi bersamaan.
“Emmm ...”
Tak mungkin Quin jujur kepada Veer akan hal yang menimpa dirinya saat ini, yaitu merasakan nyeri yang begitu hebat akibat baru di kunjungi oleh Jaguar nya Abi.
“Aku gak papa, hanya tiba-tiba saja keram di perut.”
Sreet ...
Abi langsung menggendong Quin ala bridal style. “Kamu benar-benar nakal.” Bisik Abi d telinga Quin yang pastinya hanya di denagr oleh Quin saja.
“Quin, kamu baik-baik aja?” tanya Nafi setelah berada di dekat Quin.
“Ya, aku baik-baik saja.” Seru Quin tersenyum lebar.
“Kalian baru sampai, beristirahalah dulu. Aku sudah memesankan kamar di lantai yang sama.”Ujar Abi kepada Veer.
“Hmm, baiklah. Terimakasih.” Veer meraih pinggang Nafi dan membawanya untuk menuju ke kamar mereka.
“Ayo sayang.”
“Quin, nanti kita main-main bareng ya. Aku rindu banget sama kamu.” Ujar Nafi kepada Quin.
“Oke, beristirahatlah dulu.”
Veer pun berjalan meninggalkan Abi dan Quin, dengan di pandu oleh pelayan hotel yang mengantarkan nya menuju kamar mereka. Abi melanjutkan langkahnya menuju resto hotel, mereka akan ikut sarapan pagi ini, karena perut Quin sudah berdering menandakan jika peliharaannya di dalam perut meminta asupan gizi.
“Apa yang terjadi kepada Quin?” Tanya Anggel di saat melihat Abi menggendong Quin menghampiri mereka.
“Perutnya keram.” Ujar Abi kepada Anggel yang memberikan alasan sama seperti yang Quin berikan kepada Veer.
Hei, Anggel itu dokter. Tentu saja ia akan langsung memerika keadaan Quin. Anggel langsung memegang perut Quin memerika keadaananya di saat Quin sudah duduk di kursinya. Anggel mencebikkan bibirnya di saat mengetahui jika Quin berbohong.
“Ini mah bukannya keram, tapi meram telor.” Gerutu Anggel yang mana di tanggapi kekehan oleh QUin.
“Telor apa Mbka? Kak? Yang di peram?” tanya Desi dengan wajah polosnya.
Anggel dan Quin serentak menepuk keningnya mendengar pertanyaan dari Desi.
Di sudut lain, Lana bernapas lega di saat melihat Anggel tertawa dengan lepas saat bersama Quin dan lainnya. Setidaknya ada waktu di mana Anggel dapat melupakannya.
**
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF